
.
.
.
Sepasang kekasih itu tengah berada di bawah pohon rindang. Menikmati semilir angin berhembus pelan,membelai mesra dedaunan pohon dengan anggunnya. Menciptakan kesan sejuk bagi siapapun yang ada di bawahnya.
Satu kata menggambarkan keduanya"Tenang".Ia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpah wajah cantiknya.
Kepalanya ia letakkan pada paha kekasihnya. Mereka kini berada disalah satu taman belakang sekolah.
"Rambut kamu masih sakit nggak yank?"
Luna yang sebelumnya memejamkan matanya perlahan membukanya. Senyum kecilnya terukir melihat wajah khawatir yang ditampilkan kekasihnya.
Memang, selama ini Kevin selalu berusaha melindunginya dari berbagi hal yang dapat membuatnya terluka.
Luna hanya diam dan menikmati raut cemas kekasihnya. Wajah tampang Kevin semakin terlihat mempesona jika dilihat dari sisi Luna. Apalagi sinar matahari sangat mendukung background yang membuat laki-laki itu tampak bersinar.
"Tenang aja kamu nggak usah berlebihan,ini uda nggak sakit kok."
"Nggak ada yang namanya berlebihan sayang jika itu menyangkut kamu. Aku mati-matian lingdungin kamu biar kamu nggak dapat luka sedikitpun, dia seenak jidatnya narik- narik rambut kamu. Yah jelas aku nggak terimah."
Kevin menjeda ucapanya,"aku nggak akan biarin siapapun nyakitin kesayangan aku ini."
Kevin mencubit hidung Luna dan menoel-noel pipi tembem kekasihnya dengan gemas.Gadis itu tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu.
Semua yang di ucapkan Kevin memang benar adanya, Luna tidak akan menyangkalnya. kekasih posesifnya itu akan selalu memastikan Luna tidak akan mendapat luka sekecilpun di tubuhnya. Karena jika itu terjadi maka kedua tanganya siap kotor untuk menghajar orang yang melukainya itu. Siapapun itu,jika menyangkut Luna maka harus siap mendapat balasan setimpal bahkan lebih.Kejam?itulah Kevin.Sudah sepantasnya baginya melindungin miliknya.
__ADS_1
Kevin memang bukan laki-laki humoris ,dia juga tidak romantis tapi dia rela bersikap bukan dirinya jika itu menyangkut dengan Lunanya. Cinta yang begitu besar yang diberikan Luna kepada Kevin membuat laki-laki itu hilang akal. Cinta itu memabukkan.
"Ehhh vin,kita nggak ke kelas ?nanti dimarahin."
"Siapa yang berani memarahin putra dari pemilik sekolah?"
"ckkk...yaya yang kaya banget,ihhh Dasar."Luna berdecak sebal mendengar ucapan kekasihnya yang terdengar sombong itu.
Kevin hanya terkekeh gemas mendengar penuturan pacarnya. Diantara semua yang disukai Kevin pada gadis ini, Ia paling suka saat kekasihnya mengeluarkan nada manja dan memanyungkan bibirnya kedepan. Bagi kevin itu sangat menggemaskan.
"yank kamu kan juga kaya. Belli aja sekolah ini kalo kamu mau, atau kamu mau sekolah ini atas nama kamu?"
"Sembarangan kalo ngomong."
Luna memukul paha kekasihnya itu hingga sang pemilik meringis kesakitan.Ucapan ngawur kekasihnya itu harus dihentikan,bukan hal mustahil baginya jika melakukan apa yang diucapkannya barusan namun itu sangat berlebihan.
Kevin tersenyum kecil.Jika Luna memang menginginkan sekolah ini,dia dengan senang hati memberikannya.
🌺🌺🌺
"kring kring kring'
Suara bel tanda pelajaran telah berakhir hari ini. Membuat wajah-wajah yang sebelumnya kusut menjadi cerah.Guru yang sedang mengajar tepaksa harus mengakhiri pelajaranya karena bel sudah berbunyi.Murid-murid sibuk membereskan alat tulisnya dan bersiap-siap pulang.
Siswa-siswi di kelas sibuk berhamburan keluar kelas,Luna malah menatap Amira yang tampak sibuk mengerjakan soal-soal matematika yang menjadi tugas mereka hari ini untuk dikumpulkan minggu depan.Rajin sekali.
"Ngapain kamu lihatin aku kayak gitu?"Ujar Amira. Gadis itu mulai risih karena teman barunya itu terus-menerus menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.Ucapan pelan Amira membuat luna yang disebelahnya hanya terkekeh kecil.
"Lo rajin amat.Heran deh gue jadinya lihat lo serajin ini ngerjain tugas.
__ADS_1
"ohhh ini biar nggak ada beban."
Luna hanya manggut-manggut mendengarkanya. Bagi Luna gadis ini benar-benar berbeda dengan dirinya.
Jika Amira mengerjakanya tepat pada hari dimana ia diberi tugas,maka lain lagi dengan Luna yang akan mengerjakannya sehari sebelum tugas itu dikumpulkan,itupun dengan bantuan Kevin.
Kevin memang kelewat pintar ia akan mengoceh jika Luna tidak segera mengerjakan tugasnya.
"Ayo pulang."
Seorang tiba-tiba datang dan menarik tangan Luna.Gadis itu terkejut melihat Kevin datang menariknya dengan wajah datarnya -ralat menyeretnya keluar kelas. Luna bahkan belum mengucapkan selamat tinggal pada Amira.
Selama perjalanan pulang,Kevin hanya terdiam. Ia juga hanya menjawab singkat saat Luna bertanya. Luna di buat bingung akan sikaf Kevin yang tiba-tiba berubah dingin dan cuek begini. Apa kevin ada masalah kali yah?Bukankah tadik mereka baik-baik saja?
"Udah sampai."Lagi-lagi Kevin hanya menjawab datar.
"Kamu ada masalah?"mata Kevin yang tadiknya menatap lurus kedepan kini menatap Luna. Hanya senyuman tipis yang kevin perlihatkan.
"Enggak."
Kalo kamu ada masalah cerita sama aku,jangan kamu buat aku bingun dengan sikap kamu yang berubah tiba-tiba gini. Kita udah pacaran selama tiga tahun dan kamu masih ragu buat cerita masalah kamu ke aku,kamu anggap aku apa?"Ucap luna dengan mata berkaca-kaca.
"Sekarang kamu tenangin diri kamu. Hubungi aku kalo kamu udah siap cerita.Aku Sayang Kamu."
Luna turun dari Mobil Kevin dengan tergesa-tergesa. Air mata siap tumpah dari matanya.Ia berjalan terus tanpa ingin melihat kebelakang,ia kecewa.
Apa sesusah itu Kevin untuk jujur padanya?
🌺🌺🌺
__ADS_1