
"Luka lagi, astagaaaa Zizi, kamu hobi banget terluka sih?" ujar Bernabbas Pramono yang lagi-lagi harus mengobati luka terbuka dari sang keponakan.
Padahal tadi siang dia sudah menjahit tapi dan memastikan tidak ada luka terbuka lagi di lengan sang keponakan cantiknya itu. Tetapi kenapa ini kembali terbuka lukanya. Apa yang baru saja dilakukan oleh keponakannya.
"Om Abbas semakin cerewet saja semakin bertambah usia," ujar Marco yang merasa gatal dengan omelan sang om yang mengoceh terus tanpa henti sedari tadi.
"Iisshh, dasar keponakan lucnat ya kamu. Om ini cuma khawatir saja, bagaimana nanti kalau orang tua kalian tahu dengan apa yang kalian lakukan. Pastinya juga kalian yang bakalan kena omelan dan juga amukan mereka," ujar dokter Abbas kembali menasehati kedua keponakannya yang badung itu.
Dokter Abbas tahu apa saja yang selama ini keponakannya itu lakukan.
"Sudahlah, om Abbas tenang saja. Nggak akan ada yang tahu kalau om juga nggak cerita ke mereka," ujar Marco seketika mendapatkan pelototan tajam dari dokter Abbas.
"Kamu bisa aja ya bikin orang pengen nonjok aja rasanya," gumam lirih dokter Abbas menahan rasa kesalnya. Karena Marco ini selalu bisa saja membuat dia kesal dengan pernyataannya yang menjengkelkan tersebut.
......................
"Nah itu Zizi sudah datang," suara Viona membuat Zizi seketika menatap sosok yang ada di sebelah sang mama.
"Abang!" teriak Zizi dan langsung berlari menuju sang kakak yang sudah begitu dia rindukan selama ini.
__ADS_1
Bruk!
"Adek," ujar Zorion yang menangkap tubuh sang adik yang menubruknya bahkan meminta gendong kepadanya.
"Aku kangen Abang tahu nggak," ujar Zizi dengan memeluk erat sang kakak.
Zorion juga ikut membalas pelukan sang adik dengan tak kalah eratnya.
"Adikku sudah Gedhe sekarang makin berat aja," ujar Rion sambil terkekeh menggendong tubuh sang adik.
Bug
"Sudah-sudah, kalian lanjutkan di kamar saja sana kalau masih mau banyak bercerita. Mama mau ke kamar dulu istirahat. Papa sudah menunggu," ujar mama Viona kemudian meninggalkan kedua anaknya yang masih saling melepaskan rindu.
"Gendong aku ke kamar ya bang?" ujar Zizi yang masih tidak mau lepas dari gendongan sang kakak.
"Aduh, bisa encok rasanya ini pinggang Abang, dek," ujar Rion sambil terus terkekeh.
Bug
__ADS_1
"Ih, jahat!" umpat Zizi sambil memukul bahu sang kakak dengan kesal. Akan tetapi Rion juga tetap mengendong sang adik sampai di kamarnya.
Setelah sampai di kamar keduanya kini bercerita banyak hal. Karena memang banyak yang Zizi ingin bagikan dengan sang kakak. Sejak kakaknya itu sibuk mengurusi rumah sakit yang ada di kota S. Pekerjaannya membuat waktu bersama mereka menjadi tersita. Banyak yang terlewatkan sudah terjadi membuat Zizi merasa sedih juga dengan kondisi seperti ini. Dulu sebelum sang kakak bekerja tentu saja banyak hal yang bisa mereka lakukan berduaan. Sekarang untuk sekedar berbalas chat saja seringkali tidak sempat.
"Kok Abang pulang nggak kabarin Zizi dulu sih. Kan aku bisa jemput Abang di bandara kalau tahu mau pulang," ujar Zizi.
"Abang emang niatnya buat kejutan untuk kamu dek," sahut Rion dengan senyuman di wajahnya. Yang membuat lesung pipinya semakin terlihat.
"Oke Abang sukses membuat aku terkejut, selamat," ujar Zizi dengan raut wajah bahagianya.
Dia kembali memeluk lengan sang kakak dan bersandar di bahunya. Sudah lama sekali Zizi tidak bisa bermanja-manja seperti ini dan Zizi merindukan saat-saat bersama sang kakak.
"Kamu kenapa dek? Ada masalah kah disini?" tanya sang kakak yang merasa seperti ada yang aneh dengan sang adik. Karena tidak biasanya juga Zizi bergelendotan seperti itu kepadanya. Ya memang adiknya itu cukup manja kepadanya hanya saja kalau sudah sampai bergelendotan begini pasti ada sesuatu
"Ada masalah di sekolah barumu?" tanya Zorion to the point.
Zizi cukup terkejut karena sang kakak ink selalu saja bisa tahu apa yang sedang dia rasakan.
...****************...
__ADS_1