
.
.
.
Berita pemecatan kepala sekolah sudah tersebar dan menjadi berita hangat di pagi hari ini untuk semua penghuni SMA Angkasa. Mereka mulai bergosip ria dan membicaran bagaimana nasib si queen sekolah. Setelah kemarin harga dirinya dihancurkan, sekarang ayahnya di pecat.
Bisik-bisik yang sebelumnya sudah redah kini kembali riuh kala seorang gadis nerd berjalan sendirian di koridor menuju kelasnya. Setiap orang yang ia lewati memandangnya dengan pandangan berbeda-beda.
Luna hanya bisa menghela nafas panjangnya kala melihat semua orang enggan mendekat, mereka cenderung menjauh dan tak ingin berdekatan. Baginya mereka hanya ingin mencari aman saja.
Efek yang Kevin berikan di sekolah memang luar biasa dahsyat hingga mereka menjadikan Luna pusat perhatian bagi seluruh murid SMA Angkasa.
Seperti sebelumnya yang sudah terjadi, Luna sudah biasa mendapat perlakuan begini sejak SMP. Segala tindakan Kevin yang selalu berimbas padanya sudah dia rasakan sejak mereka mulai berpacaran.
Sikap posesif dan over protektif itu sepertinya sudah mendarah daging dalam tubuh Kevin. Bahkan Luna tahu Kevin selalu menempatkan pengawal untuk menjaganya dari jauh. Pengawal bayangan.
"Mir!"
Gadis yang sebelumnya fokus membaca buku itu menoleh pada Luna yang memanggilnya. Amira bahkan memberikan tatapan takut, enggan dan segan padanya. Hal itu membuat Luna mendengus kesal.
"ada PR nggak hari ini?" Amira tidak menjawab. Ia mengeluarkan buku kimia lalu menyerahkan pada Luna, gadis itu bahkan membuka bagian yang terdapat soal dan jawabannya.
"gue bukan monster Mir, jangan bersikap kayak gitu." Hampir saja Luna menangis. Melihat temannya yang sudah berkaca-kaca karenannya membuat Amira sedikit gelagapan.
Ia bingun harus melakukan apa pada temanya yang menangis ini. Karena sebelumnya ia tak pernah mempunyai teman selama ia bersekolah di SMA Angkasa.
__ADS_1
"maaf ya Lun." pelan sekali tapi Luna masih mendengarnya. Senyuman gadis itu perlahan muncul lalu dengan semangat ia menyalin tugas yang ada pada buku Amira.
"semua orang menjauhi gue. Mereka memalingkan wajah saat bertemu gue seakan-akan monster mengerikan." Gadis itu mengeluh sedih," Tolong Mir, lo jangan kayak gitu juga sama gue. Gue mau jadi temen lo."
Amira. Gadis itu terlihat baik, sifatnya yang lugu dan polos membuat Luna suka berteman dengannya. Jika dia bersikap demikian, maka ia pasti akan merasa kehilangan.
Gadis itu yakin bahwa sekarang dia tidak akan salah memilih seseorang untuk di jadikan teman. Ia yakin bahwa Amira tidak akan menjadi seperti temanya dulu.
" Lo yakin? Gue nggak pantes berteman sama lo. Status kita beda Lun dan gue sadar akan hal itu. Orang tua lo bahkan tidak mungkin membiarkan putrinya berteman dengan gadis miskin kayak gue.
Ucapan Amira membuat Luna berhenti menulis. Gadis itu baru saja menolak tawaranya bukan? Luna segera berdiri dan berlari keluar kelas hingga Amira menatapnya sambil mengigit bibir.
Dia salah bicara yah?
🌺🌺🌺
Taman belakang memang jarang didatangi murid SMA Angkasa, mereka lebih memilih taman tengah daripada taman belakang yang sunyi.
Air mata Luna perlahan turun membasahi pipinya. Meski air matanya terus mengalir namun dia tetap tidak mengalihkan pandanganya.
Apa dia tidak pantas memiliki teman?
Semenjijikan itukah dia?
Pertanyaan itu terus berputar dikepalanya. Mengingat perkataan Amira yang menolak tawarannya membuat Luna terluka. Hatinya sakit, luka yang sebelumnya sudah ada kini makin melebar.
Gadis itu melepas kacamatanya yang berembun terkena air mata. Tangannya meraih ponsel yang sedari tadik berbunyi.
__ADS_1
Ponsel itu kembali berdering menandahkan adanya panggilan masuk. Mata indah Luna berbinar melihat siapa yang menelponya. Ia sudah sangat merindukan laki-laki ini. Dengan bersemangat ia menjawab panggilan itu.
"it's time come with me, princess."
Sebuah suara terdengar saat Luna baru hendak berbicara. Senyum cerah yang sebelumnya terlihat kini terdengar memudar digantikan wajah sendu. Matanya menyorot rerumputan dibawah kakinya dengan hampa. Helaan nafas terdengar dari mulutnya.
"*no. this is not the right time." Gadis itu menjeda ucapanya." I thought you called me because you missed me."
" I miss you princess, so munch. I want you to be with me, we will always be together. Don't You want it too princess?"
"You're not understand. You don't know wh-"
"I know everything."
"please*."
Telepon terputus, laki-laki itu memutuskan panggilannya. Luna menatap nanar kearah ponselnya. Tanganya menggengam ponsel itu dengan erat hingga tanganya memerah.
Air mata yang sebumnya sudah kering kini kembali mengalir membasahi pipi mulus Luna.
Suara isakan mulai terdengar keluar dari bibirnya. Jika sebelumnya ia menangis tanpa suara, kali ini suaranya hadir. Isakan demi isakan terdengar sangat pilu menandakan bahwa dia sangat terluka.
Tiba-tiba seseorang datang meraih tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Gadis yang sedang terisak itu kian terisak dengan keras kala melihat siapa yang memeluknya. Tangannya meraih punggung si pemeluk dan membalas pelukannya dengan erat.
Kevin, Laki-laki itu yang kini tengah memeluknya erat. Laki-laki yang selalu datang saat Luna membutuhkan sandaran. Yang tidak pernah mengeluh atas segala sikapnya.
"Kevin, he want me now."
__ADS_1