
"Raffa, kamu boleh keluar sekarang. jangan lupa obati luka kamu di UKM."
Pak Surya mempersilahkan Raffa untuk keluar dari ruangannya setelah sekitar sepuluh menit mengonterogasinya.
"Saya harap kamu sadar kesalahan apa yang sudah kamu perbuat, Ryan.."
Pak Surya menatap Ryan tajam dari balik kacamatanya.
Ryan hanya membisu, namun sorot matanya masih memancarkan kekesalan.
"Ryan.. saya akui kamu adalah salah satu mahasiswa teladan dikampus ini.. bahkan kamu mendapatkan beasiswa penuh karena prestasi kamu.. tapi kamu juga harus ingat, beasiswa itu diberikan oleh Tuan Jafar Mubasyir, Ayahnya Raffa. jadi bapak harap kamu bisa bersikap bijak dan tidak merugikan diri kamu sendiri kedepannya."
Pak Surya berkata dengan tenang, namun cukup jelas.
"Iya pak.. terimakasih atas nasehatnya."
jawab Ryan.
"Yasudah, kamu boleh pergi sekarang.."
Ryan keluar dari ruangan pak Surya dengan perasaan kesal yang dipendamnya.
"Aku bilang juga apa Yan.. kamu sih gak mau dengerin omongan aku.."
Ujar Indira saat menghampiri Ryan yang baru saja keluar dari ruang dekan.
"Aku gak butuh ceramah kamu."
jawab Ryan ketus sambil berlalu meninggalkan Indira.
"Ryan..."
Indira berusaha memanggilnya, namun tak digubris.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"baru kali ini loh aku tau ada MaBa yang berani ngelawan senior.."
Ujar Fitri, teman satu kelompok Cinta saat mereka sedang beristirahat sambil makan siang dikantin.
Cinta hanya mengangkat bahu, seolah tak perduli.
"tapi aku udah duga sih, pasti kak Ryan kalah telak.. dari postur tubuhnya aja udah jauh beda.."
Celetuk Jihan yang ikut nimbrung.
"Eh tapi kira-kira gimana nasib mereka ya..?
kakakku yang dulu alumni kampus ini pernah bilang sama aku, jangan pernah terlibat masalah sekecil apapun didepan Pak Surya, meskipun hanya karena telat masuk kelas.. bisa fatal akibatnya.."
Ujar Fitri.
"Kenapa gitu..?"
Jihan tampak tak percaya. mengingat wajah Pak Surya yang tampak kalem.
"Dulu pernah ada beberapa mahasiswa yang terlibat tawuran sama mahasiswa kampus lain, besoknya langsung di DO.."
Fitri berbisik seolah yang dikatakannya adalah rahasia penting.
"Serius..??
Tapi yang berhak men DO mahasiswa kan rektor..?"
pekik Jihan yang masih tak percaya.
"tapi DO itu atas usulan Pak Surya.. dan yang kudengar mulai semester ini Pak Surya akan diangkat menjadi rektor, menggantikan Bu Mayang yang akan segera pensiun.."
"Habislah kitaa..."
Jihan tampang lesu.
Sementara itu, Cinta hanya menjadi pendengar yang budiman sambil menikmati makan siangnya.
siapapun rektornya, selagi dia tidak membuat kesalahan sekecil apapun semua akan beres.
begitu pikirnya.
tiba-tiba ponselnya berdering, dan yang menghubungi adalah tante Kartika.
__ADS_1
"Assalamualaikum tante.."
Sapa Cinta dengan santai saat mengangkat telepon.
"Wa-waalaikum-salam.. Cin-Cinta.. kamu dimana..? kamu.. kamu bisa pulang sekarang..?"
terdengar suara tante Kartika yang terbata sambil terisak.
"Tante kenapa..? apa yang terjadi..?"
Cinta mulai terlihat panik.
"Om kamu Cinta.. Om kamu.."
"Om Dermawan kenapa tante..?"
Cinta terlihat semakin panik.
"Kapalnya.. Kapalnya tenggelam.."
Spontan Cinta merosot lemah.
bahkan ponselnya sampai terjatuh ke lantai kantin yang saat itu sedang ramai.
beberapa mahasiswa yang melihatnya tampak heran.
Fitri dan Jihan yang sejak tadi duduk satu meja dengan Cinta, membantunya bangkit dan kembali mendudukkannya di kursi.
"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun..."
Gumam Cinta sambil menitikkan airmata.
saat tersadar, Cinta langsung meraih tas ranselnya dan berlari secepat mungkin.
namun saat tiba digerbang kampus, tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang perawakannya tinggi besar.
dengan postur tubuhnya yang mungil, tentu saja Cinta langzung terhempas.
Dia segera bangkit dan buru-buru minta maaf tanpa memperdulikan orang yang dia tabrak, kemudian bergegas pergi.
"kenapa tuh anak.."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Cinta sudah tiba dirumah Om Dermawan, dan dilihatnya sudah ramai tetangga yang berdatangan.
bendera merah yang diikatkan di sisi gerbang menjadi pertanda, keluarga itu tengah berduka.
Cinta menepis orang-orang disekitarnya dan menerobos masuk.
diruang tamu tampak Tante Kartikha yang wajahnya sudah sembab dan layu, tampak duka mendalam dari wajahnya.
Cinta langsung memeluk tante Kartikha, yang baru saja menyadari kedatangannya.
dan ditengah keramaian itu Cinta mendengar beberapa tetangga yang sedang menceritakan penyebab meninggalnya Om Dermawan.
"Saya melihat beritanya di tv pagi tadi.. menurut kabar kapal yang dibawa Pak Wan (sapaan akrab Om Dermawan didaerah tempat tinggalnya) tenggelam beberapa saat setelah menabrak karang.. Jasad Pak Wan ditemukan mengambang di sekitar lokasi tenggelamnya kapal.."
ujar salah satu tetangga
"Iya bu, saya juga lihat beritanya pagi tadi.. dan sampai sekarang masih banyak jasad korban yang belum ditemukan.."
timpal tetangga yang lain.
"Kasian bu Kartikha.. sekarang harus tinggal sendiri.. mudah-mudahan Pak Wan meninggal dalam keadaan husnul khotimah.. karena Pak Wan adalah sosok yang sangat baik dan soleh.."
Begitulah bisikan-bisikan tetangga yang sempat didengar oleh Cinta.
Dua Jam kemudian, jasad Om Dermawan tiba dirumah duka.
para tetangga membantu mengurus jenazah hingga proses pemakaman Om Dermawan. bahkan sangat banyak orang yang hadir untuk mengantarkan jenazah Om Dermawan ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Silih berganti orang-orang mengucapkan bela sungkawa dan memberi dukungan moril kepada tante Kartikha yang tampak tak berdaya.
Bahkan sampai malam hari pun kediaman Om Dermawan masih ramai didatangi para tetangga dan kerabat untuk melakukan tahlilan.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dua hari telah berlalu sejak meninggalnya Om Dermawan, keadaan rumah sudah kembali sepi.
__ADS_1
bahkan tante Kartikha yang biasanya setiap pagi menyirami semua tanamannya dengan riang, pagi ini masih berdiam dikamarnya.
Hanya Cinta yang sejak kemarin berusaha menghibur dan menguatkannya.
"Tante.. sarapan dulu yuk.. Cinta udah masak makanan kesukaan tante.."
Cinta mencoba membujuk tante Kartikha, namun wanita itu tak bergeming.
Cinta menarik nafas dalam.
Sudah dua hari tante Kartikha tidak makan apapun,dia bahkan tidak bicara sama sekali.
dan selama itu pula Cinta menemaninya hingga terpaksa bolos kerja dan bolos kuliah.
*Kasihan tante.. aku gak tega ninggalin tante sendiri dalam kondisi kayak gini.. tapi aku juga harus kuliah dan kerja.. udah dua hari aku bolos.. ya Allah.. hamba harus apa..
batin Cinta
"Cinta..."
Tante Kartikha memanggilnya, dan memberi isyarat untuk duduk disampingnya.
Cinta menurut, kemudian duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan tante Kartikha.
"Tante perlu sesuatu..?"
Tanya Cinta.
Tante Kartikha hanya menggeleng dan menatapnya dengan wajah sendu.
"Kamu tahu Cinta, sejak kamu ada dirumah ini.. tante melihat suami tante begitu bersemangat.. dia merasa, seolah dia sudah memiliki putri kecil yang imut.. beberapa kali dia menghubungi tante saat kapal mereka singgah di pelabuhan, dan dia tidak pernah lupa menanyakan kabar kamu.. dia benar-benar sudah menganggap kamu seperti putri kandungnya sendiri.."
Cinta hanya diam sambil mendengarkan cerita tante Kartikha.
*semoga dengan begini bisa sedikit meringankan kesedihan tante
batinnya.
"seminggu yang lalu dia menghubungi tante untuk terakhir kalinya..
dia sangat bahagia saat mengetahui kamu akan melanjutkan pendidikan kamu.. dia bahkan sudah menyiapkan tabungan pendidikan khusus untuk kamu..
dan sebelum dia menutup sambungan telepon, dia sempat mengatakan keinginan terakhirnya..
dia.. sangat ingin mendengar kamu memanggilnya ayah.."
Tante Kartikha kembali berlinang airmata, mengenang percakapan terakhirnnya dengan almarhum suaminya.
bahkan Cinta yang sudah berusaha untuk tegar pun tak dapat menahan kesedihannya.
Dia memang belum lama mengenal Om Dermawan. bahkan sejak dia tinggal disini, dia hanya beberapa kali bertemu Om Dermawan. karena pekerjaan beliau adalah seorang pelaut yang jarang pulang.
namun dia sangat yakin, Om Dermawan adalah orang yang berhati mulia.
bukan hanya dia, bahkan semua orang yang mengenal beliau pun mengatakan hal yang sama.
"Cinta... boleh tante minta satu hal dari kamu..?"
"Apa tante..?"
tanya Cinta.
"Tante minta maaf sebelumnya, jika permintaan tante ini egois..
tapi... maukah kamu memanggil tante dengan sebutan "Ibu"..?
Sekarang, cuma kamu satu-satunya keluarga yang tante punya Cinta.. tolong.."
Tante Kartikha tampak memelas.
Tentu saja Cinta sangat tidak menduga akan hal tersebut. namun akhirnya, Cinta tersenyum sambil mengangguk.
"Iya Ibu.. mulai sekarang, aku akan memanggil Ibu.."
jawab Cinta.
Tante Kartikha menangis haru, kemudian menarik Cinta kedalam pelukannya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1