CLBK(CINTA LAMA BERUJUNG KEPELAMINAN)

CLBK(CINTA LAMA BERUJUNG KEPELAMINAN)
BAB 29 PERTEMUAN


__ADS_3

PoV ANGELINA PRAYOGA


Di Kampus.....


Angel perlahan melangkahkan kakinya menuju halaman Kampus.. Nampak dari jauh beberapa orang gadis melambaikan tangan padanya.


"Ngel...Ngel...WOY ANGEL" Seru Maya!


Angel datang menghampiri ketiga sahabatnya dengan sedikit lemas.


"Kamu kenapa Ngel?...sakit?" Tanya Jessy.


"Hem...nggak panas!" Sahut Siska sambil memegang kening Angel.


"Ada apa Ngel?? nggak biasanya loh selemes ini...hari ini kita kan mau jalan, masa iya kamu lemes gini...biasanya yang paling semangat tuh kamu loh Ngel." Imbuh Maya.


Perlahan Angel buka suara, dengan nada rendah dia menjelaskan kepada ketiga sahabatnya itu.


"Hari ini aku nggak ikut ya guys, sorry banget!" Seru Angel pelan.


"Loh..... WHY ANGEL?" Tanya Jessy menyelidik.


"Hari ini Papa yang jemput aku pulang kampus, ada suatu hal penting yg mau diomongin, sorry ya!" Jelas Angel pada ketiga sahabatnya sambil merapatkan kedua tangannya minta ampun.


"Yahhh gak seru dong. Tapi tumben Papamu yang jemput, biasanya bawa mobil sendiri atau di jemput sopir pribadi. Kayaknya ada sesuatu yang penting." Ucapan Maya membuatku semakin kepikiran.


"Padahal besok kita semua bakal mudik, kan libur panjang. Ternyata kamu gak jadi ikut perpisahan terakhir kita." Lirih Siska.


"Ya mau gimana lagi, Papanya yang bakal jemput. Emang kamu berani ngomong sama Papanya Angel?" Tanya Maya pada Siska.


"Hehe nggak lah, mana berani. Papanya Angel kan mirip dosen killer kan guys." Jawab Siska terbahak-bahak.


"Woy, Yang kalian omongin tuh Papaku tahu. Tapi emang benar sih, Cuma ya Papa di luar dan di rumah beda 180 derajat loh." Jelasku Pada mereka yang di balas dengan anggukan.


Setelah membatalkan janji dengan ketiga sahabatku itu, Aku hanya termenung di dalam ruangan. Apa sebenarnya yang ingin Papa bahas denganku!


Bunyi bel menyadarkan ku dari lamunan. Semua mahasiswa dan mahasiswi berbondong-bondong untuk pulang, berbeda denganku yang malas beranjak dari tempat duduk.


"Ngel, Kok belum pulang? Di depan ada yang cariin kamu." Ucap seorang pria yang tak lain adalah Andre, yang sedang TTM denganku.


"Siapa?" Tanyaku.


"Gak tahu, sepertinya bukan sopir kamu yang dulu deh. Yang tadi mukanya galak banget hiii" Jawab Andre seolah ketakutan.

__ADS_1


"Haha kayaknya itu Papa aku. Kalau gitu aku pulang duluan ya, Bye!" Ucapku melambaikan tangan padanya.


Sesampainya di gerbang, tentu saja aku langsung tahu mana mobil Papa. Di antara semua mobil yang berada di sana, hanya mobil Papa yang terlalu menarik perhatian.


"Papa udah lama sampai?" Tanyaku pada Papa sembari menutup pintu mobil.


"Sekitar sepuluh menit yang lalu. Papa tunggu kamu keluar, tapi kamu tidak muncul-muncul juga batang hidungnya" Jelas Papa membuatku hanya nyengir.


"Ohya Pa, Sebenarnya ada hal apa sampai Papa yang jemput aku?" Tanyaku penasaran.


"Ehemm.. Itu, Tadi pagi Papa dapat telfon dari teman Papa. Nanti jam tiga kita akan bertemu mereka di Hotel Blue Star."


"Mereka? Siapa Pa?"


"Kakek Hendra, Nenek Tiara, Gavinda Jaya, Dan Yudistira Kelvino Jaya" Jelas Papa membuatku membelalakkan mata.


"A..apa? Gavinda Jaya? Maksud Papa Om Gavinda yang pernah main sama Angel waktu kecil itu? Sudah lama Angel gak ketemu sama Om Gavinda, Apa kabarnya ya!" Ucapku tak percaya.


"Iya, Mereka orang yang sibuk. Walaupun perusahaan kita di urutan pertama, tetapi perusahaan mereka juga tak beda jauh dengan kita." Jelas Papa yang ku balas dengan anggukan.


"Tapi ngomong-ngomong, Kenapa Papa harus jemput Angel? Kan Angel bisa pulang sendiri kalau memang ada keadaan darurat, Gak biasanya loh Papa sampai turun tangan seperti ini." Ucapku heran.


"Hm Sebenarnya Papa jemput kamu karna ada hal penting yang ingin Papa bicarakan. Alasan kita bertemu dengan keluarga Gavinda untuk membahas perjodohan dengan keluarga kita." Jelas Papa membuatku semakin penasaran.


"Sebenarnya perjodohan ini bukan dengan Dimas melainkan kamu Angelina." Jawaban Papa berhasil membuatku syok.


"A..Apa Pa! Aku? Gak, aku gak mau Pa. Aku udah hampir wisuda Pa nanggung, Lagipula aku belum siap nikah. Aku mau kejar cita-cita ku sebagai designer terkenal" Lirihku.


"Papa gak akan suruh kamu berhenti kuliah, Kamu bisa menikah dan tetap kuliah seperti biasanya kan" Tegas Papa.


"Tapi Pa, Jika sudah berumah tangga pasti kesibukanku makin bertambah. Pokoknya aku gak mau, Ini sudah zaman modern bukan zaman Siti Nurbaya mau di jodoh-jodohin segala Pa." Balasku dengan nada kesal.


"Huft, Sebenarnya bukan Papa yang ingin jodohkan kamu nak, dulu papa juga menantang perjodohan ini. Tapi almarhum Kakekmu dan Kakek Hendra yang sudah berkawan baik layaknya saudara, menjodohkan kamu dan Kelvino agar hubungan mereka semakin dekat"


"Tapi Pa, Kakek kan udah lama meninggal. Jadi masalah perjodohan itu harusnya gak perlu di lakukan lagi kan"


"Tidak nak, Itu adalah amanat almarhum Kakek mu dan juga kakek Hendra dan Nenek Tiara masih hidup, tentu menunggu perjodohan ini" Ucap Papa membuatku seketika terdiam.


"Aku tidak mengenalnya Pa, aku juga tidak mencintainya. Bagaimana jika dia bukan pria yang baik yang bisa membimbingku ke jalan yang baik. Aku takut Pa jika hiks!" Aku tak melanjutkan kata-kata karna tercekat dengan air mata.


"Papa sudah mengenalnya dari dulu begitupun denganmu. Mungkin kamu sudah lupa karna sudah lama tak bertemu dengannya, terakhir kali kalian bertemu waktu kelas satu SMP. Sekarang dia sudah menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab." Jelas Papa meyakinkan ku.


"Hiks tapi Pa!"

__ADS_1


"Sudah berhenti menangis, Kamu bisa menolaknya jika memang tak suka. Tapi setidaknya kamu harus ikut sore ini ke acara pertemuan sekalian menilai Kelvino seperti apa." Ucap Papa menenangkan ku.


"Baiklah Pa, Angel akan ikut. Tapi papa jangan marah jika Angel menolaknya terang-terangan." Jawabku lagi.


"Papa tidak akan marah, Lagipula itu kehidupan yang akan kamu jalani. Bukan Papa yang akan rasakan perjalanan kalian, Jadi papa tak akan ikut campur masalah pilihanmu." Ucap Papa tersenyum dan mengelus rambutku membuatku seketika tenang.


Sesampainya di rumah, aku bergegas masuk ke kamar. Saat menatap langit-langit kamar, tiba-tiba perutku mules seperti di lilit dari dalam. Aku meringis kesakitan dan merasakan ada yang basah di bawah sana.


Aku berjalan menuju kamar mandi dan mengecek sesuatu. Ternyata Aku datang bulan Aku lupa ternyata ini sudah tanggal mensku.


Sepertinya hari ini aku tak bisa ikut Papa karna jika aku lagi datang bulan satu sampai tiga hari aku tak bisa beraktivitas karna seluruh tubuh rasanya sakit.


Jam setengah tiga, Papa dan Mama datang ke kamar melihatku apakah sudah bersiap-siap.


"Maaf Pa, Ma. Angel lagi datang bulan. Mama dan Papa sudah tahukan kalau Angel gak bisa kemana-mana selain tiduran di kamar." Jelasku pada orangtuaku.


"Tidak apa-apa, biar Mama dan Papa yang akan jelaskan pada mereka. Kamu di rumah yang baik ya, kalau ada apa-apa kamu panggil bibi. Mama dan Papa berangkat dulu ya, Takutnya Macet." Ucap Mama berlalu bersama Papa.


*****


"Halo Kakek Hendra dan Nenek Tiara. Bagaimana kabarnya?" Tanya Prayoga sembari menyalami mereka.


"Kabar kami baik, Silahkan duduk" Ucap Kakek Hendra ramah.


"Gavinda dan Kelvino belum datang Kek?" Tanya Prayoga.


"Gavin akan segera sampai, sedangkan Kelvin tak bisa hadir karna sibuk bekerja.


Lalu cucuku Angel ada dimana?" Tanya Kakek Hendra lagi.


"Angel ada di rumah sedang sakit." Jawab Prayoga.


"Hm begitu, Lagipula tadi pagi memang rencananya ingin bertamu di rumah kalian tapi Gavin bilang terlalu jauh dari tempat meetingnya. Gavin baru selesai meeting dekat sini dan akan sampai."


"Oohh begitu ya.. Eh Gavinda datang" Ucap Prayoga sambil berpelukan dengan sahabat baiknya itu.


"Sudah lama tidak ketemu, padahal kita di tempat yang sama tapi jarang bertemu karna pekerjaan. Bagaimana kabarmu?" Tanya Gavinda.


"Sangat baik"


Mereka akhirnya berbincang-bincang membahas perjodohan anak mereka.


Setelah beberapa waktu, mereka semua kembali dengan perasaan bahagia kecuali Kakek Hendra dan Nenek Tiara.

__ADS_1


__ADS_2