Cita Cinta

Cita Cinta
Episode Empat


__ADS_3

Sore itu Cinta sedang diperjalanan pulang setelah penat bekerja.


Gadis itu berjalan dengan santai seperti biasanya.


namun tiba-tiba..


"kelontanggg"


bekas kaleng minuman soda yang sudah agak penyok mendarat mulus dikepalanya.


"Astaghfirullah.. ini kerjaan siapa coba.. kirain kepalaku gawang gitu.."


Cinta menggumam dengan kesal sambil melihat disekelilingnya, sampai akhirnya matanya terhenti pada satu sosok pemuda yang siang tadi meng cancel barang belanjaannya dan juga sempat bertengkar dengan penjaga parkir.


"pasti dia nih pelakunya.."


kemudian Cinta menghampiri orang tersebut sambil membawa kaleng minuman soda yang tadi mengenai kepalanya.


"bang, kalo mau marah ya marah aja.. tapi jangan pake ngelempar kepala orang juga lah..!!"


Cinta yang sedang kesal berbicara lantang dengan logat khas bataknya.


"Sorry"


jawab pemuda tersebut datar sambil berjalan melewati Cinta.


"udah kekgitu aja? dasar orang kaya minus etika.."


Cinta mendengus kesal.


"Hey, kamu wanita kasir di mall tadi kan..? kayaknya kita pernah ketemu sebelumnya.."


Pemuda tersebut membalikkan badan dan berjalan kembali menuju Cinta.


"Oh, iya.. aku ingat sekarang.. kamu wanita yang waktu itu dibandara kan, yang nyopet dompet aku.."


Kali ini pemuda itu berdiri tepat dihadapan Cinta yang masih memasang wajah kesal.


"helooo,, bukannya waktu itu masalahnya udah jelas ya..?


abang yang salah paham, terus nuduh aku nyopet.. padahal udah jelas abang sendiri yang salah.."


jawab Cinta dengan lantang.


"oke,lupakan soal itu.."


kemudian pemuda itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel bermerk Anggur keluaran terbaru.


"Aku perlu uang tiga ratus ribu, sebagai gantinya kamu boleh ambil ponsel ini.."


ucap pemuda tersebut sambil menyodorkan ponselnya.


Annisa melirik ponsel tersebut, yang dia sudah tau pasti berapa harganya dipasaran. sekilas dia tergiur, namun akal logisnya kembali bekerja.


*mencurigakan.. jangan-jangan dia ini penipu.. bisa aja kan ponsel ini dia dapat dari hasil nyopet.. gak mungkin ada orang yang tega menjual ponsel terbaru ini dengan harga segitu murahnya, kecuali mungkin kalo saraf di otaknya mulai geser.


"aku serius loh. anggap aja sekarang kita lagi transaksi.."


pemuda itu kembali menyodorkan ponselnya.


Cinta menggeleng dengan tegas.

__ADS_1


"jangan-jangan sebenarnya justru abang yang tukang copet ya.."


Pemuda itu membulatkan mata, seolah tak terima dengan tuduhan Cinta.


"Aku..?? tukang copet..?? kamu gak tau siapa aku..?? bahkan kalo aku mau, pabrik ponselnya juga bisa kubeli..!!"


Cinta tertawa geli.


"Bang, kalo mau halu itu dibatasin dong... jangan ketinggian.. nanti jatuhnya sakit loh.. lagaknya beli pabrik ponsel, bayar belanjaan aja gak sanggup.."


"Astaga... gadis ini bener-bener ya.."


kemudian pemuda itu mengetik sesuatu di layar ponselnya dan menyodorkannya kembali kepada Cinta.


"gini aja deh.. aku pinjam dulu uang kamu tiga ratus ribu, kamu bisa simpan ponsel ini sebagai jaminan. ini alamat rumahku, kamu bisa temui aku disana kalo kamu gak percaya. bakal aku ganti berkali lipat.."


ujar pemuda tersebut.


Cinta tampak menimbang.


*kasian juga sih abang ini.. yaudahlah, gak ada salahnya juga kubantu.. hitung-hitung amal..


batinnya.


kemudian Cinta merogoh dompet dari tasnya, dan menyerahkan satu lembar uang seratus ribuan.


"kalo tiga ratus ribu aku gak punya.. adanya segini.. yaudah pake aja.."


Pemuda itu menerima uang seratus ribuan yang diberikan Cinta dan menyodorkan ponselnya, namun langsung ditolak oleh Cinta.


"abang simpan aja ponselnya, barangkali perlu.."


kemudian Cinta berlalu meninggalkan pemuda tersebut, yang justru menatapnya bingung. bahkan dia tidak sempat mengucapkan terimakasih.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


dengan perasaan dongkol dia masuk kemudian membanting pintu, mengagetkan Bi Asih (salah satu ART yang bekerja dirumah mewahnya).


"bi, dimana ibu..?"


tanya Raffa dengan nada kesal.


"nyonya besar pagi tadi berangkat ke Saudi tuan.."


jawab Bi Asih sambil menunduk.


"apa..? tapi ibu gak ada bilang apapun soal itu..


kapan ibu akan pulang Bi..?"


"Saya tidak tahu tuan.. Nyonya tidak memberi pesan apapun selain untuk mengurus keperluan rumah.."


jawab Bi Asih.


Raffa merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.


tampak dia sedang mencoba menghubungi seseorang.


tak lama kemudian telepon tersambung, dan Raffa brrbicara dengan seseorang diujung telepon yang ternyata adalah ayahnya.


tak berapa lama kemudian..

__ADS_1


"siaalll...!!!"


dengan perasaan yang sangat kesal Raffa membanting ponselnya kemudian bergegas menuju ke kamarnya.


Bi Asih yang menyaksikan hal tersebut tidak berani melakukan apapun. barulah setelah Raffa naik ke atas, Bi Asih memungut pecahan ponsel milik tuan mudanya yang baru saja dibeli dua hari yang lalu.


"korban bantingan lagi mbak..?"


tanya salah satu ART sambil menunjuk ponsel yang layarnya sudah pecah berantakan yang dipegang oleh Bi Asih.


Bi Asih mengangguk, kemudian membuang ponsel tersebut di tempat sampah khusus.


sementara itu didalam kamarnya, Raffa menumpahkan semua kekesalannya.


semua barang dibanting, diinjak, bahkan laptop yang biasa dia gunakan untuk bermain game juga tak luput dari serangannya.


para ART yang mendengar amukan tuan mudanya tak berani mencegah, karena mereka sangat paham bagaimana jika tuan mudanya sedang marah. dan kali ini, pasti dia sedang marah besar.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Cinta sedang beristirahat dikamarnya, saat tiba-tiba tante Kartika masuk sambil membawa segelas jus jambu merah.


"Cinta.. tante mau bicara sama kamu.."


Cinta duduk dikasurnya, disusul oleh tante Kartika yang duduk disisi ranjang sambil meletakkan gelas jus di atas nakas.


"soal pendaftaran kuliah kamu.. tante udah temukan kampus terbaik.. dan besok, tante mau kamu ikut tante untuk daftar kesana.."


Ujar tante Kartika


Cukup lama Cinta terdiam.


dalam hti kecilnya, memang kesempatan ini sudah sangat dia inginkan.


Tapi disisi lain, dia juga tidak ingin menjadi beban orang lain. terlebih jika orang itu bukanlah keluarga terdekatnya.


"Cinta.. tante paham kalau kamu merasa sungkan..


tapi, Om dan Tante memang benar-benar tulus ingin membantu kamu.. seperti yang sudah tante katakan dari awal, Om dan tante sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri.. jadi tante harap kamu juga bisa menerima kami layaknya orangtua kamu.."


Cinta tak bisa berkata apa-apa, namun segera dipeluknya tante Kartika sambil menangis haru.


"Gimana, kamu bersedia kan ikut tante untuk daftar kuliah besok..?"


tanya tante Kartika sambil mengelus pundak Cinta.


Cinta hanya mengangguk pertanda setuju.


*Alhamdulillah ya Allah... hamba sangat bersyukur dipertemukan dengan orang orang yang berhati mulia..


batin Cinta.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Keesokan harinya, cinta sudah bersiap untuk pergi bersama tante Kartika.


dan karena kebetulan hari ini dia sedang libur kerja, rencananya setelah mendaftar kuliah dia akan menemani tante Kartika untuk belanja keperluan rumah tangga.


Setelah mengurus administrasi pendaftaran, akhirnya Cinta resmi terdaftar sebagai salah satu mahasiswi di sebuah kampus ternama di Jakarta.


hari itu menjadi hari yang sangat berharga dan istimewa bagi Cinta,

__ADS_1


karena di hari itu adalah titik awal menuju kesuksesannya di masa mendatang.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


__ADS_2