
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore sementara Raffa masih berada diruang UKM.
dua orang bodyguard yang diutus oleh ibunya masih setia menunggu diluar ruangan dengan kursi roda.
"Astaga.. apa mereka kira aku selemah itu sampai harus dikawal menggunakan kursi pesakitan.. sampai kapan mereka akan tetap menunggu diluar sana.."
Raffa menggerutu dengan kesal.
Raffa berniat untuk menghubungi Pak Aji dan menyuruh kedua orang itu pergi.
dia bangkit dari ranjang dan mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas.
tanpa sengaja dia melihat dua buah tas ransel berwarna hitam dan cokelat yang terletak diatas meja yang posisinya tak jauh dari ranjang.
tentu salah satunya adalah miliknya.
"ransel cokelat itu punya siapa..?"
Raffa berjalan terpincang menuju meja dan meraih tas ransel berwarna cokelat.
Raffa memeriksa isi tas tersebut, dan yang pertama kali dia dapati adalah baju seragam kasir di salah satu Mall.
"oh, jadi ini punya Cinta. tapi kenapa ada disini..?
dan udah jam segini juga, mustahil dia belum selesai menjalani hukuman.."
Gumam Raffa.
Pada akhirnya memang dia harus menyingkirkan egonya dan meminta bantuan.
kemudian dia memanggil dua orang bodyguard yang sejak siang tadi berjaga diluar.
"cari gadis ini, namanya Cinta. mungkin dia masih ada disekitar kampus. kalian cari dilantai dua dan lantai tiga, saya akan cari dilantai satu."
Raffa menunjukkan foto Cinta yang ada dilayar ponsel milik Cinta.
setelah melihat foto Cinta, dua orang tersebut mengangguk kemudian bergegas pergi.
sementara itu Raffa juga tak tinggal diam. meski berjalan dengan terpincang akibat kakinya yang keseleo, Raffa tetap berusaha mencari Cinta.
akhirnya dia tiba didepan ruang dosen yang tampaknya sudah sepi, bahkan pintunya pun mungkin sudah terkunci.
karena ruangan tersebut kedap suara, Raffa tidak bisa mendengarkan Cinta yang sedang menangis ketakutan didalam ruangan gelap tersebut.
Raffa berbalik dan berniat mencari ditempat lainnya,
namun tiba-tiba matanya tertuju kearah pegangan pintu.
sangat jelas terlihat kunci yang masih menggantung disitu.
"Astagaa.. dasar gadis ceroboh.. bisa-bisanya dia meninggalkan kuncinya.."
Raffa menggerutu.
Kemudian Raffa memutar kunci tersebut untuk memastikan kondisi ruangan.
Saat pintu terbuka, ruangan tampak sedikit terang karena cahaya yang merembes dari pintu.
Raffa melihat sesosok tubuh mungil sedang meringkuk di salah satu sisi ruangan sambil terduduk memeluk lutut menyembunyikan wajahnya dan menangis.
"Cinta..?"
Sosok itu mengangkat kepala yang sedari tadi dia sembunyikan dibalik lutut.
wajahnya tampak sembab. tubuhnya bergetar karena ketakutan.
sejak kecil, Cinta memang phobia dengan ruangan gelap.
bahkan yang terparah, dia akan pingsan jika terlalu lama berada diruangan tanpa cahaya.
"Astaga.. kok kamu bisa terkunci disini..?"
Pekik Raffa yang tampak heran.
Cinta berusaha bangkit dari posisinya, namun tiba-tiba pandangannya mulai gelap hingga akhirnya..
__ADS_1
"brukk"
Cinta ambruk dilantai.
"Dia pingsan..? astagaaa..."
Raffa berusaha membangunkan gadis itu, namun hasilnya nihil.
akhirnya Raffa duduk disamping Cinta, dan memutuskan untuk menunggu hingga gadis itu sadar.
lagipula pintu ruangan terbuka, jika bodyguardnya tiba mereka akan tahu jika dia ada disini.
begitu pikirnya.
tak berapa lama kemudian kedua bodyguard Raffa tiba diruangan tersebut.
"tolong bawa dia ke UKM.."
Titah Raffa.
Kedua bodyguardnya saling berpandangan, kemudian membantu memapah Cinta keruang UKM.
"kalian boleh pergi sekarang, dan jangan bilang siapapun soal tadi."
kedua bodyguardnya hanya mengangguk, kemudian keluar dari ruangan UKM meninggalkan Raffa dan Cinta yang masih belum sadarkan diri.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
dua jam berlalu, akhirnya Cinta mulai sadar.
listrik juga sudah kembali nyala.
"aku dimana.."
gumam Cinta sambil menyentuh pelipisnya.
Dilihatnya kesekeliling, ruangan bercat putih dan beberapa hiasan bertema kesehatan terpampang di dinding.
"UKM..?"
Gumam Cinta.
Ujar Raffa saat melihat Cinta sudah sadar.
Cinta berusaha mengingat kembali.
"Astaghfirullah.. aku baru ingat.. tadi aku lagi beresin ruang dosen, tau-tau aku udah terkunci didalam.."
Ujar Cinta.
"Astagaaa.. kamu bahkan gak nyadar ada orang yang ngunciin kamu diruangan itu..? jangan-jangan kamu juga gak bakal nyadar kalo ada pedofil yang nyelinap masuk keruangan itu."
Gerutu Raffa
"Hahh..? pedofil..? emang aku anak SD apa..!!"
protes Cinta.
Raffa tidak menjawab.
dia meraih tasnya yang terletak diatas meja, kemudian menyampirkannya dibahunya.
"Thanks.."
Ujar Cinta pelan, namun masih bisa terdengar.
"Kamu mau pulang atau mau nginap disini..?
atau kamu mau ngerangkap jadi satpam shift malam juga?"
jawab Raffa tanpa menoleh.
"Iya.. eh, ya maksudnya pulang.. aku mau pulang.."
Ujar Cinta sedikit gugup kemudian meraih tas ranselnya.
__ADS_1
Namun baru saja akan turun dari ranjang UKM, tiba-tiba listrik kembali padam (kali ini memang sengaja dipadamkan oleh satpam yang bertugas seperti biasanya).
Cinta terlonjak kaget dan berteriak.
tubuhnya bergetar hebat.
"Raff.. aku takut.."
Gumamnya.
Raffa mengambil ponselnya, kemudian menyalakan senter flash yang terdapat diponselnya untuk memberi sedikit penerangan.
Sekilas dilihatnya wajah Cinta yang pucat pasi serta gemetaran.
"Kita keluar sekarang."
Ujar Raffa.
Namun Cinta tak bergeming.
Gadis itu justru meringsut terduduk dilantai.
Raffa yang melihat hal tersebut langsung sigap mengambil almamater miliknya kemudian dia menyampirkannya ketubuh Cinta.
"Hoii cebol.. baterai ponselku hampir habis.
kalo kita gak keluar sekarang, aku takut kamu pingsan lagi dan justru semakin merepotkanku."
Gerutu Raffa
Cinta berusaha berdiri, kemudian berjalan dengan sedikit terhuyung.
"pegang ini, kamu jalan duluan."
Raffa menyodorkan ponselnya yang langsung diraih oleh Cinta.
Sesampainya digerbang, mereka berpapasan dengan satpam yang tentu saja sangat mengenali Raffa karena ayahnya adalah salah satu investor saham terbesar dikampus tersebut.
"Baru pulang mas..?"
Satpam tersebut menyapa yang hanya dibalas anggukan oleh Raffa.
Cinta mengembalikan ponsel Raffa kemudian Raffa memesan taxi online dari aplikasi di ponselnya dan menyerahkannya kembali pada Cinta.
"Kenapa..?"
tanya Cinta yang tampak kebingungan saat Raffa kembali menyodorkan ponselnya.
"alamatmu."
jawab Raffa singkat.
Cinta meraih ponsel tersebut, dan setelah melihatnya sekilas cinta batu mengerti.
tentu saja untuk memesan taxi online si driver juga meminta alamat lokasi yang akan dituju.
Tak lama kemudian taxi yang dipesan oleh Raffa tiba di lokasi.
Raffa membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Cinta masuk, sedangkan dia sendiri duduk dibangku depan tepat disamping driver.
*lah dia ngapain ikut naik coba?
batin Cinta.
"Kalo sampe kamu pingsan lagi dijalan kasihan drivernya."
Ujar Raffa seolah mengerti dengan tatapan bingung Cinta yang diliriknya dari kaca spion.
Taxi melaju dengan kecepatan standart.
setengah jam kemudian, mereka sudah tiba didepan rumah tante Kartikha (yang sekarang menjadi ibu angkat Cinta).
"Raff.. makasih banyak, udah nolongin aku hari ini.."
Ujar Cinta sambil tersenyum dengan tulus, dan dibalas anggukan oleh Raffa.
__ADS_1
Cinta keluar dari mobil tersebut, dan sesaat kemudian mobil kembali melaju meninggalkan halaman rumah Cinta.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆