Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
Chapter 1


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjem


Pair sasufemnaru


Genre sekolah, hurt, cinta


Gaje, typo, dan ooc


Terinspirasi dari pengalaman thor waktu smp dan sma


Jam di dinding telah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sesosok gadis bersurai pirang masih terlihat nyaman di dalam selimut tebalnya


"Naruto!! Bangun!!" seru seorang wanita separuh baya yang memiliki rambut lurus panjang berwarna merah a.k.a Kushina, ibunya Naruto.


"Aku sudah bangun, kaasan." jawab Naruto yang baru saja bangun. Ia tidak kena marah ibunya di pagi hari.


Naruto pun cepat - cepat turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi yang letaknya agak jauh dari kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Naruto sudah siap untuk pergi menuntut ilmu ke Konoha High School. Ia mengenakan seragam sailor untuk perempuan. Roknya berwarna biru langit tak bermotif dan panjangnya sampai lutut. Rambut pirangnya yang panjangnya sampai pantat ia kuncir menjadi dua yang atasnya mirip kue dango(seperti rambut sailor moon).


"Yups, kamu udah siap, Namikaze Naruto." gumam gadis pirang itu a.k.a Naruto.


Setelah dirasa semua perlengkapan sekolah dan prnya selesai, ia pun berjalan ke luar kamar dengan penuh semangat dan senyum lebar. Motto Naruto adalah awali hari dengan senyuman.


"Pagi kaasan, tousan." ujar Naruto sambil mengambil sepasang sandwich dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Pagi juga, putri cantik tousan." balas tousannya Naruto yang memiliki surai pirang pendek sewarna dengan rambut Naruto dan mata biru langit. Versi Naruto dewasa namun dengan gender laki - laki a.k.a Minato.


Kushina menghampiri suami dan putrinya yang sedang duduk di ruang makan.


"Apa ada yang ketinggalan, Naruto?" tanya Kushina yang sedang memasukan kotak bekal ke dalam tas Naruto.


"Tidak ada, kaasan. Aku udah kelas 2 SMA, kaasan." jawab Naruto karena selalu dicereweti ibunya.


"Kaasan kan cuma memberi tahu. Kalau ada yang ketinggalan kan gawat. Benar kan?" tanya balik Kushina pada Naruto yang sedang cemberut.


"Iya kaasan. Kalau gitu, aku berangkat dulu ya. Takut ketinggalan bis." ujar Naruto seraya menghabiskan sarapan roti sandwichnya.


"Hati - hati ya sayang." gumam Kushina mencium pipi tembem Naruto yang berwarna putih atau kuning langsat(kulit putih khas perempuan Indonesia).


"Ok kaasan. Ittekimasu." ujar Naruto, pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


Naruto terus berjalan dengan riang. Ia sangat semangat hari ini. Setiap hari ia selalu semangat meski terkadang ia merasa bad mood. Ia berdiri di bangku yang ada di halte bus. Tak butuh waktu lama bus datang menghampirinya. Ia pun langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam bus. Sesampai di dalam bus, ia mencari tempat duduk. Karena masih pagi penumpang dalam bus tidak begitu banyak. Ia pun duduk di bangku tengah. Bus pun melaju dengan kecepatan biasa bukan seperti tayo(hei tayo hei tayo.stop thor)


Bus berhenti di halte berikutnya. Ada seorang pemuda yang menaiki bus itu. Saat Naruto melihat pemuda itu, ia langsung menundukkan kepala.


Pemuda itu duduk di belakang Naruto. Setelah dirasa pemuda itu melewatinya, Naruto langsung mengangkat kepala dan berusaha bersikap normal.


"Kenapa di pagi yang cerah ini aku harus bertemu dengan orang itu. Sial." ucap Naruto pelan seperti berbisik.


Tak lama kemudian bus berhenti di depan halte bus yang jaraknya tak begitu jauh dengan sekolah tempat Naruto menuntut ilmu. Naruto pun bangun dari duduknya dengan hati - hati tanpa menoleh ke arah belakang. Setelah membayar ongkos bus, ia turun dengan sangat hati - hati.


Di sepanjang jalan ia melamunkan kejadian memalukan yang ia alami dua tahun silam saat ia masih duduk di bangku SMP setelah acara kelulusan.


Flashback on


Naruto pov


Saat ini aku sedang menunggu seseorang di taman sekolah. Aku harap ia datang. Aku menunggu dengan sabar selama lima menit.


Ia pun datang. Seorang laki - laki teman sekelasku yang telah lama aku suka. Namanya Toneri. Ia sangat keren, tenang dan juga pintar. Aku selalu becanda dengannya. Tapi semenjak aku mempunyai perasaan aneh terhadapnya, aku merasa semakin jauh. Jadi hari ini hari terakhirku berada di sekolah, aku akan menyatakan perasaanku yang sebenarnya. Tak peduli sekalipun ia menolaknya.


Dengan langkah pelan dan malu, aku berjalan ke depan Toneri dan mulutku mengeluarkan kata - kata memalukan itu.


"A..aku menyukaimu, Toneri." ucapku dengan sedikit bergetar dan gugup. Bagaimana tidak gugup, aku seorang gadis menyatakan perasaan kepada laki - laki. Biarlah kalau aku dianggap gila dan aneh.


Aku mendengar Toneri mengatakan sesuatu. Aku yakin itu adalah kata - kata yang akan membuatku hatiku hancur. Benar saja. Toneri mengatakan kalau ia tidak menyukaiku. Ia hanya menganggapku sebagai teman. Saat ini ia tidak ingin berhubungan dengan seorang gadis.


Aku sangat sedih dan hancur tapi aku lega karena perasaanku telah terungkap meski dijawab dengan penolakan. Yang penting Toneri tahu kalau aku pernah menyukainya. Dan aku bertekad bahwa aku tidak akan menyukai apalagi mencintai seorang laki - laki terlebih dulu. Aku harus dicintai lebih dulu oleh laki - laki.


Sakit rasanya merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Lebih sakit daripada membaca manga saat sang heroine ditolak cintanya oleh orang yang dicintainya.

__ADS_1


Aku terinspirasi dari manga yang selalu ku baca untuk menyatakan perasaan terhadap teman sekelasku itu. Ternyata diriku benar - benar naif, bodoh dan polos.


Aku hanya bisa berharap kalau perasaanku padanya agar segera hilang.


Flashback end


Author pov


Naruto terus berjalan ke depan dengan langkah biasa tidak cepat dan tidak pelan. Sungguh ia merasa sial karema telah bertemu orang yang selama ini ia hindari. Sudah cukup baginya selama kelas satu SMA ia selalu satu bus dengan laki - laki itu yang bernama Toneri. Ia merasa dunianya sungguh kejam apalagi saat ia bertemu Toneri di dalam bus, laki - laki itu sama sekali tidak merasa Naruto ada, tepatnya kehadiran Naruto di dalam bus yang mereka tumpangi.


Naruto sangat kesal dan malu. Ia menyesal pernah menyukai laki - laki sombong itu. Ia merasa beruntung karena Tuhan tidak menumbuhkan perasaan cinta Naruto lebih dalam kepada laki - laki sombong itu.


"Ah.." Naruto menghela nafas.


Tiba - tiba terdengar bunyi klakson motor di belakang Naruto. Naruto terkejut. Ia berjalan di sisi sebelah kiri bukan di tengah. Jalan masih luas dan lebar. Karena merasa bising dengan bunyi klakson itu, ia pun menoleh ke belakang. Terlihat seorang laki - laki dewasa memakai jaket kulit warna hitam dengan celana bahan juga berwarna hitam lengkap dengan sarung tangan hitam dan sepatu pantofel hitam. Bahkan helm dan motor ninjanya juga hitam.


'Nih orang lagi berkabung ya..' batin Naruto.


Secepat kilat si pengendara motor pun melaju melewati si gadis bersurai pirang berkuncir dua dango. Naruto mematung lalu tak lama ia tersadar. Ia merasa kesal kepada si pengendara motor. Benar - benar sial hari ini bagi Naruto.


Naruto terus berjalan dengan langkah cepat menuju gerbang sekolah. Jarak gerbang sekolah dari halte bus sekitar 200m.


Sesampainya Naruto di kelas barunya, kelas 2 SMA. Ia baru satu minggu meninggali kelas barunya sebagai siswi SMA kelas 2. Terasa baru kemarin ia masuk sekolah itu Konoha High School. Sekolah yang cukup besar baginya.


Naruto pun duduk di bangkunya dekay dengan pintu masuk. Jajaran kedua baris pertama. Ia tidak ingin duduk di dekat jendela karena setahun lalu ia pernah hampir kena bola akibat tendangan dahsyat siswa yang sedang bermain sepak bola. Naruto trauma.


Gadis pirang itu duduk dengan wajah bertekuk dan masam, sampai - sampai ia tidak menyadari keberadaan dua orang teman yang duduk di sebelah kiri dan di belakangnya.


"Naruto, kau kenapa? Pagi - pagi begini udah galau?" tanya seorang gadis berambut pirang pucat berkuncir kuda a.k.a Ino.


"I..iya Na..Naruto. Ada apa?" tanya satu gadis lagi bersurai indigo pendek a.k.a Hinata(rambut Hinata di Naruto kecil yang seperti bop nungging).


"Aku tidak apa - apa. Cuma kesel aja karena udah ketemu si Toneri gila dan aku hampir ketabrak motor." jawab Naruto sambil menenggelamkan wajahnya ke meja.


"Kok bisa kamu hampir ketabrak? Jalan kan luas. Apa kamu tadi tidak hati - hati menyebrang, Naruto?" tanya Ino terkejut.


"Aku tadi jalan di sebelah kiri dan paling sisi dekat dengan pohon sakura. Mungkin si pengendara motor ingin menabrakku tapi tidak jadi karena yang ditabraknya itu seorang siswi SMA yang jelek." gumam Naruto sambil mengeluarkan buku pelajaran  pertamanya yaitu pelajaran bahasa Inggris yang gurunya belum diketahui karena minggu lalu guru bahasa Inggris di sekolah itu sedang cuti melahirkan.


"Ke..kenapa bisa begitu, Naruto - chan?" tanya Hinata heran"oh iya Naruto - chan tidak jelek. Kamu cantik." sambung Hinata.


"Arigatou nee, Hinata, Ino." ucap Naruto tersenyum.


Ino dan Hinata pun tersenyum kepada Naruto.


Tak lama semua murid sudah hadir di ruang kelas 2 ipa 2 saat bel berbunyi. Seisi kelas yang gaduh karena guru mereka belum datang tiba - tiba sunyi saat kedatangan kepala sekolah Sarutobi.


"Selamat pagi, Bapak Kepala Sekolah Sarutobi." salam semua murid berdiri menundukkan kepala memberikan salam kepada pria paruh baya yang telah menjadi kepala sekolah selama berpuluh tahun.


"Bapak akan memberi kabar baik kepada kalian. Guru bahasa Inggris kalian telah datang dan guru itu akan menjadi wali kelas kalian yang baru berhubung wali kelas ini sedang cuti."


Ujar kepala sekolah Sarutobi.


Ekspresi murid berbeda - beda. Ada yang santai menerima ada juga yang tidak peduli dan juga ada yang menolak karena wali kelas mereka sebelumnya adalah seorang wanita muda berumur 25 tahun yang sangat cantik dan bertubuh bagus meski sedang mengandung.


"Silakan masuk, Uchiha - san." ucap kepala sekolah Sarutobi kepada seseorang di luar kelas.


Seorang pria muda berkisar 22 tahun memasuki ruang kelas 2 ipa 2 dengan gagah dan tanpa berekspresi. Penampilan yang memukau membuat para siswi menganga dan menatap sang guru baru dengan tatapan terpesona.


Naruto tidak demikian. Ia cuek saja. Guru masih muda dan tampan. Ya ia akui guru itu tampan. Tapi ia tidak bereaksi berlebihan seperti teman - teman perempuannya.


"Dia ini yang menjadi guru bahasa Inggris kalian dan juga wali kelas kalian yang baru. Namanya adalah Uchiha Sasuke sensei. Kalau begitu, bapak pamit. Kalian jangan membuat masalah dengan guru baru kalian." ujar kepala sekolah Sarutobi.


"Baik, pak." jawab seluruh siswa terutama para siswi dengan kompak.


Sasuke si guru baru pun memperkenalkan dirinya dengan wajah datarnya. Para siswi terpesona dengan ketampanan guru baru mereka.


"Good morning, children. I am Uchiha Sasuke, i am twenty two years old and i am your teacher now. Nice to meet you." ucap si guru baru a.k.a Sasuke.


Semua murid terkejut dengan usia Sasuke. Umur 22 tahun tapi wajahnya masih seperti pelajar SMA.


"Any question about me?" tanya Sasuke memulai sesi pertanyaan tentang dirinya.


"Uchiha - san, how we call you? Mr or sensei?" tanya Naruto.

__ADS_1


"You can call me with Mr. Sasuke." jawab Sasuke.


"One more question before we start to study." Sasuke masih mengadakan sesi pertanyaan untuk murid barunya.


"Ng..are you single, Mr. Sasuke?" tanya seorang gadis bersurai merah muda a.k.a Sakura dengan wajah manisnya.


"That is not your bussiness, girl." jawab Sasuke dengan cuek karena sekolah tempat ia mengajar bukan tempat membicarakan urusan pribadinya.


"Ok, i will start this lesson. You can open your book. I will give you some exam today." ujar Sasuke.


Ekspresi murid berubah horor. Guru baru ini tiba - tiba memulai pelajaran dengan ulangan. Dasar guru killer. Batin hampir seluruh isi kelas 2 ipa 2.


Sasuke menyeringai jahil. Semua murid barunya memasang ekspresi horor padahal Sasuke bermaksud hanya untuk becanda.


"Maaf, saya hanya becanda." gumam Sasuke tiba - tiba. Sontak semua murid terkejut dengan candaan garingnya itu. Naruto tidak berekspresi. Ia cukup pandai dengan pelajaran bahasa Inggris.


"Sekarang saya akan mengabsen terlebih dahulu. Nama yang saya absen harap berdiri dan memberitahukan hobi dan cita - cita." ujar Sasuke.


'Gila. Aku ngomong panjang banget.' batin Sasuke.


"Baik saya akan mulai dari Nara Shikamaru." ujar Sasuke. Ia mencari orang pemilik nama itu.


Si pemilik nama malah tertidur. Sontak si guru muda langsung berjalan menghampiri Shikamaru.


"..." Sasuke tidak berbicara namun Naruto yang ada di depan Shikamaru mencoba untuk membangunkam rusa malas itu.


"Hei, Shika. Bangun." kata Naruto sambil menggoyang - goyangkan bahu Shikamaru.


Shikamaru tetap tertidur. Naruto merasakan aura berat dari sang guru baru tepatnya wali kelas mereka. Tak lama Shikamaru terbangun dan menggumamkan kalimat andalannya "merepotkan" dengan mata sipit ia langsung memandang sang guru baru.


"Wah ada guru baru ya. Mr. Uchiha kan adiknya paman Itachi." gumam Shikamaru yang langsung membuat seisi kelas menggelegar. Dari awal guru baru iti masuk Shikamaru tertidur tapi begitu bangun ia langsung mengenali guru baru itu.


"Kau kali ini aku ampuni. Ini kesempatan terakhirmu." ujar Sasuke dengan tatapan tajam.


Shikamaru menelan ludah karena aura berat dari guru baru itu a.k.a Mr. Sasuke.


Sasuke kembali berjalan ke meja guru di depan tapi ia terhenti dan menoleh kepada siswi yang memiliki gaya rambut yang aneh kalau bukan sang tokoh utama Namikaze Naruto.


"Kau, siswi rambut dango." tunjuk Sasuke kepada Naruto.


Naruto terkejut. "Apa, Mr?" tanya Naruto berusaha untuk tidak kena marah wali kelas barunya yang killer itu.


"Namamu siapa?" tanya Sasuke berdiri di depan kelas.


"Namikaze Naruto, Mr." jawab Naruto lantang.


"Hobimu?" tanya Sasuke lagi.


"Baca manga, nonton anime, baca buku pelajaran juga kalau ada pr terus makan ramen." jawab Naruto panjang.


Seluruh murid sweatdrop dengan hobi Naruto sebagai otaku. Sasuke yang mendengarnya juga heran karena ada orang yang mengakui dirinya sebagai otaku apalagi ia seorang siswi SMA.


'Apa ia tidak mau menikmati masa mudanya selain menjadi otaku?' pikir Sasuke.


Sesi absen dan saling mengenal pun selesai. Sasuke pun memberikan tugas bahasa Inggris kepada semua murid. Semua murid pun mengerjakan tugasnya dengan berat hati. Mereka pikir wali kelas yang baru tidak sekejam yang dulu, malah guru ini lebih parah.


Sakura si gadis pink terus memandangi wali kelas barunya itu, yang dipandangi merasa risih. Tapi bukan Sakura kalau tidak pintar mengambil hati orang, ia kembali mengerjakan tugasnya.


Beberapa menit kemudian, Sasuke meminta setiap murid yang duduk paling depan untuk mengumpulkan lembar kerja siswa atau lks lalu ditukar dengan bukan pemilik lks tersebut untuk diperiksa jawabannya bersama - sama.


Pengoreksian pun selesai. Sasuke mengabsen nama murid satu per satu untuk mengetahui nilainya.


Tiba giliran nama Naruto yang disebut. Seorang siswa yang memeriksa lksnya menyebutkan nilai yang Naruto dapatkan. Nilainya adalah nol. Naruto terkejut. Kenapa bisa begitu. Namun murid yang menyebutkan nilai Naruto menambahkan perkataannya kalau ia mengatakan jawaban Naruto salahnya 0 atau benar semua.


Semua murid terkejut, begitu pula dengan Naruto sendiri. Sakura jangan ditanya. Ia iri pada Naruto yang nilainya selalu lebih bagus darinya.


Sasuke juga terkejut. Kenapa bisa siswi otaku itu mendapatkan nilai sempurna? Apa dengan mencontek? Tidak mungkin karena ia mempunyai penglihatan yang tajam. Naruto mengerjakan tugasnya seorang diri hanya dengan ditemani kamus tebalnya. Sasuke percaya.


"Ya pelajaran sampai di sini." gumam Sasuke bersiap - siap meninggalkan ruang kelas setelah merapikan buku dan perlengkapan mengajarnya.


"See you next time." ujar Sasuke. Ia pun meninggalkan kelas setelah melirik Naruto.


Sakura sangat gatal ingin tahu lebih tentang guru baru itu Mr. Sasuke. Sementara Naruto dan siswa lain hanya berekspresi biasa. Naruto malas kalau harus mengenal wali kelas barunya itu. Sebenarnya ia agak takut dengan aura yang dimiliki Mr. Sasuke karena dengan begitu teman - teman sekelasnya bisa menjadi lebih disiplin.

__ADS_1


TBC


__ADS_2