
Siang itu hujan rintik mengguyur.
jenazah Ibu Raffa baru saja selesai dikebumikan di salah satu pemakaman.
para pelayat pun sudah meninggalkan pwmakaman satu per satu.
Keluarga Raffa tampak sangat terpukul dengan kepergian ibu Raffa yang sangat mengejutkan.
Bahkan Raffa tak sanggup berkata apapun.
Sejak dirumah sakit hingga sekarang, dia hanya diam.
tatapannya kosong.
tubuhnya hidup dan bergerak, namun jiwanya seolah sedang berada di dunia yang lain.
Bagi siapapun, kehilangan salah satu orang yang paling dicintai tentu adalah hal paling menyakitkan.
merasa hidup hampa, kosong, seakan semangat juga ikut hilang bersamanya.
Raffa masih bersimpuh disamping makam ibunya, meletakkan tangan diatas nisan ibunya.
Dia tidak menangis, dan masih tetap diam dengan tatapan kosong.
"Raffa.. ikhlaskan kepergian mama nak.. mama sudah tenang disana.."
Ayah Raffa berusaha membujuknya.
Namun Raffa masih tak bergeming.
"Om.. saya turut berduka.. semoga ibu Raffa husnul khotimah, dan Allah ampuni semua dosanya.."
Ucap Cinta.
"terimakasih ya.."
jawab Ayah Raffa sambil menjabat tangan Cinta.
"Raffa.. aku paham gimana perasaan kamu sekarang.. memang sakit saat kita kehilangan orang yang kifa sayang.. apalagi jika itu adalah orangtua kita.. tapi kamu juga gak boleh berlarut dalam kesedihan. Yang bisa dilakukan sekarang adalah mendoakan agar ibu kamu dilapangkan kuburnya, dan diberi tempat terbaik di sisi Allah.."
Raffa menoleh ke arah Cinta.
tatapannya nanar, dengan sorot mata tajam.
"tau apa kamu soal kehilangan? berbicara itu memang mudah.. kamu mungkin bisa berbicara begitu karena kamu gak merasakan bagaimana rasanya di posisi aku..!!"
Hardik Raffa.
semua orang yang masih berada di pemakaman cukup terkejut.
Raffa masih menatap Cinta dengan sorot mata elangnya.
"Sekarang coba katakan, apakah kamu pernah berada di situasiku saat ini..?
pasti kamu gak pernah kan..!!"
"Ya, kamu benar Raf.. aku memang gak pernah berada di posisi kamu sekarang.."
__ADS_1
Cinta mulai menangis.
"Bahkan aku juga tidak pernah mengenal orangtuaku, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki orangtua, dan aku tidak pernah tau bagaimana rasanya disayangi oleh orangtua kandungku.."
Semua mata kini tertuju pada Cinta, yang sudah tak mampu menahan airmatanya.
"Aku... Aku sudah kehilangan kedua orangtuaku, bahkan disaat aku belum bisa mengucapkan kata "mama". setidaknya kamu jauh lebih beruntung Raf, kamu pernah merasakan belaian lembut dari tangan ibu kandungmu.."
Cinta membalikkan badan, kemudian bergegas pergi dari pemakaman tersebut.
semua orang menatap kepergiannya dengan tatapan sedih.
Cinta berlari meninggalkan pemakaman sambil menyeka airmatanya.
Dia bahkan merasa iri pada Raffa, setidaknya Raffa pernah memiliki keluarga yang utuh.
Tapi kata-kata yang diucapkan oleh lelaki itu, membuat hatinya remuk.
Sementara itu Raffa masih terpaku, menatap punggung Cinta yang sudah berlari jauh dengan tatapan bersalah.
sudah satu minggu sejak kejadian itu, Raffa yang merasa bersalah pada Cinta berusaha menemuinya.
Namun menurut informasi dari teman-teman Cinta, gadis itu sudah absen sejak hari dimana ibunya dikebumikan.
Itu artinya Cinta sudah tidak hadir dikampus sejak kejadian di pemakaman itu.
Raffa semakin merasa bersalah pada Cinta.
Dia bahkan berusaha mencari Cinta ke tempat dia bekerja, Namun hasilnya nihil.
Cinta sudah lama berhenti dari mall tersebut.
pikirannya serabut.
wajah Cinta yang tampak sedih saat terakhir kali mereka bertemu terbayang dibenaknya.
"Ya Allah... Cinta sudah menemaniku, bahkan dia yang membantu membawa mama ke Rumah Sakit.. Dan dia juga berusaha menenangkanku. tapi aku malah mengatakan hal sekejam itu padanya.."
Raffa duduk di salah satu sisi trotoar sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Astagaaa... kenapa aku bisa lupa, waktu itu aku pernah mengantar dia pulang kerumahnya. ya, setidaknya aku bisa mencarinya kerumah itu.."
Gumam Raffa.
Sore itu setelah semua mata kuliah selesai Raffa bergegas menuju ke tempat dia pernah mengantarkan Cinta dengan menaiki taksi online.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Raffa tiba di rumah Cinta.
setelah memasuki pekarangan yang dipenuhi aneka bunga, Raffa mengetuk pintu rumah yang tertutup.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
terdengar jawaban dari dalam rumah.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang wanita berusia empat puluhan membukakan pintu.
"Sore tante.. apa Cintanya ada..?"
tanya Raffa pada wanita tersebut.
"Cinta belum pulang, tapi mungkin masih dijalan.. adik ini temannya Cinta ya..?"
"Iya tante, saya Raffa.. teman kuliah Cinta.."
jawab Raffa.
"Oh, teman kuliah Cinta.. saya ibunya.. Tapi, ada perlu apa ya..?"
tanya tante Kartika.
"Ibunya..?"
Raffa tampak terkejut.
"Iya, nak Raffa ada perlu apa kesini..?"
"Saya mau ketemu Cinta tante.."
jawab Raffa.
"Lah, bukannya kalian bisa ketemu dikampus..?
kenapa sampai repot-repot kesini.. pasti ada hal yang sangat penting ya.."
"Emm.. Saya juga berniat begitu tante.. tapi sudah beberapa hari ini Cinta gak masuk.. makanya saya kesini, saya mau mastiin apa kondisi Cinta baik-baik aja.."
jawab Raffa.
"Kamu bercanda ya.. Cinta itu baik-baik aja.. Dia juga selalu berangkat kekampus.. Cinta itu paling anti sama yang namanya absen.."
Ujar tante Kartika.
"Tapi menurut informasi dari beberapa temannya Cinta memang gak masuk tante.."
Raut wajah tante Kartika berubah drastis.
"Kamu yakin dia memang gak masuk..?
tanya tante Kartika.
"Ngapain kamu disini..?"
Cinta baru saja tiba dan terkejut melihat Raffa ada didepan rumah tante Kartika.
"Cinta.."
"Pergi. Dan jangan pernah datang kesini lagi."
Cinta menatap Raffa dengan tatapan tajam.
"Oke, aku pergi. tadinya aku mau minta maaf sama kamu, karena ucapanku kemarin.
__ADS_1
tapi sepertinya aku salah datang kesini. Kamu bohong kan, soal ibu kamu.."
Raffa melirik pada tante Kartika sekilas, kemudian bergegas pergi.