
Keesokan harinya, Cinta masih tetap menjadi bulan-bulanan mahasiswi di kampusnya, terutama mahasiswi yang menggilai Raffa.
Mereka bahkan tak segan mengucapkan kalimat sarkas didepan Cinta.
"Percuma berhijab, tapi ganjen."
Ucap salah satu mahasiswi saat Cinta berpapasan dengan mereka.
"Ternyata berhijab dan rajin ibadah gak menjamin kealiman seseorang ya. Buktinya masih ada tuh yang kegatelan merayu laki-laki yang udah jelas-jelas bukan mahramnya."
Balas mahasiswi lainnya.
"Atau jangan-jangan emang dianya udah ngebet kawin mungkin ya."
Cinta yang sudah tidak tahan mendengar sindiran itu langsung berlari meninggalkan kampus.
Dia bahkan mengabaikan kakinya yang masih terasa sakit.
Jihan segera menyusulnya, sedangkan Fitri berusaha mencari Raffa.
"Astagaaa.. Kemana lagi alien itu. Giliran dibutuhkan begini dia malah gak masuk lagi."
gerutu Fitri setelah mencaei ke kelas Raffa dan mendapat informasi bahwa Raffa tidak masuk.
"Hei kamu, tunggu dulu. Kamu temannya Cinta kan?"
Fitri menoleh kebelakang, dan seorang senior sudah ada disana.
"Kenapa?"
Tanya Fitri dengan tatapan sinis.
Dia tahu betul, senior ini adalah teman baik Indira.
"Aku cuma mau kasih lihat ini aja kok."
Gadis itu menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
Foto Raffa bersama Indira, mereka tampak sedang berada disebuah kafe dan hanya berdua.
"Barusan Indira yang kirimin ini ke aku. Dia bilang sekarang dia lagi ada di Bali sama Raffa, liburan.
U know what? Ternyata Raffa dan Indira itu udah di jodohkan sama orangtua mereka. Dan gak lama lagi mereka akan menikah. So, please say to your bestfriend, don't disturb Raffa again. are u understand?"
Ucap senior tersebur dengan bahasa inggris yang sangat berantakan.
Fitri yang tadinya berniat marah, justru mentertawakannya.
"Ya ampun kak, bahasa inggris masih setaraf anak SD aja dibanggain. Jangan-jangan itu juga nyontek dari mbah Goog. belajar conversation dulu gih yang bener, biar gak malu-maluin."
Jawab Fitri sambil berlalu meninggalkan senior tersebut.
"Sialan tuh si Raffa, dia malah enak-enakan pacaran sama Indira. Jadi maksud ucapannya kemarin apa coba?"
Gerutu Fitri sambil mengepalkan tangannya.
Fitri sudah menyusul Cinta dan Jihan yang menunggunya di kafe tempat mereka biasa nongkrong.
__ADS_1
Cinta sedang menangis tersedu dan Jihan mencoba menenangkannya.
"Raffa nya mana Fit?"
Tanya Jihan yang melihat Fitri datang sendirian.
Fitri menarik Jihan agak menjauh, kemudian menceritakan apa yang baru saja terjadi.
"Jadi Raffa mau nikah sama Indira?"
Bisik Jihan, karena takut Cinta mendengarnya.
"Udahlah, emang lelaki gak bisa dipercaya. Dia udah membuat Cinta dalam masalah besar, tapi sekarang justru dia menghilang dan malah enak- enakan pacaran sama Indira di Bali."
Gerutu Fitri.
"Terus kita harus gimana dong? Cinta pasti akan semakin jadi bulan-bulanan dan semakin di bully.
Kamu ada ide gak?"
Tanya Jihan.
"Gak ada cara lain, mau gak mau untuk sementara kita harus bolos."
jawab Fitri.
"Kita?"
Jihan menatap Fitri dengan bingung.
Ujar Fitri.
"Iya juga sih. Tapi kalau bolos, kita mau kemana?"
Tanya Jihan lagi.
"Ya kemana aja.. Ke Bali kalo perlu, kita susulin tuh si Raffa terus kita cincang, kita jadikan makanan piranha."
Jawab Fitri asal.
"Iya ya, bener juga. kamu yang beli tiketnya kan."
Balas Jihan sambil tersenyum sumringah.
Sementara itu di tempat lain...
"Raffa.. Aku senang banget loh waktu tahu ternyata kamu adalah lelaki yang akan dijodohkan sama aku."
Ucap Indira sambil tersenyum manis.
"Tapi aku gak."
Jawab Raffa datar.
"Tapi pada kenyataannya kita memang akan dijodohkan."
Indira tak mau kalah.
__ADS_1
"Tapi sayangnya perjodohan ini gak akan terjadi. Kamu tahu, aku sudah membuat kesepakatan dengan ayahku. Jika setelah bertemu denganmu aku tetap menolak, maka perjodohan ini dibatalkan."
"Raffa, apa yang kamu bicarakan? Kamu tahu kan ayah kamu dan papaku adalah rekan bisnis. Dan mereka berencana untuk menggabungkan kedua perusahaan."
"Itu adalah urusan ayahku, tidak ada kaitannya denganku. Berhentilah bersikap sok manis dihadapanku karena aku tahu siapa kamu sebenarnya."
jawab Raffa dengan tatapan tajam.
"Apakah ini semua karena gadis itu? Siapa namanya? Cita, atau Cinta, ya what ever lah. Apakah kamu memang sudah jatuh cinta kepadanya?"
"Bukan urusan kamu."
Jawab Raffa sambil melengos pergi.
"Raffa, kamu tahu kan apa resikonya jika kamu menolak perjodohan ini?
Bisnis yang susah payah dirintis oleh ayah kamu, akan mengalami kerugian besar.
Asal kamu tahu, papaku adalah investor terbesar di perusahaan milik ayah kamu. Dan jika papaku membatalkan kerja sama.."
"Kalau begitu batalkan saja. Kau pikir aku peduli?"
Raffa memotong ucapan Indira dengan santai dan melengos pergi.
Melihat hal tersebut Indira tak tinggal diam.
Dia langsung menghubungi seseorang yang ternyata adalah papanya.
Malam itu Raffa baru saja tiba di rumahnya dan langsung disambut dengan tatapan tajam ayahnya.
"Raffa. Apa yang sudah kamu lakukan?"
Tanya Pak Jaffar yang berusaha menahan amarah.
"Seperti yang ayah minta, aku menemui gadis itu dan aku tetap tidak akan merubah pendirianku."
jawab Raffa enteng.
"Rafa, Apa kamu tahu akibat dari perbuatan kamu itu? Kenapa kamu sangat egois?
Apakah kamu tahu jika nasib ratusan karyawan saat ini ada di tangan kamu?"
"Jangan bicara soal egois ayah, kita sama-sama tahu siapa yang paling egois."
Ucap Raffa dengan nada ketus.
"Kalau begitu coba katakan pada ayah, bagaimana cara kamu mengatasi masalah sebesar ini?
Apa kamu tahu, gara-gara sikap kamu ini ratusan karyawan akan kehilangan penghasilan. Apakah kamu pernah memikirkan kehidupan orang lain seperti itu?
Selama ini ayah selalu bekerja keras,bukan hanya demi keluarga kita. Tapi juga demi kehidupan banyak orang. Terutama mereka yang sudah mengabdikan dirinya di perusahaan. Tapi karena sikap arogan kamu, ratusan orang harus menanggung akibatnya!"
Bentak tuan Jaffar.
Raffa tertegun. Dia baru menyadari kesalahan fatal yang telah diperbuatnya.
Bagaimana bisa dia bersikap begitu arogan dan egois dengan mengoebankan banyak orang?
__ADS_1