
"Tuan muda, ini formulir pendaftaran di salah satu kampus terbaik dikota ini. silahkan tuan muda isi, dan nanti akan saya bawa kembali ke pihak kampus untuk di proses.."
Pak Aji, salah satu orang kepercayaan Tuan Jafar menyerahkan secarik kertas yang merupakan formulir pendaftaran.
"Kenapa paman tidak mengisinya sendiri..?"
jawab Raffa ketus.
"Ini perintah Nenek. Beliau meminta saya menyerahkan formulir ini kepada Tuan muda agar anda mengisinya sendiri."
Ujar Pak Aji.
Raffa menarik formulir tersebut, mengisinya dengan cepat kemudian menyerahkan kembali formulir tersebut kepada Pak Aji.
"kapan jadwal perkuliahannya dimulai?"
tanya Raffa
"Bulan depan tuan muda.."
jawab Pak Aji.
Raffa mendengus kesal.
"Jadi kapan semua fasilitasku akan dikembalikan..?"
tanya Raffa lagi.
"Kalau soal itu tuan muda bisa bertanya langsung pada Nenek atau pada tuan besar.. karena saya tidak punya kewenangan dalam hal itu.."
Jawab Pak aji yang kemudian pergi setelah menerima formulir pendaftaran yang sudah diisi oleh Raffa sebelumnya.
"Bagaimana Aji..?"
tanya Nenek yang sudah menunggu diruang tamu.
"Tuan Muda sudah mengisi formulirnya nek, dan sekarang saya akan kembali ke kampus itu untuk mengurus semuanya.."
jawab Pak Aji.
"Baguslah.. segera selesaikan.."
Pak Aji mengangguk.
"Nenek, sepertinya Tuan Muda ingin berbicara dengan Anda.."
Nenek bangkit, kemudian segera beranjak menuju lantai dua. tepatnya ke kamar Raffa.
"Apa tuan muda ingin membicarakan sesuatu..?"
tanya Nenek saat sudah berada didepan pintu kamar Raffa yang terbuka.
"Nenek.. apa nenek sudah bicara dengan ayah..?
kapan ayah akan mengembalikan semua fasilitasku..?"
tanya Raffa yang sudah penasaran.
"Segera setelah Tuan Muda memulai jadwal perkuliahan. tapi dengan syarat, kartu ATM dan kartu Debit tuan muda akan dipantau langsung oleh Pak Aji. jika Tuan Muda menggunakannya untuk hal yang tidak perlu, maka fasilitas itu akan ditarik kembali."
jawab nenek dengan tegas.
"Nenek.. ini gak adil..."
"Justru ini adalah keputusan yang tepat Tuan Muda.. mulai sekarang Tuan Muda harus belajar untuk menggunakan segala fasilitas seperlunya."
Raffa mendengus kesal.
Jika fasilitasnya dibatasi, bagaimana dia bisa menikmati masa-masa perkuliahan hingga empat tahun kedepan..?
*sangat buruk
batinnya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tak terasa sebulan telah berlalu, dan hari ini adalah hari pertama Cinta dan Raffa sebagai MaBa (Mahasiswa/i Baru).
__ADS_1
sejak sebelum subuh, Cinta sudah menyiapkan semua keperluan untuk perkuliahan.
karena hari ini adalah hari pertama, tentunya akan ada Masa Orientasi Mahasiswa/i (MOM) untuk para MaBa.
Sebelum berangkat Cinta memeriksa kembali semua barang bawaannya dan memastikan tak ada yang terlupa.
Setelah semua beres Cinta berpamitan pada tante Kartika kemudian segera berangkat kekampus.
hari ini dia tampak sangat bersemangat.
Sementara itu dikediaman keluarga besar Mubasyir..
"Nenek.. ini hanya masa orientasi.. untuk apa aku menghadirinya..?
aku akan datang setelah masa orientasi selesai.."
Ujar Raffa.
"Jika Tuan Muda menolak, saya pastikan semua fasilitas Tuan Muda tidak akan dikembalikan."
Jawab Nenek dengan tegas.
*Astagaa... wanita tua ini selalu tau titik lemahku
batin Raffa.
"Baiklah.. aku akan pergi.
tapi katakan pada ayah aku meminta semua fasilitasku kembali, hari ini juga.."
Raffa mendengus kesal.
dengan perasaan yang masih kesal, Raffa menyiapkan diri kemudian turun ke bawah untuk berangkat ke kampus.
"Tuan Muda.. Anda harus membawa ini.."
Nenek menunjukkan sebuah Ransel besar yang dipegang oleh mang Sarip juga serenteng petai dan bola bekas yang sudah dipotong menjadi dua bagian.
"Astagaaa... Nenek, aku mau berangkat kekampus.. untuk apa aku membawa semua sampah ini..?"
"Karena selama tiga hari kedepan inilah yang akan anda gunakan. tidak ada bantahan.. jika menolak, fasilitas anda tidak akan kembali.."
Ancam nenek.
Raffa menerima perlengkapan dari Mang Sarip dengan perasaan kesal.
"kenapa tidak ada satupun kendaraan di garasi..?"
Tanya Raffa heran.
"Karena mulai hari ini Tuan Muda akan berangkat kekampus dengan naik bus.."
jawab Nenek yang sudah berada dibelakang Raffa.
"Nenek.. ini gak lucu.."
"saya juga tidak sedang melawak Tuan Muda.."
jawab nenek acuh.
"Saya hanya menjanjikan akan mengembalikan kartu ATM dan kartu Debit anda, tapi tidak dengan kendaraan anda.."
sambungnya.
"Astagaaaa...."
Raffa sudah benar-benar kesal, namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
dengan perasaan dongkol yang teramat sangat, Raffa berjalan menuju halte bus terdekat dari rumahnya.
"Mang Sarip, hubungi Aji dan minta beberapa bodyguard untuk mengikuti kemanapun tuan muda pergi secara diam diam.."
Mang Sarip segera melaksanakan perintah nenek dan mengambil ponselnya untuk menghubungi pak Aji.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Raffa sudah duduk manis didalam bus yang akan membawanya kekampus.
__ADS_1
tak berapa lama kemudian, bus berhenti di halte dan seorang wanita hamil menaikinya.
karena tidak ada lagi tempat duduk yang kosong, wanita itu terpaksa berdiri sambil berpegang di pegangan tangan bus.
"Mas, berdiri dong.. kasian tuh si ibu lagi hamil besar begitu.."
penumpang wanita yang duduk disamping Raffa meminta Raffa untuk memberikan kursinya kepada penumpang yang sedang hamil.
"Bu, saya juga penumpang dan saya berhak duduk disini.."
jawab Raffa ketus.
beberapa penumpang wanita yang duduk berkasak kusuk sambil memandang sinis pada Raffa.
"Mas ini kan laki-laki, gak punya perasaan banget ya.."
ujar seorang penumpang pria yang berdiri tak jauh dari posisi Raffa.
Raffa berpura-pura tidak mendengar, kemudian memasang earphone ditelinganya dan memejamkan mata.
Cinta yang sempat tertidur didalam bus tersebut tiba-tiba terbangun dan merasa iba melihat seorang wanita hamil yang tengah berdiri.
Cinta berdiri dari kursinya, kemudian mempersilahkan wanita hamil tersebut untuk menempati kursi yang tadi di dudukinya.
"Ibu.. duduk disana aja.."
ujar Cinta sambil perlahan membantu wanita hamil tersebut untuk duduk.
supir yang melihat hal tersebut sengaja memelankan laju bus nya agar Wanita hamil tersebut bisa berjalan.
"Makasih banyak ya mbak.."
Ujar Si wanita hamil setelah duduk di kursi penumpang dengan tatapan haru.
"si mbaknya udah cantik, baik lagi.. gak kayak mas yang disana itu.."
penumpang lain kembali berkasak kusuk, yang tentunya didengar oleh Raffa, karena dia hanya memasang earphonenya tanpa musik.
Raffa membuka sedikit matanya, melirik wanita yang sedang diceritakan oleh para penumpang yang sekarang berdiri didekatnya.
*Gadis ini... bukannya dia si kasir itu..??
Batin Raffa.
*Kayaknya, abang ini wajahnya gak asing.. tapi,, pernah jumpa dimana yaa..?
Batin Cinta yang juga diam-diam melirik ke arah Raffa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Akhirnya mereka tiba di halte yang tak jauh dari kampus yang mereka tuju.
Cinta sudah turun terlebih dahulu, dengan membawa tas ransel dan perlengkapannya disusul Raffa yang turun setelahnya.
"Tunggu.. kamu,, cewe kasir kemaren kan..?"
Raffa memanggil Cinta saat mereka sudah berada di halte.
"Oh iya, aku baru ingat.. abang yang kemaren gak bisa bayar belanjaan itu ya.."
Wajah Raffa memerah.
"Oh,, MaBa juga.."
Ujar Cinta sambil melirik perlengkapan yang dibawa oleh Raffa.
"Aku Raffa.."
Ujar Raffa sambil mengulurkan tangan.
"Aku Cinta.."
jawab Cinta sambil berlalu tanpa menjabat tangan Raffa.
"Gadis yang aneh.."
Gumam Raffa sambil melihat Cinta yang sudah berjalan menduluinya.
__ADS_1