
"Cinta.. Ibu mau bicara sama kamu.."
Wajah Bu Kartika tampak tegas.
"Yaudah, kita bicara didalam ya bu.."
Jawab Cinta sambil menggiting Bu Kartika masuk kedalam rumah.
"Cinta.. apa benar kata teman kamu tadi, kamu sudah tidak masuk kuliah beberapa hari ini..?"
tanya Bu Kartika sesaat setelah duduk di sofa.
"Bu.. itu gak benar .. aku kuliah kok. tapi aku gak mau ketemu dia.. aku tau sejak kemarin dia mencariku, karena itu aku minta teman-temanku bilang ke dia kalo aku gak masuk."
jawab Cinta.
"Cinta.. kamu gak boleh begitu.. apa kamu ada masalah sama temanmu tadi..?
atau jangan-jangan dia pacar kamu..?"
"Gak bu.. dia bukan siapa-siapa kok. dan aku juga gak ada masalah apapun sama dia. aku cuma gak mau ketemu dia."
"Tapi tadi ibu dengar dia bilang kamu bohong soal ibu, itu maksudnya apa..?"
tanya bu Kartika ingin tahu.
Akhirnya Cinta menceritakan peristiwa yang terjadi di pemakaman ibu Raffa satu minggu yang lalu.
"Cinta.. Ibu rasa hal yang wajar kalau dia mengatakan itu.. toh, dia kan gak tau kondisi kamu yang sebenarnya.. dia juga sudah bersusah payah mencari kamu sampai kesini, ibu rasa dia merasa bersalah.."
"Orang yang egois dan arogan seperti dia gak kenal yang namanya rasa bersalah bu.."
jawab Cinta.
"Yasudah.. tapi saran ibu, sebaiknya kamu luruskan kesalah pahaman antara kalian.. biar gimanapun juga kalian kan teman satu kampus, pasti akan sering bertemu.."
Ujar tante Kartika sambil membelai kepala Cinta.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
"Dasar cewe sialan... jadi percuma aja beberapa hari ini aku uring-uringan merasa bersalah sama dia, ternyata dia bohong.. dia bilang gak punya orangtua.. tapi wanita tadi, jelas-jelas wanita itu ibunya.. ngapain juga dia harus bohong..?"
Raffa mengumpat sendiri sambil meremas tangannya.
Supir taksi online yang dia naiki hanya diam sambil melihatnya dari kaca mobil.
Raffa kembali kerumahnya dengan perasaan kesal.
Setibanya dikamar, diraihnya foto almarhumah ibunya yang sengaja dia pajang di meja belajarnya.
"Ma.. Dia pembohong ma.. gadis itu pembohong..
ma.. Aku rindu mama.. aku rindu omelan mama.."
Raffa mengelus bingkai foto almarhumah ibunya, kemudian mendekapnya sambil berbaring di atas kasur king size nya.
adzan subuh berkumandang dan membuat Raffa tersentak.
dia bangkit dari tidurnya kemudian membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh.
Sejak kehilangan sosok seorang ibu, perlahan Raffa mulai berubah semakin religius.
Baginya, agama hanya sekedar identitas diatas kertas. Dia menjalankannya dengan setengah hati, hanya untuk menunjukkan pada keluarganya bahwa dia sudah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Ayahnya adalah pria keturunan arab, seorang pengusaha dan pemilik kilang minyak terbesar di Arab. Sedangkan almarhumah ibunya, adalah anak dari pengusaha tambang batubara di Kalimantan.
Terlahir dari kedua orangtua yang terlalu sibuk dengan bisnis masing-masing membuat Raffa tumbuh menjadi anak yang arogan. terlebih karena waktunya lebih banyak dihabiskan bersama pengasuh sejak dia balita membuatnya menjadi anak yang egois, dan semaunya sendiri. Karena para pengasuhnya selalu mengikuti apapun keinginannya.
Hanya neneklah satu-satunya orang yang dia segani sejak dia kecil. karena sikap nenek yang tegas, Raffa tidak berani menentangnya.
Nenek juga yang lebih banyak menemaninya, mengajarkannya banyak hal termasuk ilmu agama.
☆☆☆☆☆
Raffa berjalan melewati koridor kampus dengan langkah gontai. Sejak kehilangan ibunya, dia seolah kehilangan semangat hidup. Sesibuk apapun seorang ibu, namun bagi anaknya sosok ibu ibarat malaikat tak bersayap. Bahkan meski sejarang apapun bertemu dan bertegur sapa, sosok ibu adalah penyemangat bagi anak-anaknya.
Rumah, tak lagi menjadi rumah jika tak ada ibu didalamnya.
"Raf.. Kamu kenapa..?"
__ADS_1
Indira berjalan menghampirinya.
Dan saat Indira akan menyentuh bahunya, Raffa langsung menepis tangan Indira dengan kasar.
"jangan pernah berdiri lebih dekat dari jarak ini."
Raffa menatap Indira dengan tatapan tajam, seolah dia tak suka.
"Raf.. aku tahu kamu lagi sedih.. kalau kamu mau cerita, aku bersedia kok jadi pendengar kamu.."
Indira mencoba bermanis muka didepan Raffa.
"Tapi sayangnya aku tidak bersedia. sebaiknya kau cari saja pria hidung belang lain yang bisa kau goda, yang pasti orang itu bukan aku."
Jawab Raffa dengan nada sinis sambil berlalu meninggalkan Indira yang tampak kesal.
"Lihat aja nanti Raffa, sampai sejauh mana kamu sanggup menolak pesona Indira Larasati.."
Gumam Indira sambil tersenyum sinis melihat punggung Raffa yang sudah jauh meninggalkannya.
Sementara itu dikantin...
"Ta.. Kamu yakin gak mau nyamperin Raffa..? Kasihan loh dia dari kemarin kayaknya udah frustasi banget mau ketemu kamu.."
Tanya Fitri.
"Gak perlu Fit, lagian aku juga gak ada urusan sama dia.."
jawab Cinta ketus.
"Sebenernya kalian ada masalah apa sih Ta..?
aku heran deh.. kalian tuh kayak orang pacaran yang lagi marahan tau gak.."
timpal Jihan.
Cinta yang sedang menyendok makanan ke mulutnya langsung tersedak.
"Astaga Ta.. pelan-pelan dong, gak ada yang ngejar juga.. sampe sekaget itu.. atau jangan-jangan emang bener kamu pacaran sama Raffa..?"
__ADS_1
tanya Fitri dengan antusias dan saking antusiasnya dia berbicara sedikit keras dan menjadi pusat perhatian mahasiswa lain yang sedang berada di kantin tersebut.