
PoV KELVIN
Namaku Yudistira Kelvino Jaya, anak dari pengusaha terbesar urutan kedua yaitu Gavinda Jaya.
Sebenarnya papa menyuruhku untuk menjadi penerusnya di kantor, tapi aku ingin belajar lebih dulu mulai dari bawah agar nanti ketika jadi atasan aku bisa memiliki pandangan yang luas.
Aku memulai pekerjaan di perusahaan yang tidak terlalu besar, bahkan tidak ada dalam list pengusaha terbesar.
Saat ini aku menjadi kepala divisi satu di bagian pemasaran. Aku menjadi kepala divisi selama dua bulan saat aku dan Rissa bertemu.
Rissa menjadi kepala divisi dua bagian pemasaran.
Pertama kali melihatnya, aku merasa ada yang aneh dengan hatiku. Aku selalu merasa deg-degan saat berada dekatnya.
Bagiku Rissa wanita pintar, manis dan mandiri.
Rissa juga wanita yang profesional, itulah yang membuatku menyukainya.
Karna sering bertemu untuk membahas soal pekerjaan, lama kelamaan aku dan Risa menjadi teman.
Sebenarnya ingin mengajaknya berpacaran, tapi sepertinya itu terlalu cepat.
Beberapa bulan kemudian hubunganku dan Rissa naik pangkat, yang tadinya hanya teman, kini jadi sahabat.
Rissa sering curhat padaku mengapa ia merantau ke kota ini, katanya ingin melupakan mantan kekasihnya Rusman.
Katanya mereka putus karna sahabatnya Jane.
Aku tak tahu detailnya seperti apa, tapi aku kasihan pada Rissa.
Dan kini Rissa memiliki seorang kekasih, yang artinya Rissa telah berhasil move-on dari Rusman.
Rissa pernah menunjukkan foto kekasihnya padaku, Rissa juga bilang kalau mereka pernah tinggal bersama, aku tak tahu apa saja yang mereka lakukan.
Aku tahu Rissa bukanlah wanita yang suci karena masalaluNya.
Tapi aku tak masalah, lagipula aku tahu sekarang ini sudah jaman modern.
Hanya 20% yang masih suci. Aku hargai kejujuran Rissa, Lagipula itu bukan keinginannya.
Saat pulang kantor, aku tinggal di hotel yang di dirikan oleh papaku.
Dan sangat kebetulan aku melihat pacar Rissa bersama wanita lain.
Awalnya ku fikir dia bersama Rissa, itu sebabnya aku mendekat ingin menyapa. Tapi belum sampai disana, aku bisa melihat dengan jelas wanita itu bukanlah Rissa.
Aku paling benci orang yang membalas kesetiaan dengan berkhianat. Akupun mengambil foto mereka dan juga merekam aktivitas mereka.
__ADS_1
Sebenarnya tak ingin mengatakan hal ini pada Rissa, tapi aku tak ingin melihat Rissa bersama laki-laki baj*Ngan sepertinya. Rissa wanita yang baik, tak pantas untuk ya.
Keesokan harinya saat di kantor, aku menemui Rissa dan menceritakan segalanya. Tapi Rissa tak percaya, Akupun menunjukkan buktinya. Akhirnya Rissa percaya dan akan mengakhiri hubungan mereka.
Aku mengantar Rissa pulang ke kosannya, Siapa sangka pacarnya berada disana dan hampir memukul Rissa karena Rissa memutuskannya.
Aku sempat berkelahi dengan mantan pacar rissa hingga membuatku mengeluarkan darah di kepala karna di pukul balok.
Rissa membawaku masuk kedalam kosnya untuk mengobatiku. Ini pertama kalinya aku berada dalam kamar wanita, membuatku grogi.
Setelah kejadian itu aku dan Rissa pergi ke sebuah tempat karoke untuk menenangkan pikiran. Tapi lagi-lagi kami bertemu mantan Rissa disana.
Hampir saja Kami adu jotos, jika security tak datang melerai kami mungkin salah satu dari kami sudah ada yang mengeluarkan darah. Dan juga aku masih dendam padanya karena memukul kepalaku hingga mengeluarkan darah.
Saat pulang, kami di hadang olehnya.
Dia menarik tangan Rissa, hingga membuat Rissa meringis kesakitan.
Akupun melepaskan genggamannya dari tangan Rissa.
Dia meminta Rissa kembali padanya, awalnya aku takut jika Rissa luluh dan ingin kembali bersama pria sepertinya. Aku tak ingin Rissa sakit hati lagi.
Tapi jawaban Rissa malah membuatku terkejut. Rissa mencium bibirku tanpa aba-aba, Walaupun ciumannya sangat tipis, tapi dapat membuatku tak bisa bergerak.
Saat itulah aku makin yakin bahwa aku benar-benar mencintai Rissa.
Aku hanya ingin melihat Rissa tersenyum, Bersamaku.
Sampai di apartemen, Papa menghubungiku.
"Hallo Vin, kapan kamu pulang ke rumah? Minggu depan ada pertemuan dengan keluarga besar. Papa mau kamu pulang"
Ucap papa di telfon.
"Aku akan datang pa, tapi untuk pulang sepertinya belum waktunya. Aku ingin mandiri pa"
"Baiklah, Papa tunggu Minggu depan" Ucap papa memutuskan panggilan.
Baru juga ingin mengistirahatkan tubuh dan fikiran, papa malah menelfonku.
Entah ada apa lagi sampai di adakan pertemuan.
Hari -H pun tiba, Kelvin mendatangi rumah papanya yang bak istana. Disana terparkir banyak mobil mewah, Kelvin memarkirkan motornya dan segera masuk..
"Kelviiinn... Anak kesayangan mama datang" Ucap mama cipika cipiki dan memelukku.
"Ma, udah dong. Ini lagi banyak orang, kasihan Kelvin pasti malu" Papa muncul dari belakang dan berjalan ke arahku.
__ADS_1
"Vin bagaimana kabarmu sayang? kamu sehat kan? makan dengan baik?" Tanya mama khawatir. Ya mama masih saja memperlakukan ku seperti anak kecil, Tapi aku menyukainya.
"Aku gak apa-apa kok Ma, Aku juga sehat"
"Baguslah, Ayo duduk. Dari tadi kami sudah berkumpul, Cuma kamu yang telat datang" Ucap Mama menarikku ke kursi.
"Kita mulai saja kalau begitu, Mengingat kita semua punya kesibukan masing-masing. Vin Hari ini kita mengadakan pertemuan keluarga untuk menjodohkan mu dengan anak pengusaha terbasar urutan pertama. Jika kamu menikah dengannya, Perusahaan kita semua akan makin sukses" Ujar Pamanku, Kakak dari PapaKu.
"APA? Di jodohkan? Maaf Om aku bukan anak kecil lagi, aku punya pilihan sendiri untuk memilih pasangan" Tegasku menolak.
"Kelvin ayo di fikir lagi sayang, ini demi kebaikan kita semua" Lagi-lagi mama memasang wajah memelas.
"Maaf Ma, untuk permintaan kali ini aku gak bisa penuhi karna aku sudah mencintai wanita lain. Aku tak ingin menikah karna perjodohan untuk perusahaan, Ini untuk masa depanku Ma. Aku ingin mencari wanita yang juga benar-benar mencintaiku"
"Kelvin, Setelah menikah kalian pasti akan saling mencintai. Dulu kami juga seperti itu, menikah dulu baru jatuh cinta. Terima saja perjodohan ini Vin demi kita semua"
"Sekali lagi maaf Om aku dengan tegas menolak. Aku tak ingin mengorbankan perasaanku hanya untuk perusahaan"
"Dasar kamu anak durhaka, Mau makan apa kamu tanpa perusahaan. Jangan sok berlagak kamu" Ucap istri Paman.
"Haha sudahlah Ma, Dia tahu apa soal perusahaan. Hidupnya saja terlontang lanting di luar sana. Masih untung di jodohkan sama orang kaya, Tapi sok-sokan menolak" Ucap Dimas anak Paman.
"Walaupun aku terlontang lanting di luar sana, setidaknya aku hidup tak menggunakan uang orang tua. Dan juga jika kamu merasa sangat di rugikan karna aku tak ingin di jodohkan, kenapa tak kamu saja yang menikahinya? Apa karna kamu tak percaya diri?" Aku meliriknya sekilas dengan sinis. Ternyata wajahnya memerah menahan emosi, dasar pecundang. Hah, Terserah saja!
"Baiklah Vin, Kalau memang kamu menolak. Papa tak bisa memaksa kamu karna kamu bukan lagi anak kecil. Dan juga, secepatnya pertemukan Papa dan MamaMu dengan wanita yang kamu cintai itu" Ucap papa Bijak. Itulah sifat papaku yang sangat ku sukai.
"Baik Pa, secepatnya akan aku bawa ke rumah ini untuk menemui Papa dan Mama. Kalau begitu aku pamit Pa, Ma dan paman" Papa dan Mama tersenyum kecuali keluarga Paman yang dari tadi memasang wajah jengkel.
Dalam perjalanan pulang ke apartemen yang di wariskan Papa untukku, Aku dan Rissa juga punya janji untuk ketemuan di Mall.
Saat menjemputnya, selalu saja aku melihat seperti aku tengah menjemput bidadari.
Rissa wanita yang manis dan mandiri. Aku benar-benar menyukainya. Walaupun di luar sana banyak wanita yang lebih cantik, Tapi Rissa memiliki karisma tersendiri yang membuatnya semakin menarik.
Kamipun tiba di sebuah Mall, tapi lagi-lagi muncul biang masalah. Nita!.
Membuat Rissa ingin melepaskan rangkulannya, Membuatku marah pada Nita.
Aku segera menggenggam erat tangan Rissa agar tak lepas, tapi tiba-tiba Nita mendekat dan menyentuhku. Membuat Rissa tergeser dan melepas genggamanku, Sangat muak!
Baru kali ini aku kasar pada wanita, terlebih di depan orang yang aku sukai. Mungkin Rissa akan membenciku karna menganggapku pria yang kasar.
Saat Memesan makanan aku mendengar keributan dari arah belakang, ternyata lagi-lagi Nita. Aku melihat Nita dan Rissa saling Jambak.
Aku mendekat ke arah mereka, Ternyata baju Rissa basah hingga hampir transparan.
Aku membalas menyiram Nita dan memberikan Rissa jaketku agar tak jadi bahan tontonan. Aku sangat merasa bersalah pada Rissa, Karnaku dia mengalami hal seperti ini.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, aku mengungkap isi hatiku pada Rissa, dan sesuai dugaan Rissa tak akan dengan mudah untuk menerima. Mengingat kami bersahabat, Rissa memilih untuk memikirkannya matang-matang.