
Cinta baru saja tiba di bandara internasional Kuala Namu.
Paman dan bibinya sudah menunggunya di terminal kedatangan.
"Paman..Bibi..Cinta kangen banget.."
Cinta memeluk paman dan bibinya.
Ini adalah pertama kalinya Cinta pulang ke kota kelahirannya sejak dia menetap dikota orang untuk melanjutkan kuliah.
"Bibi juga rindu sama kamu."
Jawab bibi sambil memeluk Cinta dengan erat.
"Kekmana disana, apa kamu betah?"
Tanya paman.
"Alhamdulillah, betah paman. Lagipula selama ini ibu juga sangat baik padaku."
"Syukurlah kalo gitu. Yaudah, ayo kita pulang sekarang. Bibimu udah masak makanan kesukaanmu."
"Ngomong-ngomong, hal penting apa yang mau paman sampaikan?"
Tanya Cinta.
"Nanti aja kita bahas dirumah, biar enak ngomongnya."
Jawab paman.
Cinta hanya mengernyitkan kening.
Malam itu Cinta baru saja selesai makan malam bersama paman dan bibinya.
Dan sekarang mereka tengah mengobrol di teras rumah.
"Cinta, ada hal yang ingin paman katakan kepada kamu."
Wajah paman tampak serius.
"Soal apa paman?"
Tanya Cinta.
Paman menghela napas dalam.
"Begini Cinta.. beberapa hari yang lalu, seseorang datang menemui paman. Dan dia, berniat melamar kamu."
Cinta tertegun.
"Itulah alasan kenapa paman memintamu pulang, paman ingin mendengar pendapat kamu."
Cinta menunduk dalam.
"Paman, aku minta maaf. Tapi, aku perlu waktu untuk memikirkannya. Lagipula, bagaimana mungkin aku menerima lamaran dari lelaki yang tidak aku kenal?"
"Ya, kamu benar nak. Yasudah, paman cuma ingin menanyakan itu saja. Jangan terlalu dipikirkan ya."
Paman berusaha bersikap sewajarnya, meski raut wajahnya tampak kecewa.
"Iya paman."
jawab Cinta.
Cinta mondar mandir didalam kamarnya. Dari pembicaraan tadi, Cinta jelas melihat wajah paman yang tampak kecewa dengan jawabannya. Tapi, dia juga tidak mungkin menerima begitu saja lamaran dari orang yang tidak dia kenal.
*Ya Allah.. Apa yang harus aku lakukan.
Batin Cinta.
Beberapa hari sudah berlalu, dan Cinta sudah kembali ke kota J.
Dia juga sudah masuk kuliah, seperti biasa.
"Eh Cin, jadi ada cerita apa dikampung? Kok kemarin kamu diminta pulang mendadak?"
__ADS_1
Tanya Jihan yang tampak penasaran.
Cinta menatap Jihan sesaat sambil menimbang, haruskah dia menceritakannya?
"Cin.. Kok malah bengong?"
Fitri mencawel lengan Cinta.
Akhirnya, Cinta menceritakan semuanya kepada dua sahabatnya itu.
"Wah, mencurigakan.. Jangan-jangan orang itu Datuk Maringgi."
Ujar Fitri dengan wajah sok serius.
"Atau mungkin aki-aki tajir tuan takur di kampung kamu?"
Timpal Jihan.
"Kalian tuh kebiasaan ya, orang lagi serius juga."
Jawab Cinta sewot.
Jihan dan Fitri tertawa melihat reaksi Cinta.
"Yaudah, gini aja. Mendingan kamu tanya dulu sama paman kamu itu, siapa orang yang datang melamar kamu?
Ya kali aja babang Lee Min Ho, atau babang Ariel Noah gitu.."
Celetuk Fitri.
"Ngaco kamu Fit. Paling juga aki-aki. FIX deh, aku yakin itu."
Balas Jihan.
"Kalian berdua sama aja ngaconya. Udah ah, males aku cerita sama kalian."
Jihan dan Fitri tertawa sumringah.
"Oke ini seriusan deh, memang sebaiknya kamu tanya dulu secara baik-baik siapa orang yang ingin melamar kamu. Ya siapa tahu aja dia justru laki-laki yang baik."
Cinta terdiam sejenak.
"Ntar deh aku pikirin lagi. Yuk balik."
Kemudian Cinta dan kedua sahabatnya berjalan bersama menuju gerbang kampus.
"Assalamualaikum Cinta.."
Tiba-tiba seseorang menyapa Cinta.
Cinta menoleh kebelakang, dan dia melihat Raffa berdiri disana sambil tersenyum sumringah.
"Waalaikumsalam Raffa?"
Cinta tampak terkejut dengan kedatangan Raffa yang tiba-tiba, begitu juga kedua sahabatnya.
"Kamu sehat?"
Tanya Raffa.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri apa kabar?"
Tanya Cinta.
"Alhamdulillah, sama seperti kamu."
Jawab Raffa.
Tiba-tiba Cinta teringat dengan barang-barang yang dulu dititipkan oleh Raffa.
"Kamu pasti mau ambil barang-barang itu ya? Ada kok dirumah."
Ucap Cinta.
"Yaudah, kita kerumah kamu sekarang."
__ADS_1
jawab Raffa dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
"Jadi, gimana ceritanya di Dhahran? Pasti kamu betah ya disana."
Ujar Cinta saat mereka sedang diperjalanan.
"Kalo soal betah, ya sebenarnya gak betah juga. Cuma ya mau gimana lagi, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan disana."
jawab Raffa.
"Oh, gitu ternyata."
gumam Cinta.
"Aku minta maaf ya."
Ucap Raffa dengan tulus.
"Minta maaf untuk apa?"
Tanya Cinta.
"Maaf karena aku gak pernah ngabarin kamu."
"Oh, kirain apaan. Ya gak apa sih, lagian kan memang aku bukan siapa-siapa kamu."
jawab Cinta.
Setibanya dirumah, Cinta langsung menyerahkan barang yang pernah di titipkan oleh Raffa kepadanya.
"Cinta, makasih ya. Karena kamu udah jaga barang ini dengan baik."
Ucap Raffa dengan tulus.
"Bukan apa-apa kok. Lagian namanya juga amanah, tentu harus dijaga dengan baik kan. Karena kelak di akhirat jugabdipertanggung jawabkan."
jawab Cinta.
Raffa tersenyum sambil menatap Cinta dengan tatapan teduh.
"Sebenarnya waktu itu aku juga mau nanya sama kamu, kenapa kamu gak simpan barang-barang ini sendiri aja, atau kamu berikan ke pemiliknya?"
Tanya Cinta.
"Karena aku takut mengecewakannya, aku takut hanya memberikan harapan palsu kepadanya."
jawab Raffa.
"Hah? Maksud kamu?"
Cinta tampak bingung.
Raffa menarik napas dalam.
"Cinta, kamu ingat gak apa yang ku katakan sebelum aku pergi?"
Tanya Raffa.
Cinta memutar bola matanya berusaha mengingat, namun tampaknya dia sudah melupakannya.
"Waktu itu aku pernah bilang, aku gak ingin mengikat hati kamu dengan janji palsu. Aku gak ingin kamu berada dalam situasi yang gak pasti. Karena masih banyak hal yang perlu kulakukan sebelum mengambil keputusan besar."
jawab Raffa.
Cinta tampak semakin bingung dengan ucapan Raffa.
"Sebenarnya, semua barang ini sengaja aku siapkan sebagai hantaran untuk meminang kamu. Dan aku sengaja pulang ke Indonesia, untuk meminta jawaban kamu."
"Meminang?"
Cinta berusaha memastikan ucapan Raffa.
"Mutiara Cinta Siregar, menikahlah denganku."
Cinta tertegun mendengar permintaan Raffa yang melamarnya secara mendadak.
__ADS_1