Cita Cinta

Cita Cinta
Episode Sepuluh


__ADS_3

Jam perkuliahan telah selesai. Cinta melangkah gontai keluar dari kelas menuju koridor. pikirannya tengah serabut memikirkan sanksi yang harus dia jalani selama dua minggu kedepan.


"kayaknya aku harus rela kehilangan pekerjaanku.. dan mau tak mau aku harus segera mencari pekerjaan lain.."


gumam Cinta.


akhirnya Cinta sudah tiba didepan pintu gudang penyimpanan alat-alat kebersihan yang sudah menjeblak terbuka, pertanda ada orang didalam.


Raffa sudah memegang sapu dan tongkat pel saat Cinta masuk kedalam gudang tersebut.


"Kerjaan kamu gimana..?"


tanya Raffa.


"Mau gimana lagi.. terpaksa aku harus segera cari kerjaan lain setelah ini.."


jawab Cinta lesu.


saat mereka keluar dari gudang, Pak Surya sudah menunggu mereka.


Beliau sendiri yang akan mengawasi Raffa dan Cinta selama masa hukuman.


*Kasihan Cinta kalau harus kehilangan pekerjaannya. mungkin aku harus omongin masalah ini ke ayah.


Batin Raffa


secara diam-diam Raffa mengirimkan pesan melalui aplikasi whatsapp kepada ayahnya.


Raffa : Ayah..aku perlu bantuan ayah


tak lama kemudian ayahnya membalas pesannya.


Ayah : bantuan apa?


Raffa : soal sanksi yang diberikan Pak Surya.. tolong minta dia untuk membebaskan Cinta dari sanksi itu.


Sebelumnya Pak Surya sudah berkoordinasi dengan Tuan Jafar mengenai putranya yang bolos selama dua hari, dan Tuan Jafar sendiri yang meminta agar putranya diberikan sanksi.


Ayah : Kenapa ayah harus melakukannya?


Raffa : Ayah, jika dia menjalani hukuman ini dia akan kehilangan pekerjaannya. dia bukan orang mampu seperti kita ayah. aku yakin dengan posisi ayah bukan hal yang sulit bagi ayah untuk melakukan ini. jika ayah bisa meminta Pak Surya memberikan sanksi padaku, harusnya ayah juga bisa meminta dia mencabut sanksi itu.


Ayah : bagaimanapun juga dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya kan


Raffa : tapi situasinya berbeda ayah. dia terpaksa bolos karena dua hari yang lalu salah satu kerabatnya baru saja meninggal.


Tuan Jafar yang sedang berada diruang kerjanya mengkerutkan kening melihat isi pesan dari putranya tersebut.


"Apa yang terjadi dengan bocah tengil ini? tidak biasanya dia bertingkah seperti ini.."


Gumam Tuan Jafar.


kemudian dia kembali membalasnya.


Ayah : Kalau begitu kau harus menggantikannya.


"sepertinya kau mulai berubah nak.. ayah ingin lihat sejauh mana perubahan itu.."


Tuan Jafar menopangkan tangan ke dagunya.


melihat balasan terakhir dari ayahnya membuat Raffa tampak sedikit bingung.


*kalau aku menggantikan dia itu artinya aku harus melakukan semuanya sendiri.. astagaaa.. aku bahkan tidak benar-benar tau bagaimana cara menggunakan sapu dan tongkat pel ini


batin Raffa.


"Pak.. saya mau mengatakan sesuatu.."


Raffa berkata pada Pak Surya yang sekarang tepat dihadapannya.


"Katakan.."


jawab Pak Surya.


"Pak, tolong bebaskan Cinta dari hukuman ini. sebagai gantinya, saya yang akan melakukan semuanya.."


Ujar Raffa.

__ADS_1


Cinta yang mendengar hal tersebut tertegun.


"Baiklah, saya setuju.."


Jawab Pak Surya


"Cinta.. Kamu boleh pergi sekarang. dan Raffa yang akan mengerjakan semuanya SEN-DI-RI-AN"


Pak Surya menekankan kata terakhir sambil menatap Raffa.


"Tapi Pak.."


"Pergi sekarang.."


titah Pak Surya.


Cinta meletakkan sapu yang tadi dipegangnya, kemudian menatap Raffa.


"Thanks.."


Gumamnya.


Raffa hanya membalas dengan anggukan.


*kenapa aku malah membantunya.. ah, sudahlah.. anggap aja aku membalas budi.


batin Raffa


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Sementara itu diruang kerja Tuan Jafar..


"Faruq.. siapkan jet pribadiku sekarang.. sepertinya aku harus kembali ke Indonesia."


titah Tuan Jafar.


"Baik Tuan.."


seseorang yang diperintahkan oleh Tuan Jafar keluar dari ruangan, kemudian menyiapkan segala keperluan tuannya yang akan segera pulang ke Indonesia.


Sementara itu Tuan Jafar meraih ponselnya kembali, dan menghubungi seseorang.


setelah memberikan perintah kepada orang yang dihubunginya, Tuan Jafar mematikan ponsel.


"Aku harus mencari tahu siapa gadis itu, yang dengan sangat mudahnya melunturkan ego bocah tengilku.."


Gumam Tuan Jafar.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


"Akhirnya selesai juga..."


Gumam Raffa yang tampak sudah kelelahan.


sementara Pak Surya masih setia mengawasinya.


*si gundul ini.. berapa banyak ayah membayarnya untuk menungguku hingga larut malam begini


batin Raffa.


Selain dikenal dengan sebutan Dekan Killer, Pak Surya juga orang yang sangat perfeksionis terutama dalam hal kebersihan.


Raffa harus mengulang kembali semua pekerjaannya sampai lebih dari dua kali untuk memastikan semuanya benar-benar bersih dan tak tersisa satu butir debu sekalipun. terlebih lagi Raffa yang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga, sangat sulit baginya menggunakan semua peralatan tersebut walaupun yang untuk mayoritas orang adalah hal yang mudah.


"Sudah selesai..?"


Tanya Pak Surya saat melihat Raffa mulai membereskan peralatannya.


"Sudah pak.."


Jawab Raffa datar sambil memasukkan peralatannya kegudang.


"Kalau kamu gak mengajukan diri untuk menggantikan hukuman Cinta, pasti semuanya lebih cepat selesai.."


Gumam Pak Surya.


"masih ada tiga belas hari lagi Raffa.. pikirkan baik-baik.."

__ADS_1


Pak Surya tampak berusaha menggoyahkan Raffa.


Raffa hanya menggeleng.


"Yasudah.. kamu boleh pulang sekarang.."


Ucap Pak Surya.


setelah kepergian Raffa, Pak Surya menghubungi seseorang yang ternyata adalah Tuan Jafar.


"Pak, apa hukuman ini tidak terlalu keras..? saya rasa untuk hukumannya sudah cukup, Raffa sangat kelelahan.."


Ucap Pak Surya


"Biarkan dia melakukannya.. si anak tengil itu, bukannya meminta untuk dirinya sendiri tapi justru mencoba sok jadi pahlawan.. aku masih ingin bermain dengannya Sur, jadi biarkan dia menjalani hukumannya sedikit lebih lama.."


Jawab tuan Jafar.


"Baik Pak.."


Kemudian Pak Surya mematikan ponselnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan tak ada lagi bus yang melintas.


Raffa menarik nafas dalam.


"ada benarnya sih, kalau aku gak membantu gadis itu setidaknya sekarang aku sudah terbaring di ranjang empukku.."


Gumam Raffa.


Dia merogoh sakunya kemudian mencoba memesan ojek online dari salah satu aplikasi di ponselnya.


tak berapa lama kemudian ojek yang dipesannya tiba, dan mengantarkannya sampai ke tempat tujuan.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Saat tiba di halaman rumahnya yang sangat luas, dia melihat jet pribadi yang biasa digunakan ayahnya.


"Udah kuduga.."


gumam Raffa.


"Kamu pulang terlambat.."


seorang pria berusia empat puluhan menyambut Raffa didepan pintu.


perawakannya tak jauh berbeda dari Raffa.


selain dari usianya yang tampak jauh berbeda, janggutnya terlihat lebih tebal dan menggunakan kacamata.


"Ayah.."


"Jadi, siapa gadis itu..?"


Tuan Jafar terlihat serius.


"Gadis..? maksud ayah..?"


Raffa tampak bingung


"Gadis yang juga diberikan sanksi oleh dekan kalian.. siapa dia..?"


Tuan Jafar kembali mengulang pertanyaannya dengan lebih tegas.


"Oh.. dia cuma teman."


Jawab Raffa datar.


"teman..? sejak kapan kau perduli dengan orang yang kau sebut teman..?"


Raffa tidak menggubris.


dia berjalan masuk melewati Tuan Jafar yang berdiri tepat didepan pintu, kemudian menaiki tangga.


"Siapapun dia, ayah yakin dia gadis yang sangat luar biasa. hingga bisa membuat putraku bersikap lebih manusiawi.."


Ujar Tuan Jafar sambil berbalik memandang putranya yang sudah menduluinya.

__ADS_1


*Aku harus menemukannya.. hanya dia yang bisa merubah Raffa.


Batin Tuan Jafar kemudian berjalan menuju tangga.


__ADS_2