Cita Cinta

Cita Cinta
Episode TujuhBelas


__ADS_3

"Fitri.. Kalo ngomong itu lihat situasi dong.."


Bisik Jihan.


"Gak pernah terjadi. Bahkan sekalipun dikasih pilihan antara jomblo atau pacaran sama dia, mending aku jomblo seumur hidup.."


jawab Cinta mantap.


"Huss.. Hati-hati kalo ngomong.. nanti kemakan omongan sendiri looh.."


Balas Fitri sambil cengengesan.


"Eh tapi kalo seandainya nih emang bener kalian jadian, kayaknya lucu juga looh..


cewe jutek, jadian sama cowo arogan.."


Ujar Jihan tak mau kalah.


Cinta menarik napas panjang.


"Kalian tuh sama aja.."


Kemudian Cinta meninggalkan kantin.


-------


"Ta, kamu dipanggil pak Wira tuh. Kemarin waktu kamu gak masuk kelas pak Wira kasih tugas karya ilmiah."


Ucap Jihan saat mereka bersiap pulang.


"Eh, kok aku gak tau ya? Yaudah deh, aku temui pak Wira dulu."


Kemudian Cinta bergegas menuju ruangan dosen untuk menemui pak Wira.


"Bapak manggil saya?"


Cinta baru saja akan masuk, namun ternyata Raffa sudah ada disana.


"Ya, masuk Cinta. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu."


Jawab Pak Wira sambil menunjuk bangku tepat disamping Raffa.


"Ini materi tugas untuk kalian. Satu kelompok maksimal tiga orang. Dan karena teman-teman kalian sudah memiliki kelompok masing-masing, saya harap kalian bersedia bekerja sama untuk materi ini meskipun kalian berbeda kelas."


"Tapi pak.."


Raffa mencoba protes, namun sepertinya wajah sangar pak Wira membuatnya ciut.


"Apa gak bisa dikerjakan sendiri-sendiri pak?"


Tanya Cinta.


"Materi ini membutuhkan minimal dua orang untuk saling bekerja sama. Sebaiknya kalian pahami dulu materinya. Dan, tidak ada toleransi. Saya tunggu materi kalian maksimal tiga hari."


Cinta menelan ludah.


Tiga hari, dan dia harus bekerja sama dengan alien dari planet antah berantah.


mimpi buruk.


Begitu pikirnya.


"Kamu kenapa gak nolak sih? Biasanya kamu kan paling ahli ngebantah dosen."


protes Cinta saat mereka sudah keluar dari ruang dosen.


"Kamu gak lihat tadi ekspresinya pak Wira udah kayak macan mau nerkam orang? kenapa gak kamu aja yang protes, kamu kan pinter, mahasiswi favorit semua dosen, kenapa kamu gak bilang ke pak Wira kalo kamu bisa kerja sendiri?"


"Sama aja bhambhangggg!! yang ada bukan diterkam, tapi malah ditelan bulat-bulat aku."


jawab Cinta.


"Yaudah, kalo gitu kamu aja yang kerjain. Beres kan."


Raffa baru saja akan meninggalkan Cinta, namun Cinta menarik ranselnya.

__ADS_1


"Mau kemana bhambhanggg..? Ingat, ini tugas kelompok. Bukan tugas pribadi. Kalo kamu gak bantu, aku bilangin ke Pak Wira."


Ancam Cinta.


"Dasar tukang ngadu."


Gerutu Raffa.


"Sore nanti jemput aku dirumah, kita akan mulai dengan mencari bahan materi di toko buku."


"Buset dah, lagaknya udah kayak nyonya besar."


"Kalo kamu nolak gak masalah, aku tinggal bilang ke pak Wira.."


Ujar Cinta sambil tersenyum sumringah.


"Yaudah, bilangin sana.. Bilang sama pak Wira kalo aku gak mau ngerjain tugas itu."


"Yakin nih..? Yaudah.. Pak Wiraaa..."


Cinta baru saja akan kembali ke ruangan pak Wira namun dengan sigap Raffa langsung menarik pergelangan tangannya meninggalkan tempat itu.


"Oke, kita buat perjanjian. Aku akan bantu kamu kerjain tugas itu dengan satu syarat."


"Syarat apa?"


tanya Cinta.


"Tolong jawab dengan jujur, kenapa waktu itu kamu berbohong?"


Tanya Raffa.


Cinta menatap Raffa dengan bingung.


"Bohong soal apa?"


Tanya Cinta sambil mengernyitkan kening.


"Soal orangtua kamu."


"Jadi, karena itu kamu marah sama aku dan uring-uringan gak jelas?"


"Jawab aja, gak usah banyak tanya."


"Oke, aku akan jelaskan semuanya."


Kemudian Cinta menceritakan secara singkat kehidupannya, sampai akhirnya dia menjadi anak angkat tante Kartika.


"Drama banget ya kisah hidup kamu. Atau jangan-jangan memang itu semua cuma drama?"


Ucap Raffa sambil tersenyum sinis.


"Terserah kamu percaya atau gak, tapi aku gak bohong. Memang itulah yang terjadi di kehidupanku. Lagipula, untuk apa aku berbohong?"


Jawab Cinta sambil menitikkan airmata, kemudian pergi meninggalkan Raffa.


"Yaelah, gitu aja nangis. dasar baper.."


Ujar Raffa.


Namun Cinta terus berlari pergi tanpa menoleh.


------


"Cinta, kamu kenapa?"


Tante Kartika terkejut saat melihat Cinta yang pulang dengan wajah sembab.


Namun bukan menjawab, Cinta langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya.


*Apa salahku, kenapa dia sejahat itu


Batin Cinta sambil menangis.


Tak terasa waktu menjelang sore.

__ADS_1


Raffa sudah sampai didepan rumah Cinta, namun dia sungkan untuk masuk.


Dia mencoba menghubungi Cinta, namun ponselnya tidak bisa dihubungi.


"Yaudahlah, masuk aja."


Gumam Raffa.


"Assalamualaikum.."


Ucap Raffa saat sudah didepan pintu.


"Waalaikumsalam.."


Tante Kartika membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Kamu, temannya Cinta kan?"


Tanya Tante Kartika memastikan.


"Iya tante, saya Raffa. Cintanya ada tante?"


Tanya Raffa.


"Waduh, nak Raffa telat. Cinta baru aja keluar."


"Keluar? dia kemana tante?"


Tanya Raffa.


"Tante juga gak tahu, tadi dia cuma bilang mau ke toko buku.."


Jawab Tante Kartika.


"Yaudah deh, kalo gitu saya permisi ya tante.."


Raffa baru saja akan pergi saat tante Kartika menahannya.


"Tunggu dulu nak Raffa, boleh tante bertanya sesuatu?"


Tanya tante Kartika.


"Tanya apa tante..?"


"Duduk dulu, tante mau tanya soal Cinta."


Tante Kartika mempersilakan Raffa duduk di kursi teras.


"Sebentar, biar tante bikinin minum dulu."


Kemudian tante Kartika meninggalkan Raffa diteras.


Tak lama kemudian tante Kartika kembali dengan teh dan cemilan.


"Nak Raffa, tante minta maaf sebelumnya. Tante mau tanya, apakah selama di kampus Cinta pernah punya masalah atau gimana?


Belakangan ini tante sering melihat Cinta pulang dalam keadaan mata yang sembab."


Raffa tertegun. tentu itu ada kaitannya dengan dirinya. Karena siang tadi, dialah yang membuat Cinta menangis dengan perkataan jahatnya.


"Em... Raffa kurang tahu tante. Tapi, mungkin memang dia ada masalah dengan seseorang."


jawab Raffa.


"Owalah.. kasihan sekali Cinta."


Gumam tante Kartika.


"Maaf tante, boleh aku bertanya hal yang sedikit pribadi?"


Raffa merasa penasaran dengan cerita hidup Cinta, maka dia memutuskan untuk bertanya langsung dengan tante Kartika.


Tante Kartika pasti tahu sesuatu.


Begitu pikir Raffa.

__ADS_1


__ADS_2