Come Back Together

Come Back Together
Sudah gila


__ADS_3

Syaquel menarik silvi agar lebih dekat tanpa menunggu lama ia memeluk tubuh berisi silvi, walau wanita itu memberontak tapi ia tetap mengeratkan pelukannya.


"sil, berikan aku waktu untuk bicara sebentar saja setelah itu aku pasti akan melepaskanmu" ucap syaquel sembari menghirup lamat lamat wangi rambut silvi


"kau bisa bicara tanpa harus memelukku el, jangan membuatku murka" silvi memukul punggung syaquel sebagai pemberontakan


"aku butuh ketenangan lewat pelukanmu sil, sebentar saja aku mohon" ucap syaquel membuat silvi cukup tenang dan tidak memberontak lagi


"silvi maaf jika aku jadi merepotkanmu semenjak dirawat disini, terima kasih kau masih peduli dengan tetap datang kemari, terserah jika kau mau menganggap semua ini sebagai balas budimu karena aku telah menolongmu, tapi sungguh aku merasa tidak pantas mendapat semua perhatian ini hanya karena itu, semua yang terjadi padaku tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan padamu dan aku tidak mungkin membiarkan wanita yang aku cinta dalam bahaya silvi terlebih lagi kau adalah ibu dari anakku" ucap syaquel bahkan suara pria itu terdengar bergetar menahan tangis


"sudahlah el, aku sudah berniat untuk merawatmu hingga sembuh sebagai bentuk tanggung jawabku" ucap silvi melerai pelukan itu namun syaquel bertambah erat memeluknya


"aku mencintaimu silvi, aku sangat menyayangimu, jika boleh aku ingin seperti ini selamanya agar mendapat perhatian darimu" ucap syaquel tanpa mau melepas pelukan itu


"ck, kau sudah gila ya, lepas" silvi berusaha melepas pelukan itu tapi tenaganya kalah kuat dengan syaquel padahal pria itu sedang terluka


"biarkan seperti ini sebentar sil, kapan lagi aku bisa memelukmu" ucap syaquel dengan lemah


"jangan mengambil kesempatan el atau aku kan pergi dari sini dan tidak akan datang lagi" ancam silvi


"jangan jangan" syaquel melepas pelukannya


Sedangkan silvi memasang wajah garangnya, ia merasa telah dirugikan oleh syaquel, niat jual mahal malah banting harga.


"makanya jangan macam macam padaku" ucap silvi lengkap dengan pelototan matanya


"padahal tadi aku berencana menciummu" sahut syaquel


"apa? aku akan mematahkan lehermu jika kau berani" ancam silvi


"aku bersedia asalkan berhasil mencuri ciuman mu" goda syaquel


"ck, aku rasa salah satu preman kemarin ada yang telah memukul kepalamu sehingga kau jadi gesrek seperti ini" ucap silvi kesal


Selepas syaquel makan silvi membersihkan sisa sisa makanan itu, ia juga membantu pria itu untuk minum obat.

__ADS_1


"apa ada lagi yang bisa aku bantu?" tanya silvi


"ada, tapi aku tidak yakin kau mau melakukannya" jawab syaquel


"katakan saja, pasti akan aku lakukan sekarang kau kan tanggung jawabku sampai sembuh" ucap silvi


"badanku terasa lengket ...." syaquel tidak meneruskan kata katanya karena pipi silvi yang sudah bersemu merah bak udang rebus


"sudah aku bilang bukan? Kau tidak mungkin melakukannya" sambungnya


"apa? aku tidak mengatakan apapun, kau ingin mandi bukan? Akan aku antarkan ke kamar mandi" silvi hendak mengambil kursi roda yang tidak jauh dari mereka namun perkataan syaquel menahan langkahnya


"dibadanku cukup banyak luka jahitan yang belum bisa kena air, jika aku mandi nanti perbanku juga ikut basah" ucap syaquel


Silvi berbalik dan menatap syaquel sehingga keduanya saling tatap, silvi memikirkan cara lain agar ia tidak melakukan hal memalukan itu sedangkan syaquel memikirkan alasan agar ia tidak perlu memanggil perawat pria seperti kemarin hanya untuk membasuh tubuhnya dengan handuk.


"kemarin siapa yang membantumu membersihkan diri?" tanya silvi


"hmm kim, ya kimberly" jawab syaquel cepat


"apa tidak bisa meminta bantuan perawat pria?" tanya silvi


"dan kau lebih memilih dibasuh oleh kimberly dari pada suster suster yang memang ditugaskan untukmu" sindir silvi


"bukan seperti itu sil, menurutku dia bukan orang asing dia tinggal dirumahku jadi sudah pasti dia sering melihat tubuhku jadi aku tidak begitu malu" umpan syaquel


"oh jadi kau tidak malu bertelanjang didepan kimberly?" tanya silvi ngegas


"kau jangan salah faham sil, tidak mungkin aku bertelanjang didepannya memangnya dia istriku, cuman kau saja yang ..." silvi menyumpal mulut syaquel dengan handuk kecil yang sudah dia ambil dinakas.


"kau banyak bicara, buka pakaianmu" silvi meletakkan baskom berisi air hangat diranjang milik syaquel


Syaquel tersenyum menang, silvi akhirnya mau membantunya untuk membersihkan diri, ia membuka kancing bajunya satu persatu.


"kau yakin mau melakukannya sil?" tanya syaquel lagi

__ADS_1


"menurutmu?" silvi bertanya balik


"jika kau tidak bersedia tidak apa apa silvi" ucap syaquel


"lalu kau akan memanggil kimberly untuk membersihkan tubuhmu ini hum?" tuduh silvi


"tentu saja tidak sil" sahut syaquel ragu


"ck kau membuka kancing saja tidak bisa" silvi membuka kancing baju syaquel dengan cepat.


Jantung silvi berdegup dengan kencang saat syaquel sudah bertelanjang dada di depannya, sudah 4 tahun berlalu ia tidak pernah lagi ada di posisi seperti ini apalagi melihat tubuh polos syaquel. Silvi menggeleng, kenapa otaknya jadi berfikiran tidak jelas seperti itu. Silvi mengerutuki dirinya yang tiba tiba saja merindukan kenangan ranjangnya bersama mantan suaminya itu.


Tidak jauh berbeda dari silvi, syaquel pun merasakan hal yang sama sudah bertahun tahun ia selalu menahan hasratnya namun kali ini entah kenapa setiap sentuhan yang diberikan oleh silvi lewat handuk basah yang digunakan membasuh tubuhnya membuat gairah syaquel bangkit seketika.


Tubuh syaquel memang cukup banyak terdapat luka sayat sehingga banyak perban yang menempel ditubuh hingga lengannya, silvi sangat berhati hati membasuh tubuh syaquel. ia memulainya dari punggung belakang pria itu agar ia tidak langsung berhadapan karena jujur saja ia sangat gugup saat ini.


"sepertinya beberapa perban ini harus diganti, sudah banyak yang terkena rembesan darah" ucap silvi


"iya suster akan datang sebentar lagi untuk mengganti perban" jawab syaquel


Silvi mengangguk lalu berpindah ke depan karena ia harus membasuh bagian dada hingga perut syaquel. Silvi sangat grogi melihat dada bidang mantan suaminya yang dulu selalu ia jadikan tempat ternyaman saat mau tidur. Ditambah lagi syaquel terus menatapnya, karena tidak tahan silvi menampar pelan pipi syaquel untuk mengalihkan tatapan pria itu.


"aw silvi kenapa kau menamparku?" jerit syaquel


"kau terus menatapku aku tidak suka ditatap seperti itu" jawab silvi yang masih sibuk dengan kegiatannya


"aku harus memanfaatkan situasi ini sil, kapan lagi aku melihat bidadari sedekat ini" sahut syaquel


Silvi langsung mencubit perut kotak kotak milik syaquel, pria itu sudah lancang melontarkan gombalan terhadapnya.


"Aduh silvi" lagi lagi syaquel meringis


"sudah selesai" ucap silvi meletakkan handuk basah itu ke dalam baskom


"sudah? kaki ku bagaimana?" tanya syaquel

__ADS_1


"apa? yang benar saja" silvi melotot, sangat tidak mungkin ia harus membersihkan bagian itu.


Syaquel tersenyum, sepertinya seru jika ia mengerjai silvi sedikit saja semoga wanitanya tidak marah.


__ADS_2