Cita Cinta

Cita Cinta
Episode Satu


__ADS_3

Malam itu Cinta sedang berada dikamarnya, mempersiapkan semua barang-barang yang akan dia bawa.


besok pagi dia akan berangkat ke Jakarta, setelah tiga hari sebelumnya mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah seorang kenalan gurunya.


"Kau yakin mau kerja disana?"


Bi Butet yang sedari tadi memperhatikan kesibukan Cinta dari ambang pintu mulai membuka suara dengan logat khas nya.


"Iya bi. Lagian Pak Dermawan itu kerabat dekat Pak Poltak. Bibi ingat kan, beliau wali kelas Cinta di SMA dan sering membantu Cinta."


jawab Cinta sambil tersenyum


"kau mau tinggal dimana?"


tanya Bi Butet yang tampaknya mulai risau.


Cinta menghentikan kegiatannya, kemudian berdiri dan meraih tangan bibinya. perlahan dia menuntun bibinya duduk di atas kasur, sembari menggenggam tangannya.


"Bi, Cinta paham bibi cemas. tapi, Pak Dermawan udah menyediakan tempat tinggal untuk Cinta. nantinya Cinta akan tinggal di kost-kost an milik adiknya Pak Dermawan. Cinta juga sebelumnya pernah jumpa Pak Dermawan kok Bi, dan Insya Allah Pak Dermawan orang yang tulus. Bibi jangan khawatir ya. doakan aja Cinta jadi orang yang sukses disana."


jawab Cinta yang berusaha meyakinkan bibinya.


"Kalau dia udah yakin sama keputusannya, biarlah dia pigi Butet. jangan kau halangi. Dia udah besar, udah pande lah dia jaga diri disana."


Paman Ucok yang baru saja muncul ikut menimpali.


"Cinta, bagus-baguslah kau disana ya. kerja yang bagus, jangan tinggalkan sholat. Paman doakan semoga kau berhasil disana."


Paman dan Bibi Cinta terkadang memang berbeda pendapat. karena mereka berasal dari suku dan budaya yang berbeda.


"Iya paman. Insya Allah Cinta akan ingat selalu pesan Paman."


jawab Cinta dengan mantap, kemudian melanjutkan mengemas barang-barangnya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Keesokan paginya, Cinta sudah bersiap untuk berangkat.


Bibinya sejak semalam merasa berat hati, tak henti mencemaskannya.


Sedangkan sang Paman justru sebaliknya.


pria paruh baya itu tampak tegar, bahkan dia memberikan banyak wejangan untuk Cinta.


Sang paman paham betul, tekat keponakan semata wayangnya ini sudah bulat untuk meninggalkan kampung halamannya.


"Sering-sering kabari kami tentang keadaanmu disana. biar kami tidak cemas. dan kalau terjadi apa-apa padamu disana, segera hubungi paman. biar paman yang menjemputmu. jangan lupa kirimkan juga alamat tinggal dan alamat tempatmu bekerja disana."


begitulah pesan terakhir yang diberikan Paman saat melepaskan kepergian Cinta.


Akhirnya setelah prosesi kepergian yang penuh drama, kini Cinta tengah duduk manis didalam bus antar kota yang akan menuju ke bandara Kuala Namu.


Sesekali Cinta tersenyum geli mengingat kejadian tadi, ketika Bibinya tak kuasa untuk melepasnya. Seolah itu adalah kali terakhir pertemuan mereka.


Bahkan Bibinya terus memeluknya dengan sangat erat hingga supir bus yang menjemputnya menggerutu.


"Paman, Bibi, mohon doa kalian. aku akan berusaha keras agar kelak aku menjadi orang sukses. Dan akan aku wujudkan cita-citaku."


gumam Cinta.


perjalanan dari desanya menuju bandara memakan waktu empat jam. dan selama di perjalanan, Cinta banyak bercerita kepada supir dan kondektur bus yang ternyata kebetulan satu marga dengan dirinya.


(ket : ini salah satu kebiasaan suku batak. dimanapun bertemu, jika mereka berasal dari suku yang sama atau bahkan marga yang sama mereka berlaku seperti saudara meskipun tidak saling mengenal. dan aku selalu salut untuk ini, meski aku justru berasal dari suku berbeda. tapi aku bangga terlahir dan dibesarkan ditanah batak. HORAS!!!)


Sesampainya di bandara setelah sebelumnya mendapatkan petunjuk dari kondektur bus yang berbaik hati membantu Cinta membawa kopernya, Cinta kemudian check in dan menitipkan kopernya di bagasi.

__ADS_1


setelah itu dia menuju terminal keberangkatan sesuai dengan yang tertera di e-ticketnya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Tak terasa waktu berlalu, dan kini Cinta sudah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta setelah menempuh sekian jam perjalanan sejak dari desanya.


"akhirnya... tiba juga di ibukota.."


Cinta tampak kegirangan karena ini adalah kali pertama dia menginjakkan kaki di kota Jakarta.


Dia melihat di sekelilingnya, banyak orang berlalu lalang.


ada yang sendiri, berdua, dan bahkan membawa serta keluarga.


Cinta menarik nafas dalam sambil memejamkan mata.


*Paman, Bibi. aku sudah tiba di Jakarta.


batin Cinta.


saat sedang asyik menyaksikan kedamaian yang ada disekelilingnya, tanpa sengaja dompet seseorang yang baru saja melewatinya terjatuh tepat didepannya.


Cinta memungut dompet tersebut dan berusaha memanggil si pemilik dompet yang sepertinya tidak menyadari bahwa dompetnya terjatuh.


"Bang.. ini dompet abang jatuh bang..!!"


Cinta sedikit berteriak sambil mengejar si pemilik dompet yang berjalan dengan sangat tergesa.


"astaga.. abang itu 'pekak kali' lah.. udah dipanggil dari tadi gak dengar juga.."


Gerutu Cinta sambil terus mengejar sipemilik dompet.


karena merasa lelah mengejar sambil menyeret kopernya yang lumayan berat, akhirnya Cinta berhenti dan duduk di salah satu bangku.


"yaudahlah, nanti coba kutengok aja manatau ada ktp atau alamatnya didompet."


gumam Cinta.


sudah ada beberapa pesan whatsapp yang masuk, dan semuanya dari bibinya yang bertanya "udah sampe dimana kau?"


Cinta tersenyum geli.


"Bibi.. lupa pulak aku tadi bilangnya. dipesawat kan hape harus dimatikan.."


ujarnya.


kemudian Cinta menghubungi bibinya melalui aplikasi whatsapp dan mengobrol sejenak.


setelah menghubungi bibinya, Cinta kembali menghubungi seseorang.


kali ini dia menghubungi Pak Dermawan, satu-satunya orang yang dia kenal di Jakarta.


dan sebelumnya Pak Dermawan juga sudah memintanya untuk segera memberi kabar jika sudah tiba di bandara.


sesaat saja Cinta sudah melupakan dompet yang sedari tadi dipegangnya.


tiba-tiba...


"nah.. ini nih orangnya pak, jangan-jangan dia yang nyopet dompet saya.. ini kan dompet punya saya.."


seorang pemuda jangkung dan atletis menghampiri Cinta bersama seorang satpam petugas bandara dan menudingnya.


Cinta yang segera menyadari hal tersebut berusaha menjelaskan.


"gak pak, ini salah paham.. tadi dompet abang ini jatuh.. aku udah capek ngejar dia sambil jerit-jerit manggil tapi abang ini gak dengar.."

__ADS_1


jawab Cinta dengan logat khas bataknya.


"alah, gak usah ngeles deh.. maling mana ada yang mau ngaku sih.. udah pak, bawa aja ke kantor polisi.. orang kayak gini kalo gak dikasih pelajaran gak akan jera.."


Ujar pemuda itu yang tak mau kalah.


seketika saja mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang ada dibandara.


atau mungkin yang lebih tepatnya, pemuda itulah yang menjadi pusat perhatian.


dengan postur tubuh jangkung dan atletis, wajah tampan khas arab, kulit putih dan hidung mancung.


"sungguh pemandangan yang memanjakan mata"


mungkin begitulah yang ada dalam pikiran orang-orang yang mengerumuni mereka yang kebanyakan adalah kaum hawa.


saat situasi tengah ricuh seorang pria berusia sekitar 40an datang bersama seorang wanita yang usianya sekitar 30an.


"Cinta.. dari tadi dicariin ternyata kamu disini..


ada apa ini rame-rame..?"


Sapa pria tersebut.


"Pak Dermawan.. abang ini salah paham.. dia kira aku nyopet dompetnya, padahal tadi dompetnya jatuh didepanku.."


Kemudian Cinta menjelaskan masalahnya kepada Pak Dermawan.


Pak Dermawan yang mengerti masalahnya kemudian menjadi penengah.


"maaf ya mas, pak satpam.. mungkin ini cuma salah paham.. ini keponakan saya, baru datang dari Sumatera.. dan saya sangat yakin keponakan saya ini gak mungkin nyopet.. dia ini anak baik-baik kok.."


Pak Dermawan berusaha membela Cinta.


Pemuda yang masih merasa kesal menarik dompetnya dari tangan Cinta, kemudian memeriksa isinya.


"apa barangnya ada yang hilang mas..?"


tanya pak satpam.


Pemuda itu hanya menggeleng.


"nah, itu artinya masalahnya udah selesai kan.. toh barang mas juga gak ada yang hilang.."


ujar Pak Dermawan.


"maaf"


Ucap Pemuda tersebut sambil mengulurkan tangannya.


"Iya gak apa-apa kok bang. lain kali jangan main asal tuduh ya.."


jawab Cinta sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.


Pemuda itu merasa canggung kemudian menarik tangannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


*baru kali ini ada wanita yang menolak bersentuhan denganku


batin Pemuda tersebut.


"yasudah, berhubung karena masalah ini sudah selesai, mas, mbak, bapak dan ibu boleh pergi sekarang.."


ujar satpam petugas bandara.


Cinta pergi bersama Pak Dermawan dan seorang wanita, sedangkan Pemuda itu masih terpaku ditempatnya melihat kepergian Cinta.

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


__ADS_2