
"Jadi ini rumah sakit keluargamu?" tanya Brian setelah mendengar penjelasan dari seorang dokter yang mengaku sebagai om dari seorang Zifanya Gantari.
"Ini adalah rumah sakit keluarga Bimantoro," ujar dokter Abbas yang sudah kembali ke ruangannya dan cukup terkejut melihat sang keponakan ada di ruangannya dengan seorang pemuda dengan seragam sekolah yang sama.
"Aku tidak menyangka," ucap Brian dengan senyum mengembang di bibirnya.
Pantas saja gadis ini berbeda ternyata dia berasal dari keluarga yang tidak sembarangan juga. Sikap jutek dan acuhnya itu membuat Brian awalnya bertanya-tanya kenapa bisa seorang Zizi bisa tidak tertarik kepadanya. Keluarga Pramono kalau sampai bisa bersanding dengan Bimantoro pastinya akan menjadi keluarga besar yah disegani oleh siapapun di negeri ini.
"Sudah," ucapan singkat Zizi membuat lamunan Brian buyar. Dia melihat balutan hasil dari yang Zizi lakukan kepada kepalanya.
"Dokter Abbas yang akan melanjutkan," ucap Zizi kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, kamu mau kemana?" tanya Brian reflek dia menyentuh lengan Zifanya. Dia tidak mau gadis jutek itu pergi dari hadapannya.
"Bersih-bersih," ucap Zizi singkat lalu melepaskan tangan Brian yang memegangi lengannya.
"Tapi...."
Ucapan Brian belum selesai tetapi Zizi sudah meninggalkan dirinya begitu saja.
__ADS_1
"Astaga cewek ini," batin Brian yang menjadi agak putus asa dengan sikap Zizi yang tidak semudah itu bisa dia luluhkan.
"Jadi anak muda apa yang kamu pikirkan tentang keponakan saya?" pertanyaan dokter Abbas membuat Brian seketika menoleh.
"Eh, bagaimana dokter?" tanya Brian sambil menatap dokter muda dihadapannya ini dengan wajah bingung. Dia masih fokus dengan Zifanya daripada dengan dokter yang mengaku sebagai paman dari Zizi tersebut.
"Tatapanmu tidak lepas dari sosok Zizi. Kamu naksir sama dia. Hahahaha... tapi saran saya ya. Lebih baik kamu pikir-pikir dulu kalau pengen deketin dia. Anaknya nggak mudah di deketin soalnya. Dinginnya melebihi kutub Utara dan Selatan. Dan sulit untuk dicairkan kalau kamu nggak sekuat itu menghancurkan batu es yang dia punya," ujar dokter Abbas sambil menuliskan resep untuk Brian.
"Lalu bagaimana saya bisa mendekati dia, dokter..."
"Abbas, panggil saja saya dokter Abbas," ujar dokter Abbas mengenalkan dirinya.
"Jujurlah, dia pasti akan setia kepada orang yang juga setia kepadanya," ujar dokter Abbas namun justru Brian terkejut mendengarnya.
Darimana dokter Abbas tahu kalau dia adalah cowok yang suka berganti-ganti cewek. Tetapi itu karena memang Brian belum menemukan yang tepat dan cocok buat dia. Sedangkan dengan Zizi entah mengapa dia merasa adanya suatu kecocokan dan nyaman saja berada di sekitar gadis jutek tersebut.
"Baiklah dokter, terimakasih atas sarannya," ujar Brian dengan senyuman terbaiknya.
Dia sepertinya sudah menemukan pelabuhan jiwanya dengan bertemu dengan seorang gadis jutek dan galak seperti Zifanya Gantari.
__ADS_1
✨✨✨
"Kemana Brian ini?" ujar Steven yang masih mencoba menghubungi nomor handphone Brian.
Mereka bertiga sedari tadi mencoba mengejar mobil Brian. Tetapi entah berbelok ke arah mana tadi Zizi membawa Brian. Ketiga anak tersebut tidak berhasil menemukan jejak Brian dan juga zizi.
"Mereka berdua kemana perginya coba? Bikin khawatir saja," ujar Mike.
"Masih belum tersambung juga?" tanya Defan dengan wajah tenangnya.
"Belum, huh....dibawa kemana juga itu Brian sama Zizi?" tanya Steven yang sudah mulai pasrah menghubungi nomor handphone Brian.
"Biarkan sajalah, nanti juga Brian bakalan hubungi kita," ujar Mike.
"Hmmm.. itu bisa saja," ujar Defan menyahuti ucapan Mike.
"Ya sudah kalau begitu. Kita bertiga balik saja daripada bingung mencari kemana keberadaan mereka berdua," ujar Steven memutuskan dan kedua temannya yang lain mengangguki apa yang Steven sampaikan.
...****************...
__ADS_1