Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)

Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)
Tujuh#


__ADS_3

.


.


.


Kejam. Satu kata namun mungkin setiap orang memilikinya. Sebagian besar manusia memilih menunjukka sisi kejamnya namun tidak sedikit juga yang menyembunyikannya atau bahkan dia tidak menyadarinya.


Seperti halnya dengan Kevin yang memilih menunjukka sisi kejamnya. Ia tidak lagi menyembunyikkan sisi kejamnya karena seseorang yang telah mengusik miliknya yang berharga.


Sesuatu yang ia jaga mati-matian agar tidak tergores, yang ia perlakukan spesial, yang selalu dipastikan agar bahagia. Seseorang itu melukainya dan Kevin tidak akan diam saja.


"Putrimi atau hartamu?"


Ucapan itu membuat pria paruh baya itu menegang. Seringai terbit di wajah Kevin saat melihat mangsanya bergetar ketakutan.


"Tuan tidak bisakah kal-''


"Aku tidak memberikan pilihan yang lain."


Ketus Kevin.


"Sa-saya, sa-ssaya,s-"


"kau terlalu lama menjawab. Dan maaf rekamanya sudah tersebar."


Kevin tersenyum memperlihatkan seringai lebar. Ia kemudian berdiri dan melangkah keluar meninggalkan kepala sekolah yang nampak masih belum sadar apa yang baru saja terjadi.


Jika kalian mengira Kevin sudah puas dengan apa yang dilakukannya maka kalian salah besar. Laki-laki itu belum puas, sama sekali belum. Ia baru akan puas saat tangannya sendiri yang membalaskan dendam tapi sayangnya ia sudah terikat janji dengan gadisnya.


Kaki panjangnya melangkah dengan pasti menuju kelas gadisnya. Gadis itu pasti sudah menunggunya karena jam istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu.


Sial! Karena ayah dan anak itu ia harus datang terlambat, terlebih lagi kemarin hari bahagia mereka. Semuanya telah rusak.


Diujung koridor ponsel disaku celana Kevin bergetar. Laki-laki itu lantas meraih ponselnya dan mengerutkan dahi heran. Untuk apa'dia'menelponnya?


"hal-"


"jika kamu tidak bisa menjaganya lebih baik dia ikut bersamaku."


Dan teleponya mati. Rahang laki-laki itu mengeras, matanya berkilat emosi, namun tak ayal tubuhnya gemetar.

__ADS_1


Hanya satu kalimat, namun Kevin sudah gemetar katakutan begini. Tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa membuat Kevin gemetar ketakutan begini selain 'dia'.


Sosok iblis lain yang selalu mengawasinya dan gadisnya.Iblis yang siap membawa gadisnya kapan saja saat ia lengah.


Hanya satu hal yang membuat Kevin takut, saat gadisnya tidak ada disampingnya. Gadis itu segalanya, tampatnya pulang. Jika gadis itu tidak ada kemana dia akan pulang?


"Kevin."


Panggilan seseorang membuat laki-laki itu tersadar. Tubuh yang tadinya bergetar berusaha ia sembunyikan. Senyuman terbaik segera ia pasang agar Luna tidak khawatir padanya.


Tangan Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tatapan mata Luna yang menyorotnya tajam. Senyuman Kevin juga tak dibalas olehnya. Dengan ragu ia duduk disamping gadisnya dan mengelus kepalanya dengan sayang.


"kamu kan?"


"iya." Jujur Kevin.


"Jahat banget." Kevin hanya tersenyum tanpa dosa hingga membuat gadis di sebelahnya berdecak sebal. Memang itu perbuatan Kevin dan ia tidak menyangkalnya sama sekali.


"nih, makan nih sayur, makan !" ujar Luna. Gadis itu menyuapkan Kevin sesendok penuh nasi goreng dan sayur yang ada di kotak bekalnya pada Kevin. Kevin hanya pasrah menerima suapan nasi itu.


Luna memang sangat anti terhadap sayur namun dia pencinta buah-buahan. Meski Kevin tahu itu namun ia berusaha membuat gadisnya makan sayur secara rutin, minimal seminggu sekali dengan satu jenis sayuran.


Setiap ia menemukan sayuran pada makananya maka ia harus menyuapkan sayuran itu pada Kevin yang dengan tega selalu menambahkan sayuran pada makananya.


Seperti hari ini Luna menyuapkan nasi goreng dengan penuh sayuran pada kekasihnya. Tidak tanggung-tanggung, ia menyuapkan hampir sebagian sayuran itu pada Kevin meski masih tesisa.


"udah, sekarang kamu makan." Kevin merebut sendok di tangan Luna. Sayuran dalam nasi goreng itu sebagian telah hilang dan berpindah keperut Kevin.


Ia menyendok nasi goreng dan sedikit sayur lalu di arahkan pada mulut kekasihnya. Luna menggeleng dan segera menjauh dari sayuran menjijikan itu.


"Kamu makan dari sendok atau mulut aku?"


Jika Luna cerdik maka Kevin licik. Laki-laki itu selalu punya cara agar Luna menuruti keinginannya. Ia tidak akan memberikan kesempatan Luna menang saat apa yang dilakukannya untuk kebaikan gadis itu.


Dengan lirikan tajam yang diarahkan pada kekasihnya Luna segera melahap nasi beserta sayuran itu. Hal itu membuat senyuman penuh kemenangan terbit di wajah Kevin. Ia mengelus rambut Luna dengan sayang.


"aku sebenarnya nggak keberatan nyuapin kamu dengan mulut aku."


"halah! dasar lelaki kardus."Ucap Luna yang membuat Kevin terbahak-bahak. Gadis ini sangat menggemaskan.


"Aku mau marahin kamu."

__ADS_1


"silahkan ."Ujar Kevin tenang. Laki-laki itu jelas tahu apa yang akan diucapkan gadisnya. Apa yang membuat gadisnya marah padanya ia tahu.


Ia tidak keberatan sama sekali jika harus dimarahi gadisnya asalkan dia bisa menyalurkan segala beban pikirannya. Gadis ini tidak boleh banyak pikiran.


"kamu kan yang nyebar rekaman itu?" Kevin menganguk. "Kenapa kamu nggak cerita kalau kamu di godain sama itu cabe. Apalagi dia sampai menawarkan tubuhnya itu, pasti dia nempel banget ke tubuh kamu. Aku nggak suka, aku cemburu Kevin!"


Jika kalian mengira Luna akan marah karena Kevin telah bersikap kejam pada Liona dengan menghancurkan harga diri gadis itu maka kalian harus menelan kekecewaan.


Hal semacam ini sudah biasa bagi Luna. Apalagi sebelumnya Kevin sudah minta bilang padanya jadi ia tidak terkejut lagi.


Kenapa Luna tidak melarang perbuatan kekasihnya itu? Percuma. Kevin tidak akan sungkan melakukan hal di luar batas jika menyankut Luna.


Rasa sayang Kevin padanya memang tidak main-main. Kevin akan selalu membalas siapapun yang melukai Luna dengan kejam. Bahkan laki-laki itu pernah hampir membuat seseorang meninggal karena orang itu membuat Luna terjatuh dan mendapatkan luka berdarah


Tidak sekali atau dua kali gadis itu melihat sisi kejam kekasihnya. Sudah sangat sering Kevin mengotori tanganya sendiri hanya untuk membalas setiap luka yang Luna dapatkan. Kevin juga pernah membuat temanya koma karena berani melukai Luna.


Hanya satu yang Luna belum ia ketahui.


Apakah Kevin pernah membunuh seseorang dibelakangnya.


"maaf ya sayang."


"enak banget kamu minta maaf."


"terus aku harus apa?'' tanya Kevin frustasi


"aku mau ice cream buatan kamu." Ucap Luna yang membuat senyum Kevin mengembang. Sesederhana itu memang permintaan gadisnya.


"iyaa sayang nanti aku buatkan."


Ia mengelus kepala Luna yang sekarang sedang memakan bekalnya. Pikiran laki-laki itu buyar.Senyuman yang sebelumnya terlihat kini perlahan memudar.


Kepalanya hanya tertuju pada 'dia' sekarang, 'dia' yang akan mengambil Luna-nya.


'aku tidak akan pernah membiarkan dia mengambilnya dariku'


 


🌺🌺🌺*


 

__ADS_1


__ADS_2