
"Apa yang sedang terjadi disini..?"
Seorang wanita berusia lanjut perlahan menaiki tangga di rumah mewah milik keluarga Mubasyir, sambil melewati beberapa ART yang sedang berdiri didekat sebuah pintu.
"Belum genap seminggu aku menikmati kebebasan dari semua tugasku, dan sekarang sudah menjadi kacau.. katakan padaku, apa yang terjadi dirumah ini selama aku pergi..?"
Wanita tua itu memandang ART satu persatu, meminta penjelasan.
Wajah keriputnya tampak lelah setelah melakukan perjalanan jauh, namun itu tak menjadikannya lemah. wanita inilah, tangan yang telah dipercaya mengurus semua hal di rumah keluarga Mubasyir sejak tuan Jafar Mubasyir (ayah Raffa) dilahirkan. bahkan wanita ini juga yang telah menjaga dan mendidik tuan Jafar. karena itu wanita ini sudah dianggap sepuh dirumah ini. bahkan tuan Jafar pun tidak berani membantahnya.
tuan Jafar sudah menganggapnya seperti ibu kandungnya sendiri, karena ibunya (nenek kandung Raffa) meninggal sesaat setelah melahirkan tuan Jafar dan ayahnya (Kakek Raffa) memutuskan untuk tidak menikah lagi dan fokus pada bisnisnya hingga dia menutup usia kemudian mewariskan seluruh kekayaannya kepada putra semata wayangnya, tuan Jafar Mubasyir.
"Nenek.. sejak semalam tuan muda mengurung diri dikamar setelah uring-uringan dan merusak beberapa barang.. bahkan tuan muda belum makan apapun sampai sekarang.."
jawab Bi Asih sambil menunjukkan ponsel yang sebelumnya dibanting oleh Raffa.
"bocah ini.. sampai kapan dia akan bersikap dewasa.."
wanita tua yang dipanggil Nenek itu menggerutu.
"Ita, panggil mang Sarip dan minta dia membuka pintu ini dengan kunci cadangan.. dan kamu Wulan, segera ambilkan makanan didapur untuk tuan muda.."
ujar Nenek.
Wulan, salah satu ART langsung turun menuju dapur. namun Ita hanya menunduk, dia takut tuan muda akan lebih marah jika mereka membuka paksa kamarnya.
"Ita..."
Meski merasa berat, akhirnya ART yang dimaksud turun kebawah dengan langkah sepelan dan selambat mungkin.
"Apa yang membuatnya semarah ini..?"
tanya Nenek pada Bi Asih, saat Ita dan Wulan sudah tak terlihat.
Bi Asih menceritakan apa yang terjadi. semuanya dimulai ketika tuan mudanya bertengkar hebat dengan nyonya besar. ditambah lagi nyonya besar yang tiba-tiba berangkat ke Saudi tanpa berpamitan atau memberi pesan apapun pada putranya.
"hanya itu yang saya tahu nek.."
ujar Bi Asih mengakhiri ceritanya.
"Lagi-lagi.. Bocah ini.. sampai kapan dia akan hidup seperti ini.. aku harus berbuat sesuatu, setidaknya untuk tuan muda.."
gumam Nenek.
tak berapa lama kemudian Ita muncul bersama Mang Sarip, disusul Wulan yang membawa nampan berisi makanan.
"mang Sarip, buka pintunya.."
perintah nenek.
mang Sarip hanya mengangguk, kemudian membuka pintu kamar pribadi tuan mudanya.
begitu pintu dibuka, tampak pemandangan kamar yang sudah berantakan. barang- barang tergeletak disana sini, bahkan beberapa diantaranya sudah rusak dan pecah.
Nenek melangkah masuk kekamar dengan perlahan, diselingi suara ketukan tongkatnya.
dilihatnya Raffa tengah berbaring di sofa dengan mata terpejam.
"Dasar anak nakal.. ayo bangun.."
Nenek menarik kaki Raffa yang langsung terkejut.
"Ne-Nenek.. kapan nenek pulang..?"
Raffa mengerjapkan matanya seolah tak percaya.
Nenek menarik salah satu kursi, kemudian duduk tepat dihadapan Raffa.
"seseorang menghubungiku dan mengatakan kau membuat ulah.. jadi, kekacauan apalagi yang kau buat tuan muda Hafizhan Raffa Khairy..?"
tanya Nenek sambil menatapnya tajam.
"emm.. nenek.. aku hanya.."
Raffa tampak salah tingkah, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
sepertinya Nenek memang memiliki aura ketegasan dan kewibawaan yang luar biasa, bahkan pemuda arogan seperti Raffa juga tidak berkutik.
"Ceritakan.."
perintah nenek dengan masih menatapnya tajam.
"Ayah dan ibu menarik semua fasilitasku nek.. mobil, motor, bahkan semua kartu ATM dan kartu Debitku dibekukan.. nenek tau kan aku tidak bisa hidup tanpa fasilitas apapun.."
Raffa tampak murung.
"Kenapa..?"
tanya nenek masih dengan wajah tegas.
"Kemarin, aku baru saja bertengkar dengan ibu. bahkan ibu pulang ke Saudi tanpa memberitahuku nek.."
jawab Raffa.
"apakah masih karena hal yang sama..?"
Raffa mengangguk perlahan.
"Nenek.. tolong minta ayah dan ibu mengembalikan semua fasilitasku Nek.."
Raffa memelas.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat.."
Ujar nenek.
"Syarat apa..?"
tanya Raffa penasaran.
"Kau harus melanjutkan kuliahmu. jika kau bersedia, nenek akan meminta tuan dan nyonya besar mengembalikan fasilitasmu."
Jawab nenek.
Raffa hanya terdiam.
"Jika kau menolak maka kau tidak akan mendapatkan kembali fasilitasmu, bahkan kau tidak akan mendapatkan uang sepeserpun.."
Nenek berkata dengan tegas.
Raffa menarik nafas dalam.
sejak dulu, hanya nenek lah satu-satunya orang yang bisa melunakkan sikap keras kepalanya. mungkin karena Nenek adalah orang yang sudah mengurusnya sejak kecil, sama seperti ayahnya.
"Baiklah, aku melakukan ini karena permintaan nenek."
jawab Raffa.
"Wulan.. bawa kemari makanannya.."
Nenek memanggil salah satu ART yang sejak tadi berdiri didekat pintu.
Wulan memasuki kamar, kemudian meletakkan nampan berisi makanan diatas nakas.
"Sekarang tuan muda harus makan.. Bi Asih bilang sejak semalam tuan muda belum memakan apapun..,"
meski Raffa tidak merasa lapar, namun tatapan tajam Nenek membuatnya tak berkutik.
diraihnya piring berisi makanan diatas nakas, kemudian perlahan dia mulai memakannya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"kamu yakin kamu sanggup bekerja sekaligus kuliah Cinta..?"
Pak Revan yang adalah kepala HRD ditempat Cinta bekerja bertanya padanya.
saat ini Cinta sedang berada diruangannya untuk meminta jadwal kerja part time.
"Saya yakin pak.. dan saya akan berusaha semaksimal mungkin, agar jadwal kuliah saya tidak sampai mengganggu jam kerja saya.."
jawab Cinta dengan mantap.
__ADS_1
"baiklah kalau begitu.. tapi ingat, jangan sampai kinerjamu terganggu karena jadwalmu yang padat.."
jawab pak Revan.
Cinta mengangguk.
"terimakasih pak.. kalau begitu, saya akan melanjutkan pekerjaan saya.. permisi pak.."
Kemudian Cinta keluar dari ruang HRD dengan perasaan lega.
"Gadis yang luar biasa.."
Gumam Pak Revan saat Cinta sudah keluar dari ruangannya.
"Gimana Cinta..? Kamu udah bicara sama Pak Revan..?"
tanya Dhea, salah satu rekan kerja Cinta
Cinta mengangguk dengan mantap, sambil tersenyum.
"Alhamdulillah Dhe.. aku udah dapat izin pak Revan.."
jawab Cinta dengan tatapan berbinar.
"Syukurlah.. selamat ya Cinta.. semoga kuliah kamu lancar.."
Ujar Dhea sambil memeluk Cinta.
saat jam istirahat...
Cinta menyempatkan diri menghubungi Pamannya dikampung.
*paman dan bibi pasti senang mendengar kabar ini
batin Cinta.
"Assalamualaikum paman.."
sapa Cinta saat panggilan sudah terhubung.
"Waalaikumsalam Cinta.. kekmana kabarmu disana..? sehatnya kau..?"
tanya paman dengan logat bataknya yang khas.
"Alhamdulillah sehat paman.."
jawab Cinta.
"kerjaanmu kekmana, lancar..?"
"Alhamdulillah kerjaan juga lancar.. paman, aku mau ngasih kabar baik untuk paman sama bibi.."
ujar Cinta
"Kabar baik apa itu..?"
tanya paman yang tampaknya penasaran.
"Mulai bulan depan aku akan lanjut kuliah disini paman.. Om Dermawan dan Tante Kartika yang akan membantu biaya kuliahku.."
Kemudian Cinta menceritakan semuanya dengan sangat antusias.
"Alhamdulillah... Bagus-baguslah kau kuliah disana ya.. biar bisa jadi orang sukses.. Paman yakin almarhum ayah dan almarhumah ibumu pun pasti akan bangga.."
ujar Paman yang juga tampaknya sangat bahagia mendengar kabar itu.
"nanti paman sampekan sama bibimu.. dia pasti senang kali dengar kabar baik ini.sekarang paman masih diladang.."
sambungnya.
"Iya paman.. salam juga untuk bibi ya.. aku tutup dulu teleponnya.
assalamualaikum.."
"waalaikumsalam.."
__ADS_1
kemudian Cinta meletakkan ponselnya, dan melanjutkan makan siang dengan bekal yang pagi tadi disiapkan oleh tante Kartika.