
.
.
.
Seorang gadis duduk meringkuk di sudut kamarnya. Matanya tidak berhenti mengeluarkan airmata. Kepalanya dia sembunyikan di lipatan tangannya yang ada pada lututnya yang tertekuk.
"Ayah... Hikss." gadis itu terisak. Bayangan kelam itu membelenggunya kembali. Yang sempat hilang kinu menghantui.
"Sayang buka pintunya. Jangan bikin aku khawatir." panggil Kevin di balik pintu. Gadis itu mengunci pintu kamarnya. Tidak membiarkan siapapun masuk.
Tangisannya tak kunjung berhenti. Isakannya makin keras. Bayangan kelamnya menjerat tanpa ingin melepas. Otaknya ters memutar bayangan kelam penuh luka itu.
"Buka pintunya Princess!"
Sebuah suara berat dengan nada perintah itu terdengar. Gadis itu mengangkat kepalanya menatap nanar kearah pintu. Isakanya tidak berhenti dengan airmata kian deras.
Dia tidak berniat sama sekali bangkit dari duduknya. Kepalanya kembali ia tenggelamkan dilengannya yang tertekuk.
"Princess, open the door now!" sekali lagi suara bernada perintah itu kembali terdengar. Gadis itu tidak bergeming, ia tetap pada posisinya.
Brakk∽
Pintu kamar di dobrak dengan keras. Alex pelakunya, ia menendang pintu dengan kesal hingga roboh.
Wajahnya mengeras karena emosi namun berubah menjadi khwatir saat melihat gadis kesayangannya meringkuk di sudut.
Kevin berdiri di belakang Alex. Laki-laki itu ikut berjalan mendekati kekasihnya yang menangis hebat.
" Princess." panggil Alex. Tidak ada sautan dari gadis itu. Tetap menangis seakan tidak mendengar panggilan itu." He eill back to you."
Gadis itu mengangkat kepalanya mendengar ucapan kakaknya. Matanya yang basah menatap sendu pria dengan julukan iblis itu.
"Stop criying Princess, he will back to you."
"Mimpi itu...hiks, mimpi itu lagi kak.. Hiks." ujar gadis itu terisak.
Kevin tidak tahan melihat itu. Laki-laki itu merengkuh gadisnya kedalam pelukannya. Tangannya mengusap punggung mungil itu perlahan.
Hanya Kevin dan Alex tang tahu kenapa gadis kesayang mereka menangis sehebat ini. Gadis itu akan selalu memimpikan bayangan kelam itu jika dia sedang dalam keadaan lemah dan sakit seperti ini.
__ADS_1
Bayangan kelam yang selalu di sembunyikan oleh Alex. Awalnya hanya Alex yang tahu bayangan itu namun Kevin juga mengetahuinya dua tahun lalu saat gadisnya drop
"He will back "
"Stop it! Dari dua tahun lalu kakak selalu mengatakan hal itu tapi apa? Dia tidak juga kembali." gadis itu meraung keras. Tangannya mencengkram lengan kekasihnya erat.
Tangis Luna kiang meraung keras. Tangis memilukkan yang membuat Alex dan Kevin merasakan sakit yang luar biasa.
Dia yang selalu di pastikan akan mendapatkam senyuman di wajah cantiknya tapi malah sekarang ia menangis terisak.
"Tuan."
"Kau mau mati hah?!" sentak Alex kala seseorang pengawalnya masuk dan menganggu. Matanya menatap nyalang kearah pengawal itu.
Emosinya sedang dalam puncak karena tangis gadis kecilnya dan ia butuh pelampiasan. Ingin rasanya ia meledakkan kepala pengawal kurang ajar itu.
"Tuang Brian berada di bawah. Beliau memaksa masuk. Kami tidak bisa menghentikannya kerena dia membawa banyak pasukan terlatih."
"Shitt!!"
"Ayah.." suara lemah Luna memanggil. Alex menatap adiknya itu. Hembusan nafas panjang terdengar dari mulut pria berhati iblis.
Lewat kode mata ia meminta Kevin menggendong adiknya dan berjalan mengikutinya. Pria itu segera berjalan keluar dari kamar.
Pintu utama mansion Alex terbuka. Disana terlihat ayah Luna berdiri angkuh bersama isteri barunya dengan banyak pria berbaju hitam di belakangnya.
Well sepertinya ayah Luna ini sudah sangat percaya diri bisa mengalahkannya. Dan apa-apaan dengan pasukan terlatih ini?
Apa pria paruh baya ini tidak tahu siapa Alex? Ohh jangan lupanakan pimpina Black Dark di sampingnya.
"Kembalikan Luna dan tidak akan ada yang terluka." ujar ayah Luna dengan dagu terangkat.
Kali ini bukan Alex yang bereaksi namun laki-laki yang menggendong Luna. Kevin menampilkan senyum miring meremehkan.
Wajah tuang Brian terlihat menampilkan wajah marah. Pria paruh baya itu menangkap senyuman meremehkan yang di berikan Kevin. Ia tidak terimah di remehkan oleh bocah bau kencur sepertinya.
"Kau?! Berani sekali bocah bau kencur sepertimu meremehkanku!" ayah Luna berujar sambil menunjuk Kevin.
Kesabarannya hilang sudah karena senyum Kevin yang meremehkan." Habisi mereka semua! Bawa putriku kembali!"
Pengawal Alex bersiap pada posisi mereka melindungi tuan serta nonanya. Pasukan terlatih yang di bawah tuang Brian mulai mengeluarkan senjata dan berjalan mendekat.
__ADS_1
Tidak ada wajah panik diantara dua lelaki kesayangan Luna. Kevin yang sebelumnya sudah mendudukkan Luna di kursi belakang itu kembali mendekat kearah Alex.
Luna menutup matanya. Ia tidak bisa melihat senjata apalagi jika sampai ada darah yang keluar. Masalah satu belum selesai dan sekarang ada lagi masalah yang lain muncul.
"Kalian tidak melihat laki-laki di sebelahku?" tanya Alex keras. Pria itu maju lebih dekat dengan wajah semenyeramkan iblis.
Kevin maju membelah benteng yang di buat pengawal Alex. Wajahnya yang datar menatap tajam pasukan terlatih yang berdiri kaku setelah melihatnya. Mereka kompak menunduk hormat melihat laki-laki di depan mereka.
"Tuan," pimpinan pasukan itu berujar. Ia mendekati laki-laki yang sudah menatap datar pada mereka semua.
"Jadi kalian ingin menyerangku? Membunuhku?"
"Kalian tahu mansion siapa yang kalian serang? Ini milik Zacry, mafia terkejam tanpa belah kasih. Aku sudah mengingatkan bahwa dia musuh paling berbahaya." Ujar Kevin panjang lebar.
Tuang mereka berulang kali mengingatkan untuk menolak tawaran jika berhubungan dengan sang mafia terkejam. Iblis itu tidak akan mengampuni siapapun yang mengusiknya.
Kevin, sang pemimpin Black Dark menatap anak buahnya datar. Ia memang melatih pasukannya sebagai pembunuh bayaran atau sejenisnya.
Tidak ada yang tahu wajahnya selain mereka yang bekerja di bawah pimpinannya.
Tidak ada yang bisa membocorkan bagaimana wajah aslinya. Sebelum niat mereka terlaksana, laki-laki itu sudah meledakkan kepalanya terlebih dahulu.
Alex tersenyum bengis. Dari awal ia sudah tahu mereka anak buah Kevin. Pin hitam bergambar burung hantu itu merupakan simbol Black Dark terkejam milik Kevin.
"Kau ingin menyerangku dengan pasukan milikku? Lucu sekali." Kevin mengejek ayah Luna yang emosi.
"Ayah." Luna berjalan mendekat. Pengawal Alex memberikan jalan untuk sang Nona. Semua menunduk hormat tak terkecuali pasukan Kevin.
Mereka sangat mengenal gadis yang berjalan lemah ini. Gadis paling berharga yang dimiliki sang tuan. Setiap penghuni Black Dark selalu mendapat bagian menjadi pengawal bayangan gadis itu tanpa terkecuali.
"Luna sayang, kita pulang sayang."
"Aku akan pulang saat pemakaman isteri baru ayah ini." Ujar Luna dengan menatap nyalang kearah wanita di sebelah ayahnya.
"Gadis sialan!" umpat wanita itu.
Tangannya sudah bersiap melayangkan tamparan keras jika matanya tidak melihat berpuluh pistol melayang kearahnya.
Pengawal Alex dan Kevin serempak menodongkan pistol mereka saat tangan isteri baru ayah Luna itu melayang di udara. Gerakan refleks itu seakan sudah biasa di lakukan.
"Kau akan mati saat tangan kotormu menyentuh gadisku." Desis Kevin tajam.
__ADS_1
🌺🌺🌺