Cita Cinta

Cita Cinta
Episode DelapanBelas


__ADS_3

"Kamu mau tanya apa?"


Tanya tante Kartika.


"Emm.. sebelumnya aku minta maaf tante, kalau pertanyaan ini menyinggung. Tapi, apakah benar Cinta bukan anak kandung tante..?"


Tante Kartika tampak tertegun.


"Maaf tante, aku benar-benar tidak bermaksud menyinggung tante. Dan kalau memang tante tidak bersedia untuk menjawabnya, aku bisa mengerti."


Tante Kartika menarik napas dalam.


"Itu benar Raffa. Cinta memang bukan anak kandung tante."


Kemudian Tante Kartika menceritakan kisah hidup Cinta yang dia ketahui.


"Jadi, itu memang benar.."


Gumam Raffa.


Tante Kartika mengangguk lemah.


"Selama ini mungkin Cinta selalu berusaha untuk terlihat tegar dan ceria, tapi dibalik itu semua.. Hanya Allah saja yang tahu bagaimana perasaannya."


Ujar Tante Kartika.


Raffa merasa sangat bersalah, karena tadi siang dia sudah berkata sangat jahat pada Cinta.


"Tante, aku minta maaf. Akulah yang sudah membuat Cinta menangis. Aku sudah mengucapkan kata-kata yang pasti sangat menyakitkan hatinya."


Gumam Raffa.


Tante Kartika tertegun, namun dia tersenyjm simpul.


"Raffa, tante titip Cinta ya."


Ucapnya.


"Maksud tante?"


Raffa tampak tak mengerti.


"Tolong jaga Cinta. Tante tidak selalu tahu kemana dia dan bagaimana dia diluar. Tante minta tolong ya Raffa.. Anggap saja ini permintaan dari seorang ibu.."


Sontak perkataan tante Kartika membuat Raffa tertegun.


Dia teringat pada sosok ibunya yang sudah tiada.


"Insya Allah,tante.."


Jawab Raffa.


-------


"Kamu kemana semalam? Aku kerumah kamu, tapi ibu kamu bilang kamu pergi. Kalo emang kamu gak mau kerja bareng ngomong dong!"


Raffa menumpahkan kekesalannya pada Cinta pagi itu.


"Bukan urusan kamu. Lagipula, Aku ini kan pembohong. Jadi untuk apa kamu peduli?"


Jawab Cinta sinis.


"Oke, aku minta maaf soal itu. Aku tau aku salah."


"yaudahlah, kamu benar kok. lebih baik aku kerjakan tugas itu sendiri. Kamu tenang aja, aku gak akan bilang ke pak Wira kok."


Kemudian Cinta melengos pergi meninggalkan Raffa yang masih terdiam ditempat.

__ADS_1


Siang itu selepas kuliah Cinta bermaksud untuk mengerjakan karya ilmiahnya.


Tanpa dia sadari, seseorang sedang mengintainya dan mengikutinya secara diam-diam.


Cinta baru saja tiba di salah satu perpustakaan kota.


Dia melerakkan tasnya di loker, kemudian memilih salah satu sudut ruangan.


Setelah mengambil beberapa buku Cinta kembali ke meja sudut ruangan dan mulai mengerjakan tugas karya ilmiahnya.


"Pak Wira benar, harusnya tugas ini dikerjakan bersama. Kalau dikerjakan sendirian kapan kelarnyaa..."


Gumam Cinta sambil menyandarkan kepala di meja.


Tiba-tiba Raffa muncul dengan membaaa beberapa buah buku.


"Kamu ngapain disini?"


Tanya Cinta dengan ketus.


"Ya ngerjain tugas lah, kamu gak lihat aku udah bawa buku sebanyak ini."


Jawab Raffa tak kalah ketus.


"Pindah gih, aku males lihat kamu disini."


"Tapi gak ada meja kosong.."


Jawab Raffa sambil menyeringai.


*Ya Allah.. Alien ini maunya apa coba? dasar makhluk kutub


Cinta mengumpat dalam hati sambil menatap Raffa dengan sinis.


Tak terasa waktu menjelang sore dan akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tugas karya ilmiah yang diberikan pak Wira.


Celetuk Raffa.


Cinta hanya melirik dengan tajam, kemudian meninggalkan Raffa begitu saja.


Saat keluar dari ruang perpustakaan, ternyata cuaca sedang hujan dan celakanya Cinta tidak membawa payung.


"Hujan neng.. Butuh tumpangan?"


Raffa mengembangkan sebuah payung.


Cinta tertawa geli melihat Raffa.


"Kenapa ketawa?"


Tanya Raffa.


"Cowo arogan dan slengean kayak kamu, bawa payung? Lucu sih."


Ucap Cinta sambil tertawa sumringah.


Raffa nyengir, kemudian menunjuk seorang anak kecil di sudut gedung.


"Payung ini punya anak itu."


Jawabnya enteng.


"Idih, jahat banget ya kamu. Balikin gih."


Ujar Cinta.


"Ogah."

__ADS_1


Jawab Raffa cuek.


Cinta merebut payung yang dipegang Raffa kemudian berjalan menghampiri bocah kecil tersebut.


"Adek, ini payungnya kakak balikin.."


Ujar Cinta sambil menyerahkan payung yang dipegangnya.


Bocah tersebut menggeleng.


"Kenapa..? Ini payung kamu kan?"


Tanya Cinta.


"Iya, tapi udah dibeli sama kakak yang itu.."


Bocah itu menunjuk ke arah Raffa, kemudian menunjukkan tiga lembar uang seratus ribuan.


Raffa berpura-pura bodoh saat Cinta melirik kearahnya.


Cinta menatap bocah itu dengan heran.


"Kakak Pakai aja payungnya, aku dapat uangnya. lumayan bisa untuk beli payung baru. selebihnya untuk makan dan untuk beli perlengkapan sekolah."


Celetuk bocah tersebut.


Cinta trenyuh mendengar ucapan bocah itu.


"Kalo gitu, kamu ikut kakak yuk. Biar kakak antar pulang."


Lagi-lagi bocah itu menggeleng.


"Rumahku jauh, nanti kakak capek."


Jawab anak itu dengan wajah polosnya.


"Kamu yakin gak butuh payungnya?"


Tanya Cinta dan anak itu hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Kakak pakai aja."


Jawab bocah itu kemudian ngeloyor pergi.


Cinta menatap punggung bocah itu dengan tatapan nanar.


Dia teringat saat masih seusia bocah itu, dia sering bermain ke kota dan jadi ojek payung saat musim hujan tiba.


Meskipun itu dia lakukan secara diam-diam, karena kalau sampai paman dan bibinya tahu mereka pasti akan marah.


"Ngelamun aja neng, yuk pulang."


Raffa menyawel bahu Cinta yang masih menatap bocah yang sudah kuyup diguyur hujan.


"Nak, boleh tolong bantu nenek menyebrang kesana..?"


Seorang nenek tiba-tiba mendekati Cinta dan meminta tolong pada Cinta untuk mengantarkannya ke seberang jalan.


"Boleh kok nek."


Jawab Cinta sambil tersenyum kemudian Cinta mengantarkan nenek tersebut ke seberang jalan dan meninggalkan Raffa yang masih termenung didepan gedung perpustakaan.


Dari seberang jalan, Raffa melihat Cinta memberikan payung yang dia berikan tadi kepada nenek tersebut.


*Gadis aneh. Dia sangat ketus kepadaku, tapi dia bisa bersikap seperti malaikat pada orang lain. Apa jangan-jangan dia punya kepribadian ganda?


Batin Raffa.

__ADS_1


Namun ada sunggingan senyum di bibirnya.


__ADS_2