
PoV Rissa
Hari-hari bekerja di rumah juga membuat suntuk, terlebih lagi sekarang sudah tak punya kekasih.
Satu bulan lebih sudah berlalu semenjak aku dan Kelvin harus berpisah tanpa kata putus. Mungkin sekarang Kelvin dan Angela sedang menikmati bulan madunya, dan aku akhirnya sudah berhasil move-on setelah berulang kali ke rumah sakit untuk cek-up akibat drop.
Bukan hanya karna pekerjaan yang menumpuk, tapi juga karna hati yang benar-benar lelah saat itu. Dan sekarang semua sudah berlalu, kini aku merasa lebih dewasa lagi..
Hari ini, hari terakhir aku bekerja di luar kota. Besok aku akan di mutasi ke kampung halamanku, awalnya aku menolak karna aku tak ingin mengingat kembali kisah cintaku yang dulu kandas.
Tapi tak ada yang bisa menggantikan ku, biasanya hanya ada Kelvin, tapi sekarang Kelvin sedang mengambil cuti pernikahannya.
Aku pun menyelesaikan tugas dari kantor sesegera mungkin, karna aku harus menyusun semua baju-bajuku ke dalam koper. Entah kapan lagi aku akan kembali kesini, aku pasti rindu dengan tempat ini.
Beberapa jam pun berlalu. Kini sudah sore dan aku sudah beres-beres, jam penerbangan ku nanti habis magrib. Masih sempat untuk bikin bekal untuk perjalanan, daripada keluarkan uang lagi. Bukan pelit, tapi aku harus mandiri tak boleh boros boros, apalagi aku harus menghidupi keluargaku.
Bekalku pun jadi, hanya makanan sederhana tapi nikmat yaitu sambal ikan mujair dan nasi putih dan sop bihun. Sambil menunggu dingin, aku menyempatkan diri untuk mandi dan berdandan.
Setelah semuanya beres, aku memesan ojol menuju bandaranya. Baru sampai disana, aku melihat Jane. Ya aku yakin itu Jane, tapi mau kemana dia. Apa mungkin dia juga ingin pulang kampung?
Aku malas menegur wanita sepertinya, yang ku anggap teman baik ternyata hanyalah ular berbisa. Akupun hanya melewatinya dan pura-pura tak mengenali.
Tapi tiba-tiba tanganku di tahan dari samping, yang membuatku kaget adalah tatapannya seperti sedang emosi.
"Kenapa?" Tanyaku pada Jane yang mencengkram erat tanganku.
"Kamu mau pergi kenapa gak bilang sama aku?" Tanyanya yang membuatku makin heran.
"Apa aku harus izin sama kamu? kita bukan teman lagi, jadi tolong yang sopan saat berbicara denganku." Ucapku sambil melepaskan cengkeramannya.
__ADS_1
"Kamu.. huuh, Aku minta uang dong Riss. Kamu tahu sendiri kan, aku mengalami kecelakaan saat bekerja dan saat ini aku gak punya uang untuk belanja pakaian." Katanya terus terang.
Andai dia minta uang untuk membeli makan mungkin akan ku kasih, tapi dia ternyata ingin shopping. Hah, bahkan aku untuk makan saja harus irit-iritan, enak saja dia.
"Maaf ya, kita tidak sedekat itu." Tak ingin berlama-lama, akupun berlalu menjauhi wanita parasit itu. Entah apa yang ia katakan, aku tak begitu jelas mendengar ocehannya di belakang sana, bodoh amatlah..
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pesawat yang akan ku tumpangi akan berangkat. Akupun menyandarkan tubuhku di kursi penumpang, sambil membaca majalah yang sudah di sediakan agar penumpang tak bosan.
Saat tersadar sudah satu j lebih berlalu, ternyata pramugarinya sudah mengumumkan kalau kami hampir sampai di tempat tujuan.
Aku menarik nafas lega karna selamat sampai tujuan.
Sudah dua tahun aku pergi, kini aku kembali lagi. Yang mengingatkanku dengan kisah yang sangat pilu bagiku, ya! sekarang aku harus kuat.
Sebelum menuju ke tempat tinggal yang di sediakan oleh perusahaan, tak lupa aku mengabari Pak Deandra bahwa aku sudah sampai tujuan.
Setelah menghubungi Pak Deandra, aku menaiki taksi menuju tempat tinggal baruku.
Sekitar sepuluh menit, akupun sampai di rumah hijau yang memiliki taman yang menyegarkan untuk mata.
Rumah ini sangat nyaman di pandang menurutku, karna aku sendiri makanya perusahaan mengambil rumah yang hanya memiliki satu kamar, ruang tamu yang luas dan kamar mandi yang bersih.
Setelah meletakkan pakaianku di lemari, aku berenca keluar untuk mencari penjual bakso yang dulu sangat ku sukai, tapi sebelum itu aku harus mandi.
Setelah berdandan lumayan lama, aku berangkat menggunakan motor yang juga di sediakan oleh perusahaan, karna tempat tinggalku dan kantor baru yang ku tempati besok memakan jarak lumayan jauh.
Walaupun tidak terlalu mahir mengendarai motor, aku tetap memberanikan diri sebab seterusnya aku akan berangkat ke kantor menggunakan motor.
Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya aku menemukan kang bakso langganan ku.
__ADS_1
Saat turun dari motor, kang bakso menatapku lama lalu kemudian barulah menegurku.
"Mau pesan apa neng." Tanyanya yang masih juga memperhatikan ku.
"Mau pesan bakso mercon dua, bakso telur satu, tahunya dua tidak pakai mie, jeruknya banyakin dan." Belum melanjutkan kata-kata, kang bakso pun menyambungnya.
"Dan sambalnya di banyakin kan? Neng Rissa ya?" Katanya yang akhirnya tersadar.
"Iya kang, saya Rissa." Ucapku tersenyum.
"Ya ampun neng, pantas saja tadi saya lihatin terus kayak mirip neng Rissa, ternyata memang neng Rissa. Makin cantik, jadinya saya agak linglung hehe." Ucap kang bakso yang umurnya kisaran dua puluh lima itu, membuatku salah tingkah di bilangin cantik.
"Hehe ada ada aja kang, ohya kang tadi saya sempat ke pangkalan yang sering saya datangi tapi akang gak ada, saya sempat keliling-keliling baru ketemu disini. Kenapa pindah kang?" Tanyaku penasaran.
"Oh itu karna di pangkalan lama walaupun ramai yang berlalu-lalang tapi tidak seramai di pinggir jalan poros. Ini saja sudah mau habis padahal saya jualannya belum lama."
Jelasnya yang ku balas dengan anggukan.
"Ohya neng Rissa masih kontekan sama Rusman kah? Dia sering datang kesini beli dagangan saya, terakhir dia datang kemarin boncengan sama cewek. Awalnya saya kira itu neng Rissa di boncengin, ternyata bukan toh." Ucapnya lagi. Ya! Kang bakso ini memang sering cerita-cerita denganku bahkan sebelum kenal Rusman.
Mungkin yang kemarin itu pacarnya Rusman, walaupun sudah berlalu dua tahun dan aku juga sudah move-on, tapi kenapa saat kang bakso cerita dia boncengan sama cewek lain, hatiku merasa lain ya? Aku sudah berhasil move-on bukan?
Bahkan ini sudah berlalu dua tahun, apa karna aku masih mengingat janji yang dulu Rusman ucapkan saat berpacaran? Dia menyuruhku menunggu selama dua tahun lalu menikahi ku.
Kenapa harus ku ingat lagi, padahal dia sudah punya wanita lain, otomatis dia juga sudah lupa dengan janjinya. Mungkin saja dia berjanji lagi dengan wanita barunya itu huft!
Sadar Riss sadar, mending ku fokus kerja cari uang untuk benahi diri, biar nanti kalau sudah cantik banyak yang antri.
Karna jaman sekarang laki-laki cuma pandang fisik bukan hati
__ADS_1