
.
.
.
Seorang gadis terbaring lemah di tempat tidur. Sebelah kanan tempat tidur seorang laki-laki duduk dengan menggenggam tangannya. Mata laki-laki itu menatap lekat gadis yang menutup matanya itu.
"Bangun sayang. Jangan buat aku khawatir." Ujar laki-laki itu. Di kecupnya tangan gadisnya dengan lembut.
"Kevin." panggil seseorang. Laki-laki itu, Kevin menoleh kearah pintu.
Disana ada Alex yang berjalan msmdekati ranjang. Tangan pria itu menepuk pundak laki-laki yang duduk di sebelah ranjang perlahan.
"Princess baik-baik saja. Dia terlalu banyak pikiran di tambah kedatangan Niel yang tiba-tiba."
"Biarkan aku membunuhnya. Anak buahku tidak akan meninggalkan jejek."
Iblis. Sebelas dua belas dengan Alex yang kini tersenyum kecil. Pria itu memaklumi sikap Kevin yang demikian.
Dia saja bahkan hampir lepas kendali andai adik kecilnya itu tidak berada di pelukannya.
Mereka berdua iblis paling kejam. Apalagi keduanya sangat di takuti di dunia bawah meski Kevin tidak pernah menunjukkan wajahnya namun pemimpin Black Dark sudah terkenal akan kebengisannya.
Bayangkan saja kau hidup diantara dua iblis paling kejam seperti mereka. Meski kejam namun penuh kasih sayang pada satu orang yang sama, yaitu Luna.
"Tidak perlu Kev, biarkan tanganmu hanya kotor sedikit saja. Untuk urusan membunuh itu jadi urusanku."
"Jangan meremehkanku kak." Kevin tidak terimah di remehkan.
Nama Black Dark miliknya sudah sangat terkenal di dunia hitam itu. Kebengisannya bukan lagi cuma cerita semata.
"Siapa yang meremehkan? Aku bahkan paham kau bisa membunuh puluhan orang dalam hitungan detik tanpa meninggalkan jejek. Tapi ini bukan zona untukmu, Daniel bukan lawan seperti yang kau perkirakan."
"Baiklah terserah katamu." Kevin mengalah. Lagipula mau dia atau Alex yang bertindak hasilnya akan sama, tujuannya juga sama.
"Enghhhh-" ringis Luna yang berbaring di ranjang. Dua lelaki yang berada di samping ranjang kompak menoleh padanya.
Mata indah itu akhirnya terbuka. Ia mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang ada. Seperti biasa, Kevin selalu menutupi cahaya yang membuat gadisnya merasa pusing.
"Are you okay Princess? What do you feel?"Tanya Alex. Pria itu duduk di samping kaki Luna menatap adiknya yang di bantu Kevin duduk.
"Aku pingsan lagi?" tanya Luna. Kedua lelaki kesayangannya hanya mengangguk mengiyakan." aku merasa sedikit pusing kak."
"Kakak akan meminta pelayan menyiapkan makanan. Kalian berdua harus makan." Alex berjalan menuju pintu. Sebelum menutup pintu pria itu berhenti." kakak akan pergi ke London selama dua hari bersama kak Sarah princess."
__ADS_1
"Iya kak. Hati-hati, jaga kak Sarah."
"Kevin tolong jaga adikku selama aku pergi dan bisakah kau tinggal disini sementara?"
Pertanyaan Alex dijawab dengan anggukan kepala oleh Kevin. Pria itu tersenyum lalu menghilang di balik pintu.
"Kamu membuatku khawati." Kevin memeluk gadisnya. Tidak terlalu erat karena dia tahu gadis ini masih belum sepenuhnya pulih.
Luna memejamkan mata menikmati hangat pelukan kekasihnya. Tangannya ikut membalas dengan memeluk lengan laki-laki itu."Maaf."
"Jangan keluar sediri lagi. Aku nggak mau keluarga kamu ketemu kamu dan malah akhirnya jadi nge-drop kayak gini yah sayang. Mulai besok aku akan kirim beberapa pengawal bayangan untuk kamu."
"Berlebihan Kevin."
"Nggak."
Memang benar, tidak ada yang berlebihan jika sudah menyangkut gadisnya. Apapun akan Kevin lakukan demi gadis di pelukannya ini. Tidak ada siapapun yang boleh melukainnya.
Iblis dalam tubuhnya akan membunuh laki-laki itu jika sampai gadis ini terluka. Gadisnya tidak boleh terluka sekecil apapun baik secara fisik atau batin.
Pintu terbuka kembali dan dua pelayan datang membawa troli berisi makanan. Pelayan itu pamit setelah Kevin menerima troli makanan itu.
"Kamu makan dulu" Kevin melepaskan pelukannya lalu mengambil semangkuk bubur.
Tangannya mengarahkan sesendok bubur ayam tumbuk lembut. Gadis itu membuka mulutnya dan menerima suapan dari kekasihnya.
"Udah Kev, aku kenyang." tolak Luna saat Kevin ingin menyuapkannya lagi sesendok bubur.
Gadis itu menggeleng sambil menutup mulut dengan kedua tangan.
"Kamu baru makan lima suap sayang."
"Tapi aku kenyang Kevin."
"Dikit lagi yah? Biar kamu nggak lemes sayang." bujuk Kevin. Gadis kecilnya tetap menggeleng dengan menutup mulutnya.
Tingkahnya itu membuat Laki-laki itu gemas. Sungguh ingin rasanya Kevin memeluknya erat.
"Mau coba makan dari mulut aku?" bisik Kevin di telinga Luna. Gadis itu melotot lalu memukul pelan bahu kekasihnya.
"Mesum!" jeritnya pelan. Sungguh rasanya dia sangat lemas hingga menjeritpun tak sanggup.
Kevin tertawa kencang mendengar jeritan kekasihnya yang lemas itu. Tingkah menggemaskannya membuat Kevin tidak tahan.
Laki-laki itu meletakkan mangkuk bubur di tangannya dan memeluk gadisnya.
__ADS_1
Ingin rasannya Kevin memeluk gadisnya erat jika ia tidak sadar kondisi gadisnya yang lemah." Aku sayang banget sama kamu baby."
"Aku juga." balas Luna. Gadis itu membalas pelukan kekasihnya dengan erat.
Kepalanya tiba-tiba terasa pusing namun gadis itu menyembunyikannya agar kekasihnya ini tidak khawatir.
"Makanan kamu belum di sentuh. Makan dulu Kevin sayang."
"Makanan kamu aja belum habis sayangku." Kevin berujar. Tangannya dengan jahil mengacak rambut kekasihnya.
"Makan! Kalau kamu nggak makan jangan ngomong sama aku!"
Luna tiduran memumggungi laki-laki kesayangannya itu. Selimut di tarik hingga menutupi kepala. Tingkahnya yang seolah-olah merajuk itu hanya kedok menutupi rasa pening yang kian menderanya.
Tangannya mengepal erat dengan mulut menahan ringisan. Rasa sakit itu benar-benar ia tahan agar kekasihnya ini tidak mengetahuinya.
Namun bukan Kevin jika belum mengenal Luna. Empat tahun lamanya mereka bersama. Laki-laki itu sudah sangat hafal dengan perasaan gadisnya. Apa makna setiap ekspresi yang di tampilkan gadis kecilnya.
Kevin menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh gadisnya. Badan Luna ia peluk dari belakang. Tangan Luna mengepal dia genggam dengan lembut.
"Jangan pernah menyembunyikan sakitmu dariku sayang. Apa gunanya aku disini jika kamu menahan sakitmu sendiri?"
Luna hanya diam. Selalu seperti ini, ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari kekasihnya. Kevin akan selalu tahu segala kebohongannya.
Gadis itu berbalik dan memeluk kekasihnya era. Pening dikepalalnya mulai sedikit berkurang.
Tangan Kevin memijat lembut kepala gadisnya. Ia tahu gadisnya ini akan selalu merasa pening jika terbangun dari pingsannya.
Sepertinya pening kali ini sangat menyiksa hingga gadisnya menampilkan sekilas ekspresi sakitnya tadi.
"Kamu boleh mengeluh apapun padaku. Jangan ragu karena bahagiamu tujuan utamaku sayang."
Sungguh Luna sangat bersyukur mendapatkan Kevin di dalam hidupnya.
Beberapa waktu yang lalu Luna kira bahagia adalah sebuah angan-angan setelah mamanya meninggalkannya. Tapi kini itu bukan angan-angannya.
Bahagia akan terwujud bersama Kevin. Laki-laki yang sangat menyayanginnya, yang akan selalu menjamin kata bahagia dalam hidupnya.
Oh jangan lupakan si iblis satu lagi.
πΊπΊπΊ
***Gimana suka nggak sama part eps kali ini? Suka dong yahππ
Seperti biasa janga lupa vote and comment πππ
__ADS_1
Aku sedih loh kalo kalian nggak sempet voteππ₯ jadinya aku nggak semangat gitu .
Jadi ayo ayo banyakin vote dan*** komentar kalianπ