Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)

Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)
DuaPuluhEnam#


__ADS_3

.


.


.


Seorang gadis tengah menunduk lesu menatap buku tulisnya. Saat ini gadis itu tengah duduk di bawah pohon rindang di taman belakang sekolah. Mulutnya mencebik kesal melihat deretan soal di bukunya.


Tangannya meraih ponsel dan meletakkannya di belakang telinga setelah menekan sebuah nomor.


Tangannya yang satu lagi merai beberapa rerumputan di sekitarnya. Rasanya ingin sekali merobek buku tulis sialan itu.


"Kevin." rengeknya saat panggilannya tersambung.


"Kenapa sayangku?"


"Fisika." Terdengar suara tawa di seberang sana. Gadis itu menggembungkan pipi mendengar tawa kekasihnya itu.


"Kamu di taman? Tunggu sebentar aku kesana."


Panggilan itu mati. Luna yang memutuskannya. Kakinya ia selonjorkan ke depan dengan badan bersandar ke batang pohon.


"Luna."


Sebuah suara membuat Luna mendongak melihat siapa yang memanggilnya. Senyuman sinis muncul melihat siapa yang berdiri di depannya ini.


Amira, gadis itu berdiri sambil menunduk menatap ke bawah. Ia tidak terlihat canggung seperti biasannya. Mau apa dia kali ini?


"Gue mau ngomong."


"Ngomong aja." Jawab Luna ketus. Sekilas ia melihat Amira mengepalkan tangannya. Apa pedulinya? Gadis kesayangan ketua OSIS itu malah memejamkan matanya dan bersikap tidak peduli.


"Bisa nggak lo nggak usa mesra-mesraan sama Kevin di depa gue? Lo tau gue suka sama Kevin, jaga perasaan gue dikit dong!!"


Ohh helo? Dia tidak salah dengar kan? Gadis sialan di depannya ini mengatakan apa? Tidak tahu diri sekali.


"Lo siapa?"


Skakmat. Amira bungkam seketika dengan tangan kian mengepal erat. Dia kehilangan kata-kata karena dua kata yang di lontarkan Luna.


Padahal dia sudah menyiapkan berbagai kalimat untuk menyudutkan Luna tapi malah ia yang tersudut.


"Diem kan lo? Nggak tau diri sih. Mending sekarang pergi sebelum Kevin datang. Lo tau sendiri sifat pacar kesayangan gue itu kek gimana!" ujar Luna acuh.

__ADS_1


Badan Luna kembali bersandar pada batang pohong tanpa memperdulikan gadis yang berdiri di depannya. Matanya terpejam erat, dengan sikap santai namun pikiran melayang bebas.


Amira akhirnya pergi meninggalkan Luna sendiri. Ia sudah kalah, benar-benar kalah. Niatnya membuat Luna tersudut malah berbalik menyerangnya.


"Sayang." Kevin memanggil. Gadis yang bersandar di pohon itu tetap menutup matanya. Ia mendengar panggilan kekasihnya namun rasannya enggan membuka mata.


Moodnya tiba-tiba memburuk karena kedatangan mantan temannya itu. Ingin rasanya Luna berteriak dengan kencang meluapkan semua hal yang mengganjal.


Mengapa harus teman sendiri yang berkhianat? Rasanya cukup ia melukai hatinya, ia ingin hatinya yang belum sepenuhnya pulih menyembuhkan diri.


"Kevin!" pekik Luna terkejut. Laki-laki itu tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya. Menggendongnnya ala bridal.


"Aku tahu kamu lagi badmood kita cari makan. Kamu bebas makan sepuasnya sampai mood kamu kembali membaik."


Seperti biasa, tanpa kata dan langsung berbuat. Kevin selalu melakukan hal-hal tidak terduga. Tanpa di beri tahu ia akan selalu tahu apa yang di rasakan gadisnya.


Luna melingkarkan tangannya ke leher sang kekasih. Ia bersandar ke dada bidang Kevin. Airmatanya turun perlahan. Fisika sialan! Amira sialan! Luna benci keduannya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Seperti ucapannya, Kevin membawa gadisnya ke sebuah restoran ternama. Laki-laki itu juga membebaskan gadisnya memesan menu sebanyak yang dia inginkan.


Luna tentu saja memesan menu yang sangat banyak. Mood buruknya akan hilang saat melihat makanan yang tertata di meja.



Kevin keberatan? Tentu saja tidak. Selama hal itu membuat gadisnya tersenyum kembali. Tidak masalah sebanyak apapun makanan yang di pesan gadis kesayangannya itu.


Tiba-tiba Luna bangkit berdiri. Gadis berkacamata itu berjalan keluar restoran. Kevin hanya duduk tenang di kursinya menunggu gadis itu kembali. Ia sudah hafal di luar kepala segala sifat pacar kesayangannya itu.


Tak lama Luna kembali masuk dengan diikuti beberapa anak-anak berkaos kumal, anak jalanan.


Gadis itu mempersilahkan mereka memakan seluruh makanan yang ada di meja hingga kenyang. Mereka juga diijinkan meminta kembali atau membungkus jika ingin.


Anak-anak itu senang bukan main. Mereka tidak mungkin bisa makan di restoran semahal ini jadi mereka mengucapkan terimah kasih begitu banyak pada Luna.


Melihat senyum kekasihnya timbul membuat Kevib memunculkan senyumannya juga.


Gadis itu tidak mungkin memesan makanan sebanyak ini jika matanya tidak melihat beberapa anak jalanan di sebelah restoran ini.


"Terimah kasih Kevin."


"Apapun untukmu." Kevin tersenyum lembut. Luna menatap kekasihnya sebentar kemudian beralih menatap anak-anak yang makan dengan lahap itu. Ia bersyukur karena masih bisa berbagi dengan mereka.

__ADS_1


Di depan gadis itu terdapat sebuah salad buah dengan ice cream diatasnya.



Sementara Kevin ia memesan sepiring udang tepung dan jus buah.




"Kak," panggil seorang anak di sebelah Luna. Gadis itu menoleh dan tersenyum kearah anak itu." Boleh aku meminta lagi untuk ibu hamil dan adikku kak?"


"Tentu. Kalian akan membawa makanan yang telah di bungkus untuk di bawah pulang." Kali ini Kevin menjawab.


Laki-laki itu memang sudah memesan beberapa makanan untuk di bungkus dan di berikan kepada anak-anak ini.


"Terimah kasih kak." jawab mereka semua serempak.


Setelah selesai makan dan membayar semua pesanan, anak-anak itu mengikuti Luna yang keluar restoran.


Masing-masing dari mereka membawa dua bungkus makanan untuk di bawah pulang.


Dengan wajah berseri-seri mereka berpamitan pada Kevin dan Luna. Gadis berkacamata itu melambaikan tangan pada mereka semua.


"Maaf yah Kev."


"Kamu modus mau aku cium hmm?"


Kevin memeluk pinggang gadisnya membawanya mendekat. Laki-laki itu mengecup kening Luna lalu tersenyum lembut.


"Apapun yang bikin kamu senang aku akan melakukannya sayang. Mentraktir merek tidak akan membuatku jatuh miskin. Bukankah kita yang berlebih memang berkewajiban berbagi?"


Yah mereka yang berlebih memang berkewajiban berbagi. Bukankah sebagian harta kita ada hak mereka yang kekurangan?


Jangan takut miskin saat kamu berbagi.


Tuhan akan membalas apa yang kamu berikan dengan sesuatu yang lebih banyak.


Bersyukurlah kalian yang masih bisa berbagi kepada mereka. Masih bisa memberi dan bukan meminta.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


**Hallo๐Ÿ™Œ

__ADS_1


Jangan lupa vote and coment yah๐Ÿ™**


__ADS_2