
.
.
.
Luna duduk di kursi taman dekat mansion Alex. Matanya menangkap beberapa keluarga kecil yang menghabiskan waktu disini.
Airmatanya meluruh melihatnya. Ia merindukan mamanya, ia rindu ayahnya, ia rindu berkumpul dan bercanda bersama mereka semua.
Biasanya setiap akhir pekan saat ayahnya tidak sibuk bekerja mereka akan duduk bersama di taman seperti ini dan melakukan piknik kecil-kecilan.
Mereka akann tertawa bahagia. Tapi kini dia sendirian disini, mengingat kenangan indah bersama kedua orang tuanya membuatnya sedih kembali.
"Little Princess."
Panggil seseorang. Gadis itu segera menghapus airmatanya dan melihat seorang pria berdiri di depannya.
"Kak Daniel?" ujar Luna.
Gadis itu duduk diam melihat orang di depannya. Tidak ada niat sedikitpun berdiri atau menghampiri pria di depannya ini.
Daniel, salah satu yang tahu tentang penyakit mamanya, juga perselingkuhan ayahnya.
Dia yang hanya bungkam tanpa kata menyembunyikan semuanya, mendukung mereka berdusta.
"Princess, I miss you so much." Ucap Daniel. Pria itu berjalan mendekati Luna namun gadis itu segera berdiri dan menghindar. Ia tidak sudi di sentuh olehnya.
"Kamu kenapa?"
"Anda siapa?" bukannya menjawab, Luna malah melemparkan pertanyaan kembali. Matanya menatap tajam kearah pria di depannya.
Daniel terkejut melihat sikap Luna. Ia tidak menyangka sepupunya akan berbuat seperti ini.
Dia paham mungkin Luna masih marah dengan kejadian tempo lalu, namun apakah tidak keterlaluan jika semarah ini?
"Little Princess, kamu kenapa? Kamu masih marah?"
"Maaf saya tidak mengenal anda, permisi."
Luna berbalik dan melangkah pergi. Baru dua langkah dia berjalan namun tangannya sudah di tarik. Badannya berbalik saat tangannya di tarik.
__ADS_1
"Lepas!" Luna meronta namun Daniel menghiraukannya. Tangannya menggengam kuat pergelangan tangan sepupunya agar tidak dia tidak bisa kabur.
Tiba-tiba sebuah tangan mencengkram pria tangan pria itu dan melepaskannya dari tangan Luna.
Gadis itu meringis saat pergelangan tangannya memerah karena cengkraman Daniel.
"Kak Alex."
Gadis berkacamata itu segera memeluk Alex erat. Sebelah tangan Alex membalas pelukan adik kesayangannya dan sebelah lagi mencengkram kuat tangan Daniel.
Airmata Luna meluruh saat itu juga.
Sepupunya yang selama ini bersikap lembut untuk pertama kalinya ia berlaku kasar padannya.
Setiap laki-laki memang akan selalu punya sikap kasar bukan meski mereka menyembunyikannya? Hanya ada dua orang yang bagi Luna tidak akan pernah bersikap kasar padanya, Alex dan Kevin.
"Mau mati?!" Alex mendesis.
Cengkraman Alex kian menguat dengan rahan mengeras pertanda emosinya yang memuncak. Apalagi dia mendengar isak kecil adik kesayangannya.
Daniel meringis merasakan sakit yang termat di pergelangan tangannya. Ia yakin bahwa cengkraman iblis ini pasti membuat tulang-tulangnya retak.
"Ini terakhir kalinya aku membiarkanmu menemui dan membuat gadis kecilku menangis. Sekali lagi kau lakukan maka kematian akan datang." Ujar Alex.
Pria itu melepaskan tangannya dari tangan Daniek dan membawa Luna pergi dari sana.
Gadis itu masih menangis dalam diam berusaha menahan isakannya. Dia masih sangat terkejut dengan kejadian barusan. Kepalanya tiba-tiba berputar dan pandanganya menggelap.
"Shitt!!" Umpat Alex saat adiknya ambruk.
Untung dia sigap menahannya agar tidak jatuh ke lantai. Pria itu segera menggendong adiknya dan berlari menuju mansion miliknya.
🌺🌺🌺
Sebuah ruangan gelap gulita, seorang pria duduk di kursi di dalam ruangan itu. Matanya menatap tajam kedepan seakan bisa melihat dalam gelap.
Tangan kanannya memaninkan handgun
Kesayangannya. Tidak ada yang bisa melihatnya di dalam kegelapan.
Dorrr∽
__ADS_1
Satu buah pelurunya melesat keluar mengenai lengan seorang pria dari tiga pria di depannya. Pria itu sengaja menembak lengannya bukan jantungnya sebagai gertakan.
"Aku tidak menyangka memiliki anak buah seceroboh ini." ujar pria itu.
Memang nada suaranya terkesan santai namun menyimpan sejuta makna. Ketiga pria di depannya sudah menunduk ketakutan.
"Tugas kalian menjaga nona, jangan biarkan siapapun mendekatinya bahkan menyakitinya. Bagaimana bisa kecolongan?!" ujarnya tajam. Ia bahkan menekan setiap kata pada ucapannya.
Satu hal yang paling di bencinnya di dunia ini adalah saat adiknya menangis.
Melihat wajahnha yang di penuhi airmata membuatnya mengingat kisah kelam itu. Kisah yang di kuburnya sejak beberapa tahun lalu.
Pria iblis yang dengan mudah menghabisi nyawa orang yang mengancam keselamatan gadis kecilnya.
Gadis yang akan selalu menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Tidak akan ada yang bisa menggesernyam. Kebahagiaan gadis itu adalah tujuannya.
"Aku tidak ingin kesalahan ini terulang kembali!"
Ketiga pria itu menganggu mengiyakan. Mereka menunduk hormat dan berjalan meninggalkan sang iblis sendirian.
Mata tajam itu terus mengawasi pergerakan anak buahnya. Bagai mata serigala yang melihat dalam gelap.
"Jangan khawtir Princess selamanya kakak akan memastikan senyumanmu muncul di wajah cantikmu."
Pria itu menatap bingaki foto berisi foto seorang gadis berusia sepuluh tahun membawa lollipop dan tersenyum lebar kearah kamera.
Matanya menatap bingkai itu namun pikirannya melayang pada kejadian itu. Kejadian yang membuatnya menjadikan gadis kecilnya prioritas diatas segalanya. Kisah kelam yang di simpan rapat.
Pria itu memastikan tidak akan ada yang tahu kisah kelam ini. Namun satu hal yang di lupakannya.
Bukankah sebuah bangkai yang di sembunyikan lama-lama akan tercium juga bau busuknya.
🌺🌺🌺
**Happy Weekend guys😘
Hari ini aku sempetin Update dong😆
Jangan lupa vote and comment🙏
See you di next part 🙌**
__ADS_1