Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)

Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)
Tigabelas#


__ADS_3

.


.


.


Seorang gadis berjalan dengan santai di koridor sekolah ia akan menuju ruang kelasnya. Senyuman menghiasi wajah cantiknya. Langkah kakinya membawa gadis itu menuju tempat duduknya.


Dahi Luna berkerut heran, melihat teman sebangkunya kok udah jam segini belum datang? Tumben sekali, biasanya dia selalu datang paling awal. Apa dia tidak masuk?


"Selamat pagi ." sapa seseorang padanya. Amira, baru saja dia memikirkan teman sebangkunnya ini namun dia sudah datang.


"Tumben baru datang."


Aneh. Hanya kalimat sederhana saja yang di ucapkan Luna namun kenapa Amira terlihat gelagapan? Memannya ada yang salah dari pertanyaannya?


"Nggak apa-apa."


"Nggak nyambung lo Mir, Lo kenapa sih?"


"Aku nggak apa-apa kok."


Yah sudahlah mungkin Amira tak ingin berbagi cerita sama aku.


Luna melihat ponselnya, ia melihat tidak ada notifikasi apapun dari Kevin. Biasannya kekasihnya itu selalu menanyakan kabarnya apalagi dia tidak menjeputnya di rumah. Semua orang aneh hari ini. Apa hari ini hari aneh sedunia??


"Mir, kantin yukk." Ajak Luna.


"Bentar lagi masuk Lun, nanti di marahin."


"Elah bolos sekali doang. Yaudah gue sendiri aja ya."


Luna melangkah keluar kelas meninggalkan temannya sendirian. Ia bersenandung kecil selama dikoridor yang sepi. Yaiyalah sepi semua siswa-siswi sudah berada dikelas karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi beberapa menit lagi.


Sesampainnya dikantin, Luna memesan sepiring Salad buah dan air putih. Ia tidak lapar, namun rasannya sangat malas berada dalam kelas. Apalagi pelajaran pertama hari ini adalah Fisika. Jika kekasihnya itu tahu pasti ia akan di omeli.

__ADS_1


*From; Luna


Kevin*?


Ceklis dua tanpa tanda biru. Pesanan Luna sudah datang dan sekali lagi gadis itu melihat tanda ceklis di ruang chatnya.


Belum dibaca? Pelajarankah? Biasanya meski pelajaran sedang berlangsung Kevin selalu menyempatkan diri memberitahu Luna. Atau rapat OSIS? Ah bodo amat, mending dia makan saja.


Satu suap masuk kedalam mulutnya. Rasanya enak seperti biasa namun entah kenapa suasana kantin yang sepi membuatnya tidak nyaman. Akhirnya gadis itu berjalan menuju taman belakang membawa makannya.


Luna memilih duduk dibawah pohon besar yang rindang sambil memakan makanan miliknya. Matanya diarahkan untuk mengamati sekitar, sepi karena memang ini jam pelajaran sedang berlangsung.


Tiba-tiba matanya menatap kerah satu objek yang menarik. Disana, agak jauh dari Luna ada Kevin dan Amira. Mereka berdiri dan terlihat sedang berbicara serius. Sedang apa mereka berdua di taman sepi begini? Selingkuh kah?


Luna memukul kepalanya karena berpikiran aneh-aneh. Mana mungkin Kevin berani menyelingkuhinya. Laki-laki itu jelas tahu benar apa konsekuensinya jika membuatnya terluka. Yah, Luna akan menjauh bahkan mungkin hingga tidak ada seorangpun bisa menemukannya apalagi 'dia' sudah semakin dekat.


*From; Luna


Kevin sibuk nggak? Temenin aku ke kantin dong*?


*From; Alfian❤


Maaf sayang aku nggak bisa temenin kamu. aku lagi di ruang OSIS, ada rapat. Nanti aja yah*?


Berbohong. Kenapa laki-laki itu berbohong padanya. Apa yang terjadi?


"iya sayang? Maaf aku lagi nggak bisa nemenin kamu."


"Kevin, ak-"


"Kevin serius, dengerin aku dulu."


"Itu suara siapa Kev? Kenapa seperti suara Amira?"


"suara anggota OSIS sayang. Kenapa jadi Amira temen kamu? Aku nggak lagi sama dia."

__ADS_1


"Kamu paling tahu aku tidam suka di bohongi dan aku tidak mentolerir segala jenis kebohongan, apapun itu. Kalau kamu merasa berbohong mending kamu jujur sekarang Kev." Ujar Luna. Jika kali ini Kevin tetap keukeuh tidak mau jujur yasudah, dia bisa apa.


"Aku nggak bohong sayang. Kamu kenapa sih?"


"Hm yasudahlah Kev, nggak penting. Terserah kamu aja. Lanjutin aja ngobrolnya sama Amira di taman. Maaf ganggu kamu."


Telepon dimatikan sepihak oleh Luna. Mata gadis itu sudah bekaca-kaca menatap penuh kekecewaan pada dua insan di bawah pohon itu. Matanya menangkap Kevin yang celingukan, mungkin mencarinya. Dengan cepat ia berbalik kebelakang pohon, menghindari Kevin takut ia akan menemukannya.


Ponselnya kembali berdering. Gadis itu melihat siapa yang menelponnya, mungkin saja Kevin ingin menjelaskan padanya. Namun harapannya sirna, bukan Kevin namun 'dia'


"waktunya kamu kembali kepadaku princess, sudah cukup mereka membuat kamu menangis."


"Satu kesempatan terakhir kak, jika mereka kembali membuatku menangis maka aku akan ikut denganmu."


"*okay Now stop crying or I will come to you. Love you Princess."


"Too, bye kak*."


Hanya satu kesempatan terakhir. Hanya satu kesempatan yang diberikan Luna pada mereka, jika kali ini mereka membuatnya menangis lagi maka ia akan dengan senang hati pergi dari mereka.


Luna tinggal untuk menunggu, menunggu kekasihnya datang untuk menjelaskan semuanya. Meski itu akan menyakitinya. Salahkah ia mengenalkan kekasihnya itu pada teman barunya? Apa benar jika kita mengenalkan kekasih kita pada teman mereka akan mengambilnya dari kita?


Gadis itu menjamin bahwa si iblis tidak akan menyakitinya seperti mereka. Meski ia tahh resikonnya jika ia memilih ikut si iblis, ia akan melihat sepasang iblis saling membunuh. Sepasang iblis kejam tanpa perasaan.


Tawa hambar Luna terdengar memilukkan. Pemikiran apa barusan itu, mana mungkin ia melihat sepasang iblis bertengkar jika salah satunya mungkin tidak akan peduli jika pergi. Bukankah Kevin sudah bersama Amira sekarang? Untuk apalagi dia peduli jika Luna pergi.


Gadis itu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menujh kelasnya dengan wajah sembab. Tatapan matanya kosong penuh sorot kekecewaan.


Untuk pertama kalinya Kevin berbohong padanya. Laki-laki yang pernah berjanji untuk selalu membuatnya tersenyum, senyuman selalu terbit di wajahnya agar 'dia' tidak datang namun Kevin malah makin mengundangnya mendekat.


'*apa yang kamu sembunyikan sebenarnya dariku? jangan membuatnya 'dia' semakin mendekat denganku karena kamu yang terus menyakitiku' Luna membatin.


🌺🌺🌺


**Jangan lupa vote banyak😚***

__ADS_1


__ADS_2