
.
.
.
Mendung kini terlihat nenutupi langit biru. Burung-burung beterbangan penanda hujan akan berhamburan di langit, melawan langit yang berwarna kelabu.
Dibawah pohon besar seorang gadis duduk melamun. Menantap kosong hamparan bunga didepannya. Pikirannya melayang jauh, memikirkan segala hal yang terjadi belakangan ini.
Rintik hujan turun membasahi bumi. Awan mendung akhirnya mengeluarkan bawaannya rintik berupa gerimis kecil kini berubah menjadi hujan , membasahi tubuh gadis yang berlindung di bawah pohon.
Ia hanya diam. Luna hanya diam saat hujan sudah membasahi tubuhnya. Rasa dingin yang begitu menusuk kulit seakan tidak terasa di tubuhnya.
Air mata sang gadis yang turun dan hujan sukses menyembunyikan airmatanya. Ia terisak keras dan sekali lagi hujan menyamarkan tangisannya.
"Princess? What are you doing here?"
Suara berat menyapa pendengaran Luna yang duduk di bawah pohon itu. Seorang pria berdiri didepannya dengan membawa payung hitam. Payung yang di bawah sang pria melindungi gadis itu dari belaian sang hujan.
Kini air mata Luna terlihat jelas di mata pria berpayung hitam itu. Rahang pria itu mengeras dengan mata berkilat tajam kearah air mata yang terus mengalir itu.
"stop it Princess! Don't cry again! Its hurt for me." Ucap sang pria dengan penekanan lembut. Ia melepaskan payungnya dan memeluk gadis kesayangannya itu.
" Mama terlalu cepat pergi kak, aku belum siap kehilangan Mama. Aku bahkan tidak ada bersamanya di saat-saat terakhirnya kak. Aku butuh Mama kak, bawa mama kembali."
Isakan terdengar lagi pada gadis itu. Tangannya memukul-mukul punggung pria berjas hitam yang tengah memeluknya ini, melampiaskan rasa sakitnya. Dadanya begitu sesak, masalahnya muncul bergantian.
"if I can take here back, I will do it Princess. But I can't do that. Im so sorry." ujar kak Alex. Suara penuh penyesalan itu menghampiri pendengaran sang gadis.
" I miss he so much kak. I want here hug now!" Jerit gadis itu. Ia terisak keras, membiarkan suara hujan menyamarkan isakan itu.
Tangannya memeluk sang pria erat. Hanya pria ini sandarannya. Hanya pria ini penopannyya saat ini, tempat dimana ia bisa berkeluh kesah tanpa ragu.
"Mama itu malaikat aku kak, dia jalan keluar kala aku tersesat. Saat Mama pergi, siapa yang membantuku keluar saat tersesat?" gadis itu melepas pelukannya. Ia menatap sang pria dengan kepedihan mendalam." Mengapa mereka semua merahasiakan hal ini dariku kak? Aku putrinya, aku berhak tahu. Mereka tidak berhak merahasiakan hal ini dariku."
"Princess."
"Selama ini Mama kesakitan sendirian, harusnya aku menemani mama. Ada disaat mama butuh aku. Tapi anak nggak berguna ini malah nggak tahu apa-apa. Sekarang saat mama uda pergi jauh aku cuma bisa meratap. Aku benar-benar nggak berguna!"
__ADS_1
Tubuh gadis itu merosot jatuh. Ia terduduk kembali dengan kepala tertunduk dalam. Meratapi nasibnya yang begitu kejam. Memaki takdir yang tega merenggut Mamanya.
Disaat terpuruk begini, mamanyalah sosok paling dia inginkan untuk memeluknya. Mengusap pelan rambutnya. Mengatakan kata-kata penyemangat.
"Sekarang semua cuma kenangan. Mama udah pergi jauh dan nggak akan kembali. Kenapa mereka harus menyembunyikan ini? aku tidak akan pernah memaafkan mereka yang telah menipuku. Aku tidak akan pernah kembali pada mereka!.
Alex, pria itu berjongkok menempatkan tangannya ke punggung dan bawah lutut gadis tersayangnya. Tubuh mungil itu di gendong dan di bawa masuk kemansion miliknya.
"Apa sebaiknya aku nyusulin Mama ya kak?" tanya gadis itu sebelum kesadarannya hilang. Alex panik seketika gadisnya tiba-tiba menutup mata. Dengan langkah panjang ia menuju mansion miliknya menghindari hujan yang semakin deras turun membasahi bumi.
" Panggil dokter sekarang! Lima menit!" ujar Alex. Pria itu kemudian berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas tempat sang adik beristirahat.
Seperti perintahnya, dokter datang 5 menit setelah ia membaringkan gadis kecilnya. Pakaian basah gadis itu sudah di ganti dengan pakaian kering oleh pelayang.
Alex bergeser memberikan ruang pada dokter untuk memeriksa keadaan gadis kecilnya.
"Nona baik-baik saja. Nona hanya terlalu banyak pikiran dan terlalu lelah hingga membuatnya pingsan seperti ini tuan. Saya akan membuat resep obat dan meminta asisten saya mengantarkannya kemari. Tolong jangan biarkan nona berpikir keras, itu akan mempengaruhi kesehatannya." Jelas sang dokter.
"Kau yakin Luna baik-baik saja?"
"Saya yakin tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pamit dan meninggalkan Alex bersama gadis yang terbaring lemah dk ranjang.
"*I will bring back your smile. I promise."
🌺🌺🌺*
"Mama." Luna memanggil mamanya pelan. Matanya menatap kearah langit malam yang dipenuhi bintang." Luna kangen, kenapa mama nggak ngajak Luna pergi sekalian? Luna nggak mau disini Mah."
Mata gadis itu menatap kearah bintang-bintang. Malam ini rembulan bersembunyi di balik awan hitam, membiarkan para bintang menyinari langit malam.
Tak seterang sang rembulan yang menyinari malam, namun bintang berusaha membuat keindahan.
" Mama lihat Luna kan disana? Datang ke mimpi Luna malam ini ya Ma', Luna pengen peluk mama."
Sekarang ia akan mencoba menerima kematian Mamanya. Walau sulit namun ia tidak akan berhenti berusaha.
__ADS_1
Kakanya ada bersamanya, Alex akan selalu memastikan kebahagiannya. Ia tidak ingin kakanya itu ikut sedih karena melihatnya ikut sedih.
Bukankah kebahagiaan berasal dari diri kita sendiri? Jika kita saja tidak ingin bahagia, untuk apa mengeluh pada tuhan atas segala derita yang di berikan?
Dari rasa sakit yang diterimahnya, Luna berusaha bangkit. Ia menjadikan rasa sakit itu sebagai batu pijakan menuju bahagianya. Bahagianya telah menanti diujung tangga.
Mama juga memintanya untuk selalu bahagia. Keyakinannya akan sang mama yang mengawasinya membantunya bangkit dari keterpurukan.
"Princess? What are you doing hmm?"
Sebuah selimut terpasang di pundaknya. Alex memeluk gadis kesayangannya dari belakang. Dagunya diletakkan di puncak kepala Luna.
Pria itu ikut menatap hamparan langit berlukis bintang. Mata tajamnya terperangkap pada kegelapan malam.
Entah kenapa gelap selalu menjadi hal menarik baginya. Selalu ada sesuatu yang tersembunyi dibalik kegelapan. Layaknya dia.
Bagi Alex, gelap adalah temannya. Kegelapan yang menemaninya selama ini mengikatnya semakin dalam. Ia juga tidak pernah berniat pergi dari kegelapan yang menjeratnya justru menarik semua orang-orang bersamanya. Kecuali satu orang.
Clarissa Aluna Quensha, satu-satunya orang yang tidak akan tertarik dalam kegelapan yang membelenggunya.
Alex akan memastikan cahaya selalu bersinar disekeliling gadis itu. Ia akan menarik cahaya darimana punn saat melihat cahaya gadis itu mulai meredup.
Siapapun yang ingin menghilangkan cahaya gadisnya akan hilang.
"Amerika, tomorrow." Luna tiba-tiba berujar. Matanya tertutup menikmati pelukan hangat kakak laki-lakinya itu.
"Hm, we will go to amerika tomorrow as you wish." Seperti biasa, semua keinginan Luna akan terpenuhi. Apapun yang diinginkan gadis kesayangannya akan terlaksana tanpa kecuali.
Alex sangat paham alasan gadis itu ingin pergi ke Amerika. Tidak ada alasan lain selain ingin menenangkan diri disana. Disini terlalu banyak kenangan pahit yang dialaminya.
Berada disini hanya akan membuat air mata gadis kecilnya terus-terusan keluar. Alex membenci air mata gadis kecilnya. Ia akan melakukan apapun untuk menghilangkan raut sedih dan air mata Luna. Apapun.
Apa sebaiknya mereka menetap saja disana?
🌺🌺🌺
__ADS_1