
.
.
.
Bel tanda pembelajaran telah berakhir berbunyi nyaring. Seluruh siswa-siswi bersiap untuk pulang ke rumahnya.
Seorang gadis terlihat duduk tenang di bangkunya sementara temannya yang lain telah meninggalkan kelas. Matanya fokus pada novel yang baru saja di bukanya.
Kelas sekarang sepi meninggalkan tiga orang gadis di dalamnya. Luna, Dinda dan Amira. Mereka tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Dinda berjalan dengan takut-takut menghampiri Luna gadis berkacamata yang sibuk membaca novel di bangku belakang. Ia duduk dengan tenang di samping Luna.
"Lo bareng gue aja?"
"Hah?" ujar Dinda terkejut. Luna berujar datar dan cepat. Gadis itu bahkan berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari novelnya.
Cukup lama Dinda menunggu namun gadis di sampingnya sepertinya enggan untuk berbicara lebih lanjut. Dia malah melanjutkan aksi membaca novelnya itu.
Sebenarnya Dinda mendengar ucapan gadis itu meski samar. Luna mengajaknya pulang bareng kan? Dengan dia dan Kevin? arrrggghhhh... gilaaa! Ceweknya aja seserem ini apalagi cowoknya. Tuhan selematkan Dinda!
"Sayang."
Ketika gadis dikelas itu menoleh kearah laki-laki yang berdiri bersandar pada pintu. Matanya menatap penuh cinta kearah Luna. Hanya gadis berkacamata itu yang menjadi fokusnya.
"Udah siapin gitar Kev? Mobil udah ganti juga kan? Yakali kita bertiga tapi mobilnya cuman muat untuk 2 orang." Ujar Lun. Gadis itu menghampiri kekasihnya di ikuti Dinda dari belakang.
"Udah semua bawel ." Kevin mengacak rambut gemas kekasihnya. Gadis berkacamata itu memekik kesal lalu mengigit tangan kekasihnya. Entahlah sepertinya itu hobi barunya saat kesal.
Dinda tersenyum melihat tingkah sepasang kekasih di depanya ini. Mereka terlihat sangat serasi. Apalagi tatapan Kevin yang begitu memuja, juga perlakuannya yang sangat menunjukkan rasa cintanya pada Luna.
Lain Dinda, lain Amira. Jika sarah tersenyum melihat Kevin-Luna, maka Amira sebaliknya. Gadis itu menatap kesal keduanya. Tangannya mengepal erat.
Lagi. Hati Amira seperti di robek untuk ke sekian kalinya. Mencintai mereka yang tidak bisa kita miliki memang menyesakkan. Apalagi perangai Kevin yang begitu kejam.
Laki-laki itu tidak main-main dengan ucapannya. Ia membuktikan ucapannya bahwa Amira akan hidup seperti di neraka. Gadis itu membenarkan, hidupnya benar-benar layaknya neraka sekarang.
Â
🌺🌺🌺
Â
" Ayo masuk. Maaf rumahku sederhana banget."
Seperti ucapannya, rumah Dinda memang tergolong sederhana. Rumah sederhana ini bercat putih kusam degan taman kecil di depannya. Ahh di sebut taman juga bukan karena ini hanya terlihat seperti pekarangan yang di tumbuhi beberapa tanaman.
Baik Luna maupun Kevin tidak ada yang protes, mereka menghargai. Tidak terlintas sedikitpun dipikiran mereka menjelekkan Dinda ataupun Rumahnya. Didikan tentang tidak boleh membeda-bedakan benar di terapkan.
Kevin dan Luna duduk di sofa lusuh setelah di persialahkan oleh Dinda. Mimik keduanya tidak ada rasa risih atau sejenisnya. Mereka malah enjoy bercanda bersama.
"Maaf cuma ada ini."
"Santai." ujar Luna. Gadis itu mengambil segelas sirup yang dihidangkan oleh Dinda.
Hampir saja ia meminumnya namun gelas itu kini berpindah ke tangan Kevin. Gadis berkacamata itu melotot ganas melihat kelakuan kekasihnya itu.
"Apaan sih Kev?"
"Aku harus pastiin minuman ini aman buat kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Kevin ****!" maki Luna. Kakinya menendang tulang kering kekasihnya itu lalu ia merebut gelas itu kembali.
Kevin meringis nyeri. Akhir-akhir ini kekasihnya yang lemah lembut berubah ganas. Mungkin karena tertular sifat Alex si mafia tidak punya hati. Arrgh... Tidak bisa di biarkan.
"Kevin emang **** Din, maklumi aja." Ujar Luna. Sebenarnya gadis itu tidak tega saat melihat wajah murung Dinda saat Kevin berujar demikian. Akhirnya ia berinisiatif melakukan itu.
Luna mendelik sebal. Sejak kapan si posesif jadi semenyebalkan ini? Oh gadis itu lupa bahwa kekasihnya yang posesif akan kian posesif jika menyangkut dirinya dan makanan atau minuman yang akann masuk ke perutnya.
Sementara Dinda tersenyum canggung.
Ia paham Luna pasti hanya ingin menghiburnya saja. Gadis itu duduk di sofa berhadapan dengan sepasang kekasih ini.
"Pakai lagu apa?" Kevin bertanya.
"Perfect - Ed sheeran gimana?" Luna bertanya sambil menatap Dinda. Gadis itu hanya mengangguk-angguk mengiyakan. "Oke lo yang ngatur pembagian lirik, gue belajar alat musik."
Kevin mengeluarkan gitar dari tempatnya. Ia membuka selembar kertas yang kebetulan berisi chord angka dan lirik perfect. Sungguh kebetulan yang luar biasa.
Dengan perlahan laki-laki itu meletakkan gitar di pangkuan gadisnya. Tanganya mengarahkan jari Luna pada senar-senar gitar.
"Susah Kev." Rengek Luna. Jari-jari tidak cukup menjangkau senar gitar itu. Ia mengembalikan gitar itu pada sang pemilik.
"Contohin."
Kekasih Luna itu lantas mengangguk mengiyakan. Jari-jari tangannya sudah siap di posisinya. Satu petikan terdengar membuat dua gadis di sana mengalihkan fokus pada laki-laki itu
*I found a love, for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Well I found the girl, beautiful and sweet
Cause we were just kids when we fall in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling just kiss me slow
Your heart is all own
And in your eyes you're holding mine
Baby im, dancing in the dark
When you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess
I whispered underneath my breath
But you heart, darling you look perfect tonight
Arah mata kevin terpaku pada mata gadis di depannya. Tatapan memuja sesuai dengan isi lagunya.
Dinda tersenyum melihat keduanya.
__ADS_1
Pasangan ini bukan pasangan yang mengumbar kemesraan ala remaja jaman sekarang.
Melalui tindakan mereka menunjukkan cinta mereka yang besar. Lewat hal-hal sederhana cukup membuat siapapun iri.
Cinta yang Kevin berikan untuk gadisnya bukan sembarangan cinta. Cinta itu benar-benar nyata. Sama halnya dengan Luna, gadis itu membuktikan cintanya lewat hal sederhana.
"Keluarga lo mana Din?" tanya Luna. Setelag sesi nyanyi yang di lakukan Kevin, mereka kini beristirahat dan mengobrol santai.
"Ayah aku udah nggak ada. Ibu kerja dan aku anak tunggal." jawab Dinda. Gadis itu menyunggingkan senyum tipis menjawab pertanyaan Luna.
"Sorry, gue nggak tau."
"Iya nggak papa."
Kini obrolan mereka tergolong santai. Dinda sudah tidak terlalu canggung lagi berbicara pada mereka berdua.
Suara pintu di ketuk dari luar membuat perbincangan terhenti. Dinda mengerutkan kening tidak mungkin ibunya sudah pulang jam segini.
Tetangga? Mereka tidak pernah berinteraksi satu sama lain. Teman? Tidak mungkin. Lalu siapa?
Tiba-tiba Kevin berdiri dan membuka pintu. Seorang pria dengan pakaian hitam terlihat. Ia menyerahkan tiga plastik putih buram ke Kevin lalu pamit pergi.
"Makanan." Kevin meletakkan ketiga kanton plastik itu di meja. Isinya ia keluarkan satu-satu dari wadahnya."Luna harus makan dengan teratur."
Selalu seperti ini. Dimana pun mereka, Kevin akan selalu memastikan bahwa gadisnya makan tepat waktu. Si posesif memesankan menu yang sungguh sehat untuk kekasihnya.
Ia bahkan meminta pelayan memasak menu ini sendiri sesuai instruksi Kevin. Laki-laki itu lantas menyuruh pengawalnya mengantrkan kesini.
"Sayur mulu, bosen!" Rengek Luna. Gadis itu membuka kotak makanan yang di sodorkan Kevin. Isinya nasi, suwiran ayam, nuget, dan capcay. Gadis itu mencebikkan bibir melihat berbagai macam sayuran dalam capcay itu.
Ketiga bungkusan itu berisi makanan yang sama. Kevin memang sengaja menyamakan menu itu agar gadisnya tidak bisa menukar makanan yang ada.
Minumannya ada tiga botol air mineral serta jus buah. Tidak lupa salad buah kesukaan gadisnya.
"Ini sehat sayang. Lo nggak keberatan kan?
Kalo lo mau yang lain gue pesenin." tanya Kevin melihat Dinda. Gadis itu menggeleng perlahan pertanda ia tidak keberatan.
"Tadi udah sayur, sekarang sayur lagi. Kamu mau racunin aku yah?!" Lun menjerit tertahan. Ia kesal karena harus selalu memakan sayuran itu. Ia sungguh membencinya.
"Nggak ada orang keracunan makan sayur. Makan!" perintah Kevin. Mereka mulai memakan makanan masing-masing.
Beberapa menit kemudian makanan itu sudah habis tak tersisa. Kevin melihat kotak milik gadisnya. Matanya melotot saat tahu gadisnya menyingkirkan sayuran yang ada di kotaknya.
Luna yang di pelototi merasa tidak terima lantas melotot balik. Gadis itu bahkan telah melipat tangan di depan dada dengan dagu terangkat angkuh.
"Ngapain itu mata? Mau aku colok?"
"Kenapa nggak di habisin?"
"Itu racun!"
Kevin yang gemas segera memeluk kekasihnya erat lalu menggelitiki pinggangnya. Luna kegelian dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Kevin.
Dinda lagi-lagi hanya tersenyum. Ia seperti obat nyamuk diantara sepasang kekasih ini.
Â
🌺🌺🌺
Â
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu vote and coment yah😚