
.
.
.
Saat ini Luna sedang berada di balkon kamarnya. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Tanpa suara, tanpa kata, hanya air mata yang menjelaskan rasa sakitnya. Sakit saat tahu orang yang sangat kita sayangi membongi kita, sakit ini begitu nyata, hingga membuat luka menganga.
Luna masih belum percaya orang yang paling diyakininnya tidak akan membuatnya terluka malah mebuat luka yang begitu dalam. Orang yang diyakininya sebagai satu-satunya cahaya yang menyelamatkannya saat kegelapan datang malah mengundang kegelapan.
Benar kata orang, terlalu percaya akan membuat kita sakit. Mereka yang kau percaya begitu dalam malah membuat luka paling menyakitkan. Lalu bagaimana dengan kepercayaan yang telah rusak?
Bagai kertas sobek, kau bisa menyatukannya namun bekas robekan itu masih bisa terlihat. Memaafkan mereka yang membuat kecewa sangat sulit. Bagaimana bisa memaafkan jika melihat wajahnya saja kita enggan? Dunia memang sekejam ini.
"ckk" suara decakan muncul dari bibir gadis itu. Ia mengusap airmatanya dengan kasar lalu melihat kearah ponselnya yang terus berdering.
Kevin❤ is calling...
Benar,laki-laki itu sudah menelponya sejak tadi. Puluhan pesan dia dapatkan dari kekasihnya itu namun Luna enggan membalasnya.
Telepon itu akhirnya mati dan Luna memilih duduk pada kursi yang ada di balkon kamarnya.
"Halo." ujar Luna. Akhirnya gadis itu memutuskan mengangkat panggilan telepon kekasihnya saat ponsel miliknya bergetar kembali.
"kamu dimana? Amira bilang kamu ke kantin saat pagi lalu nggak kembali sampai sekarang, kamu dimana sayang? jangan bikin aky khawatir."
Luna tersenyum hambar mendengar ucapan Kevin. Khawatir ehh? Mana mungkin dia khawatir sedangkan dia sudah menemukan penggantinya sekarang. Seseorang terdekatnya.
"Nggak usah sok bilang khawatir kalo nyatanya nggak begitu."
"Kamu ngomong apa sih? Sekarang kamu dimana Luna, aku kesana sekarang."
Lihat! Kevinnya mana pernah menyebut namanya seperti itu. Ia selalu menggunakan panggilan sayang saat memanggilnya.
"Nggak perlu. Kamu mending sama Amira aja, nggak usah peduliin aku."
"Aku bener-bener nggak ngerti, kenapa kamu selalu nyebut nama Amira hmm? Dan kamu nangis? siapa yang buat kamu nangis kayak gini?"
"Kamu."
__ADS_1
"Hah? Serius sa-"
Gadis itu memutuskan sambungan telepon dari kekasihnya itu. Ia sudah tidak sanggup lagi. Setiap mendengar suara Kevin, bayangan menyakitkan itu mencuak. Bayangan itu seolah sedang menertawakan kesakitan Luna sekarang.
Ia bangkit dari duduknya, gadis itu memilih untuk masuk kedalam kamarnya. Ia ingin tidur dan melupakan semua masalahnya sambil berharap bahwa masalahnya tidak akan bertambah. Ia tidak sekuat itu menghadapi masalah baru lagi.
Ponsel Luna bergetar, sebuah pesan masuk di nomor yang tidak di kenal.
From; uknown number
ICU rumah sakit Pelita harapan. Datang sekarang sebelum terlambat.
Oke sepertinya harapan Luna tidak bisa terwujud.
🌺🌺🌺
Sesuai isi pesan yang ada Masuk di ponselnya, disinilah Luna sekarang berada, lobby rumah sakit Pelita Harapan. Entah kenapa ia malah datang kesini bukannya tidur seperti rencananya.
Kakinya melangkah menuju dimana ruangan ICU berada. Dari jauh ia melihat beberapa orang disana. Semakin dekat dan ia melihat ayahnya dan tante-tante yang Luna lupa Namanya duduk di kursi tunggu depan ICU.
Seorang dokter keluar dari ruangan membuat Luna cepat-cepat bersembunyi dibalik dinding dekat mereka.
Air mata Luna tiba-tiba meluncur jatuh membasahi pipi mendengar ucapan sang dokter. Kecewa, untuk kedua kalinya dalam sehari gadis itu merasakan perasaan yang menyakitkan itu.
Tanganya terkepal kuat menahan amarah setelah tahu rahasia itu. Rahasia besar yang disimpan ayahnya darinya. Jadi ini penyebab bundannya mengurus?
"Jadi, ini alasan ayah bersikap aneh diwaktu liburan keluarga kita." Luna keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menatap tajam semua orang yang ada disana terutama ayahnya dan istri barunya.
" Lun-"
"Dokter, pasien tiba-tiba kritis."
Ucapan seorang suster menghentikan ucapan Ayah Luna. Sang dokter segera melangkah panik memasuki ruangan kembali.
"jika terjadi sesuatu pada Mama aku tidak akan memaafkan ayah." Desis Luna. Gadis itu menatap ayahnya dengan tatapan permusuhan.". Mama separah ini dan aku tidak di beritahu? Hebat sekali."
__ADS_1
"Mama yang melarang Ayah bicara sayang."
"Omong kosong." Luna memalingkan wajahnya. Ia menatap pintu ruang ICU sambil terus berdoa untuk sang Mama yang sedang berjuang, semogah Mamanya bisa baik-baik saja.
Lima belas menit berlalu akhirnya dokter keluar dari ruangan itu. Wajahnya menunduk penuh sorot penyesalan. Luna mendekatinya dan bertanya keadaan sang Mama.
"Maaf kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi Tuhan berkehendak lain. Kami tidak bisa menyelamatkan Ny. Samuel."
"Kau gila Dokter? Mana mungkin Mama meninggalkanku hah? Jangan bercanda! Untuk apa kau menjadi Dokter jika kau tidak bisa menyelamatkan Mama saya."
Luna berujar sinis. Ia tidak percaya akan ucapan dokter yang dianggapnya gadungan ini. Mana mungkin Mamanya sudah meninggal?
Suara alat yang diketahui Luna sebagi pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring. Gadis itu lantas melangkah mundur dengan airmata meluruh. Tidak, pendengarannya salah, ini tidak mungkin terjadi.
"Kak Alex."
"Yess, Princess?"
Daniel, ayah serta ibu tirinya menegang mendengar suara itu. Suara sosok iblis yang selalu mereka hindari. Iblis yang akan memisahkan Luna dari mereka semua selamanya.
Selama ini mereka menyembunyikan fakta menyakitkan yang bisa membuat sang Iblis datang saat Luna menangis. The heirs Keluarga Samuel itu bahkan ikut berhati-hati agar tidak sampai memanggilnya datang.
Mereka berusaha membuat iblis itu menjauh namun nyatanya dia tidak benar-benar menjauh. Usaha mereka kini sia-sia saat Luna sendiri yang memanggilnya.
Sekarang apa yang akan terjadi selanjutnya?
🌺🌺🌺
**Updatenya nggak lama kan? nggak dong hehe😃
Jangan lupa di like and coment ya😌🙏
Karena itu semangat buat saya😍
Terimah kasih**.
__ADS_1