
"Ini buah untukmu el" ucap kimberly
"letakkan saja di nakas aku akan makan setelah buburku habis" ucap syaquel
"baiklah, apa perlu aku suapi? Kau makan pelan sekali padahal itu kan hanya bubur" tawar kimberly
"tidak perlu repor kim terima kasih, aku hanya tidak terlalu berselera dengan bubur ini karena aku merasa aku tidak sedang sakit parah, tapi aku akan berusaha menghabiskannya" jawab syaquel
"kalau tidak suka tidak usah di lanjutkan el, berikan padaku dan aku akan mencarikan makanan yang kau suka" ucap kimberly merebut mangkuk bubur itu
"tidak kim tidak perlu, ini makanan sehat dari rumah sakit aku tetap akan memakannya kau tenang saja" tolak syaquel
"hmm" silvi berdehem melihat perdebatan kedua insan didepannya
"dari pada kalian terus berdebat lebih baik dengarkan aku karena aku punya solusinya" ucap silvi
Keduanya terdiam dan melihat kearah silvi, wanita itu membuka tas yang berisikan banyak makanan disana. tidak hanya makanan favorite syaquel tapi ia membawa makanan yang dapat dikonsumsi oleh mantan ibu mertuanya dan juga susternya.
"aku membawa banyak makanan untuk apa lagi mencari diluar, bukan kah itu sangat merepotkan suster?" ucap silvi bermuat sindiran
"tidak ada yang merepotkan jika berkaitan dengan keluarga fernando" sahut kimberly penuh penekanan
"wow, baiklah kau memang mengabdi dengan setia pada keluarga fernando, tidak hanya nyonya candra saja ternyata" lagi lagi silvi melayangkan sindirannya yang masih terbilang halus
Dengan elegan silvi menaikkan meja yang ada diranjang pasien milik syaquel agar pria itu dapat menikmati makanannya dengan baik.
"aku membuatkan makan favorite mu el" ucap silvi sengaja membuat suster kimberly kepanasan
"Gulai cumi kesukaanmu" silvi meletakkan menu pertama dimeja syaquel
"bukankah menu itu terlalu berat untuk dijadikan sarapan?" tegur kimberly
"ya, tapi el sering sarapan dengan menu ini saat kita masih tinggal bersama dulu, iya kan el?" silvi melontarkan kalimat skak matt untuk kimberly yang terlalu banyak bicara
"I-iya sil, terima kasih banyak kau sudah repot repot membuatkan ini, sudah lama aku tidak makan gulai cumi" jawab syaquel
kimberly mendesis kesal, benar benar kesal, pendekatannya harus berantakan karena kedatangan wanita ini, apa silvi berniat untuk kembali dengan syaquel? Tidak tidak bisa ia biarkan. Sebaiknya ia segera pergi dari sana dari pada ia terbakar api cemburu melihat mantan istri ganjen itu.
"el, aku harus pergi melihat mommy, siapa tahu dia perlu sesuatu" pamit kimberly
"sebentar, aku titip ini untuk mantan ibu mertuaku, aku membuatkan sup segar dengan berbagai sayuran sehat yang pastinya tidak akan membuat penyakitnya kambuh aku yakin itu, dan yang satunya lagi untukmu" silvi memberi satu paper bag yang berisi dua kotak makanan didalamnya
__ADS_1
"terima kasih, kau baik sekali nyonya silviana, kau memang mantan menantu idaman" kimberly menekan setiap kata katanya
"ya sama sama ucapkan salamku pada oma nya sky" silvi menegaskan akhir kata katanya
Kimberly langsung pergi dengan menenteng paperbag itu. hari ini moodnya sangat berantakan.
Setelah kepergian kimberly silvi kembali menata menu lainnya dimeja milik syaquel, pria itu terus menatap silvi tanpa berkedip bolehkan ia terbang kelangit sebentar saja? Sungguh perlakuan silvi hari ini membuat hatinya berbunga bunga bagai ditaman bunga.
"sepertinya dia menyukaimu" ucap silvi
"siapa?" tanya syaquel
"suster kimberly, siapa lagi?" jawab silvi sinis
"tidak mungkin, dari pada dia menyukai seorang duda lebih baik dia mencari pria lajang diluar sana" sahut syaquel
"memangnya ada apa dengan duda?, kau tidak terlihat seperti seorang duda, lagi pula dia wanita dewasa bahkan mungkin seumuran denganku jadi aku rasa status bukanlah sebuah syarat" silvi menyangga pernyataan syaquel
"makanlah, jika sudah kenyan berhenti saja" silvi mempersilahkan syaquel makan
"jadi menurutmu begitu?" tanya syaquel sembari menikmati makanannya
"ya menurutmu aku tidak terlihat seperti duda? Apa masih setampan dulu?" goda syaquel membuat tawa silvi pecah
Melihat tawa silvi yang begitu lepas meneyawainya tentu membuat diri syaquel ikut tersenyum jarang jarang ia melihat pemandangan seindah itu.
"kau terlalu percaya diri tuan syaquel" ucap silvi disela sela tawanya
"ck, aku kan hanya bertanya lagi pula kau yang bilang jika aku tidak seperti seorang duda" ucap syaquel
"sudahlah cepat makan" balas silvi
"kau tahu semua masakan ini rasanya tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu" ucap syaquel sembari mengunyah makanannya dengan lahap
"jelas, itu masakan orang yang sama dan tangan yang sama jadi tidak mungkin rasanya berubah" jawab silvi
"ya dulu kan sering bilang, el ayo dimakan aku sudah masak makanan kesukaanmu dengan penuh cinta" syaquel meniru suara silvi
"apa makanan kali ini masih dimasak dengan penuh cinta?" sambung syaquel
Silvi dan syaquel saling bertukar pandang, kenangan kenangan manis itu tiba tiba muncul dipikiran keduanya.
__ADS_1
"ck, dasar gila" umpat silvi
Syaquel tertawa, walau silvi mengumpatnya tapi ia tahu jika wanita itu sedang gugup karena pertanyaannya barusan.
"aku berencana membawa sky kemari setelah ia pulang sekolah, bagaimana menurutmu?" tanya silvi
"kau serius?" tanya syaquel bahkan pria itu hampir tersedak
"menurutmu?" tanya silvi balik
"oh tuhan mukjizat apa yang sedang kau berikan padaku? Sungguh aku sangat berterima kasih untuk itu" ucap syaquel
"aku bahkan bersedia berlutut dikakimu jika kau mempertemukan aku dengan sky hari ini" sambungnya
"jangan lebay" silvi melayangkan tinjunya pada otot lengan syaquel yang terdapat luka
"aaduhh silvi" syaquel meringis
"ada apa? Apa sakit? Aku rasa tadi pukulanku cukup pelan" ucap silvi panik
"pukulanmu memang pelan sil, tapi disini ada bekas jahitanku kemarin" syaquel memegangi ototnya yang terasa sakit
"apa? Maafkan aku el" silvi mengibas lengan pakaian syaquel dan terlihat perban yang membalut luka syaquel mengeluarkan darah
"el berdarah bagaimana ini?" silvi berteriak panik
"aku harus memanggil dokter" silvi hendak berlari keluar untuk memanggil dokter namun syaquel menahannya
"sil silvi tidak perlu ini tidak apa apa" ucap syaquel
Ia senang melihat kepanikan silvi tapi ia tidak tega membohongi dan memanfaatkan keadaan itu karena sesungguhnya lukanya tidak sakit karena silvi tidak menyentuh bagian yang terluka itu.
"tidak apa apa bagaimana el? lukamu kembali berdarah" ucap silvi dengan cemas
Syaquel menarik silvi agar lebih dekat tanpa menunggu lama ia memeluk tubuh berisi silvi, walau wanita itu memberontak tapi ia tetap mengeratkan pelukannya.
"sil, berikan aku waktu untuk bicara sebentar saja setelah itu aku pasti akan melepaskanmu" ucap syaquel sembari menghirup lamat lamat wangi rambut silvi
"kau bisa bicara tanpa harus memelukku el, jangan membuatku murka" silvi memukul punggung syaquel sebagai pemberontakan
"aku butuh ketenangan lewat pelukanmu sil, sebentar saja aku mohon" ucap syaquel membuat silvi cukup tenang dan tidak memberontak lagi
__ADS_1