Cita Cinta

Cita Cinta
Episode DuaPuluhDua


__ADS_3

Sore itu Raffa baru saja tiba dirumahnya.


Dia langsung menuju ke kamarnya, namun ditahan oleh nenek.


"Ayahmu sudah menunggu, temuilah dia dulu di ruang kerjanya."


Ucap nenek.


Raffa mendengus kesal.


"Kalau kedatangan ayah hanya untuk membahas soal perjodohanku, tolong katakan padanya aku menolak. Aku tidak akan mengikuti kemauannya. Dan aku tidak akan menemuinya jika untuk membahas soal itu."


jawab Raffa dengan datar kemudian pergi begitu saja.


Raffa membanting pintu kamarnya dengan keras.


Dadanya terasa sesak.


Dilemparkannya tas ransel kesembarang arah, kemudian dia menjatuhkan dirinya diatas ranjang.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Nenek, sudah kukatakan aku tidak akan menemuinya."


Gerutu Raffa dengan kesal.


Tentu saja, hanya nenek lah yang berani mengetuk pintu kamarnya.


Lagi-lagi pintu kamarnya diketuk.


Raffa bangkit dari ranjang, kemudian membuka pintu dengan wajah bersungut.


"Nenek.. Kan sudah kubilang a..."


Kalimatnya menggantung begitu saja, saat melihat seorang pria paruh baya berdiri dihadapannya.


"Boleh ayah masuk?"


Tanya pria itu yang ternyata adalah ayah Raffa.


Sambil mendengus kesal Raffa menyingkir dari pintu dan membiarkan ayahnya masuk.


Ayahnya meraih sebuah bingkai foto yang terletak rapi diatas meja belajar Raffa.


Foto almarhumah istrinya.


"Ibumu, adalah wanita yang sangat luar biasa."


Ucap ayahnya mengawali obrolan mereka.


Raffa tidak menanggapi ucapan ayahnya.


"Dia wanita yang cerdas, dia juga berasal dari keluarga terpandang. Tapi yang terpenting, ayah sangat mencintainya."


Lagi-lagi Raffa hanya terdiam, mencoba menerka apa yang ingin dikatakan ayahnya.


"Apa kamu tahu, dulu ayah dan ibumu dijodohkan oleh kedua kakekmu."

__ADS_1


Raffa menatap ayahnya dengan sinis, seolah mengerti arah pembicaraan ayahnya.


"Ayah rasa.."


"Apapun yang ayah rencanakan, aku tidak akan mengikuti rancangan ayah. Hidupku adalah hakku. Lagipula bukannya selama ini ayah juga tidak pernah peduli?"


Ucap Raffa dengan datar.


Ayah Raffa menarik napas dalam.


"Raffa, kamu persis dengan ayah saat muda dulu."


Ujar sang ayah.


"Tidak, kita berbeda. Setidaknya, aku tidak ambisius seperti ayah. Aku tahu, dulu ayah menerima perjodohan itu juga untuk memuluskan rencana ayah untuk memulai bisnis ayah kan."


Tuan Jaffar menatap sekilas wajah putranya.


"Ya, mungkin kau benar. Tapi sikap keras kepalamu itu, mengingatkan ayah pada diri ayah sendiri puluhan tahun lalu. Saat pertama kali kakekmu mengatakan akan menjodohkan ayah dengan anak sahabat karibnya yang adalah pengusaha tambang batubara terbesar."


"Apa sebenarnya yang ayah inginkan?"


Tanya Raffa dengan nada datar.


Seakan mengerti dengan pertanyaan putranya, Tuan Jaffar tersenyum simpul.


"Gadis itu, temuilah dia satu kali saja. Mungkin saja kamu akan berubah pikiran setelah bertemu dengannya."


jawab Ayahnya.


Raffa menarik napas dalam.


"Apa syaratnya?"


Tanya tuan Jaffar.


"Jika setelah bertemu dengannya tetap tidak merubah pendirianku, berhentilah memaksaku untuk melakukan hal yang tidak aku inginkan. Dan, aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri."


"Baiklah, ayah setuju.


Kemudian Tuan Jaffar keluar dari kamar Raffa.


Sementara itu di tempat lain...


"Cinta, aku rasa Raffa memang benar-benar serius dengan ucapannya dikantin siang tadi."


Ujar Jihan sambil mengaduk lemon tea nya.


Saat ini mereka sedang berada disebuah kafe dekat kampus.


"Iya, soalnya ini pertama kalinya dia bersikap begitu. Dari awal juga aku udah bilang kan, sikapnya ke kamu itu berbeda."


timpal Fitri.


"Sebenarnya tujuan kalian ngajakin aku kesini itu mau menghibur, atau justru mau bikin aku tambah puyeng sih?"


protes Cinta.

__ADS_1


"Cinta.. Kami ini sahabat kamu, dan kami gak rela kamu jadi bahan bully an. Makanya, kami ingin memberikan saran untuk kamu biar kamu gak jadi bulan-bulanan hate-tijen lagi."


ujar Fitri.


"Saran apa?"


Tanya Cinta.


Fitri dan Jihan saling pandang sebelum memberi jawaban.


Kemudian...


"Menikahlah dengan Raffa."


jawab Jihan.


"Hahh?"


Cinta tampak syok dengan ucapan Jihan.


"Jihan benar Cinta, menikahlah dengan Raffa.


Cuma itu satu-satunya cara untuk membungkam cibiran orang-orang tentang kamu."


Ujar Fitri mendukung Jihan.


"Sumpah, aku gak ngerti lagi deh ini. Kalo kalian berniat ngeprank, ini gak lucu loh beneran. Mana tuh si bhambhang.. Pasti dia juga ada disini kan, diam-diam memperhatikan kita sambil cekikikan.."


Ujar Cinta sambil celingak-celinguk mencari sosok Raffa.


Cinta benar-benar berharap semua yang terjadi hari ini hanyalah skenario prank dari sahabat-sahabatnya dengan melibatkan Raffa. Dia baru menyadari hari ini adalah hari ulang tahunnya saat tadi pamannya menghubunginya melalui video call mengucapkan selamat ulang tahun.


"Cinta, ini bukan prank. Kami serius. Dan Raffa juga serius. Dia memang berniat menikahi kamu. Karena itulah dia meminta bantuan kami untuk membujuk kamu."


jawab Jihan.


Cinta menatap kedua sahabatnya itu kemudian tertawa sumringah.


"Aduh udah deh, aku acungin jempol untuk acting kalian yang luar biasa. Sumpah aku nyaris aja ketipu loh tadi kalo gak ingat ini adalah hari spesialku."


Ujar Cinta.


Fitri menarik napas dalam.


"Cinta, kami berani sumpah ini bukan prank. Tadi siang diam-diam kami menemui Raffa, kami sengaja meminta dia untuk klarifikasi soal ucapannya waktu di kantin. Dan dia sendirilah yang meminta kami membujukmu untuk menikah dengannya."


Lagi-lagi Cinta tertawa sumringah. Dia masih yakin bahwa sahabat-sahabatnya sedang menjahilinya.


"Udah deh, stop prank nya. Sumpah ini garing banget loh. Kalian nge prank sampe segitunya, sampe bawa-bawa Raffa segala. Aduh gak tau deh aku harus bilang apalagi."


Ujar Cinta.


"Kalo emang kamu gak percaya, kamu boleh telepon Raffa sekarang.


Cinta, kami melakukan ini semua demi kebaikan kamu. Kami gak mau kamu di cap jelek apalagi selalu jadi bahan bully an. Kamu udah lihat sendiri kan gimana beringasnya mulut-mulut mereka ngomongin kamu. Kalo kamu menikah dengan Raffa, setidaknya nama baik dan marwah kamu tetap terjaga, dan kamu bisa bebas dari bully an."


jawab Jihan

__ADS_1


Cinta tertegun. Kemudian menatap dalam kedua sahabatnya, seolah mencari kebenaran dari sorot mata mereka.


__ADS_2