
****
"Sayang, Kamu beneran akan nikahin aku kan, bukan cuman sekedar janji?." Ucapku
Rusman tersenyum mendengar kata-kata Rissa ini. Dari awal, Rusman memang yakin bahwa Rissa tak akan gampang percaya tanpa bukti.
"Iya sayang, Tapi bukan dalam waktu dekat, tunggu uangnya terkumpul dulu. Maaf ya yank."
"Aku maafkan. Tapi harusnya kamu jangan membuat seorang wanita menunggu selama itu."
"Sebenarnya, awalnya aku ragu dengan janjiku saat itu. Karna itu, aku tak pernah membahasnya lagi."
"Ragu kenapa?."
"Karena kamu wanita yang cantik, dan selalu bekerja di tempat yang elit. Sementara aku pekerjaanku..." Ucap Rusman berhenti.
"Tidak semua wanita melihat status dan pekerjaan pria-Nya. Aku termasuk wanita yang tidak melihat hal itu. Aku cuma melihat kesungguhan pria. Aku cuma melihat sifatnya, Baik atau tidak.
Karena di masa SMA dulu, aku sempat trauma dekat dengan seorang pria. Aku takut di jebak. Aku takut jika seseorang hanya pura-pura baik di depan."
"Aku tidak seperti pria itu. Bahkan aku pernah di kecewakan oleh dua wanita yang sempat aku cintai di dua waktu yang berbeda, Tapi kemudian mereka pergi meninggalkan ku dan pergi bersama pria lain." Tandas Rusman.
"Berarti nasib kita sama ya, pernah di khianati sama orang yang pernah di percayai." Yang ku maksud adalah temanku Vivi yang pernah menjebakku.
"Ya nasib kita sama." Rusman menatap Rissa dan menggenggam tangannya.
"Aku berharap, kamu menjadi pelabuhan cintaku yang terakhir."
Rissa balas menggenggam tangan Rusman. Selama berpacaran dengan Rusman, Rissa memang semakin sayang pada Rusman. Hampir setiap hari Rissa ingin bertemu dengan Rusman, tapi sayang Rusman bukanlah pengangguran yang bisa memiliki banyak waktu sepertinya.
"Terima kasih, aku harap kamu tepati janji. Kamu udah makan belum, Makan dulu ya." Aku tahu dia belum makan karna pagi-pagi sudah kesini.
Rusman langsung makan dengan hati gembira, Karena dia merasakan ketulusan cinta Rissa. Wanita yang mau menerima seorang pria yang berasal dari kalangan bawah dan hanya memiliki pekerjaan sederhana seperti Rusman, adalah suatu hal yang luar biasa.
Bagi Rusman, memilik seorang wanita yang betul-betul mencintai dirinya, adalah sesuatu yang sangat mewah yang sebelumnya tidak ia miliki.
Setelah sekian lama bekerja sebagai tukang parkir, akhirnya Rusman menemukan seorang wanita yang menerima dia apa adanya, wanita yang tak materialistis dan yang pasti mencintai Rusman tanpa syarat. Inilah yang membuat Rusman bahagia.
__ADS_1
"Sayang aku mau bicara." Ucapku setelah kami selesai makan.
"Bicara apa, tegang banget sih."
"Kalau kamu memang serius mau nikahin aku, Aku mau supaya orang tuaku tahu tentang hubungan kita supaya aku gak di cariin jodoh. Tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Rusman penasaran.
"Maafkan aku yang harus mengatakan ini, Tapi aku agak khawatir dengan pekerjaan kamu itu. Aku khawatir orang tuaku akan merendahkan kamu kalau tahu kamu cuma..."
"Cuma tukang parkir?"
"Aku sih gak masalah. I swear, aku tidak masalah yang aku khawatirkan adalah orang tuaku."
"Bagiku, yang penting kamu menerimaku apa adanya dengan profesiku saat ini. Karena itu yang paling penting bagiku. Kalaupun orang tuamu merendahkan aku, aku tidak akan pernah kecewa asalkan kamu tetap menerimaku." Ucapnya menatapku dengan penuh perasaan.
"Kamu tidak akan keberatan walaupun dihina dan di rendahkan oleh keluargaku?" Tanyaku.
"Selama kamu tidak malu padaku, aku juga tidak akan malu pada diriku. Aku akan menerima kalau memang harus dihina dan di rendahkan oleh keluargamu. Asalkan kamu tidak malu dan meninggalkaku."
Rissa tersenyum memegang tangan Rusman dan berkata "Aku tidak akan pernah malu dan tidak akan pernah meninggalkanmu cuma karena profesimu. Aku akan langsung meninggalkan kamu kalau kamu punya wanita lain, tapi aku akan bertahan kalau cuma karena pekerjaanmu. Karena cinta berasal dari hati. Sekali aku mencintai maka aku akan terus mencintai, Tidak memandang siapa dirimu. satu tetap satu."
"Kenapa begitu?" Tanya Rissa ingin tahu.
"Karena aku menemukan wanita yang mau menerima diriku apa adanya."
Dua pasang mata bertemu, saling bertatap mesra seolah dunia milik mereka berdua. Wajah mereka saling mendekat dan berciuman layaknya tak akan ada hari esok.
Saat jam makan siang berlalu, Tiba-tiba Rusman mendapat pesan wa dari karyawan di tempat kerjanya agar segera datang karena banyak kendaraan yang tidak tersusun rapi di parkiran.
"Sayang aku berangkat kerja sekarang ya, udah di cariin. kamu baik-baik disini" Ucapnya sambil mengecup kening dan bibirku, Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan.
*****
Beberapa hari berlalu, Jane tiba-tiba datang ke kosan Rissa.
"Kamu kemana aja Jane, kok baru nongol sekarang?" Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Aku lagi ada urusan sama teman. Ohya, Riss ada makanan gak?"
"Ada, tapi cuma sambel telor"
"Hah? Gak ada makanan lain apa, Kamu kok tega sama aku sih Riss. padahal setelah sekian lama aku baru berkunjung lagi. Tapi kamu kasih aku makan cuman telur aja" Ucap Jane sewot.
"Huff, emang kamu mau makan apa?" Tanyaku.
"Pesanin steak daging sapi dong"
"Hah buseett, woyy sadar gak sih. aku tuh pengangguran saat ini. minta yang mahal-mahal, jangan kelewatan lah" Ucapku kaget dengan permintaan Jane.
"OOHHH SEKARANG KAMU PELIT KE AKU YA? MENTANG-MENTANG UDAH PUNYA PACAR, TEMAN DI LUPAIN" Ucap Jane kesal karna keinginannya tidak di turuti.
"Astagfirullah Jane ngucap. Apa ada aku pelit sama kamu selama ini? Gak kan. Tapi saat ini tolong mengerti keadaanku, aku ngekos dan pengangguran. Mau dapat uang darimana.
Aku juga gak pernah lupain kamu"
"Huh, Dasaarr. Ohya ngomong-ngomong hubungan kamu sama Rusman gimana?"
"Baik-baik aja, Memangnya kenapa. Tumben kepo"
"Oh gitu" Ucapnya dengan wajah yang sulit di artikan. "Mm tapi kata Rusman, hubungan kalian gak baik-baik aja"
"Apa? Maksudnya gimana Jane, Aku gak ngerti."
"Mmm begini, Rusman akhir-akhir ini sering chat sama aku. Katanya kamu ngebosenin, terlalu manja dan kekanak-kanakan. Dia sukanya yang dewasa dan berpengalaman" Ucap Jane sinis.
"Gak, gak mungkin kak Rusman bicara seperti itu. Dia pria yang baik dan tidak akan berani melukaiku. Tapi kok kalian bisa chatingan? Bukannya kamu nelfon aku hari itu, kamu bilang kalau kamu udah di blacklist sama kak Rusman."
"Iya sih, Tapi seperti di buka lagi deh. Pas aku chat ternyata di balas" Ucap Jane bangga penuh kemenangan.
"Gak mungkin" Ucapku tak percaya.
' Baru beberapa hari kami ketemu dan dia terlihat sangat bahagia bersamaku. Bagaimana bisa dia mengatakan bosan. Apa benar aku membosankan seperti itu? Aku manja juga karna dia pacarku. Tapi ternyata..Hikss. Jahat kamu kak, ternyata ucapanmu semuanya palsu.' Batinku
****
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan share ya bestie ❤️