Come Back Together

Come Back Together
Tidak rela


__ADS_3

"aku tidak memaksamu sil tidak apa apa jika kau tidak bersedia membantuku untuk kali ini, aku bisa memanggil suster atau meminta tolong pada kimberly lagi" ucap syaquel


"apa? kau itu tidak punya malu ya? Memangnya kimberly dia siapamu? oh my god" silvi memijit pelipisnya


"baiklah aku akan meminta suster saja jika begitu" ucap syaquel


"sama saja syaquel" geram silvi


"lalu? Aku harus bagaimana? Aku ingin ganti pakaian dalam juga" ucap syaquel


"kau itu tidak lumpuh el jangan mencari alasan, ayo biar ku bantu kau ke kamar mandi" silvi mengambil kursi roda


"ayo pindah" perintah silvi


"tapi sil.." ucap syaquel ragu


"hanya membersihkan kaki sampai pahamu aku yakin masih bisa kau lakukan sendiri, ayo cepat jangan mencari cari kesempatan dengan keadaanmu yang seperti itu" ucap silvi dengan tegas


Mau tidak mau syaquel pun turun dari ranjang pasiennya, niatnya mengerjai silvi jadi batal karena ternyata silvi tidak bisa ia kelabui.


"aku bisa berjalan, tidak perlu pakai kursi roda" ucap syaquel berjalan menuju kamar mandi sembari memegang cairan infusnya.


"oh itu sangat bagus, berarti kau akan segera sembuh" ucap silvi


Syaquel langsung mendaratkan bokongnya ke kursi roda, ia tidak mau silvi tahu jika ia sudah baik baik saja jangan sampai perhatian untuk dirinya hilang begitu saja.


"ternyata lututku masih sakit" ucap syaquel


"benarkah? Apa preman itu memukul lututmu juga?" tanya silvi


"ya dia menendangnya" jawab syaquel


Silvi tidak berucap lagi, ia mendorong kursi roda itu hingga ke kamar mandi ia juga memberikan satu setel pakaian bersih untuk di kenakan oleh syaquel, lalu ia pun keluar meninggalkan syaquel dikamar kecil itu.


"jika sudah panggil namaku" pesan silvi sebelum ia meninggalkan tempat itu


Setelah semua ritualnya selesai syaquel kembali duduk dikursi rodanya lalu ia memanggil silvi, sesungguhnya ia tidak berniat merepotkan mantan istrinya tapi perhatian yang diberikan oleh silvi hari ini setelah bertahun tahun menjadi wanita yang dingin akhirnya bisa ia dapatkan walau dalam keadaan seperti ini, bukankah ini sebuah keberuntungan untuknya? Ya dan syaquel akan memanfaatkan semua itu.

__ADS_1


"silvi" panggil syaquel


Wanita yang ia panggil akhirnya muncul dari balik pintu.


"apa sudah?" tanya silvi


"iya sudah" jawab syaquel


"cepat juga ya, kalau begitu ayo" silvi mendorong kursi roda syaquel untuk kembali ke ranjang pasien


"biar ku bantu" silvi berniat memampah syaquel namun pria itu menolak


"aku bisa sil, terima kasih banyak padahal keadaanku tidak begitu parah tapi aku malah selalu merepotkanmu" ucap syaquel sembari berpindah naik ke ranjang pasiennya


"sudah ku bilang bukan, kau tanggung jawabku selama kau masih dirawat ditempat ini" ucap silvi dan diangguki oleh syaquel


"ada lagi yang kau butuhkan?" tanya silvi


"tidak ada terima kasih" jawab syaquel


"baiklah jika perlu sesuatu panggil aku" ucap silvi sembari mengambil tasnya


"aku tidak kemana mana, ada pekerjaan yang harus segera aku cek aku akan mengerjakannya di sofa itu jadi jangan segan untuk memanggilku jika kau butuh sesuatu" ucap silvi sembari menunjuk sofa yang ada disamping sana


"oh baiklah, jika kau sedang banyak pekerjaan pergilah ke kantormu, aku tidak apa apa disini aku bisa memanggil suster jika memerlukan bantuan" ucap syaquel


"ah sudahlah kau ngeyel sekali" silvi berjalan menuju sofa, ia malas menanggapi syaquel yang tidak enakan.


Silvi mulai serius dengan leptop didepannya, banyak email yang dikirimkan oleh sekertaris sekaligus asistennya dari kantor dan ia harus mengecek satu persatu email itu dengan seksama.


Sementara dari kejauhan syaquel sangat terpana melihat mantan istrinya yang terlihat sangat serius dan berkosentrasi dalam bekerja, rambutnya ia sanggul keatas menggunakan balpoint agar tidak mengganggunya bekerja, kacamata yang dipakai silvi menambah kadar kecantikan wanita itu. Perasaan menyesal mengerumuni hati syaquel andai saja ia tidak menyianyiakan wanita itu dulu pasti mereka akan bahagia sekarang mungkin dengan beberapa anak mereka.


Ponsel silvi berdering dan itu dapat terdengar oleh syaquel yang berada tidak jauh dari tempat silvi berada, wanita itu mengumpat karena konsentrasinya harus pecah gara gara panggilan itu.


"oh sial, mengganggu sekali" umpat silvi masih terdengar oleh syaquel


Silvi kemudian menjawab panggilan itu karena ternyata orang yang menghubunginya adalah calvin, wanita itu terlihat berusaha meredam kekesalannya walau telah diganggu saat bekerja.

__ADS_1


"ya ada apa vin?" tanya silvi setelah ia menjawabnya


"tidak kenapa kenapa, aku hanya rindu padamu, apa kau sibuk?" ucap calvin dengan santainya


"simpan dulu rindumu vin, aku sedang banyak pekerjaan sekarang" silvi memutar bola matanya jengah, sedang capek capeknya bekerja pria itu malah sangat santai menggodanya dengan alasan rindu


Diujung sana syaquel tersenyum tipis, ia tahu jika yang menghubungi silvi adalah calvin richard walau ia tidak dapat mendengar apa yang diucapkan calvin dari seberang sana namun hanya melihat ekspresi dari mantan istrinya syaquel dapat mengetahui jika sebenarnya silvi kesal dan tidak berniat untuk berbicara dengan calvin.


"baiklah calvin, aku tutup dulu nanti akan aku hubungi jika punya waktu luang" ucap silvi mengakhiri panggilan itu


silvi meletakkan kembali ponselnya diatas meja dan tidak sengaja matanya berpapasan dengan syaquel yang kebetulan sedang menatapnya.


"ada apa el? ada yang kau butuhkan?" tanya silvi


"oh tidak tidak, silahkan lanjutkan pekerjaanmu" jawab syaquel cepat


"kalau begitu berhenti menatapku sebelum aku mencongkel matamu itu" ancam silvi


Syaquel tersenyum kaku, pria itu pun langsung memutus tatapannya dari silvi dari pada harus kehilangan kedua matanya.


"permisi, tuan waktunya untuk ganti perban" ucap seorang suster yang baru masuk dan tentunya menarik perhatian silvi yang sedang bekerja


"baik suster" ucap syaquel patuh, pria itu kemudian membuka satu persatu kancing bajunya karena beberapa lukanya berada di bagian dada hingga punggungnya sehingga ia harus melepas kemeja yang ia pakai.


Diam diam silvi memperhatikan gerak gerik syaquel dari kejauhan, entah apa yang ia rasakan sehingga ia tergerak untuk menggantikan suster itu. silvi berjalan mendekati ranjang pasien milik syaquel dan berbicara dengan suster yg bertugas.


"suster biar saya yang mengerjakannya, saya cukup telaten dalam membesihkan luka juga mengganti perban jadi suster tidak perlu khawatir" ucap silvi, membuat syaquel menoleh padanya


"terima kasih nyonya, anda sudah meringankan pekerjaan saya kalau begitu saya tinggal dulu nyonya" ucap suster itu dan melangkah pergi


"kau kan sedang bekerja sil, seharusnya biarkan saja suster itu yang mengerjakan tugasnya" ucap syaquel saat silvi mulai memakai kaus tangan bersiap untuk mengganti perban yang menempel ditubuhnya


"sepertinya kau senang sekali tubuhmu disentuh wanita asing" ucap silvi mulai mengerjakan tugasnya


"bukan begitu sil, tapi ini kan tugasnya sebagai tim medis yang menanganiku jadi.." silvi memotong ucapan syaquel


"diam lah aku yang akan kerjakan maka bekerja sama lah semoga luka lukamu tidak infeksi setelah ini" ucap silvi memberikan betadine pada luka syaquel yang ada dipunggung

__ADS_1


"atau sebenarnya kau tidak rela jika suster tadi melihat tubuhku" goda syaquel


__ADS_2