Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)

Clarissa Aluna Quensha(Si Fake Nerd)
DuaPuluhEmpat#


__ADS_3

.


.


.


Sekolah benar-benar terasa berbeda sekarang. Kejadian kemarin benar-benar merubah suasana sekolah menjadi hening. Begitu juga dengan ruang kelas Luna yang nampak tak bersuara, semuanya hanya diam tanpa ingin berbicara satu sama lain.


Atmosfer di dalam kelas benar terasa kacau. Antata tegang, takut, cemas, dan sebagainya. Mereka sangat tegang dan takut saat melihat gadis kesayangan ketua OSIS itu.


Apalagi setelah apa yang dilakukan Kevin kemarin. Sekarang dampaknya mereka semua jadi enggan menyapa Luna.


Jika kalian bertannya apakah Amira di keluarkan dari sekolah? jawabannya tidak. Kenapa? ini salah satu bentuk pembalasan Kevin. Tidak secara fisik saja, Kevin juga akan membuat Amira merasakan siksaan batin.


Laki-laki itu membuat Amira tidak akan pernah bisa keluar dari sekolah. Ia ingin membuat gadis itu tersiksa.


Inilah balasan yang pantas untuknya karena telah membuat kesayangannya menangis begitu banyak.


"Lun-Luna."


Mata Luna beralih dari novel saat ada yang memanggilnya. Ia menatap seorang gadis yang dengan takut-takut menatapnya. Gadis berkacamata itu menaikkan sebelah alisnya.


"Tu-gas be-berpasa-ngan. Gu-gue disuruh sa-ma lo."


"Lo gagap? sejak kapan?" tanya Luna. Gadis di depannya terlihat gelagapan. Setahu Luna tidak ada teman kelasnya yang gagap.


"E-nggak."


"Itu?" Luna santai sekali. Akhirnya otak cantiknya paham kenapa gadis ini terlihat gelagapan hingga bicara terbata-bata begitu. Pasti karena kejadian kemarin.


Bukannya mempersilahkan duduk, gadis itu malah ingin menggoda teman sekelasnya ini. Errr... sepertinya tidak bisa dikatakan teman, memang mereka menganggap Luna teman?


Sejak pagi Luna duduk sendiri. Tidak ada yang ingin duduk dengannya. Tidak sedikit pula yang membicarakannya di belakang tapi Luna tidak peduli.


Bodo amat mau punya teman atau enggak, apa gunanya jika punya teman hanya untuk sebuah kisah penghianatan.


"Gu-gue, gu-"


"Duduk." Ujar Luna. Tidak tega melihat ekspresi takut dan cemas gadis di depannya. Gadis itu segera duduk di samping Luna.


Luna melirik name tag gadis yang ada di sampingnya. Namanya Adinda Safira. Luna memang tidak hafal dengan nama teman sekelasnya kecuali Amira dan ketua kelasnya.


Omong kosong soal Amira, gadis itu terlihat berpasangan dengan seorang laki-laki yang tidak Luna ketahui namanya.


Wajahnya masih pucat dengan mata sembab. Sedikit rasa bersalah menghampiri namun gadis itu memilih tidak peduli, dia pantas menerimanya.


"Tu-tugasnya mem-"


"Ck, gue tahu lo nggak gagap. Biasa aja gue nggak makan orang."


Luna kesal. Ia menatap temanya itu tajam. Memangnya dia monster hingga gadis di sampingnya harus ketakutan begini. Jika dia tidak bersalah tidak mungkin Luna memusuhinya.


"Tugasnya bernyanyi sambil memainkan alat musik. Lo mau pakai alat musik apa?" Tanya Dinda. Ia sudah sedikit lebih rileks berbicara pada Luna.


"Lo bisa main alat musik apa?"


"Nggak ada."

__ADS_1


"Gue juga nggak bisa. Gimana dong?" Dinda menggeleng. Luna menghela nafas panjang. Tugasnya yang menyusahkan tapi Luna tidak mau nilainya jellek.


"Ya udah pakai gitar aja." Ujar Luna.


Sebenarnya dia tidak bisa memainkan alat petik itu tapi dia bisa meminta Kevin mengajarinya nanti.


"Gue selalu dapat nilai baik dalam setiap mapel kecuali Fisika. Jadi jangan buat nilai gue jellek oke?"


"Iya. Praktiknya minggu depan, kita latihan dimana?"


"Rumah lo."Ujar Luna. Dinda terlihat terkejut dan menatap Luna takut-takut.


"Rumah gue nggak segede rumah lo, gue takut lo nggak betah."


Ucapan Dinda membuat gadis berkacamata itu sedikit mendelik sinis. Memangnya Luna pilih-pilih dan suka membedakan apa! Bukan berarti dia kaya maka dia tidak akan betah di tempat mereka yang di bawah.


Mamanya mengajarkan padanya agar tidak membeda-bedakan seseorang bersasarkan kasta, fisik, agama, atau apapun itu.


Meski Luna terlahir di keluarga yang sangat berkecukupan, dia tidak boleh merendahkan orang lain. Itu yang selalu di terapkan Luna selama ini dalam hidupnya.


Sejak sekolah dasar ia selalu berteman dengan siapa saja. Tapi banyak diantara mereka malah memanfaatkan kebaikan Luna. Apalagi sejak SMP banyak yang mendekatinya karena ingin tenar.


Ahhhh itu sudah masa lalu.


"Nggak masalah."


"Lo yakin?" tanya Dinda membuat Luna kesal. Ia memelototi gadis di sampingnya yang membuat Dinda langusung menunduk takut.


"Kita ke rumah lo sepulang sekolah. Gue bakal ajak Kevin juga."


"Iya." Hanya itu yang bisa Dinda ucapkan.


Nama Kevin dan Luna cukup membuat mereka takut. Mereka berusaha tidak berurusan dengan sepasang kekasih itu.


Errrr...Sepertinya memang semenyeramkan itu.


🌺🌺🌺


"Sayang."


Sebuah suara Familiar terdengar di telinga Luna. Gadis itu mendongak menatap kesal kekasihnya yang berjalan menghampirinya.


Kelas sepi karena siswa-siswi berhamburan keluar mengisi energi atau melakukan kegiatan lain. Di jam istirahat ini, Kevin memang melarang Luna keluar kelas karena ia yang akan menemuinya.


"Kemana aja? Aku laper Kevin sayang."


Rengek Luna. Gadis itu mengigit tangan kekasihnya karena teramat kesal. Bukannya mengaduh, Kevin malah tertawa. Nggak waras.!


"Nih aku bawain bekal." Kevin memberikan sebuah kotak bekal berwarna biru di hadapan kekasihnya.


"Awas aja kalo isinya ada sayuran." Luna membuka kotak bekal itu. Matanya melotot melihat sayuran hijau di pojokan sedang berkumpul." Kamu kira aku kambing di suruh makan rumput?"


"Itu bukan rumput sayangku, itu brokoli dan sawi hijau."


Luna menggeser kotak bekal itu mendekati pemiliknya. Ia lapar dan Kevin malah memberikan makanan penuh rumput hijau.


Menu makanan itu adalah nasi goreng dengan toping sosis dan ayam. Di pojokan ada brokoli tepung dan potongan daun sawi. Tidak lupa kacang polong sebagai pelengkap.

__ADS_1


Sebenarnya menu itu menggugah selera namun saat menatap sayuran hijau membuat Luna kehilangan selera. Tidak bisakah dia terhindar dari sayuran menjijikan itu?


"Kamu belum sarapan tadi pagi dan sekarang kamu nggak mau makan? Mau aku iket dikamar aku?" desis Kevin.


Dia sangat tidak suka jika kekasihnya ini melupakan jadwal makannya. Ia akan selalu memastikan jika kesayangannya makan teratur.


"Makan." Kevin menyodorkan sesendok nasi, sosis, suwiran ayam, dan sedikit potongan sawi.


"Nggak mau. Itu sayuranya ikut."


"Makan dari sendok atau mulut aku?"


Ancaman klasik namun anehnya selalu berhasil membuat Luna menurut.


Gadis itu membuka mulutnya dan menerima suapan kekasihnya. Dengan terpaksa racun itu sayuran masuk ke mulutnya.


Kekasihnya ini benar-benar pintar. Ia meletakkan potongan sawi di bagian depan agar Luna memakannya. Dengan susah payah ia menelan makanan itu.


"Gantian."


"Kamu aja yang makan, aku kenyang." Kevin menolak saat Luna ingin mengambil sendok di tangannya. Mata Luna melotot tajam.


"Kapan makan?" gadis itu merebut sendok dari tangan Kevin. Ia yakin seratus persen bahwa kekasihnya ini belum makan. Karena Kevin tidak akan makan jika Luna enggan untuk makan.


Gadis kesayangan Kevin ini menyendok seluruh potongan sawi. Diatasnya dia memberikan sosis dan suwiran ayam lalu menyuruh Kevin memakannya.


Seperti biasa, siapapun yang memberikan sayuran pada Luna maka makanan itu akan kembali pada sang pemilik.


Kevin terlihat santai mengunyah sayuran itu.


Luna menatapnya sekilas lalu membuang muka. Ia memakan sendiri nasi goreng buatan Kevin itu. Benar-benar lezat.


"Coba ini sayang." Kevin menyodorkan satu brokoli tepung pada kekasihnya. Luna melotot kemudian menggeleng. "Percaya padaku, rasanya enak dan gurih kamu tidak akan merasakan rasa sayur."


Mulut Luna terbuka perlahan melihat kekasihnya yang keukeuh menyodorkan brokoli tepung itu.


Matanya terpejam dan bersiap muntah.


Namun anehnya rasa brokoli tepung ini enak. Seperti kata Kevin, rasa brokolinya tidak terlalu terasa.


Mulut Luna mencecap rasa gurih, sedikit pedas, dan bumbu yang pas. Benar-benar menyamarkan rasa brokolinya.


"Enak kan?" tanya Kevin. Luna mengangguk sambil mengangkat jempolnya."Kacang polongnya mau?"


Luna menggeleng. Ia tidak mau memakan kacang itu. Tidak juga berniat menyuapkannya pada kekasihnya itu karena Kevin Alergi terhadap kacang polong.


Sebenarnya Kevin hanya menambahkan kacang polong itu karena kadang Luna akan memakannya bersama nasi goreng. Tidak selalu memang tapi itu membuat Kevin selalu menambahkan kacang polong.


Selama Kevin membuat bekal makanan, makanan itu akan di masaknya sendiri. Memastikan gizi yang terkandung di dalamnya.


Sepasang kekasih itu akhirnya makan bersama dengan saling menyuapi. Mereka terlihat bebitu bahagia.


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan tatapan nanar.


Amira, gadis itu masih di kelas namun kedua orang itu sepertinya tidak menyadarinya. Mereka terus saja melakukan hal-hal yang membuat hati Amira berdenyut sakit.


*Inikah hukumannya?

__ADS_1


🌺🌺🌺*


__ADS_2