Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 18


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Genre : murid, guru, percintaan


Fair : sasufemnaru and others


Sifat karakter dalam ff ini berbeda dengan sifat asli dari serial anime dan manga jadi ooc


Typo bertebaran


Happy reading


Dua minggu telah berlalu semenjak insiden penembakan Naruto ralat pernyataan cinta di atas panggung oleh Toneri mantan cinta pertama Naruto semasa SMP saat acara reuni. Si pemuda berambut ayam yang berstatus sebagai kekasih dari gadis pirang tersebut saat ini sedang duduk menghadapi dan mendengarkan ceramah panjang dari sang kakak tercinta.


"Hn." Sasuke hanya menjawab ceramahan dari sang kakak a.k.a Uchiha Itachi dengan gumaman tak jelasnya.


"Dasar..kau benar - benar membuatku malu, Sasuke!" seru Itachi. Ia ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding jika kepalanya terbuat dari karet yang elastis. "Kau membentak murid SMA hanya karena seorang gadis. Kau bukan budak cinta setahuku. Ribuan gadis selalu mengejar perhatian dan cintamu, tapi kau sama sekali tak memedulikan mereka. Pacarmu berharga sekali ya, otouto!". Ia setengah emosi menceramahi adik bungsu kesayangannya yang kebal dan tak merespon. "Haah.." Itachi menghela nafas lalu meminum secangkir kopi hitam yang ada di depannya guna meredakan stres akibat ulah adiknya yang baru pertama kali ia lakukan.


"Asal kau tahu saja baka nii san, aku akan melakukan apapun demi dango dobeku. Masih untung bocah itu tidak ku hajar. Tadinya aku mau menghajar dia karena telah berani dekat - dekat dengan milikku," jelas Sasuke. Tangannya sibuk mengutak atik ponselnya. "Apalagi ia berani menyatakan cinta pada Narutoku. Sudah jelas kami melakukan adegan mesra di depannya. Matanya pasti bermasalah," tambah Sasuke dengan nada kesal.


"Apa?! Kau bahkan melakukan adegan mesra dengan Naruto yang masih di bawah umur di depan teman - teman SMPnya? Dasar pedofil!" ujar Itachi. Ia ingin menghajar adiknya yang berubah menjadi mesum.


"Narutoku bukan anak - anak, nii san. Dia sudah remaja. Kami hanya duduk berdekatan dan menyuapi saja. Tidak semesra seperti biasanya," balas Sasuke tak mau dianggap sebagai pedofil.


Itachi menarik nafas dalam lalu membuangnya. Kemudian ia tersenyum sebari menepuk bahu kiri adiknya. "Syukurlah kau sudah punya cintamu sendiri. Oh ya, Tousan dan kaasan selalu menanyakanmu, Sasuke. Kapan kau akan pulang dan juga memperkenalkan pacarmu pada mereka," ujar Itachi. Ia sudah mulai tenang. Selama hampir lima belas menit ia menceramahi adik bungsunya di dalam sebuah kafe. Untung saja kafe itu menyediakan ruangan vvip yang kedap suara. Jadi meski Itachi berteriak sekeras apapun, suaranya tidak akan terdengar ke luar. Ibarat bernyanyi di ruang karaoke yang kedap suara.


"Secepatnya aku akan membawa dia ke rumah utama. Dia masih remaja dan labil. Terkadang aku ragu akan perasaannya padaku. Tapi..setelah kejadian di acara reuni waktu itu, aku tahu. Dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Seharusnya aku tidak meragukannya hanya karena dia masih remaja labil," tambah Sasuke. Ia merasa lega setelah mengeluarkan semua unek - uneknya di depan kakaknya.


Itachi tersenyum dengan tingkah adik satu - satunya. "Begitulah cinta, otouto. Kau harus berusaha untuk menggapainya. Setelah kau gapai, pertahankan cinta itu. Lebih sulit mempertahankan daripada meraihnya."


"Hn. Nii san hebat juga. Padahal kau belum pernah pacaran," sambung Sasuke. Ia memuji tapi ujungnya malah mengejek kakak kandungnya.


"Kalau kau bukan adikku, sudah ku hajar kau," gumam Itachi. Ia memerhatikan jam di tangannya. "Aku harus pergi, Sasuke. Apa kau masih mau tetap di sini?"


"Ya. Sebentar lagi dobeku datang," kata Sasuke.


"Jangan lupa katakan padanya, Sasuke. Orang tua kita ingin bertemu dengan calon menantunya," ujar Itachi. Ia sudah bersiap untuk pergi.


Pintu terbuka. Tampak sesosok gadis muda berambut pirang bergaya dango dengan nafas terengah - engah. "Ma..maaf. Aku telat," ujar gadis itu a.k.a Naruto, kekasih sang bungsu Uchiha.


"Kau kenapa, Naruto? Seperti dikejar hantu saja?" Itachi bertanya pada calon adik iparnya.


"Ti..tidak apa - apa. Tadi aku ketinggalan bus jadi aku berlari ke sini. Eh pas udah nyampe kafe ini aku gak nemu Sasuke - kun. Padahal aku udah keliling kafe. Aku pun ke luar dari kafe dan telepon tapi gak diangkat. Capek!!" seru Naruto. Ia duduk di dekat Sasuke. "Eh barusan si teme ayam ngechat kalo dia ada di ruang vvip. Ngeselin banget!!" seru Naruto. Ia meminum segelas air putih yang ada di atas meja. "Ah..segar."


Itachi menatap tajam pada adik bungsunya. "Kau jangan berani mengerjai calon adik iparku, otouto!" ujar Itachi.


"Hn. Cepat sana pergi!" usir Sasuke kepada kakaknya dengan nada ketusnya karena tidak mau diganggu oleh kakaknya.


Itachi segera bangkit dari duduknya. "Naruto, kakakmu yang tampan ini pergi dulu ya. Kalau si ayam berani menyakitimu, hubungi aku. Aku tak akan segan - segan menghukumnya. Ok!"


"Ok, Itachi - nii!" balas Naruto. Naruto dan Itachi mengacungkan jempol. Sasuke menatap mereka dengan tatapan tidak suka. "Dasar provokator aniki."


"Bye, Naruto. Bye ayam otouto!" Itachi pun ke luar meninggalkan pasangan sasunaru yang hanya duduk berduaan.


Seketika bulu kuduk si gadis pirang merinding. Naruto merasakan hawa dingin dan menyeramkan dari sampingnya tepat dari arah kekasihnya, Sasuke.


"Ka..kau kenapa, te..me?" tanya Naruto. Ia segera bangun untuk berpindah tempat duduk karena takut pada kekasihnya.


Sasuke memeluk Naruto dengan erat dan posesif. "Duduk dan diamlah. Biarkan aku memelukmu, Naruto!" pinta Sasuke. Naruto diam dan tetap duduk. Ia terkejut dengan tindakan kekasihnya yang tiba - tiba memeluknya.


Naruto membalas pelukan hangat dari Sasuke. Entah kenapa Naruto bisa merasakan sesuatu yang aneh dari pelukan kekasihnya. Seperti pelukan seseorang yang tidak ingin berpisah jauh.


Keduanya melepaskan pelukan mereka. Naruto memandangi wajah kekasihnya dengan lekat. Sasuke tersenyum. Tak lama ia menidurkan kepalanya di pangkuan Naruto. "Biarkan seperti ini, dobe," gumam Sasuke. Ia pun memejamkan matanya. Naruto mengangguk pelan. Tangannya membelai surai raven milik sang kekasih. "Rambutmu lembut ya. Aku pikir kasar dan keras. Soalnya kayak ekor ayam sih bentuk rambutmu. Hehehe."


Terdengar dengkuran dari bibir Sasuke. Naruto menaikkan sebelah alisnya. Ia terkejut kalau kekasihnya tertidur. "Si teme tertidur? Apa ia semalaman begadang ya? Setahuku..sepulang dari rumahku dia kan pulang jam 9 malam. Apa dia mampir ke tempat lain sampai begadang ya? Hm..." Naruto berpikir keras. Ia menjauhkan pikirannya dari hal - hal negatif.


"Semalam aku diceramahi ayah dan aniki lewat telepon sampai tengah malam, dobe," ujar Sasuke. Ia terbangun dari tidurnya dan segera duduk.


"A..apa? Kenapa bisa kamu bisa diceramahin sampai lama begitu? Apa Sa..Sasuke - kun berbuat salah?" tanya Naruto ingin tahu.


Sasuke memejamkan matanya beberapa saat lalu membuka matanya kembali. "Umurku 22. Kita beda 6 tahun, dobe," ujar Sasuke.


Naruto merasakan perasaan yang tidak enak. Firasat buruk mengenai hubungannya dengan Sasuke. "Kita beda 5 tahun, teme! Sebentar lagi usiaku 17 tahun. Kau kenapa sih?! Kayak mau put.." Sebelum Naruto meneruskan perkataannya, Sasuke segera menutup mulut kekasihnya dengan mulutnya sendiri.


"Tidak ada kata putus dalam kamusku, dobe," ujar Sasuke setelah mencium bibir Naruto. Muka Naruto merona karena malu dan kesal. "Minggu depan aku akan membawamu dan memperkenalmu pada kedua orang tuaku!" perintah Sasuke mutlak.


"Eh?!" Naruto terkejut.


"Tidak ada penolakan!" ujar Sasuke dengan penuh penekanan.


Naruto tersenyum. "Akhirnya kau memintaku juga, teme. Aku pikir si teme kepala ayam kenapa. Ternyata masalah itu," ucap Naruto dengan tenang.


Sasuke heran dengan respon kekasih pirangnya. "Aku pikir kau akan menolak," kata Sasuke. Ia lega setelah mengetahui respon positif dari gadis pirangnya. "Jadi..kau mau datang?"


Naruto mengangguk, "tentu saja. Lagipula..aku nggak mau hubungan kita hanya sekedar pacaran.." Naruto menjeda perkataannya dan berpikir sejenak. "..meski aku gak mau nikah muda tapi aku gak mau pisah sama Sasuke - kun. Aku hanya ingin nikah sama Sasuke - kun."


Sasuke diam mematung. Ia benar - benar kagum dengan pola pikir gadisnya. Padahal Naruto masih remaja labil yang belum dewasa. Pemikirannya sungguh tak bisa ia baca saat ini. Naruto sungguh berbeda. Bukan hanya dari segi penampilannya yang berbeda namun segi pemikiran juga berubah dan semakin dewasa. Sasuke jadi tambah menyukai dan mencintai gadisnya.


"Hei! Teme! Jangan bengong! Hei!" seru Naruto. Ia melambaikan tangannya di depan wajah tampan kekasihnya.


"Hn." Sasuke kembali ke dunia nyata dari dunia pemikiriannya. "Kau Namikaze Naruto kan? Dobe dangoku?" tanya Sasuke sebari menggoyang - goyangkan bahu si gadis pirang berdango.


"Tentu saja, teme! Aku ini Naruto mu! Iih..!" seru Naruto. Ia geli atas sikap kekasihnya yang aneh.


"Biasanya gadis remaja sepertimu tidak punya pikiran begitu, dobe. Mereka lebih menginginkan bermain - main dan tidak memikirkan masa depan. Apalagi mengenai urusan pernikahan. Makanya aku heran ada gadis sepertimu. Padahal kau kan masih remaja dan juga mungkin..masih ingin berpetualang cinta," jelas Sasuke dengan nada sinisnya yang membuat gadisnya sakit hati.


Naruto segera bangun dari duduknya dengan wajah cemberut. Kedua Ia tidak terima kekasihnya mengatakan hal seperti itu tentangnya. "Tahu gini aku nerima Toneri aja. Umur udah tua tapi kelakuan kayak bocah. Hn," ujar Naruto tak kalah sinis dari Sasuke. Ia kesal pada kekasihnya. "Sasuke - kun harusnya tahu gimana aku. Jangan ngomong gitu dong!" Naruto mulai marah.


Sasuke pun bangkit dan  menggenggam kedua tangan gadisnya yang sedang merajuk. "Aku hanya bercanda, dobe cantik," ujar Sasuke. Ia tersenyum tampan. Sontak membuat Naruto merona. "Aku semakin mencintaimu, sayang."


"Ta..tapi..apa Sasuke - kun tidak akan pernah merasa bosan padaku? Perempuan yang menyukaimu kan banyak sekali. Mereka juga sangat cantik. Aku sampai iri pada mereka. Wajah putih, badan tinggi semapai. Tubuh mereka bagus dan berisi. Aku tidak mau suatu saat nanti Sasuke - kun menyesal dan kecewa padaku," jelas Naruto. Ia merasa rendah diri. "Aku kan gak cantik kayak mereka."


Sasuke mencium kening, pipi lalu bibir Naruto singkat. "Uchiha bukan orang seperti itu. Kami tipe orang setia, sayang. Apalagi aku. Aku tidak suka perempuan yang seperti kau sebutkan tadi. Aku sudah jatuh hati padamu. Naruto adalah segalanya. Seorang gadis berambut pirang bermata sebiru langit berkulit kuning dan bertubuh mungil." Naruto tersenyum. "Dan juga..kau cantik luar dalam. Itu yang paling penting. Aku jatuh cinta padamu di saat pandangan pertama, dobe.  I love you," tambah Sasuke.


Sang gadis yang sedang digombali oleh kekasihnya hanya bisa tersipu malu. Naruto malah mencubit lengan Sasuke. "Sakit, dobe. Kenapa kau malah mencubitku? Perih tahu!" seru Sasuke. Ia merasa perih karena Naruto mencubit lengannya dengan cubitan kecil yang menyakitkan. "Emang aku peduli. Wee..😝😝." Naruto malah menjulurkan lidahnya pada sang kekasih. "Sasuke - kun sih kebanyakan gombal."


"Awas ya kau, dobe!" ujar Sasuke. Tanpa sengaja tubuh Naruto terdorong oleh Sasuke yang membuat tubuhnya tertindih oleh Sasuke.


Wajah kedua sejoli itu merona karena malu. Kedua tangan Sasuke juga tanpa sengaja menyentuh kedua aset berharga milik sang gadis yang sangat pas untuk ia pegang.


"Ma..maaf, dobe," gumam Sasuke. Ia segera bangun dari posisi menindihi Naruto dan membantu Naruto untuk berdiri. "A..ti..tidak apa - apa."


Keduanya segera duduk di sofa secara berhadapan. Tenggorokan sang pemuda mendadak kering dan tak sanggup mengeluarkan suara. Begitu pula dengan si gadis. Ia yang biasanya paling banyak bicara menjadi diam membisu. Lebih dari 10 menit keduanya masih diam tak bersuara.


Kruyuk. Perut Naruto mengeluarkan suara. Mukanya sudah memerah hingga telinganya. Sasuke tertawa lepas saat mendengar suara yang berasal dari perut kekasihnya.


"Hahaha... Kau lucu, dobe! Hahaha.." Sasuke tertawa terpingkal - pingkal.


Naruto yang tadinya ingin marah ia malah tersenyum melihat kekasihnya tertawa lepas yang seperti bukan kekasihnya. "Aku senang kau tertawa, teme. Jadi lebih mirip manusia daripada robot. Hehehe," gumam Naruto. Ia memandangi wajah kekasihnya dengan seksama.


"Aku manusia, dobe. Bukan robot! Mana ada robot setampan dan sepintar aku, hah?!" balas Sasuke dengan jawaban yang kekanak - kanakan.


Naruto menepak jidat. Kekasihnya itu seorang guru apa bocah sd? Benar - benar mengesalkan. "Aku lapar, teme. Harusnya aku ditawari makan dong. Sama pacar sendiri juga gak peduli. Huh," gumam Naruto merajuk lagi.


"Iya, sayang. Ayo kita makan. Mau pesan apa? Biar aku pesankan," ujar Sasuke. Ia tidak mau kekasihnya yang suka makan sampai kena maag karena telat makan.


Skip time waktu sasunaru makan.


Beberapa saat kemudian setelah pasangan sasunaru menghabiskan makan siang mereka. Ponsel milik Naruto berdering. Sasuke penasaran dengan siapa sang pemanggil gadisnya yang sedang berada di toilet. Karena penasaran, ia melihat ponselnya. Tertulis nama Ino sedang memanggil.


"Ya. Naruto sedang di toilet. Kalau ada pesan, akan aku sampaikan. Hn. Jadi kalian mau ke tempat karaoke. Aku dan si dango akan segera ke sana," ujar Sasuke. Ia berbicara dengan Ino, teman sekelas Naruto a.k.a muridnya sendiri.


Naruto masuk ke dalam ruangan. Ponselnya sudah Sasuke. Letakkan di tempat semula. Naruto duduk di samping kekasihnya lalu ia mengambil ponsel dan memeriksa ponselnya. Ia melihat ada beberapa pesan dari temannya.


"Teme, aku harus pulang ya," gumam Naruto. Tapi Sasuke segera menarik tangan kekasihnya yang lebih kecil darinya. "Kau mau pulang apa ke tempat karaoke? Hn?" tanya Sasuke. Ia tidak suka Naruto membohonginya. "Kau sudah mulai berani membohongi pacarmu ya."


'Si teme tahu dari mana aku mau karaokean sama Ino? Cih. Dasar penguntit dan posesif. Aku kan juga mau kumpul dan main bareng Ino,' batin Naruto sengsara.


"Iya. Kau mau ikut, teme?" ajak Naruto. Daripada selalu dicurigai, lebih baik ajak saja kekasihnya sekalian supaya bisa bebas dirinya berkaraoke ria dengan teman - temannya yang sesama perempuan tanpa harus membuat Sasuke marah.


"Hn. Ayo. Tunggu di luar. Aku bayar dulu," balas Sasuke. Ia senang karena selalu menang dari kekasihnya.


Lima belas menit kemudian kedua pasangan sejoli berbeda surai itu telah tiba di depan gedung tempat karaoke. Setelah memarkirkan motor, pasangan sasunaru pun berjalan ke dalam gedung dan segera mencari kamar karaoke yang telah dipesan oleh Ino dan kawan - kawan.


"Naruto!" seru Ino. Ia muncul dari dalam kamar karaoke yang sedang Naruto cari. "Ayo masuk!"


"Iya. Ayo teme!" Naruto berjalan sebari menyeret kekasihnya yang tidak mau jauh darinya.


"Wah..luas sekali!" seru Naruto ketika memasuki kamar karaoke tersebut. Sudah ada Ino, Hinata, Sakura dan pasangan mereka masing - masing yang sudah duduk di atas sofa.


"Karaoke apa mau mojok?" tanya Sasuke dengan nada ketusnya. Auranya begitu dingin dan hitam. Tatapannya tak kalah tajam dari tatapan elang yang sedang berburu mangsa.


Keenam teman Naruto yakni Ino, Hinata, Sakura, Gaara, Sai dan Shikamaru merinding saat Sasuke mengatakan hal itu. Padahal mereka memang sedang berkaraoke meski belum mulai juga.


Shikamaru yang kebetulan ada di tempat itu dan sedang bergabung, ia tidak tinggal diam. Ia menjawab pertanyaan dari sang wali kelas. "Mr juga ke sini bawa perempuan. Apalagi perempuan itu murid Mr. Mr sama saja kan," ujar Shikamaru.


Sasuke masih tak berekspresi. Semua orang yang ada di sana merasa tegang atas kedatangan wali kelas mereka. Naruto merasa bersalah telah mengajak kekasihnya yang tak lain adalah wali kelasnya.


"Kenapa jadi tegang gini? Sa..Sasuke - kun sekarang kan sedang jadi pacarku bukan lagi jadi guru," gumam Naruto mencairkan suasana. "Jadi..santai saja. Sasuke - kun juga jangan galak," tambah Naruto.


"Hn."


"Ya kami tahu, Naru. Ayo duduk. Apa kamu mau langsung nyanyi?" Ino menawari Naruto dengan ramah. Matanya mendelik pada Sai yang kebetulan sedang memegang mikrofon.


"Na..nanti saja, Ino. Kalian saja duluan," tolak Naruto. Ia menarik Sasuke untuk duduk di dekatnya. "Ne teme, kau duduk dan diam. Jangan ganggu acara anak muda. Ok!" perintah Naruto pada kekasihnya meski tak mungkin dihiraukan oleh kekasihnya.


"Aku juga masih muda, dobe. Baru 22 tahun," balas Sasuke tak mau diperintah oleh Naruto.


Naruto menggelengkan kepalanya. "Iya iya. Pacarku emang masih muda," gumam Naruto. Ia tadinya ingin mencubit kekasihnya tapi tidak jadi.


"Teman - teman, ayo kita bernyanyi!" ajak Sai sambil tersenyum palsu. Ia mulai memilih lagu.


"Siapa yang nyanyi duluan?" tanya Sakura. Ia sangat bersemangat.


"Kita hompimpah yuk?" usul Naruto.


"Kayak main petak umpet saja," sambung Sasuke. Datar dan sinis.


💢Muncul perempatan di dahi si gadis pirang. "Kau kenapa sih, teme?! Sinis mulu dari tadi?" tanya Naruto. Ia menahan emosi atas sikap kekasihnya yang menyebalkan. "Kayak suami gak dikasih jatah sama istrinya!" seru Naruto. Ia berdiri di depan Sasuke yang sedang duduk melipat kaki.


"Ya. Aku kurang jatah. Kau tidak memberiku selama seminggu, dobe!" jawab Sasuke. Naruto hanya berdiri dengan kedua tangan mengepal di kedua sisi.


Semua teman Naruto saling bertukar pandang. Mereka heran dengan sikap kedua pasang kekasih beda status itu. Guru mereka juga yang kelewat ke luar dari karakter aslinya.


"Na..ruto. Apa kau sudah itu dengan Mr. Sasuke?" tanya Sakura penasaran.


"Itu?" beo Naruto yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan Sakura. Matanya melirik ke arah Sasuke.

__ADS_1


"Kami belum melakukannya. Tadinya mau hari ini," sambung Sasuke. "Aw. Sakit, dobe!" Naruto baru saja menginjak kaki Sasuke. Sasuke meraba telapak kakinya bekas diinjak oleh gadis pirangnya. Ia tersenyum puas melihat kekasihnya kesakitan. "Itu hukuman untuk seseorang yang telah membuatku naik darah hari ini!" bentak Naruto pada kekasihnya. Ia benar - benar meledak. Kedua tangan Naruto dilipat di dadanya.


Sasuke hanya tersenyum sinis melihat aksi kekasihnya yang sedang marah. Naruto jarang meledak seperti itu. Pemandangan yang langka bagi dirinya.


"Ino! Tutup telinga kalian pakai earphone!" perintah Naruto pada Ino. Mutlak. Ino menjawab dengan anggukan kepala. Begitu pula dengan Sakura, Hinata, Sai dan Shikamaru. Gaara diam dan tak mengerti. "Pakai saja, Gaara. Apa kau mau gendang telingamu rusak?" ujar Sakura. Gaara patuh. Ia segera memakai earphone.


Setelah itu, Sasuke masih duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Ekspresinya memang selalu datar. Ia penasaran dengan apa yang akan terjadi sampai - sampai keenam anak didiknya harus memakai earphone pada telinga mereka.


Naruto masih berdiri di depan Sasuke. Ia menatap tajam pada kekasihnya. Tidak ada rasa takut, malu ataupun grogi saat ini.


"Apa yang akan kau lakukan, dobe? Hn?" Sasuke menatap Naruto dengan penuh intimidasi.


"Tarik nafas.." Naruto menarik nafas. Lalu si gadis pirang itu segera berbicara dengan sangat keras,"te..me!! Kau itu punya hati gak sih?! Aku tadi jalan kaki dari halte sampai kafe tanpa istirahat karena gak mau telat sampai. Pas aku sampai kau malah diem dan gak peka sama keadaan pacarmu sendiri! Boro - boro dikasih minum dan makan. Ditawari juga gak! Sekarang kau mau mengganggu acara karaokeku dengan teman - temanku?! Kau itu manusia yang terbuat dari apa?! Es di Antartika saja udah mencair. Tapi kau masih saja beku, tidak peka dan..." Mulut Naruto yang sedang mengoceh langsung disumpal oleh ciuman dari sang kekasih yang sedang ia marahi.


Keenam personil yang berada di dalam ruang karaoke tampak terkejut, menganga dan ada yang menepak jidat atas tindakan sepasang kekasih itu.


Ciuman dihentikan. "Sudah marah - marahnya, sayang?" tanya Sasuke dengan lembut pada kekasihnya yang masih marah. Namun kemarahan reda akibat ciuman dan ucapan lembut dari sang kekasih.


"Hn," gumam Naruto. Wajahnya merona. "Maaf. Aku lagi badmood dan pms." Naruto memalingkan wajahnya dari Sasuke. Tapi dengan cepat Sasuke segera menarik tubuh gadisnya dan mendudukkannya di atas pangkuan Sasuke.


"A..apa yang kau lakukan, teme?! Di sini ada teman - temanku!" seru Naruto. Ia merona dan juga gugup. Hanya kekasih tampannya yang bisa menenangkan suasana buruk hatinya.


"Bukannya kau mau karaoke? Karaoke saja. Tapi..sambil duduk di pangkuanku ya," ucap Sasuke sebari mengedipkan sebelah mata pada kekasihnya.


Keenam sahabat Naruto sweatdrop dan terkejut. Mereka tidak menduga jika kelakuan wali kelas mereka saat di luar sekolah sangat berbeda 360 derajat. Dingin dan datar masih sama tapi Sasuke jadi semakin mesum terhadap siswinya sendiri.


"Sensei, tolong batasi tindakan mesum anda di depan kami. Kami di sini muridmu dan juga masih di bawah umur," gumam Gaara. Mukanya merona saat melihat adegan mesra sahabat dengan gurunya.


Sasuke menoleh ke arah Gaara dengan seringai licik dan menakutkan. Sebagai murid yang baik dan menghormati guru, Gaara patuh dan diam saja saat diberi seringai tajam oleh gurunya.


"Kalian kan juga sedang pacaran. Jadi santai saja. Sekarang aku bukan sedang jadi guru kalian. Bersenang - senanglah," ucap Sasuke. Ia memeluk pinggang kekasihnya dengan erat. Ekspresi Naruto sudah tidak karuan. Wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus ditambah pandangan tidak percaya dari teman - temannya membuatnya semakin malu dan gugup.


"Ternyata Mr. Sasuke romantis ya. Aku jadi iri," gumam Sai. Ia melirik ke arah Ino yang duduk di sofa di hadapannya. "Ino. Ayo duduk di pangkuanku. Aku juga ingin seperti Mr. Sasuke. Apalagi badanmu kan lebih berisi dari Naruto. Aku akan sangat senang jika kau mau duduk di pahaku," tambah Sai.


Pletak. Ino menjitak kepala kekasihnya. Wajah Ino juga merona. Ia malu dan marah pada kekasihnya. Sementara itu Hinata hanya bisa menghela nafas. Sekarang kekasihnya a.k.a Shikamaru sedang tidur di atas pahanya. Mereka memang sudah terbiasa melakukan hal itu. Shikamaru selalu saja tertidur.


Sedangkan Sakura yang masih berstatus single, ia hanya bisa gigit jari atas kesendiriannya. Hubungannya dengan Gaara memang dekat tapi pemuda berambut merah maron itu belum ada tanda - tanda untuk menyatakan perasaan.


Si gadis pirang yang masih dipeluk erat oleh kekasih mesumnya sama sekali tidak bisa lepas dari cengkeramannya. Naruto berusaha melepaskan pelukan dari sang kekasih, namun hasilnya nihil. Yang ada, Sasuke malah memeluknya semakin erat ditambah ciuman yang Sasuke berikan pada leher jenjang Naruto. Sungguh adegan yang tak patut ditiru termasuk oleh keenam teman - temannya yang telah menjadi saksi hidup kejadian mesum Sasuke dan Naruto.


Sudah hampir tiga puluh menit Naruto dan kawan - kawan berada di ruang karaoke tanpa memutar lagu. Mereka tengah asyik dengan kegiatan masing - masing.


Sakura berinisiatif untuk bernyanyi. Ia berjalan melangkah ke depan layar, mengambil remote dan memilih lagu. Sakura pun bernyanyi dengan penuh penghayatan dan perasaan. Karena suara Sakura merdu maka Naruto dan teman - teman yang lain mendengarkan nyanyian Sakura dengan senang hati.


Aku tak percaya lagi


Dengan apa yang kau beri


Aku terdampar di sini


Tersudut menunggu mati


Aku tak percaya lagi


Akan guna matahari


Yang dulu mampu terangi


Sudut gelap hati ini


Aku berhenti berharap


Dan menunggu datang gelap


Sampai nanti suatu saat


Tak ada cinta kudapat


Kenapa ada derita


Bila bahagia tercipta


Kenapa ada sang hitam


Bila putih menyenangkan


Aku pulang


Tanpa dendam


Kuterima kekalahanku


Aku pulang


Tanpa dendam


Kusalutkan kemenanganmu


Kau ajarkan aku bahagia


Kau ajarkan aku derita


Kau tunjukkan aku bahagia


Kau tunjukkan aku derita


Kau…


Harusnya yang terdengar dari penonton adalah suara tepuk tangan. Tapi Sakura malah dihadiahi suara tangisan kedua temannya yang bersurai pirang, Naruto dan Ino. Duo gadis baper yang sedang menangis sambil berpelukan. Sasuke sama sekali tidak menyadari pergerakan gadisnya yang kabur dari pangkuannya.


"Haruno, kau harus bertanggung jawab!" ucap Sasuke dengan nada tegas.


"Memangnya aku kenapa, Mr? Apa yang telah aku berbuat?" tanya Sakura tidak mengerti maksud dari perkataan sang wali kelas.


"Tuh. Ino dan dobeku sedang menangis sambil berpelukan saat kau bernyanyi," tambah Sasuke sebari menunjuk kepada Naruto dan Ino yang sedang menangis bersama.


"Nani?!" seru Sakura. Ia terkejut dengan tingkah absurd Naruto dan Ino yang  terlalu terbawa perasaan hingga menangis.


"Hiks..hiks..maaf, Sakura. Aku hiks..turut berduka ya..hiks.." gumam Naruto. Ia melepaskan pelukan Ino lalu memeluk Sakura namun Sasuke menariknya. "Iih..teme! Aku mau meluk Sakura. Kenapa kamu malah meluk aku?! Kasihan Sakura. Selalu diberi harapan palsu!" seru Naruto yang semakin lebay.


Sasuke ingin sekali menarik rambut panjang kekasihnya yang berperilaku aneh. Tadi marah, sekarang menangis. Naruto terkadang membuatnya bingung. Semua tingkah kekasihnya yang sangat berbeda dengan gadis pada umumnya yang bisa membiat dirinya tertarik. "Ah..untung sayang.." gumam Sasuke sebari mengelus rambut dango pirangnya. Naruto langsung tenang dan berhenti menangis. Ia duduk di samping Sasuke dengan nyaman.


Ino melirik Sai. Sai yang kebetulan ada di dekatnya segera menarik tubuh Ino lalu segera memeluk dan membelai rambut pirang Ino. Adegan romantis dari dua pasangan bersurai pirang dan gelap. Sasunaru dan saiino.


Shikamaru masih nyaman tidur di pangkuan Hinata. Sakura hanya bisa memandangi ketiga pasangan itu. Ia melirik ke arah Gaara. Namun Gaara sibuk dengan permainan online di ponselnya. Gaara sudah menjadi gamers sebulan lalu setelah liburan musim panas.


"Oh iya. Gimana kalau Naruto, Ino dan Hinata nyanyi bertiga? Nanti baru yang laki - laki nyanyi. Setuju ga?" saran Sakura.


"Gak. Aku gak bisa nyanyi, Sakura. Suaraku gak bagus," tolak Naruto.


"Ayolah, Naruto.. Kanu kan sahabatku, jadi kamu juga harus nyanyi. Ok. Bertiga kok. Jadi gak malu," bujuk Sakura. "Mr. Sasuke juga ingin melihat aksi Naruto bernyanyi kan?"


Sasuke mengangguk. "Teme! Kamu harusnya jangan ngangguk dong!" seru Naruto tak terima keputusan kekasihnya. "Nyanyi sana. Aku ingin mendengar suaramu pas lagi nyanyi, dobe," bujuk Sasuke.


Akhirnya Naruto bersedia untuk bernyanyi atau berkaraoke bersama Ino dan Hinata. Pasangan masing - masing sudah siap dengan ponsel merekam gadis mereka yang akan bernyanyi. Termasuk Shikamaru yang sedari tadi tertidur kini sudah siap dengan ponsel keluaran terbarunya.


Naruto, Ino dan Hinata sudah berdiri di tempat yang sudah tersedia. Mereka bersiap - siap memegangi mikrofon masing - masing. Setelah ketiganya berdiskusi dengan berbisik - bisik bertiga, Ino memilih lagu. Lagu lun diputar.


"Aku pikir bakal lagu dangdut," gumam Sasuke. Lega. Ia tidak mau gadisnya bergoyang layaknya artis di atas panggung hiburan.


"Lagu buat nyindir seseorang," tambah Shikamaru.


"Kau benar, Shika," sambung Sai.


Beginilah urutan Naruto, Ino dan Hinata dalam bernyanyi.


Ino : Semuanya telah kuberi


Dengan kesungguhan hati untukmu


Hanya untukmu


Ino melirik pada Gaara. Saat ini Gaara tidak sedang main game. Ia tertarik pada lagu yang trio Naruto, Ino dan Hinata bawakan. Gaara juga ikut merekam mereka yang sedang bernyanyi.


Naruto : Tak perlu kau tanya lagi


Siapa pemilik hati ini


Kau tahu..pasti dirimu..


Naruto bernyanyi namun matanya tak henti menatap dan menggoda kekasihnya. Ia juga selalu tersenyum terhadap kekasihnya. Gerakan tubuhnya menyamai lirik lagu yang ia sedang nyanyikan. Sebelah tangan melambai pada Sasuke lalu menyentuh dada kiri dan terakhir menunjuk pada Sasuke. Tak lupa si gadis pirang yang tengah menyanyi mengedipkan sebelah matanya pada kekasihnya😉. Sasuke langsung aneh. Ia tidak menduga jika kekasih pirangnya juga bisa bersikap genit padanya. Harus hanya pada dirinya. Itu yang Sasuke inginkan.


Hinata : Tolong lihat aku


Dan jawab pertanyaanku


Shikamaru terus merekam gadisnya yang sedang bernyanyi. Hinata tidak banyak gaya seperti Naruto. Ia hanya tersenyum pada Shikamaru sebari menunjuk pada dirinya sendiri.


Ino, Naruto, Hinata : Mau dibawa kemana hubungan kita


Jika kau terus menunda-nunda


Dan tak pernah menyatakan cinta


Mau dibawa kemana hubungan kita


Ku tak akan terus jalani


Tanpa ada ikatan pasti


Antara kau dan aku


Ketiga gadis itu bernyanyi sambil menoleh ke arah Gaara dan Sakura. Mereka sengaja memilih lagu itu untuk menyindir Gaara yang tak kunjung menyatakan perasaan cintanya pada Sakura. Padahal Gaara juga menyukai Sakura. Semoga dengan dinyanyikannya lagu itu, Gaara sadar dan mau mengungkapkan perasaannya pada si gadis berambut merah muda itu.


Ino & Naruto : Tak perlu kau tanya lagi


Siapa pemilik hati ini


Kau tahu pasti dirimu


Ino dan Naruto menoleh ke kekasih mereka.


Hinata : Tolong lihat aku


Dan jawab pertanyaanku


Ino, Naruto, Hinata : Mau dibawa kemana hubungan kita


Jika kau terus menunda-nunda


Dan tak pernah menyatakan cinta

__ADS_1


Mau dibawa kemana hubungan kita


Ku tak akan terus jalani


Tanpa ada ikatan pasti


Antara kau dan aku


Naruto : Tolong lihat aku


Dan jawab pertanyaanku


Ino, Naruto, Hinata : Mau dibawa kemana hubungan kita


Jika kau terus menunda-nunda


Dan tak pernah menyatakan cinta


Mau dibawa kemana hubungan kita


Ku tak akan terus jalani


Tanpa ada ikatan pasti


Antara kau dan aku


(Judul : Mau dibawa ke Mana by : Armada)


Sasuke dan yang lainnya bertepuk tangan. Pertunjukan ketiga gadis itu sungguh memukau. Mereka bertiga bernyanyi sambil menghayati lagu itu. Lagu yang memang ditujukan kepada pasangan masing - masing supaya hubungan mereka tidak menggantung.


Naruto, Ino dan Hinata kembali duduk di tempat duduk semula.


"Suaramu bagus juga, dobe," ucap Sasuke. Ia tersenyum.


"Benarkah? Kamu gak ngejek suaraku kan?" balas Naruto. Ia mengira Sasuke mengejek suaranya yang pas - pasan.


"Hei, Naruto! Jelas - jelas pacarmu itu memujimu. Bukan menghinamu!" sambung Shikamaru. Ia gemas akan kedobean sahabat pirangnya.


Naruto menoleh ke arah Sasuke. "Ya makasih, teme." Naruto tersenyum manis pada Sasuke.


"Siapa lagi yang mau nyanyi?" tanya Ino. Ia memerhatikan ketujuh orang yang ada di dalam ruang karaoke.


Sasuke hendak berdiri namun Naruto menarik tangan kekar kekasihnya itu.


"Ada apa?" tanya Sasuke. Ia duduk kembali.


"Jangan nyanyi ya. Hm?" pinta Naruto dengan ekspresi memelas.


Sasuke heran. Tapi ia malah semakin ingin berkaraoke. Ia tidak pernah berkumpul dengan teman - teman sekolahnya sewaktu SMA dulu. Ia terlalu sibuk belajar.


"Kenapa? Apa suaraku sumbang? Hn?" tanya Sasuke. Ia mengenggam kedua tangan kekasihnya dengan ekspresi wajah yang selalu membuat Naruto degdegan.


"Jangan nyanyi lagu yang itu. Aku malu dengernya, Sasuke - kun," jawab Naruto dalam mode malu - malu. Mukanya merona. Ia teringat ketika Sasuke menyatakan perasaannya kepada Naruto.


Sasuke tersenyum. Ia paling suka dengan kekasihnya yang dalam mode malu - malu. Naruto terlihat lebih cantik, manis dan menarik. Terkadang pemuda bersurai raven itu bingung. Kepribadian kekasihnya berbeda - beda. Apa Naruto memiliki dua kepribadian? Itu tidak mungkin. Gadisnya memang unik. Karena itulah seorang Uchiha rela menurunkan harga diri dan egonya hanya untuk mendapatkan gadis semenarik Naruto.


"Aku mau ke toilet dulu," ujar Naruto. Ia bangun dari duduknya.


"Apa perlu ku temani?" usul Sasuke dengan seringai mesumnya.


Naruto segera meninggalkan Sasuke dengan pikiran mesumnya. "Hentai," gumam Naruto tanpa bisa didengar siapapun. Sasuke duduk santai sebari menyaksikan video kekasihnya yang sedang bernyanyi.


Ketiga pasangan lain sibuk dengan kegiatannya masing - masing. Saat ini Hinata dan Shikamaru yang sedang berkaraoke bersama. Ino menyoraki pasangan shikahina. Sedangkan kekasih Ino, Sai, ia harus merekam lagi.


"Aku ke luar sebentar," ujar Gaara. Ia melangkah ke luar dari kamar karaoke.


Sakura masih diam. Ia tidak tahu harus berekspresi apa dan berkata apa pada Gaara. Ia tidak ingin kecewa lagi. Sudah cukup dirinya kecewa setelah berkali - kali ditolak oleh wali kelasnya, Sasuke.


Sasuke merasa ada yang tidak beres. Ia segera berjalan meninggalkan ruang karaoke. Ia berjalan mengikuti Gaara. Terus berjalan. Lalu, terlihat Gaara dan Naruto yang sedang berbicara berdua. Sasuke penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan namun ia tidak dapat mendengar pembicaraan mereka. Interaksi terakhir yang Sasuke lihat adalah Naruto tersenyum hangat sebari menepak bahu Gaara. Gaara pun tersenyum pada Naruto. Kemudian keduanya berpisah. Gaara segera melangkah meninggalkan Naruto yang masih tersenyum.


Sasuke segera bersembunyi agar tidak terlihat oleh Gaara yang sedang berjalan melewatinya. Setelah Gaara melewatinya, sang pemuda yang dipenuhi tanda tanya terhadap kekasihnya, ia bergegas berjalan menghampiri Naruto yang masih tersenyum.


"Te..teme! Kau mengagetkanku saja!" seru Naruto. Ia terkejut bukan main.


Sasuke menatap tajam pada si gadis pirang dango. "Apa yang baru saja kau bicarakan dengan rakun merah itu? Sangat mencurigakan," ucap Sasuke. Ia meraih tangan gadisnya, menarik tubuh mungil sang kekasih ke dalam pelukannya lalu mencium bibirnya dengan mesra. Sasuke sudah tidak tahan untuk merasakan bibir kekasihnya yang manis sedari tadi. Mumpung tempat mereka saat ini sedang sepi jadi si pemuda dengan leluasa melancarkan aksi mesumnya itu.


"Hmp..hmp.." Naruto tidak bisa bernafas akibat lumatan ganas dari kekasih mesumnya. "Se..sesak, teme," ujar Naruto. Ia mengambil nafas dalam - dalam.


Sasuke masih memeluk pinggang Naruto. "Kau makin kurus saja, dango," gumam Sasuke. Ia tak henti memandangi wajah gadisnya.


"A..aku gak ngurusan kok," bantah Naruto. Wajahnya merona dan dilanda rasa gugup yang memuncak.


"Apa yang tadi kalian bicarakan, hn?" ujar Sasuke. Langsung ke inti pembicaraan.


Naruto menghela nafas. Kepalanya mendongak ke atas tepat ke wajah kekasih tampannya. Tinggi badan Sasuke yang berbeda jauh dengannya membuatnya kesulitan hingga harus mendongak ke atas membuat lehernya pegal.


"Hanya pembicaraan biasa. Curhat antar teman," jawab Naruto singkat.


"Hanya itu?" tanya Sasuke. Ia masih penasaran. "Apa ada yang lain?"


"Gaara ingin menyatakan perasaannya pada Sakura tapi ia masih malu. Ia belum pernah mengungkapkan perasaannya pada seorang gadis. Jadi dia meminta saran dariku," jelas Naruto panjang lebar. Ia risih pada sikap kekasihnya yang selalu ingin tahu.


Sasuke melepaskan pelukannya. "Kenapa tidak bertanya padaku? Aku kan sering ditembak sama para gadis. Jadi dia bisa meniru salah satu dari cara mereka," tambah Sasuke.


"Huh. Dasar pamer. Mentang - mentang banyak yang suka. Kenapa gak diterima aja pernyataan cinta dari mereka? Dari para fansgirlmu yang super cantik itu," gumam Naruto dengan nada tidak suka. Ia berbicara sebari membelakangi kekasihnya yang tengah tersenyum jahil.


Si pemuda yang sedang asyik menggoda gadis pirangnya. Ia membalikkan tubuh si gadis. "Are you jealous, dobe?" tanya Sasuke. Ia menyeringai licik.


"No. What for? You're mine. I will never let you. Forever. Hn," jawab Naruto masih kesal karena cemburu.


"Of course, babe. I'm yours. I will make you to be Uchiha Sasuke's wife," tambah Sasuke yang sontak membuat Naruto semakin merona.


"Hontou? Tapi.. Aku masih ingin kuliah dan kerja, te..me.." bantah Naruto.


"Kan bisa tunangan dulu. Nanti akan aku bicarakan dengan orang tua kita. Ok. Kau tunggu saja. Duduk yang manis di kamarmu sambil baca manga atau nonton anime," jelas Sasuke sebari mengelus rambut dango kekasihnya. Tak lupa ia menciumi rambut Naruto yang wanginya menjadi candu bagi bungsu Uchiha itu.


Naruto menganggukkan kepalanya pelan. Tak lama ia pun memeluk kekasihnya. "Arigatou, Sasuke - kun," gumam Naruto tersenyum. Ia sangat senang mendengar hal itu dari kekasihnya. Sangat menguntungkan memiliki kekasih yang lebih dewasa darinya. Selain sikap Sasuke yang lebih dewasa, ia juga bisa bermanja - manja pada kekasihnya.


"Everything for you, my dango dobe," balas Sasuke. Cup. Ia mencium kepala dango Naruto.


"Kita kembali ke ruang karaoke yuk?" ajak Naruto. Ia melepas pelukannya terhadap Sasuke. Sasuke mengangguk lalu menggandeng tangan Naruto. Keduanya berjalan beriringan. Sepasang kekasih yang selalu membuat iri setiap orang yang melihatnya. Termasuk seorang pemuda yang beberapa minggu lalu ditolak perasaannya, Otsutsuki Toneri. Tanpa sengaja ia melihat adegan mesra tersebut.


"Kenapa masih sakit? Apa aku masih belum bisa mengikhlaskannya? Padahal Naruto sudah bahagia dengan cinta barunya," gumam Toneri. Ia diam - diam melihat ralat mengintip adegan mesra sasunaru yang membuat dadanya sakit.


Toneri segera pergi bagai bayangan malam gelap yang ditelan cahaya matahari. Merasakan pedih dan sakitnya melihat seseorang yang ia cintai bersama dengan lelaki lain yang sedang melakukan adegan mesra.


Naruto dan Sasuke pun memasuki ruang karaoke. Setibanya di dalam, mereka merasakan hawa yang berbeda. Awalnya hawa negatif bercampur positif, sedangkan sekarang hanya hawa positif saja. Ruangan karaoke seakan dipenuhi bunga - bunga yang baru mekar.


"Ne, teme. Ada apa ini? Aku kok ngelihat kayak ada banyak bunga di mana - mana?" tanya Naruto. Ia masih digandeng oleh kekasihnya yang posesif.


"Hanya perasaanmu saja sayang," jawab Sasuke. Mereka duduk berdekatan. Pasangan yang tidak mau berpisah.


Naruto melirik ke arah Sakura yang sedang tersenyum sendiri sebari memegang ponselnya yang berwarna merah muda seperti rambutnya. Karena penasaran, Naruto mendekati teman bersurai pink itu.


"Kau mau ke mana, dobe?" tanya Sasuke.


"Kabur dari cengkeram elang," jawab Naruto serius. "Aku mau nyamperin Sakura, teme. Kau itu posesif banget sih!"


"Wajar dong. Punya pacar yang manisnya kayak boneka barbie. Jadi harus dijagain," balas Sasuke.


😓Naruto merasa heran dengan apa yang baru saja diucapkan oleh mulut pedas kekasihnya. Sepertinya Sasukenya harus dirukiyah. Kesurupan jin apa sampai dia selalu menggombali dirinya.


"Ckck. Kau kenapa, teme? Apa kau demam?" tanya Naruto sebari menyentuh dahi kekasihnya.


"Ya. Aku demam. Demam cintamu," jawab Sasuke. Ia memegang tangan Naruto yang sedang menyentuh dahinya. Naruto jarang sekali menyentuhnya. Wajah Sasuke kini merona. Ia merasa sangat senang bisa bersama dengan kekasih pirangnya. Di sekolah mereka juga selalu bersama tapi terhalang status guru dan murid jadi tidak sebebas sekarang.


Adegan mesra sasunaru selalu saja terulang dan terjadi di hadapan ketiga pasang teman - temannya.


"Ekhem." Shikamaru berdehem. "Jangan terlalu posesif, pak. Pacar bapak juga butuh privasi," ujar Shikamaru. Saat ini Hinata dan Ino sedang bernyanyi duet.


Sasuke menatap sinis pada Shikamaru lalu berkata, "sejak kapan aku jadi bapakmu? Kau sama saja dengan kakakmu Shikadai, Shikamaru."


"Jadi anda teman kakakku yang punya julukan pangeran es tanpa ekspresi dan tak berhati? Sepertinya itu julukan yang salah," balas Shikamaru. Ia berbicara dengan tenang dan santai.


"Sekarang teme sensei pantat ayam ini sudah berubah jadi ero chiken sensei no baka. Haha," sambung Naruto dengan tidak sopan. Sasuke sontak menarik tubuh Naruto dan mendudukkannya di pangkuan Sasuke.


"Diam kau, dobe! Kau harus dihukum karena telah menghina pacar tampanmu ini!" gumam Sasuke. Ia tambah mempererat pelukannya.


Sang gadis yang menjadi pelaku kasus penghinaan pada kekasihnya sekaligus yang menjadi wali kelas di sekolahnya kini sedang merajuk. Ekspresinya membuat si korban gemas.


Shikamaru hanya menggelengkan kepala atas sikap pasangan sasunaru yang beda usia lima tahun itu. "Mendokusai na.." gumam Shikamaru.


Beberapa jam kemudian. Acara karaoke pun usai. Keempat pasangan itu segera pulang meninggalkan ruang karaoke setelah dirasa cukup dan puas bernyanyi untuk menghilangkan rasa penat di dada.


Pasangan Inosai pergi bersama Shikahina. Sedangkan pasangan Sasunaru bersama Gaarasaku. Naruto merengek kepada kekasih ayamnya untuk membiarkan dia ikut dengan Sakura dan Gaara ke tempat lain, yakni taman bermain mini yang sering didatangi pasangan muda di saat jari menjelang gelap. Tentu saja Sasuke mengizinkan asalkan dirinya juga ikut serta.


Kini mereka sudah berada di taman bermain yang dimaksud. Taman yang dipenuhi banyak bunga dan ada arena bermain untuk anak - anak bermain. Meski taman itu tidak luas tapi sesuai untuk dijadikan tempat kencan, bermain dan piknik.


"Wah..indah sekali! Lihat itu, Sasuke - kun! Bunganya banyak banget! Berwarna warni. Warnanya juga cerah!" seru Naruto. Ia terlihat bahagia saat tiba di taman itu. Sasuke tersenyum melihat kekasihnya bahagia. Kebahagiaan Naruto adalah kebahagiaan Sasuke sejak dirinya menyatakan perasaan cinta pada gadis pirang itu.


Sakura juga tersenyum. Ia melirik ke arah pemuda berambut marun yang sedang memotret taman bunga.


"Apa yang sedang kau lihat, Sakura?" tanya Gaara. Sakura langsung terkejut dan wajahnya merona.


Cekrek. Gaara iseng mengambil foto Sakura yang sedang terkejut. Ia tersenyum jahil di balik wajah datarnya yang hampir mirip dengan guru muda mereka.


"A..apa yang sedang kau lakukan, Gaara? Jangan mengambil fotoku pas aku lagi kaget kayak tadi dong! Malu tahu?!" seru Sakura. Ia memukul - mukul lengan Gaara.


"Maaf maaf," ucap Gaara sebari tersenyum. Tangannya membelai surai merah muda milik Sakura. Wajah Sakura pun merona karena malu.


Naruto menangkap hal yang mencurigakan. Ia tersenyum sendiri ketika mendapati kedua sahabatnya yang sedang asyik berfoto ria. "Syukurlah. Sakura sudah dapat pengganti si teme ayam," gumam Naruto.


Sasuke berjalan mendekati kekasihnya lalu memeluk pinggangnya(chapter ini kebanyakan memeluk.maaf😭).


"Kau kelihatan senang sekali, sayang. Ada apa? Hn?" tanya Sasuke. Ia juga turut senang.


"Lihat Sakura dan Gaara!" Naruto menunjuk pasangan Gaarasaku yang berada agak jauh dari mereka dengan telunjuknya. "Mereka sudah jadian, teme. Aku senang sekali. Gaara itu sangat menyukai Sakura begitu pula sebaliknya. Tapi mereka gak berani ngungkapinnya. Greget banget lho!" tambah Naruto.


"Hn. Jangan ikut campur urusan orang lain, dobe. Biarkan saja mereka," gumam Sasuke. Cuek dan datar.


Naruto mendelik. Ia memandangi kekasihnya dengan memicing. "Pih. Padahal karena Gaara kau bisa menyatakan cinta padaku dan kita jadi sepasang kekasih. Bukannya Gaara murid kepercayaanmu, hn?"


Sasuke tidak peduli dengan ucapan kekasihnya. "Ya..ya..ya.." Sasuke mencium leher Naruto. "Yang penting kamu senang, dobe. I love you."


"I love you too, Sasuke - kun."


Kencan Naruto dan Sasuke pun diakhiri dengan ciuman lembut dari bibir masing - masing. Begitu pula dengan pasangan Gaara dan Sakura. Mereka tak kalah romantis dari pasangan sasunaru.


Mengejar cinta tidaklah salah, namun terkadang ada saatnya berhenti jika orang yang dicinta sudah memiliki tambatan hati. Percayalah. Tuhan pasti menciptakan seseorang yang lebih baik dan lebih mencintai orang yang rela melepaskan cintanya demi orang yang ia cintai. Tertuju pada seseorang yang pernah merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan.


The end

__ADS_1


Tbc


__ADS_2