
Usai makan Kelvin dan Nita kembali ke ruangan masing-masing.
Aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku.
Stress sekali rasanya memikirkan soal semalam aku dan Kelvin ciuman, di tambah masalah adikku. Dan sekarang masalah Nita yang sepertinya menjadikanku musuhnya.
Tepat pukul lima tiga puluh, kini waktunya pulang. Besok hari libur dan kebetulan hari penerimaan gaji.
Besok aku akan traktir Kelvin seperti yang ku janjikan sebelumnya. Sekalian bertanya apa hubungannya dengan Nita.
*****
Pagi harinya sekitar setengah sepuluh, aku sudah selesai mandi.
Aku menghubungi Kelvin sambil memoles wajah, aku dan Kelvin sudah janjian bertemu di Mall.
Kebetulan aku punya uang sisa dari bonus untuk beli pakaian baru. Uang gaji? Tentu semuanya ku kirim untuk ibuku.
Ya, mulai dari bersekolah hingga sekarang aku bekerja, semua uang yang ku dapat pasti di ambil oleh ibu.
Aku hanya mendapatkan sepuluh persen dari gajiku. Padahal aku anak perempuan, bukan tanggung jawabku untuk menafkahi.
Tapi apa boleh buat, jika aku tak menurut aku akan di usir. Hanya itu gunaku dimatanya. Kadang aku berfikir apa aku ini anak kandungnya? Kenapa aku yang selalu di siksa.
Pernah waktu itu, saat aku masih kecil mungkin sekitar empat tahun. Ibuku menginjak kedua pahaku hanya karna aku tak ingin bermain bersama adikku. Kenangan itu masih membekas hingga sekarang.
Saat mulai bekerja, aku sempat mengatakan pada ibu kalau uang yang ku dapat ingin ku tabung. Tapi ibu bilang, tidak perlu nanti uang belanjanya kurang. itu kata-katanya.
Hanya Kelvin yang benar-benar baik padaku tanpa mengharap balasan.
Tringg....Triingg..Tring..
"Halo Vin" Panggilan Kelvin membuyarkan lamunanKu.
"Halo Riss, aku sudah dekat. Kamu sudah siap kan? Aku lagi isi bahan bakar dekat kosanmu".
"Halo, Iya Vin aku udah siap. Tinggal nungguin kamu nih"
"Oh yaudah kalau gitu. Aku tutup ya" Ucapnya memutuskan panggilan.
Aku bergegas dandan dan memakai baju. Gara-gara tadi menghayal, Jadinya telat kan.
Lima menit kemudian, suara klakson di depan kos berbunyi. Sepertinya Kelvin sudah sampai.
Aku mengambil tas dan keluar menemuinya. Tentunya aku tak lupa mengunci pintu.
"Hai Riss, Mau jalan di mall mana" Ucap Kelvin saat melihatku.
__ADS_1
"Tempat biasa Vin"
"Oke, Naik mbak. Helemnya jangan lupa pakai ya" Canda Kelvin seperti ojek pribadi yang membuatku tertawa di pagi hari.
Memang hanya Kelvin yang membuat perasaanku selalu senang. Padahal baru tadi aku sedih mengingat cara ibuku memperlakukanku selama ini.
"Riss.."
"Riss.." Panggil Kelvin setengah teriak, membuatku kaget. "Kok bengong sih? Aku panggil loh dari tadi" Lanjut Kelvin lagi.
"Hehe gak kok, aku hanya mikir, apa Nita gak marah kalau kita boncengan kayak gini" Ucapku berkilah sekaligus cari tahu.
"Hm Nita? Kenapa Nita harus marah?" Tanya Kelvin menatapku lewat spion.
"Iss kamu nih Vin gak peka banget jadi cowok. Kasihan loh Nita, punya pacar tapi suka boncengan sama cewek lain haha" Aku pura-pura tertawa saat mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya hatiku sakit.
"Hahahaha PACAR? hahaha"
"Kok malah ketawa sih?" Ucapku menoyor kepala kelvin. Aku benar-benar heran, bukannya di jawab malah terbahak-bahak.
Lebih baik aku diam saja.
"Kata siapa aku pacaran sama Nita?" Tanya Kelvin memecah keheningan.
"Eh itu.." Aku harus jawab apa? Duh, Kan malu kalau aku bilang dengar mereka berduaan di ruangan. "Cuma tebak aja, soalnya kalian kelihatan dekat. Nita juga pernah cerita sama aku katanya dia suka sama kamu"
"Ohh, Iya Nita memang sudah menyatakan perasaannya padaku waktu itu"
"Terus?" Ucapku penasaran.
"Aku tolak"
"Hah kok bisa? Kenapa? Padahal Nita baik, cantik, mulus. Aku aja yang cewek demen lihatnya"
"Karna aku gak Mandang itu Riss. Aku cari kenyamanan, dan aku sudah menemukannya pada wanita lain" Ucap Kelvin terus terang
"Siapa?"
"Hmm RAHASIA hahaha". Aku refleks memukul bahunya, bukannya marah malah makin tertawa. Huh bikin penasaran saja.
Beberapa lama mengendarai motor bersama Kelvin, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Aku memutuskan menunggu Kelvin memarkirkan motornya.
Saat jalan bersama memasuki mall, kami tak sengaja berpapasan dengan Nita. Wah kebetulan apa ini!
Nita melirikku dan Kelvin dengan tatapan sengit, terlebih saat melihat aku merangkul lengan Kelvin. Bukan karna apa, tapi aku dan Kelvin memang sudah biasa jalan seperti ini.
Awal bersahabat, aku juga menganggap Kelvin sebagai kakakku. Itulah sebabnya kami seakrab ini.
__ADS_1
"Kalian.. Kalian ngapain disini?" Tanya Nita terus memperhatikan tangan kami. Karna tak enak aku melepaskan rangkulanku.
Tapi Kelvin langsung menggenggam tanganku dengan erat yang membuat Nita membelalakkan matanya begitupun denganku.
"Apa kami harus dapat izin kamu baru boleh kesini?" Jawab Kelvin dingin. Sangat dingin, sampai aku tak percaya dia orang yang sama apa bukan.
Kelvin tak pernah sekalipun bicara seperti itu padaku. Tapi pada Nita.. Sadis, Pantas saja susah dapat pasangan.
"Kamu..! Mas Yudi kok gitu sih ihh nyebelin" Ucap Nita mendekati Kelvin, membuatku dan Kelvin berpisah.
Nama Asli Kelvin adalah Yudistira Kelvino Jaya. Hanya orang-orang dekat yang memanggilnya Kelvin, sedangkan orang yang tidak akrab dengan Kelvin akan memanggilnya Yudi.
Dulu aku memanggilnya Yudi, tapi dia lebih memilih aku memanggilnya Kelvin, Katanya karna aku adalah temannya. Dan sekarang sahabat!
BRAAKK..!!
Sibuk menghayal, Seketika aku di kagetkan oleh pemandangan yang terjadi di depanku.
Kelvin mendorong Nita, membuatnya terduduk di lantai. Kasihan sekali Nita, di tempat umum di perlakukan seperti itu.
"Jangan pernah berani menyentuhku. Wanita sepertimu tak pantas" Tegas Kelvin menunjuk Nita. Lalu berjalan ke arahku dan menggandeng tanganku kembali.
Kelvin membawaku menjauh dari Nita, yang sedari tadi menatapku dengan tatapan penuh arti. Aku takut!
"Kenapa Riss" Tanya Kelvin seketika karna aku menggenggam erat tangannya.
"Aku takit Vin. Apa tadi kamu gak keterlaluan sama Nita? Kasihan dia di depan umum di perlakukan seperti itu"
"Dia pantas mendapatkannya. Jujur aku sangat benci dengan wanita yang menyerahkan dirinya padaku. Jelas sekali dia wanita M*rahan". Tukas Kelvin membuatku terkejut. Baru kali ini aku mendengarnya berkata kasar seperti itu.
"Ma..maaf Riss, Aku gak bermaksud berkata seperti itu di hadapanmu. Aku hanya kesal pada Nita, yang main nempel. Huh! Gara-gara dia, genggamanku jadi lepas"
"Iya gak apa-apa kok. Lain kali emosinya di tahan ya, Aku sedih kalau kamu ngomongnya seperti itu, walaupun bukan di tujukan padaku tapi aku sedih Vin"
"Iya Riss aku usahain. Kalau aku sampai kelewatan emosi, kamu ingatin aku ya hehe"
"Iya. Yaudah kamu pesan makanan gih, aku mau duduk, capek" Ucapku memilih tempat duduk dekat jendela sambil memukul-mukul betisku.
"Mau makan apa?"
"Makan yang enak-enak. Hari inikan aku yang traktir kamu, jadi pesan yang paling mahal saja"
"Hmm Yaudah" Ucap Kelvin berlalu.
Karna caffe ini banyak peminatnya, Kelvin sampai harus antri. Lima orang lagi baru giliran Kelvin. Karna lama menunggu, aku memutuskan memainkan ponselku.
Tapi tiba-tiba seseorang menarik ponselku, dan menyiramku dengan air.
__ADS_1
Aku menoleh, Ternyata..!!