
"Siapa yang melakukan ini padamu, dek?" tanya Rion yang melihat luka di lengan sang adik.
Meskipun wajah Rion tampak biasa saja tetapi jelas sekali terlihat dia sedang marah dengan nada suaranya yang tampak berbeda. Jangan bermain-main dengan keluarga Bimantoro. Karena dapat dipastikan jika ada yang bermain-main maka keluarga itulah yang akan menjadi mainannya.
"Devina Hutomo," jawab Zizi karena tidak perlu berbohong kepada sang kakak. Lebih baik mengatakan apa adanya karena Rion bukan orang yang tepat untuk dia bohongi.
Rion bisa melakukan apapun jika terjadi sesuatu dengannya. Maka karena itulah lebih baik mengatakan apa adanya. Sebelum Zorion mencari sendiri dan melakukan hal di luar dugaannya.
"Aku bisa atasi dia bang," tetapi ucapan Zizi sudah lebih dulu ditahan oleh Rion.
Saudara lelakinya itu sudah mengangkat tangannya berarti Zizi tidak boleh melawan omongan dia.
"Abang akan urus keluarganya agar bisa mendidik putrinya lebih baik lagi. Tidak dengan cara seperti ini, ya," ujar Rion sambil membuka perban yang ada di lengan Zizi.
Rion melihat hasil jahitan dari sang om, dokter Bernabbas Bimantoro. Dia ingin mengecek apakah bekas jahitannya rapi dan bagus. Karena dia juga tahu seputar tentang medis. Bahkan di kota S saja, Rion memegang sebuah rumah sakit. Yang mana itu nantinya akan dia serahkan kepada sang adik. Rion sendiri ingin berjalan di bisnis seperti sang papa, David Bimantoro.
"Abang akan sediakan obat yang membuat luka ini bisa cepat mengering. Besok akan Abang berikan setelah kamu mandi ya dek," ujar Rion kemudian kembali menutup luka di lengan Zizi. Dia melihat semuanya bagus. Memang hasil jahitan dokter Abbas sudah benar dan sempurna.
__ADS_1
"Apakah kamu juga bermasalah dengan ke empat cowok itu?" tanya Zorion dan sepertinya Zizi sudah ketahuan banyak hal. Kakaknya sudah lebih dulu mengetahui sepak terjangnya.
"Enggak bang, aku cuma bertanding seperti biasa," jawab Zizi santai.
"Hmm, susah sekali mengubah kebiasaan kamu dek. Apalagi kamu sudah ketemu Marco semakin lengkap sudah. Abang kepikiran kalau kamu melakukan balap motor dek. Kenapa tidak berhenti saja?" tanya Rion dengan lembut.
Begitulah Zorion selalu dia memantau pergerakan saudari satu-satunya tersebut. Dia tidak ingin Zizi sampai kenapa-napa di luaran sana.
"Aku masih ingin melakukan apa yang kumau bang," ujar Zizi dengan nada memelas.
Huh..
Sedangkan zizi juga takut saudaranya itu akan membatasi ruang geraknya kali ini. Apalagi setelah mengetahui kalau dia juga terluka di sekolahnya yang baru.
"Tidak untuk yang berlebihan. Abang ijinkan jika sekedar having fun saja," putus Zorion karena dia tahu Zizi pasti memberontak untuk urusan ini. Zorion tidak mau menjadi bermusuhan dengan zizi. Dan mendengar hal tersebut Zizi senang sekali. Jadi dia masih diijinkan untuk bertanding oleh sang kakak.
"Terimakasih Abang yang terbaik."
__ADS_1
Cup
Sebuah pelukan dan kecupan didapatkan Rion dari sang adik. Yang mana hal itu hanya membuat dia semakin menarik napas panjang. Selalu saja begitu.
"Mereka berempat adalah anak teman dari kedua orang tua kita. Kamu pastinya akan bertemu mereka kembali nanti di acara pesta pernikahan papa dan mama," kata Zorion mengatakan apa yang dia ketahui kepada sang adik. Agar adiknya nanti tidak terkejut dengan kejadian di pestanya.
"Iyakah? aku baru tahu itu," ujar Zizi baru mengerti.
Sepertinya dia akan melihat keempat anak itu kembali. Sungguh malas sekali rasanya Zizi bertemu sering-sering dengan mereka. Tetapi apa mau dikata jika memang mereka anak dari teman orang tuanya.
"Tapi info pentingnya bukan soal ini. Tetapi ada hal lain lagi yang Abang ingin beritahukan kepada kami," ujar Zorion kepada sang adik dengan raut wajah seriusnya.
"Apa itu bang?" tanya Zizi penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh sang kakak.
"Salah satu dari mereka akan dijodohkan denganmu."
Ucapan Zorion barusan seketika membuat kedua mata Zizi melotot tidak percaya.
__ADS_1
...****************...