Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)

Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)
DuaPuluhSembilan#


__ADS_3

.


.


.


Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin, dan membakar semangat baru di hari yang baru. Orang-orang mulai bangun dan bersiap melakukan aktivitas masing-masing.


Mansion megah Alex demikian. Pelayan-pelayan yang bekerja disana mulai sibuk melakukan tugasnya masing-masing.


Seorang gadis menggeliat pelan merasakan sinar matahari mengganggu tidurnya. Tangannya menarik selimut menutupi wajahnya dan melanjutkan tidurnya yang tertunda.


Laki-laki yang membuka tirai untuk membangunkan gadis itu terkekeh pelan. Kaki panjangnya melangkah mendekati ranjang. Selimut itu di tarik hingga kepala gadisnya terlihat.


Kepalanya mendekat ke telingan gadisnya, membisikkan sesuatu." Bangun sekarang atau aku cium kamu sampai kehabisan nafas."


"Mesum mulu!" gadis itu merasa kekasihnya makin lama makin mesum saja.


"Bangun sayang. Makan dulum" Kevin menarik gadisnya agar duduk. Tangannya menyiapkan bantal di kepala ranjang untuk sandaran gadisnya ini.


Luna duduk sambil menutup matanya. Ia mengantuk sekali karena kemarin malam tidak bisa tidur.


Kepalanya pusing. Ia ingin memanggil Kevin namun takut mengganggu kekasihnya itu.


"Buka mulutnya." gadis itu menurut. Ia membuka mulut dan merasakan sendok masuk ke mulutnya. Lidahnya mengecap bubur lembek dengan suwiran ayam halus.


Matanya terbuka dan melihat kekasihnya memegang sebuah mangkok berisi bubur. Tangannya bersiap menyuapi kembali gadis kesayangannya itu.


Tangan Luna menutup mulutnya dengan tangan. Kepalanya menggeleng pelan sambil menjauh dari sodoran sendok.


"Aku nggak mau makan bubur. Pait!" pekik Luna. Lidahnya mencecap rasa pahit dari bubur. Hampir saja ia memuntahkan bubur dari dalam mulutnya.


Tangan Kevin meletakkan mangkuk bubur di troli makanan. Laki-laki itu mendekat ke arah Luna dan menyentuh kening gadisnya dengan punggung tangan. Tangannya beralih menyentuh leher gadisnya itu.


"Sayang kamu demam." ujar Kevin panik. Sungguh dia tidak bisa melihat gadisnya sakit. Ia akan selalu panik seperti ini.


Tanganya meraih ponsel di saku celananya. Menekan beberapa angka dan meletakkan di telinga.


"Mansion Zacry. Sekarang!" Kevin berujar datar. Laki-laki itu kemudian meletakkan pnselnya sembarangan.


Dengan sigap laki-laki itu membantu gadisnya kembali berbaring. Selimut di tarik sampai dada Luna. Laki-laki itu lantas berdiri gelisah.


"Aku nggak papa sayang, jangan panik. Sini duduk." Luna menarik tangan kekasihnya agar duduk di sebelahnya. Lihat! Dahi kekasihnya itu bahkan dipenuhi keringat karena panik.


Gadis itu tersenyum lemah. Badannya memang terasa sedikit lemas. Tapi tidak ada keluhan lain. Pusing yang di rasakannya kemarin malam mulai menghilang.

__ADS_1


"Jangan sakit sayang, aku takut." Laki-laki itu memeluk kekasihnya. Ada sebuah kejadian yang membuat Kevin sangat takut saat Luna sakit.


Dua tahun lalu Luna sedang diserang demam seperti hari ini. Gadis itu berusaha terlihat baik-baik saja dan menyembunyikan sakitnya. Akhirnya dia tumbang dan tidak sadarkan diri selama tiga hari.


Kevin sangat murka saat itu. Ia mengamuk seharian di kamarnya pada hari kedua saat Luna tidak kunjung sadar. Kamarnya sudah sangat berantakan dengan banyak barang pecah.


Laki-laki itu sangat takut jika kekasihnya meninggalkannya. Ia sudah sangat jatuh sejatuh-jatuhnya pada gadis kesayangannya itu.


Rasanya ia rela ikut pergi bersama gadisnya andai gadis itu meninggalkannya.


Hari ketiga gadis itu bahkan sempat down membuat semua orang sangat panik. Apalagi Kevin, laki-laki kejam itu bahkan hampir menembakkan pelurunya kekepala dokter yang menangani gadisnya.


Hingga gadis itu akhirnya sadar. Sejak saat itu Kevin selalu memastikan gadisnya selaky sehat. Makanannya pun selalu di pastikan oleh laki-laki itu. Apagi sifat posesif itu yang sangat parah.


"Kejadian itu nggak akan terulang sayang." bisik Luna lirih. Tangannya mengusap lengan kekasihnya menenangkan.


Tok-tok-tok


Suara pintu di ketuk. Kevin melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu.


"Shitt! Rena mana? Kenapa lo yang datang?!" umpat Kevin saat melihat siapa yang datang. Dokter Andi, suami dokter kepercayaan Kevin, Rena.


Padahal Kevin menghubungi wanita itu agar dia yang datang tapi kenapa malah suaminya yang kemari? Ia tidak rela kekasihnya di sentuh pria lain selain keluarganya.


Yah, dokter Rena adalah dokter kepercayaan Kevin. Dokter itu juga tau apa pekerjaan laki-laki itu di dunia gelap.


Mereka yang berhubungan dengan darah dan senjata bukankah memiliki resiko terluka paling besar?


"Sampai tangan lo modus menyentuh kulit Luna. Gue ledakin kepala lo saat ini juga." bisik Kevin tajam. Dokter Andi menelan ludah susah payah.


Seperti isterinya, ia juga mengenal Kevin dari dunia hitam. Ia sangat paham bahwa laki-laki yang lebih muda darinya ini tidak main-main dengan ucapannya


Laki-laki posesif itu membuntuti dokter yang berjalan degan kaku menghampiri gadis kesayangannya. Matanya menatap lekat setiap gerakan yang di lakukan sang dokter.


Sifat posesifnya tidak berubah. Si posesif akan selalu bersikap seperti itu. Padahal dokter hanya ingin memeriksa Luna saja tanpa modus seperti yang ada di pikirannya.


Selesai. Akhirnya dokter Andi bisa menyelesaikan tugasnya dengan benar. Dia akhirnya bisa bernafas lega. Bekerja dibawah pengawasan Kevin benar-benar membuatnya sangat gugup. Tangannya bahkan sempat gemetar.


"Nona kelelahan dan banyak pikiran. Saya lihat ada beberapa obat di nakas. Nona sepertinya sudah di periksa kemarin jadi sekarang saya akan membuatkan resep penurun demam saja."


"Hmmm." hanya itu. Setelah menuliskan resep, dokter Andi berpamitan.


"Kevin,"


"Kenapa sayang?" tatapan tajam Kevin seketika berubah menjadi lembut. Laki-laki itu berjalan mendekati Luna yang berbaring lemah.

__ADS_1


"Hubungi kakak dan katakan aku baik-baik saja." Kevin mengangguk dan menghubungi Alex seperti permintaan kekasihnya.


Laki-laki itu menoleh kearah gadisnya setelah menelpon. Senyuman muncul di wajah tampannya kala melihat gadisnya sudah terlelap. Ia mengecup kening gadisnya keluar kamar.


"Jangan biarkan siapapun masuk kesini." perintah Kevin. Dua pengawal yang berdiri di depan pintu mengangguk hormat.


🌺🌺🌺


"*KAU HARUS MATI!! KAU YANG MEMBUATKU SEPERTI INI!!" jerit seorang pria sambil menodongkan pisto kearah pria paruh baya di depannya. Di belakangnya, isterinya menangis sambil memeluk anak laki-lakinya.


"Apa maumu?"


"AKU INGIN KAU MATI. KARENAMU ANAKKU HARUS PERGI DENGAN TRAGIS!!"


Pria itu menakan pelatuknya. Satu buah peluru melesat menembus perut pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu tetap pada posisinya. Menguatkan diri agar tidak tumbang.


Menjadikan tubuhnya tameng.


Isteri dan putranya menangis terisak karena melihat pria paruh baya itu terluka parah. Pria pembawa pistol itu akan menarik pelatuknya kembali sebelum seorang gadis kecil memeluk kakinya.


"Ayah." Panggil gadis kecil itu. Pria itu melihat kebawah, kearah gadis kecil yang cantik itu." Ayah kenapa?"


Pria itu menjatuhkan pistolnya. Ia menunduk dan memegang kedua bahu gadis kecil di depannya itu.


"Kamu siapa?"


"Ayah nggak inget sama Luna?" tanya gadis kecil itu dengan wajah polos. Matanya mengerjap pelan membuat pria di depannya terkekeh.


"Luna, ayo pulang sama Ayah." Ujar pria itu. Gadis kecil itu mengangguk pelan dengan senyuman lebar.


" Tidak! Jangan bawah gadis itu. Dia bukan puterimu!" pekik pria paruh baya itu. Tangannya memegang lukannya yang terus mengeluarkan darah. Ia tidak akan membiarkan Luna di bawah oleh pria kejam ini.


Pria itu menatap tajam kearah pria paruh baya yang meneriakinya lagi. Tangannya meraih kembali pistol yang sempat di jatuhkannya.


Di arahkannya pisto itu kearah keluarga kecil disana.


"Ayah, itu apa?" gadis itu menunjuk pistol yang di pegang laki-laki itu. Spontan laki-laki itu menyembunyikan pisto itu di belakang punggungnya.


"Itu mainan sayang. Luna hanya boleh pegang saat sudah dewasa nanti. Sekarang ayo kita pulang." gadis itu mengangguk. Pria itu menggendong tubuh kecilnya dan berjalan keluar mansion megah itu.


Gadis kecil itu menatap kearah keluarga kecil itu. Airmatanya turun perlahan namun segera dia hapus. Tangan kecilnya melambai kearah keluarga itu*.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2