Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)

Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)
Enam#


__ADS_3

.


.


.


 


'Sisi Iblisku'


Kevin Reviandra Willyam, Laki-laki berparas tampan dengan jabatan ketua OSIS SMA Angkasa. Dia dingin tak tersentuh dan jarang berinteraksi dengan yang lain. Tidak pernah menunjukkan ekspresi apalagi emosi.


Kemarin , laki-laki itu telah menunjukkan sesuatu yang belum pernah dilihat murid SMA Angkasa sebelumnya. Untuk pertama kalinya seorang Kevin Reviandra Willyam menunjukkan sisi Iblisnya yang penuh dengan amarah dan emosi. Bahkan tidak segan-segan mengancam seorang perempuan.


Mata elang milik laki-laki itu berkilat tajam penuh emosi. Kilatan marah itu terlihat sangat menakutkan bagi ketiga gadis didepanya. Rahan Kevin menegang dengan emosi yang sedang diujung tanduk siap untuk meledak.


Untuk sementara Kevin mengingatkan ketiga gadis didepannya ini tidak penting sekarang. Kekasihnya jauh lebih penting sekarang.


Kaki panjangnya melangkah lebar-lebar menuju ke ruang kesehatan. Tatapan tajamnya tidak berkurang juga dan membuat setiap orang segan serta memberikan jalan karena tidak ingin ikut terserat masalah.


"ohh shit!!"


Kevin menendang pintu ruang kesehatan dengan keras kala melihat pintu itu menghalangi jalannya. Umpatan kesal juga ia lontarkan untuk melampiaskan emosinya yang diujung tanduk.


Beberapa orang terlonjak kaget saat mendengar suara pintu di buka secara kasar. Mereka melihat kearah pintu dan mendapati sang ketua OSIS Menggendong seorang gadis dengan wajah memerah. Kevin meletakkan Luna diatas ranjang yang ada di ruangan itu.


"Jangan cuman diliatin ****! Lo bisa kerja nggak sih?" umpat Kevin dengan seorang dokter dan dua siswi yang sepertinya petugas PMR yang bertugas disana hanya memandang kearahnya.


Mata tajamnya mengintimidasi siapapun yang melihatnya. Ketiga orang itu segera mendekat dan sang dokter mulai memeriksa keadaan Luna.


Bughh↭


Kevin meninju dinding yang ada disampingnya. Ketiga orang disana terlonjak kaget karena kelakuan sang ketua OSIS. Tubuh mereka terlihat gemetar karena baru kali ini melihat Kevin bersikap begini.

__ADS_1


"Ngapain liatin gue? Kerjakan tugas lo!"Ketak Kevin.


"Kevin."


Suara lembut milik Luna terdengar ditelinganya. Tanganya juga merasakan genggaman lembut milik Luna. Mata yang tadiknya berkilat tajam penuh emosi kini melembut kala melihat senyuman tipis gadisnya.


Kevin menghembuskan nafas lega saat tahu gadisnya baik-baik saja. Nyaris saja ia melakukan hal yang tidak terduga jika gadis itu tidak kunjung membuka matanya


"pergi"


Ketiga orang itu langsung keluar ruangan ia paham dengan ucapan yang terlontar dari mulut Kevin. Mereka segera pergi keluar sebelum laki-laki itu kembali emosi. Sungguh bermasalah dengan Kevin bukan sesuatu yang menyenangkan.


"Jangan marah, aku takut." Suara lemah milik Luna terdengar. Laki-laki itu tersenyum lalu menunduk dan megecup kening gadisnya. Rasanya benar-benar melegakkan.


"Maaf ya sayang, aku hampir hilang kendali,"


Luna tersenyum melihat kekasihnya meminta maaf pertanda bahwa ia tidak marah. Ia memaklumi sifat Kevin yang akan berubag menjadi kejam saat menyangkut dirinya tapi, ia juga senang Kevin masih menepati janjinya.


Laki-laki itu hanya menunduk, rasanya seluruh beban di pundaknya terangkat sudah. Senyum lemah gadisnya membuatnya tersadar, dia akan membalas perbuatan Liona.


 


 


Seorang laki-laki duduk diam dikursi kebesaranya. Matanya menatap tajam seseorang yang kini gemetar ketakutan di depannya. Mata elang itu terus mengawasi mangsanya seolah jika ia lengah maka mangsanya akan kabur.


"Jadi, tahu apa kesalahan anda? " tanya laki-laki itu.


"Maafkan Liona tuan, dia masih anak-anak jangan menghukumnya."


Pria paruh baya itu menjawab pertanyaan yang diajukan seseorang yang di panggilnya' tuan' itu. Dia ketakutan, aura kejam laki-laki ini tidak disembunyikan.


Aura hitam mengelilingi laki-laki ini Ia tidak menyembunyikannya seperti biasanya, dengan terang-terangan ia memperlihatkan. Pria paruh baya itu bisa melihat seberapa 'hitam' laki-laki yang jarang sekali berbicara ini.

__ADS_1


"Memaafkan? Anak-anak?" Laki-laki itu tertawa," Liona itu bukan lagi anak-anak, dia tidak lebih dari seorang ****** bagiku."Ucal laki-laki itu dingin.


Pria paruh baya itu menegang, tanganya terkepal kuat . Dia tidak terima putri kebanggaannya dihina seperti ini. Putrinya memang bersalah tapi 'tuan'nya tidak bisa seenaknnya menghinanya.


"Ahh kau belum tau bukan jika putri yang kau panggil anak-anak itu pernah menawarkan tubuhnya padaku?"


Lagi. Sepertinya laki-laki itu belum cukup puas hingga ia kembali menambahkan minyak pada kobaran api. Api itu membesar dan ini bagian menyenangkan . Seringai Kevin muncul.


Brakkkkkkk↭


Pria paruh baya itu menggebrak meja kerena merasa tidak terimah dengan apa yang di ucapkan laki-laki didepanya ini. Urat disekitar lehernya menonjol,tanganya terkepal, dan matanya menyorot marah.


"Jangan bicara sembarang tuang Kevin, putriku tidak mungkin melakukan hal seperti itu.


"lalu ini apa?" Kevin menunjukkan ponselnya pada pria paruh baya itu. Pria itu mengerutkan dahi karena merasa bingun. Apa maksudnya?


"Kevin, aku akan memberikan tubuhku padamu asalkan kau mau menjadi kekasihku."


Sebuah suara terdengar membuat pria itu paham apa guna Kevin menunjukkan ponselnya.


Tapi, suara itu , suara Liona putrinya.


Tubuhnya menegang saat mendengar suara rekaman itu. Putrinya? Tidak mungkin.


"*pergi Liona jangan menggangguku."


"ayolah Kevin, aku tahu kau menginginkan tubuhku."


"pergi dan singkirkan tanganmu ith ******."


"Bagaimana jika rekaman ini tersebar bapak kepala sekolah?"tanya Kevin


Kevin tersenyum sinis saat tubuh pria didepanya kembali bergetar. Sesuai perkiraan Kevin, tidak ada yang melenceng dari rencanannya. Memang salah siapa membangunkan iblis dalam dirinya?

__ADS_1


"putrimu atau hartamu?"


__ADS_2