Cowok Buaya Vs Gadis Galak

Cowok Buaya Vs Gadis Galak
YAME


__ADS_3

Ella berjalan dengan langkah gontai menuju pemakaman sang ayah. Ini adalah hari ulang tahunnya. Dia ingin merayakannya bersama dengan almarhum ayahnya, Andri Alamsyah.


Ella membawa sebuket bunga mawar putih. Dengan mengenakan gaun selututnya berwarna hitam. Ella telah tiba di makam sang ayah.


Ella meletakkan bunga mawar putih nya dan berdoa.


"Ayah, aku datang." Ella berkata di depan makam sang ayah.


"Maaf, aku baru bisa datang hari ini ke tempat ayah. Aku juga sangat merindukan ayah. Aku hari ini berulang tahun. Aku ingin merayakannya bersama dengan ayah dan juga kakak seperti dulu. Aku merindukan saat-saat ku bersama dengan kalian. Aku ....."Ella tidak kuasa menahan air matanya. Dia menangis sejadi-jadinya di depan makam sang ayah. Dia sangat merindukan saat-saat kebersamaannya dengan ayah dan kakak lelakinya.


"Aku merindukan mu, yah. Kenapa sewaktu ayah pergi ayah tidak membawaku juga. Aku kesepian di sini, yah. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di sini." Tangis Ella masih terdengar menyedihkan. Dia mencurahkan kesakitan dalam hidupnya selama ini.


"Seandainya aku dulu tidak memaksa ayah untuk mencari ibu. Mungkin kita masih bersama-sama sampai sekarang. Semua ini karena keegoisan ku, yah. Aku yang telah membuat ayah cekaka."


"Maaf...ayah...."Ella masih terisak saat mengucapkan nya. Dia benar-benar merasa bersalah karena menjadi penyebab ayahnya meninggal dunia. Hanya karena dia sangat ingin bersama dengan sang ibu. Padahal kenyataannya kini justru sangat miris. Sang ibu sendiri tidak pernah suka dengan Ella karena kehadiran Ella sesungguhnya tidak diharapkannya.


**


Ella duduk melamun di pinggir kolam renang di kediaman ayah tirinya. Dia kini banyak duduk melamun setelah apa yang dialaminya. Dia juga sering meneteskan air mata meskipun peristiwa itu telah berlalu beberapa waktu yang lalu.


Bahkan kini Kendra tidak tinggal lagi di rumah ayahnya. Dia lebih memilih tinggal di sebuah apartemen. Ella tahu Kendra sejak dulu tidak menyukai kehadirannya dan juga ibunya.


Namun Ella harus menuruti kata sang ibu untuk ikut tinggal bersama di rumah suami barunya.


Steven Daniswara, ayah sambung ella adalah seorang duda kaya raya. Dia memiliki perusahan yang paling besar se Indonesia. Ini sungguh membanggakan bagi orang lain. Namun berbeda dengan Ella. Dia merasa ini adalah aib. Ayahnya meninggal karena perselingkuhan yang dilakukan Steven Daniswara dengan Linda, ibu Ella.


Ella juga tahu kenapa Kendra bersikap kejam begini padanya. Ini semua karena kesalahan ibunya. Ibu Ella yang telah merebut ayah


Kendra. Ibunya juga yang membuat mama Kendra bunuh diri di hari yang sama dengan kematian ayah Ella, Andri Alamsyah.


Kendra rupanya ingin membalaskan rasa sakit hatinya kepada dirinya. Ella menghapus air matanya. Ia sesenggukan seorang diri di tepi kolam.


Sungguh tidak adil rasanya jika Ella yang harus menanggung kesalahan ibunya. Bahkan ella sendiri adalah korban dari keegoisan sang ibu. Ella sendiri sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang yang tulus dari sosok Linda, ibunya. Namun sekarang Ella yang mendapatkan balasan akibat perbuatan buruk ibunya.


Tiba-tiba sebuah tangan memeluk tubuh Ella. Hampir saja membuat Ella jatuh ke dala kolam renang karena terkejut. Namun, tangan kekar itu justru menahannya.


"Hati-hati!"


Suara itu sangat di kenalnya. Ia melepaskan tangan Kendra. Ella tidak ingin berdekatan dengan Kendra kembali setelah kejadian malam itu.


"Apa maumu?"Ella bertanya singkat. Kendra hanya tersenyum tipis.


"Ayo keluar. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Aku tidak mau,"tolak ella keras dan dia berusaha pergi dari hadapan Kendra namun Kendra menarik paksa tangan Ella.


"Kau ingin kejadian itu terulang kembali, huh!"


Ella menyentakkan tangan Kendra.


"Aku tidak takut padamu!"


Ella berjalan masuk ke dalam rumah. Kendra menariknya paksa dan menghempaskannya ke sofa. Kini posisi Kendra ada di atas tubuh Ella.


"Jangan membuatku marah, cepat ganti baju, atau kamu ingin aku melakukan nya di sini,"ucap Kendra dengan seringai nakalnya.


Ella benci mendengar nada perintah Kendra. Ia mendorong tubuh Kendra dan beranjak ke kamarnya. Lebih baik dia menuruti perintah Kendra daripada dia nanti berbuat hal yang lebih gila.


Ella segera berganti baju. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, sedangkan dirinya hanya sedang memakai dalaman saja.


"Tolong ketuk pintu dulu!"teriak Ella dengan segera menyambar sebuah baju di almari.


Kendra hanya tersenyum melihat Ella. Ia malah masuk ke dalam kamar. Dan membuat Ella semakin kesal melihat gelagat kakak tirinya tersebut.


"Kamu gila!"


Kendra tertawa lebar. Ia melemparkan sebuah paper bag.


"Pakailah gaun ini. Lagian kenapa pula kau tutupi, aku sudah hapal semua lekuk di tubuhmu itu."


"Keluarlah!"Ella membentak Kendra.


Kendra tertawa terkekeh-kekeh. Ia keluar setelah berhasil dengan cepat mencium bibir Ella.


**


(Pov Kendra)


Sudah 15 menit aku menunggunya. Dan ia muncul menggunakan gaun hitam dengan belahan punggung yang terbuka. Ia sungguh sangat cantik malam ini.


Awalnya aku terpana akan penampilannya. Tetapi aku berusaha menahan diriku. Karena malam ini aku punya misi tersendiri dengan mengajaknya ke pesta. Ya, malam ini teman ku mengadakan sebuah pesta karena dia baru saja diangkat sebagai pimpinan perusahaan. Dia adalah Kevin Pratama. Putra sulung keluarga Pratama yang memiliki salah satu stasiun TV swasta besar di Indonesia.


Di pesta Kevin , salah satu teman kuliahku dulu. Ku lihat Ella merasa kurang nyaman dengan gaun yang dia kenakan, tetapi menurutku dia terkesan sangat seksi.


Aku membiarkan nya sendirian duduk di sofa. Aku beralasan menemui relasiku dan aku sengaja melihatnya dari kejauhan. Aku memang sengaja membuatnya malu di hadapan orang banyak. Itu adalah misiku.


Kulihat dia didatangi seseorang yang ku kenal memang seorang playboy. Namanya anton. Aku melihat reaksinya.


Anton sepertinya sudah mabuk berkali-kali


mencoba akan mencium gadis itu. Namun, Ella sepertinya menolak dan gadis itu seperti kebingungan mencariku.


Entah kenapa melihatnya panik akupun ikut panik. Semula aku yang ingin bersenang-senang dengan rebeca yang sedang mabuk di sampingku. Namun aku justru menghampiri Ella yang sudah hampir menangis karena sikap Anton.


"Lepaskan dia,"ucapku samb menghadang langkah Anton.


Ella seketika mendelik di belakang tubuhku.


"Siapa kau?"


"Aku kakaknya."


Anton seakan tak percaya. "Kulihat dia sendiri saja sejak tadi. Kau jangan berbohong!"


"Pergilah,"ucapku sambil mendorong Anton. Namun sikapku justru memancing amarahnya.


"Kurang ajar!"bentaka Anton. Kesal akan bentakan Anton , kulayangkan tinjuku pada wajahnya. Ia jatuh tersungkur.


Segera ku pegang tangan Ella dan ku tarik keluar ruangan. Namun, sepertinya anton akan membalas serangan tadi. Tapi justru Ella


menghadang dengan tubuhnya. Sehingga dia yang menerima pukulan itu.


"Ella!"teriakku melihat Ella menahan sakit akibat pukulan lelaki mabuk itu. Sepertinya pukulan itu cukup sakit.


Ku tonjok muka Anton yang telah membuat Ella terluka. Tak ampun lagi sekarang muka anton benar-benar babak belur. Aku sudah kalap dengan emosiku.


"Kendra, hentikan, dia bisa mati." kudengar suara Kevin datang meleraiku.


"Hei, hentikan, kita pulang saja." suara Ella yang kini ada di sampingku membuatku sadar. Kutarik tangan Ella keluar dari ruangan pesta memuakkan itu.


......................


(Pov Ella)


Begitu keluar dari tempat pesta, kendra langsung menarikku masuk ke dalam mobil.


Kendra sedang kalap menyetir mobil dengan kencang. Aku memegang erat sabuk


pengaman. Aku takut terjadi sesuatu kalau dia tidak berhati-hati. Aku masih ingin hidup meski hidupku sudah benar-benar hancur karena perilaku nya.


"Jangan ngebut."


"Diam!"bentak Kendra balik. Sepertinya suaraku tidak didengar olehnya. Dia tampak emosi saat ini sambil mengendarai mobil. Itu bukan hal yang bagus.


Kulihat darah segar mengalir di kemudinya. Rupanya tangannya terluka.

__ADS_1


"Kau terluka?"tanyaku padanya.


"Diam! Atau kulempar kau sekarang juga!"bentak dia sekali lagi.


Astaga kenapa juga aku masih perhatian dengan lelaki kasar seperti dia. Dan lebih hebatnya lagi, justru sekarang Kendra semakin menambah kecepatan berkendara nya.


Aku memejamkan mata. Kalau saja terjadi sesuatu, aku hanya berdoa semoga rasa sakit itu cepat berlalu. Aku belum pernah merasakan laju mobil sekencang ini.


Kulihat Kendra tidak membawaku ke rumah. Dia melewati jalan yang tidak kuketahui.


"Kita kemana?"tanyaku panik.


Kendra tidak menjawab, bahkan terkesan cuek saja dengan pertanyaan ku barusan. Namun aku lihat sepertinya dia membawaku ke sebuah apartemen. Apakah dia akan membawaku ke apartemennya? Oh, tidak....


Mobil Kendra sudah sampai di parkiran.


"Turun!" bentaknya.


"Tidak!"jawabku. Aku sungguh tidak mau berada di tempat yang hanya ada kami berdua saja. Aku masih takut sesuatu Kendra melakukan sesuatu padaku


Mendengar jawabanku membuat Kendra tampak semakin kesal. Dia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan membanting keras pintu mobilnya. Ia menarikku keluar dari mobil miliknya. Lalu membawaku dengan paksa ke dalam apartemen.


Belum selesai sampai di situ saja. Dia menarikku sampai ke kamarnya. Lalu


mendudukkan ku di ranjangnya. Tiba-tiba kulihat ia membuka kemejanya.


"Apa yang kamu mau lakukan!"pekikku saat dia sudah membuka semua kancing kemejanya.


"Kamu pikir kita akan melakukan apa, heh?"tanyanya ulang. Dia justru tampak senang melihatku yang justru sedang panik saat itu. Namun yang membuatku salah fokus adalah tangannya yang mengeluarkan darah dan membuat kemejanya terkena noda darahnya.


Ya, tangannya memang terluka. Darah segar masih mengalir di lukanya.


"Ambil kotak P3K di lemari sana,"perintahnya padaku.


Aku beranjak dari ranjangnya. Beberapa saat kemudian aku sudah kembali dengan membawa kotak P3K nya.


"Obati lukaku di sini,"tunjukknya di punggung. Oh, rupanya dia juga memiliki luka memar di punggung nya.


Setelah aku mengolesi obat di punggungnya. Kali ini aku mengobati luka di tangannya. Apakah dia menangkis sesuatu tadi hingga membuatnya terluka seperti ini.


Kendra hanya mengenakan boxernya saja. Ia memandangi ku dengan seksama yang sedang membalut luka di tangannya.


Aku mengobati lukanya dengan perlahan karena tangan dia terkena pecahan


gelas. Banyak luka gores di tangannya. Dia masih saja memandangiku dengan intens. Merasa terus-menerus dilihat, aku pun merasa risih.


Aku segera pergi setelah selesai mengobatinya. Namun ia justru menarikku dan memangku ku. Aku terpekik terkejut dengan apa yang dilakukannya.


"Apakah kamu merasa sakit?"tanya kendra pelan.


Kendra yang awalnya kasar kini tiba-tiba berubah lembut. Ia mengelus punggung ku yang tadi sempat kena tonjok anton.


"Aku tidak apa-apa,"jawabku berusaha melepas pelukannya namun tenaga Kendra cukup kuat.


"Kenapa kau menghadang pukulan anton?"


"Karena aku tidak mau berhutang kepadamu."


Aku berusaha menahan sakit akibat belaian tangan Kendra di punggung ku. Namun kendra sepertinya tahu kalau aku hanya berpura-pura tidak sakit di depannya. Dia


menyibak punggung ku lalu mengoleskan obat salep pada punggung ku yang


tampak memar.


Kurasakan kelembutan tangannya saat mengobati ku.


Kami terdiam beberapa saat. Dan setelah dia selesai mengobatiku. Dia membalikkan tubuhku, tapi aku masih tetap dalam pangkuannya.


"Lain kali jangan lakukan itu,"ucap Kendra dengan nada yang lebih lembut kali ini.


Kendra tidak menjawab pernyataan ku. Tetapi hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.


**


 Kediaman Steven Daniswara.


(Pov Ella)


Rumah menjadi ramai kembali sejak Papa & ibu kembali dari Perancis. Kini di meja makan tidak hanya ada aku dan kendra. Tetapi juga ada papa Steven dan juga ibu kandungku, Linda.


Ibu seperti biasa menceritakan perjalanan nya selama ini dengan antusias. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Namun, aku tahu Kendra tidak menyukai kisah ibu. Ia buru-buru menyudahi sarapan paginya.


"Kau sudah mau berangkat, nak?" tegur papa Steven melihat Kendra yang hendak beranjak dari ruang makan.


"Ya. Aku pergi dulu." Kendra pamit terlebih dahulu kepada Steven Daniswara.


"Hati-hati, Ken,"ucap Linda kepada Kendra dengan ramah.


Namun Kendra tampak acuh saja mendengar pesan Linda, ibu tiri kendra.


Kendra beranjak dari tempat duduknya. Ia langsung keluar. Mengacuhkan perkataan ibu tentunya. Karena Kendra sangat membenci ibu.


"Kalian baik-baik saja selama kami tinggal kan?" Papa menanyakan pertanyaan yang membuat ku tersedak saat makan.


"Ada masalah kah, sayang?" tanya ibu sambil memberiku segelas air putih.


"Ouh tidak ada ibu," jawabku berusaha tersenyum agar tidak tampak apa pun.


Akch, mungkin aku lah yang memang bodoh di sini.


Aku menuju ke parkiran mobil ku. Aku akan menuju ke butik tempat aku


bekerja. Ya memang butik itu hanya butik kecil. Itu adalah butik yang ku


bangun dari uang almarhum ayahku sebagai peninggakan buatku.


"Akh..sakit,"pekikku.


Sebuah tangan menarikku masuk ke dalam mobilnya. Kendra. Siapa lagi? Ternyata dia belum berangkat kerja dari tadi.


"Aku bisa berangkat sendiri,"ujarku menyela sebelum Kendra berkata sepatah katapun.


"Pakai saja sabuk pengaman mu,"jawab kendra dengan dingin.


Dia langsung menancap gas tanpa menunggu ku memakai sabuk pengaman.


Setibanya di butik.


"Terimakasih, lain kali aku bisa berangkat sendiri,"jawabku dengan nada dingin juga.


Aku hendak keluar dari mobilnya tapi tangannya memegang erat lenganku untuk menghalangi langkahku.


"Sakit,"ujarku menahan perih.


Aku menatap matanya yang menatap ke arahku tajam.


"Kendra..." ujarku merajuk. Dia justru menangkup kedua pipiku dengan tangannya.


Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memejamkan mata dan memalingkan wajahku saat kurasakan napasnya semakin terasa dekat.


"Kau adalah milikku,"jawab Kendra dengan sedikit penekanan.


"Lepaskan ak.." belum sempat ku selesaikan kata-kataku. Bibirnya sudah menempel dibibirku. Perlahan dan lembut ia berusaha masuk ke dalam mulutku.


Napas Kendra semakin memburu berat.

__ADS_1


"Hentikan. Jangan!"segahku sambil mendorong tubuhnya yang sudah menghimpit tubuhku.


Dia masih menatapku sambil tetap berada di atas tubuhku.


"Aku ingin kamu, el,"ujarnya dengan wajah memerah.


Dia menatapku tajam.


......................


(Pov Kendra)


Aku bosan mendengar cerita wanita perusak rumah tangga orang itu. Lebih menyebalkan lagi melihat senyuman Ella yang seolah-olah asyik mendengarkan cerita ibunya. Aku tidak suka dia dengan kepura-puraan nya itu.


Namun, jujur aku terpesona melihat senyumannya.


Dia tampak manis hari ini dengan singlet bunga-bunganya dan rok mininya. Ia mirip artis Korea dengan wajah orrientalnya. Dia memang manis luar dan dalam. Seandainya saja dia bukan putri wanita itu. Aku pasti sudah memacarinya. Hanya saja mengingat dia adalah putri dari wanita itu, maka aku tidak lagi tertarik dengannya. Mengingat nya saja membuatku teringat bagaimana mama meninggal di depanku sambil menodongkan pistol ke kepalanya sendiri.


Hari ini ella akan ke butik miliknya. Aku menunggunya di parkiran rumah karena aku malas mendengar ocehan nyonya rumah keluarga itu. Yang begitu kampungan hanya karena baru saja ke luar negeri sudah koar-koar tidak jelas.


Namun, aku tak kuasa menahan diriku saat aku dekat dengannya. Ella membuatku ingin menyentuh nya. Setiap tatapan matanya. Bibir


indahnya membuatku tidak tahan untuk memeluk dan menciumnya.


Aku sudah gila. Ya, aku mulai tergila-gila kepadanya. Namun aku berusaha menutupinya dengan bersikap kasar setiap kali bersamanya.


Seperti pagi ini, hampir saja aku kelepasan. Aku menginginkan dirinya di pagi seperti ini. Apalagi kami hanya berdua saja di mobil. Gila bukan?


Tidak! Aku sendiri menghentikan kegilaan yang ada pada diriku. Aku segera bergegas ke kantor karena aku ada meeting penting pagi ini.


"Nanti jam 1 makan siang, ku jemput."


Ella hendak menolak ajakanku namun ciumanku membuat dia akhirnya berkata "ya". Karena dia takut aku berbuat lebih dari itu kepadanya.


"Masih menolak?"


Aku hendak mendekat lagi kepadanya.


"Iya, jemput aku."


Ia memalingkan wajahnya takut ku cium kembali. Aku tersenyum puas.


Ku kecup pucuk rambutnya.


Ia tampak manyun saat aku meninggalkan nya di depan butik. Kulihat dia di balik spion mobilku. Ella memang cantik. Sangat cantik.


Gila.


Aku benar-benar sudah gila.


***


Di sebuah butik milik Linda Daniswara.


"Nyonya daniswara."


Yang di sapa pun langsung menoleh. Linda melihat seorang kenalan lama.


"Nyonya Pratama."


Kedua wanita sosialita ini pun langsung berpelukan erat. Seakan lama tidak bertemu.


"Makin cantik sekali sekarang," yang dipuji semakin bersemangat. Linda tersenyum bahagia mendengar ucapan dari wanita tersebut.


"Aduh..jeng Pratama juga semakin cantik saja,"balas Linda memuji agar tidak dikira sombong. Saling berbasa-basi itu penting dalam hubungan wanita kelas atas. Kalau tidak dibalas balik nanti dikira sombong lagi.


"Denger-denger habis pulang honey moon sama suami, ya, jeng. Haduh, mesra sekali jeng. Di usia kesekian masih Honeymoon Mulu."


"Ah,bukan seperti itu, jeng. Saya hanya menemani Suami saja. Daripada nanti


di sana digoda perempuan lain. Lebih baik digoda istri sendiri. Bukan begitu?"tanggap Linda.


Mereka berdua pun tertawa.


"Ini butik punya jeng ya. Waduh saya baru tahu. Tadi saya lihat foto jeng Linda di depan. Eh...ternyata punya teman lama."


"Iya, saya baru buka cabang di sini. Ada juga milik Putri saya tapi dia suka akan model baju gaya anak muda. Maklumlah gaya remaja jeng. Kita kan harus mendukung kreatifitasnya."


"Wah, jadi Putri jeng Linda juga buka butik sendiri. Wah hebat."


"Iya, jeng Pratama, putri saya itu seorang desainer. Dia hebat pokoknya. Melebihi saya kehebatan nya,"sanjung Linda kepada putrinya.


"Wah, pantas saja nurun jeng Linda sih. Oya jeng ngomong-ngomong putri nya jeng Linda sudah punya pacar belum sih?"


"Ella anaknya sibuk kerja mulai jeng, sepetinya sih tidak memikirkan pacaran. Kenapa ya jeng?"


"Eh, aku juga putra satu sibuk Mulu sama kerja di TV sampai aku bosan menjodohkan dia dengan putri-putri temanku. Kenapa tidak kita pertemukan saja mereka berdua. Siapa tahu cocok lho."


"Wah beneran jeng. Oke deh, ini foto putri saya,"tunjuk Linda kepada nyonya dari keluarga Pratama.


"Aduh...cantik sekali. Semoga Kevin suka."


Mereka berdua pun berbincang-bincang sampai tidak sadar datang seorang pemuda yang sangat tampan dan menyapa nyonya Pratama dengan sopan.


"Ouh kenalkan jeng. Ini putra ku satu-satunya. Namanya Kevin Pratama."


Linda begitu terpukau akan ketampanan putra tunggal keluarga Pratama tersebut.


Mereka pun bersalaman.


"Nama saya Kevin, Tante."


"Haduh, udah ganteng, sopan lagi ya."


"Oya, lain kali kita jalan bareng ya jeng. Ajak putrinya juga," ujar Ira Pratama.


"Baik, jeng. Terimakasih ya jeng sudah berbelanja di butik saya. Saya kasih diskon 10% untuk jeng Pratama."


"Aduh...terimakasih ya jeng."


Keduanya pun berpamitan setelah membayar ke kasir.


Linda daniswara tersenyum melihat ibu dan anak itu berlalu.Ini adalah peluang yang bagus. Kalau Kevin bisa di jodohkan dengan Ella. Pasti hidup Ella akan semakin bahagia dan kaya raya. Dan dia juga akan semakin terkenal. Memiliki besan yang Kaya Raya tentu suatu kebanggaan untuknya.


Ia tertawa bahagia dengan rencananya tersebut. Ini adalah kesempatan emas untuknya menjadi kaya seumur hidup. Kesempatan bagus jangan sampai di sia-siakan.


Ia buru-buru menelepon suaminya, Steven Daniswara.


"Halo."


"Sayang, aku sudah menemukan pasangan yang tepat untuk Ella. Putra keluarga


Pratama. Namanya Kevin Pratama. Iya, ini tadi aku sudah melihat langsung anaknya. Baiklah, segera kabari aku ya sayang setelah kau selidiki latar belakangnya. Baiklah. I love you."


Linda daniswara seperti mendapat undian lotere. Ia sangat senang sekali hari ini.


Sebentar lagi impiannya akan terwujud. Ia sendiri adalah istri seorangpengusaha ternama. Nantinya putrinya juga akan menjadi istri dan menantu keluarga Pratama.


Ia membayangkan perjodohan Putri satu-satunya yang sudah ia rencanakan sebelumnya dengan suaminya selama di Perancis.


Ia tidak sabar untuk mengenalkan kevin dan juga Ella. Dengan kecantikan Ella, tidak mungkin Kevin tidak jatuh cinta padanya.


"Ella, kali ini kamu harus menjadi tambang emas yang berharga."


...****************...

__ADS_1


Novel pertama dari saya, mampir baca ya. Judulnya You Are My Everything. Semoga suka dan episode selanjutnya adalah kelanjutan dari Brian dan juga Zizi. Terimakasih sudah mampir.


__ADS_2