
Keesokan paginya Cinta sudah bersiap berangkat ke kampus.
Saat dia membuka pintu, ternyata Raffa sudah berdiri didepan pintu dan mengetuk kepalanya.
"Apaan sih Raf!"
Cinta memundurkan kepalanya sambil menatap Raffa dengan kesal.
"Eh, maaf. tadinya mau ketuk pintu, ya salah kamu sendiri buka pintu gak bilang-bilang."
Jawab Raffa dengan enteng.
"Eh, ada Raffa. Mau jemput Cinta ya?"
Sapa tante Kartika.
"Pagi tante."
Raffa menyalim tangan tante Kartika dengan sopan.
"Bu, kami langsung berangkat aja ya. Udah telat soalnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jawab Tante Kartika sambil tersenyum.
Dengan langkah yang masih pincang Cinta menarik tas ransel Raffa dan segera membawanya pergi, takut tante Kartika akan bicara panjang lebar.
"Kalo mau narik itu tarik yang bener dong. tarik tangan kek."
protes Raffa saat mereka sudah keluar dari gerbang.
"Bukan muhrim."
Jawab Cinta ketus.
"Lah, bukannya semalam juga kamu pegangin tangan aku ya..? Sampe dilirikin orang-orang, dibilang pasangan so sweet.."
Ledek Raffa.
"Itu terpaksa bhambhangggg!"
"Yaudah deh, kalo gitu nikah aja yuk. Biar muhrim."
Ucap Raffa dengan entengnya.
"pltakk!"
Cinta memukul kepala Raffa dengan buku yang dibawanya.
"Aduh, Sakit woi!"
protes Raffa sambil menatap tajam kepada Cinta.
"Kurasa saringan yang ada diotak kamu udah rusak ya, jadi kalo ngomong gak dipikir dulu."
Gerutu Cinta.
"Yaelah, baperan banget sih. cuma becanda juga."
Jawab Raffa sambil mengusap kepalanya.
Akhirnya mereka tiba di halte bus setelah berjalan dengan perdebatan panjang yang gak mutu.
Dan ternyata bus yang mereka tumpangi sudah sangat padat dan sesak. Tak ada lagi bangku yang tersisa. Bahkan pegangan yang bergantung di atap bus hanya tersisa satu.
Raffa mengalah dan membiarkan Cinta berpegangan. Sedangkan Raffa sendiri berdiri di hadapan Cinta.
__ADS_1
"Pak, boleh tolong kasih bangkunya ke dia? Kakinya sedang cedera."
Raffa mencoba membujuk seorang bapak tua yang duduk di dekatnya.
"Raffa, apaan sih."
Bisik Cinta sambil menatap Raffa dengan tajam.
Baru saja si bapak tersebut akan berdiri, Cinta langsung menolaknya dengan halus.
"Saya gak apa-apa kok pak, bapak duduk aja."
Ucap Cinta sambil tersenyum.
Raffa menatap Cinta dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tiba-tiba supir bus mengerem mendadak, sehingga tubuh Raffa terlempar kedepan, tepatnya ke arah Cinta.
Mereka nyaris saja terjatuh, namun Raffa berhasil menahan tubuh Cinta dengan satu tangan memeluk punggungnya dan tangan lain meraih pegangan, membuat mereka berakhir pada posisi yang awkward.
Mereka langsung jadi bahan ledekan para penumpang bus.
"Ciee, so sweet.."
"Wah, pasangan muda yang serasi ya."
Cinta langsung membenahi posisinya.
Dan saat ini wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, begitu juga dengan Raffa.
"Maaf ya mbak, Mas.. Tadi ada motor yang tiba-tiba nyalip. Makanya saya ngerem mendadak."
Ucap supir bus tersebut.
"Iya pak, gak apa kok."
Jawab Raffa.
Berdiri didalam bus yang sedang melaju tanpa berpegang pada sesuatu tentu sangat menyulitkan.
Cinta menyadari hal itu dan merasa kasihan pada Raffa.
Akhirnya Cinta mengalah dan mengijinkan Raffa untuk berpegangan di handle yang sama dengannya.
Dan tentu saja, mau tak mau Cinta membiarkan Raffa memegang tangannya.
Merasa tangannya sedikit kebas kemudian Cinta melepaskan pegangannya.
"Pegang ini aja."
Ucap Raffa sambil menunjuk kedua sisi jaketnya yang terbuka.
"No, no, no.. Itu posisi yang bahaya."
Tolak Cinta sambil menatap Raffa dengan tatapan mematikan.
Raffa tersenyum sumringah.
Kemudian pria itu memindahkan tas ranselnya kedepan.
"Nih, pegangan disini. setidaknya lebih aman kan."
Ucap Raffa.
Akhirnya Cinta berpegangan pada tas ransel milik Raffa.
Sekian lama perjalanan akhirnya mereka tiba di halte yang letaknya tidak jauh dari kampus mereka.
__ADS_1
Karena berdiri terlalu lama Cinta merasakan sakit pada pergelangan kakinya yang keseleo.
"Kamu gak apa? Bisa jalan gak?"
Tanya Raffa yang tampak cemas, namun berusaha bersikap seperti biasa.
"Bisa kok, bisa. Jawab Cinta sambil memaksakan kakinya untuk berjalan.
Namun akibat kaki yang masih keseleo dan berdiri terlalu lama Cinta kehilangan keseimbangan karena sakit di kakinya dan lagi-lagi nyaris terjungkal kedepan.
Beruntung Raffa dengan sigap meraih tubuh Cinta.
"Kalo emang gak bisa jangan dipaksain."
Ucap Raffa sambil memegang lengan Cinta dan membantunya berjalan.
Namun tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang tengah mengawasi gerak gerik mereka dengan tatapan tak suka.
Mereka tiba dikampus disambut tatapan aneh dari orang-orang yang ada disana, termasuk teman-teman Cinta yang sempat melihat mereka dari jauh.
"Eh, itu bukannya Cinta sama Raffa ya?"
Ucap Jihan.
"Iya bener, mereka gandengan? Wah, Fix nih emang mereka beneran pacaran.."
timpal Fitri.
"Wah, boleh dong entar minta PJ.."
Jihan tersenyum sumringah.
"PJ apaan sih?"
Tanya Fitri.
"Pajak Jadian lah, lumayan dapat traktiran.."
celetuk Jihan sambil tertawa.
"Dasar perut karet, urusan traktiran aja semangat banget."
balas Fitri sambil mencawel lengan Jihan.
"Yaudah yuk masuk, aku gak sabar pengen tanya langsung sama Cinta."
"Hayooo, Ketahuan nih yang datang bareng Raffa..
Pake gandengan segala, so sweet banget sih."
Ledek Fitri yang baru saja tiba dikelas.
"Gak bisa ngelak lagi, kami lihat sendiri. Diam-diam udah gandengan mesra aja. PJ woi PJ.."
Timpal Jihan yang langsung duduk disamping Cinta.
"Apanya yang so sweet? Tadi sia cuma bantuin aku, karena kaki aku keseleo."
Jawab Cinta berusaha memberi penjelasan.
"Halah, gak percaya.."
Celetuk Fitri.
"Kaki aku emang beneran keseleo."
Cinta menyingkapkan sedikit roknya dan menunjukkan perban di pergelangan kakinya.
__ADS_1
"Ya... Gagal dong PJ nya."
Ucap Jihan sambil memasang wajah memelas.