
Byuuuurrr!
"Asem!" teriak Mike karena terkena semburan air minum dari Steven.
Kedua teman Brian tersebut terkaget-kaget mendengarkan apa yang baru saja Brian katakan kepada mereka berdua.
"Sorry bro, aku kaget, hehehe," ujar Steven meminta maaf kepada Mike.
"Kaget ya kaget tapi nggak usah nyembur juga kali. Dikira dukun nyembuhin pasiennya apa yak?" ujar Mike dengan kesal sambil mengusap wajahnya yang basah karena semburan air minum Steven.
"Hah? Beneran kamu brian?" tanya Steven yang tidak percaya dengan menatap wajah Brian.
Sedangkan Brian yang ditatap hanya santai saja seolah tidak terjadi apa-apa. Dia cukup bahagia dengan apa yang dia rasakan semalam. Dan kebahagiaan itu tidak bisa dia hilangkan atau hapus begitu saja.
"Jadi mulai sekarang jangan pernah lagi bermimpi untuk dekatin calon istri ku lagi ya. Zizi itu udah dijodohin sama kedua orang tuanya denganku. Dan orang tuaku juga sudah setuju kalau kita bersama. Ini kayak ajaib nggak sih. Mendadak merasa klik dan ternyata kita berdua mendapatkan restu dari kedua orang tua, hmmm," ujar Brian senyum-senyum sendirian.
Dia tidak menyangka jika akan menemukan sang pawang dengan cara yang mulus seperti ini.
"Tapi bagaimana dengan Zizi nya? apa dia mau menjadi calon bini lu? secara dia orangnya jutek, bar-bar dan juga galak begitu. Kok aku nggak yakin ya dia mau sama elu," ujar Mike yang sebenarnya cukup patah hati mendengar apa yang Brian katakan padanya.
"Oh... kalau itu sih, bisa diatur," ujar Brian dengan gamang karena dia merasa juga bingung bagaimana menaklukkan hati si cewek yang cukup galak tersebut.
__ADS_1
"Hahahaha.... kamu butuh usaha keras Brian. Zizi bukan cewek yang seperti biasanya ngejar kamu tuh. Dia ini berbeda dengan cewek-cewek manja dan gampang bucin tuh. Kamu butuh usaha ekstra buat luluhin dia," ujar Steven memberikan semangat kepada Brian.
"Ya, kayaknya begitu," sahut Brian lirih.
Apa yang dikatakan oleh Steven memang benar adanya. Zizi adalah gadis yang berani, tidak bertele-tele, keras kepala, dan juga galak. Bisa-bisanya belum apa-apa sudah disembur duluan Brian olehnya.
✨✨✨
Dug!
Bruk!
"Maaf ..."
Defan menatap gadis yang dia tabrak karena terburu-buru dan ternyata gadis itu adalah....
"Zizi kamu tidak apa-apa?" tanya Defan sambil mengulurkan tangannya.
Zizi menatap uluran tangan tersebut. Ia mendongak menatap siapa yang mengulurkan tangan kepadanya.
Grep!
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Zizi singkat sambil melepaskan tangannya dari pegangan defan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Defan lembut sambil memperhatikan tubuh Zizi takutnya ada luka pada gadis tersebut.
"Tidak apa-apa kok," jawab Zizi.
Defan membantu Zizi mengambilkan buku-buku pelajaran bahasa Inggris yang berserakan di bawah karena dia menabrak gadis tersebut.
"Ini buku-buku tugas kita? Biar aku bantu bawakan ya," ujar Defan dan Zizi menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Keduanya pun berjalan bersamaan ke kelas. Banyak yang menatap ke arah keduanya karena dirasa keduanya tampak cocok berjalan bersamaan.
"Heh, itukan Zizi yang kemarin dekat dengan Brian. Ternyata dia juga dekat dengan Defan ya. Wah enak bener jadi dia. Bisa deketin cowok-cowok kece dan tampan di SMA Dirgantara ini."
"Iya, bikin iri ya, aku jadi pengen kayak Zizi."
"Seandainya aja aku bisa jalan berdua dengan Defan."
Banyak yang membicarakan kedekatan Zizi dengan Defan di sekolah SMA Dirgantara tersebut.
...****************...
__ADS_1