
"Cukup ya! Jangan lagi berada di dekat aku lagi. Perjanjian kita kubatalkan," ucap Zizi dengan ketus kemudian dia beranjak meninggalkan Brian yang tadi diseretnya ke sebuah tempat sepi.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Brian dengan senyum menyeringai.
Dia tidak mau melepaskan Zizi yang sudah menarik perhatiannya sejak awal. Gadis yang sudah membuat dia jatuh akan pesonanya yang berbeda dengan gadis-gadis lain.
"Terserah, tetapi aku tidak suka kamu terus-terusan berada di dekat aku lagi," ujar Zizi dengan sorot mata tajamnya.
Set!
"Apa lagi sih!" Zizi berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman erat dari Brian.
"Kenapa kamu tampak begitu membenci ku? Apa salahku padamu? Aku hanya ingin dekat denganmu saja? Apakah itu juga tidak boleh?" suara rendah Brian yang terdengar pilu membuat Zizi menjadi terdiam.
__ADS_1
Gadis bar-bar itu menatap sorot mata Brian yang sayu. Dia mencari kebohongan di tatapan mata Brian, si buaya darat tersebut. Sayangnya tidak nampak adanya kepura-puraan di sana. Zizi memutuskan kontak mata keduanya. Dia mendengus kesal akan pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Brian.
"Lepaskan, aku mau pergi," ucap Zizi yang justru menghindari menjawab pertanyaan dari Brian.
Zizi ingin segera pergi dari hadapan cowok yang mulai mengejar dirinya tersebut. Dia tidak mau berlama-lama berurusan dengan playboy cap kadal gurun macam Brian. Zizi sudah tahu bagaimana sepak terjang Brian selama ini. Dan Zizi merasa tidak perlu memperpanjang perjanjian pertandingan kemarin. Zizi tidak mau jika nantinya dia justru akan melemah dan terjerat akan pesona si buaya darat tersebut. Dia tidak mau menjadi korban kesekian dari si buaya darat.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, zi?" punya Brian kali ini dengan suara yang lebih lembut lagi. Bahkan tatapan mata Brian sedari tadi tidak pernah lepas dari sosok Zizi. Gadis galak yang telah mencuri hatinya.
"Kamu sudah dengar jawabanku bukan. Aku tidak mau lagi berdebat denganmu. Pergilah," ujar zizi meminta Brian pergi meninggalkan markasnya. Karena lelaki itu tadi nekat menemuinya di maskas Dark Angel. Sungguh nekat memang Brian ini.
"Baiklah, aku akan pergi. Tetapi aku tidak akan pernah berhenti menjadi kekasihmu. Sampai perjanjian kita selesai," ujar Brian dengan menyeringai kecil.
"Apa maksudmu.... emmmpphh!" Zizi mendadak melotot melihat apa yang tiba-tiba dilakukan oleh Brian.
__ADS_1
Lelaki itu dengan beraninya mencium bibirnya dan apa ini????
Zizi merasakan sentuhan yang begitu lembut di bibirnya. Dan juga rasa manis yang ditimbulkan dari ciuman Brian kepadanya. Apa-apaan ini? Kenapa bisa terasa semanis ini bibir cowok yang suka mengobral janji kepada setiap cewek. Apakah memang seperti ini bibir manis penuh tipu daya dari seorang buaya? Tetapi kenapa aku justru menikmati ciumannya ini? Astaga ini sudah tidak benar adanya.
Bug!
Zizi mendorong tubuh Brian dan membuat lelaki itu mundur sedikit dari dekapan erat Zizi yang hangat. Brian mengusap bibirnya yang masih merasakan lembutnya bibir Zizi. Si gadis galak yang barusan dia cium bibir berwarna merah muda tersebut.
Plak!
Satu tamparan langsung Zizi layangkan kepada Brian. Dia benar-benar kesal dan marah akan kelakuan lelaki yang sudah membuat dia melepaskan ciuman pertamanya tersebut.
"Dasar brengseeeekkk.... !!!!!"
__ADS_1
...****************...