CLBK(CINTA LAMA BERUJUNG KEPELAMINAN)

CLBK(CINTA LAMA BERUJUNG KEPELAMINAN)
BAB 18 PENGAKUAN


__ADS_3

"Ma..maaf Riss, Aku gak bermaksud berkata seperti itu di hadapanmu. Aku hanya kesal pada Nita, yang main nempel. Huh! Gara-gara dia, genggamanku jadi lepas"


"Iya gak apa-apa kok. Lain kali emosinya di tahan ya, Aku sedih kalau kamu ngomongnya seperti itu, walaupun bukan di tujukan padaku tapi aku sedih Vin"


"Iya Riss aku usahain. Kalau aku sampai kelewatan emosi, kamu ingatin aku ya hehe"


"Iya. Yaudah kamu pesan makanan gih, aku mau duduk, capek" Ucapku memilih tempat duduk dekat jendela sambil memukul-mukul betisku.


"Mau makan apa?"


"Makan yang enak-enak. Hari inikan aku yang traktir kamu, jadi pesan yang paling mahal saja"


"Hmm Yaudah" Ucap Kelvin berlalu.


Karna caffe ini banyak peminatnya, Kelvin sampai harus antri. Lima orang lagi baru giliran Kelvin. Karna lama menunggu, aku memutuskan memainkan ponselku.


Tapi tiba-tiba seseorang menarik ponselku, dan menyiramku dengan air.


Aku menoleh, Ternyata..!!


Nita..!!


"Nita Apa-apaan kamu" Ucapku tersulut emosi.


"Dasar PHO, Kamu sengaja kan pegang-pegang lengan Kelvin? Dasar wanita jal*ng" Ucapnya sambil menarik jilbabku.


Karna tak terima, aku membalas menarik rambutnya.


"Dasar perusak hubungan orang, gak ada laki-laki lain apa, sampai pacarku kamu Embat juga" Teriaknya membuat orang-orang menjadikan kami bahan tontonan.


Nita terus saja menjambak rambutku, bahkan mencakar lenganku. Akupun melakukan hal sama.


Aku menarik dengan kencang rambutnya, Membuatnya berteriak kesakitan. Nita mengangkat tangannya hendak menamparku, Tapi tiba-tiba seseorang menahannya.


Kami berdua menoleh, ternyata Kelvin yang datang sambil membawa pesanan kami.


Kelvin menatap Nita dengan tatapan tajam dan memegang tangan Nita dengan kencang, membuat Nita meringis kesakitan.


"Sakit Yudi kamu gila ya sakitin cewek" Ucap Nita membuat Kelvin semakin naik pitam.


"Vin udah cukup, aku gak apa-apa kok" Ucapku menarik lengan Kelvin, membuat Kelvin menolehku dengan tatapan sedih.


Kelvin melepaskan genggamannya dari tangan Nita, Lalu..


SLUURPP...!!


Kelvin menyiram Nita dengan air, Mungkin karna Kelvin melihat Rissa basah jadi ia melakukan hal sama.


Terima kasih selalu jadi pelindungku Vin'. Batinku!


"Kamu.. Yudi kamu apa-apaan sih. Tega banget sama aku hikz" Ucap Nita.


"Pergi dari sini, jangan tunjukkan wajahmu di hadapan kami lagi. Jika aku masih melihatmu aku akan membuatmu merasakan rasa sakit yang mendalam" Tekan Kelvin membuat Nita seketika bungkam.


Kemudian Kelvin menolehku dan melepaskan jaketnya. Kelvin berjalan ke arahku dan memakaikan jaketnya padaku. Menutupi bajuku yang hampir tembus pandang karna basah.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa kan Riss?" Tanya Kelvin menatapku iba.


"Iya gak apa-apa kok, cuma kepalaku rasanya sedikit perih. Mungkin karna saling Jambak hehe" Ucapku sembari memakai jilbab.


"Kita pulang saja ya"


"Gak, Jangan. Hari inikan aku mau traktir kamu. Besok kita masuk kerja lagi, Kalau di tunda keburu uangku habis"


"Tapi kamu beneran gak apa-apakan?"


"Iya"


Kamipun duduk dan menikmati pesanan kami.


Karna bertengkar, makanan kami jadi dingin. Sehingga Kelvin menyuruh pelayan menghangatkan pesanan kami.


"Vin"


"Hm, Kenapa Riss" Jawab Kelvin sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Kalian beneran gak pacaran kan?" Tanyaku membuat Kelvin menghentikan gerakannya.


"Riss apa aku pernah bohong sama kamu?" Jawab Kelvin membalikkan pertanyaan.


"Bukan gitu maksudnya. Aku tahu kamu gak pernah bohongin aku, Tapi.."


"Tapi apa? Karna tadi?" Aku mengangguk.


"Huft, Sebenarnya begini Riss. Saat itu Nita menyatakan perasaannya padaku, tapi aku tolak. Dan dia mengatakan aku menolaknya karna kamu. Dia ingin balas dendam padamu Riss. Maafin aku ya, ini semua gara-gara aku, jadinya kamu begini"


"Memang kamu Riss"


"Uhuk uhuk uhuk... Apa Vin?" Tanyaku kaget.


"Memang kamu. Aku menolaknya karna kamu"


"Ta.. Tapi kenapa? Aku gak mau jadi penyebab kalian gak bisa bersatu. Apa karna kita sahabatan ya? Kalau mamng iya, Aku akan mengalah Vin yang penting kamu temuin bahagiamu"


"Bukan begitu Riss"


"Terus apa?"


"Aku.. Karna aku menyukaimu. Aku mencintaimu dari dulu Riss.


Mm Apa kamu.. Mau jadi pacarku Riss?"


Deg!


Sungguh tak ku sangka, jawaban Kelvin akan seperti itu, Membuat pipiku jadi merona.


Memang aku juga menyukainya, Tapi.. Apa boleh kami menjalin hubungan? Aku takut jika kami putus, kami akan saling menjauh. Tak bisa jadi sahabat seperti dulu lagi.


"Aku..Aku bingung Vin, aku juga takut"


"Kamu tak perlu jawab sekarang Riss, Aku akan tunggu jawabannya sampai kamu siap. Fikirkanlah baik-baik"

__ADS_1


"Tapi Vin aku takut jika suatu saat kita menjalin hubungan dan putus, kita tak bisa bersahabat seperti dulu lagi"


"Sudah ku duga kamu takut karna masalah itu. Tenang saja jika memang kita tak bisa jadi pacar lagi, Kita bisa kembali seperti dulu lagi"


"Baiklah"


"Hm? Maksudnya?"


"Aku akan fikirkan matang-matang"


"Ohh ku kira kamu sudah terima hehe" Ucap Kelvin terkekeh.


"Memercayakan hati pada seseorang tidaklah gampang Vin, apalagi aku trauma setiap menjalin hubungan selalu berakhir. Hanya aku yang tulus mencintai, Selalunya cintaku bertepuk sebelah tangan setiap berpacaran"


"Iya aku tahu Riss, makanya aku menyuruhmu untuk memikirkannya matang-matang. Dan aku janji gak akan nyakitin kamu"


"Iya Vin, yaudah buruan makan. Keburu dingin tuh makanannya" Ucapku mengalihkan pembicaraan.


Setelah makan, aku terlebih dahulu ke cashier melakukan pembayaran. Kemudian berjalan-jalan di area mall, kebetulan ingin membeli setelan untuk ke kantor.


Selama bekerja baru kali ini aku berbelanja. Karna Selalunya uang gajiku aku kirim untuk ibu. Karna dapat bonus sekitar 4jt, akhirnya aku bisa berbelanja.


Biarlah kali ini aku berbohong pada ibu. Jika aku katakan pada ibu aku mendapatkan bonus dari tempat kerja, pasti ibu akan meminta semuanya dan hanya menyisakan uang untuk membayar kos dan uang makan dua ratus ribu untuk sebulan.


"Vin ini cantik gak?" Ucapku mengenakan pakaian yang ku ambil di pajangan.


"Cantik" Ucapnya menunjukkan dua jempol padaku.


Aku tersenyum tipis lalu pergi mencoba baju lain.


"Vin kalau yang ini gimana? Bagus gak?"


"Apapun yang kamu pakai selalu cantik Riss"


"Kelvin aku serius ihh. Cantikan mana yang pertama atau kedua?"


"Hemm Menurutku bagus keduanya Riss. Yang pertama elegant, sedangkan yang kedua imut" Ucapnya mengusap dagu, seolah tengah berfikir keras.


"Gitu ya? Yaudah deh kalau gitu aku ambil keduanya aja. Soalnya dua-duanya cantik"


"Masih ada yang mau di beli Riss?"


"Udah gak ada sih. Aku ke cashier dulu ya mau bayar ini" Ucapku mengambil baju-baju tadi.


"Biar aku yang bayar Riss, kan tadi kamu traktir aku. Sekarang biar aku yang traktir kamu ya"


"Gak usah Vin, Lagian yang tadi memang hak kamu kan karna sudah bantuin aku, makanya dapat bonus"


"Tapi Riss aku cowok, masak cewek yang bayar sih. Terus gunaku apa"


"Hm.. Gunamu bawain baju aku nanti ya hehe"


"Iya pasti"


Setelah berbelanja, kami melewati penjual jam tangan couple. Aku hanya cuek tapi ternyata Kelvin menarikku kesana dan membeli sepasang jam untukku dan Kelvin.

__ADS_1


Entah apa yang harus ku katakan saat ini, jantungku berdegup kencang. Apa aku sebaiknya menerima perasaan Kelvin?


__ADS_2