Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 5


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Pair sasufemnaru


Genre murid, guru, cinta


Cerita gaje dan abal - abal, banyak typo dan karakter pada ooc


Happy reading


Selama seminggu ini Naruto selalu disibukkan oleh kegiatan barunya sebagai seorang asisten guru bahasa Inggrisnya, Uchiha Sasuke yang dengan seenak jidatnya memerintah Naruto. Bahkan saat Naruto menjadi asisten TIK saja ia hanya 2 kali dalam seminggu bertugas di lab komputer. Guru kepala ayamnya ini minta dihajar. Kalau bukan guru, Naruto sudah pasti akan memaki dan memukuli gurunya.


Naruto jadi tidak bisa melakukan kegiatan ritualnya sebagai seorang otaku yang biasanya membaca manga dan menonton anime kesukaannya. Berangkat sekolah pagi, pulang sore. Sesampainya di rumah ia langsung mandi, makan malam dan mengerjakan tugas sekolah lalu tidur. Tidak ada waktu untuk membaca manga yang baru ia beli dan video yang ia pinta dari Gaara.


Bukan rasa letih lagi yang ia rasakan namun perasaan aneh yang selalu ia rasakan saat dekat dengan guru muda itu. Apalagi sikap sang guru yang kelewat aneh baginya. Sasuke yang biasanya selalu bersikap dingin dan jarang bicara tapi kalau padanya, ia selalu banyak bicara. Sampai - sampai Naruto harus menulikan telinganya. Serta perhatian yang ia berikan pada Naruto. Naruto hanya bersikap positif. Ia berfikir itu adalah perhatian yang selama ini Sasuke berikan hanya bentuk rasa peduli dari seorang guru pada muridnya, tak lebih dari itu.


Ibunya Naruto juga setuju saat tahu Naruto jadi asisten guru bahasa Inggris. Kushina malah senang. Ia bersyukur tidak perlu membayar lebih untuk mengkursuskan putrinya belajar bahasa Inggris. Lumayan kalau selalu membantu sang guru bisa membuat Naruto lebih pintar.


Jadi karena hari ini adalah Minggu. Sang pemeran utama yang bersurai pirang panjang selutut akan menikmati dan menghabiskan waktu seharian untuk melakukan kegiatan ritualnya yang tertunda selama seminggu ini.


"Ah. Mandi dulu saja. Sudah mandi aku akan bertapa di kamar seharian ini. Hehe. I'm coming my comic. I'm coming my boyfriends!" seru Naruto sebari memeluk guling yang bergambar tokoh anime kesukaannya. Lalu ia berjalan ke luar kamar dan masuk ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian. Naruto sudah selesai membersihkan badannya dan juga rambut panjangnya. Ia segera berjalan ke dalam kamarnya.


Naruto hanya memakai t - shirt berwarna putih bergambarkan tokoh anime touken ranbu kesukaannya Kashuu Kyomitsu serta celana pendek yang berwarna biru tua. Sangat sederhana dan tomboy.


"Naruto." panggil sang ibu a.k.a Kushina dari balik pintu kamarnya.


"Ya, kaasan. Ada apa?" tanya Naruto yang masih mengeringkan rambutnya yang basah. Ia segera membuka pintu kamarnya.


"Tolong ke mini market sebentar. Kaasan sudah menulis apa yang mau dibeli di daftar ini." pinta Kushina pada Naruto sebari menyerahkan selembar kertas berisi barang yang harus Naruto beli.


"Ok." Naruto menerima daftar itu.


"Ganti dulu celanamu. Jangan pakai celana pendek kalau ke luar rumah!" perintah Kushina.


"Iya, kaasan." jawab Naruto masuk ke kamarnya untuk mengganti celana pendeknya dengan celana panjang training.


"Rambutmu urai saja. Akan lama kalau dibikin dango terlebih dahulu!" seru Kushina dari luar kamar lalu melangkah ke dapur.


"Baik, kaasan." jawab Naruto patuh.


Setelah mengganti celananya, Naruto segera turun. Ia meminta uangnya terlebih dahulu. Tadi ibunya hanya memberinya daftar belanja saja.


"Kaasan, aku beli cemilan dan ramen juga ya. Boleh kan?" pinta Naruto.


"Ya boleh. Jangan banyak - banyak." jawab Kushina sedang beres - beres.


"Arigatou, kaasan. Aku pergi dulu ya." ucap Naruto senang.


"Hati - hati." balas Kushina.


Naruto pun ke luar dari rumahnya menuju mini market terdekat yang berjarak 300m dari rumahnya. Ia hanya memakai sandal teplek dan rambutnya masih basah karena tadi baru dikeringkan sebentar. Jadi ia biarkan surai pirangnya yang panjang tersibak angin tiap ia melangkah.


Tak lama Naruto sampai di mini market terdekat. Ia segera mengambil dan memasukkan benda - benda yang tertulis di daftar belanja ke dalam keranjang. Ia juga membeli cemilan dan ramen. Serasa semua benda yang dibutuhkan telah dimasukkan ke dalam keranjang, Naruto segera menghampiri kasir untuk membayar lalu pulang. Setelah membayar semua barang belanjanya, Naruto segera melangkah ke luar dari mini market. Ia berjalan dengan santai dan pikiran tenang.


Naruto sudah tidak sabar untuk cepat sampai di kamarnya dan membaca manga barunya. Namun bunyi klakson yang terdengar dari arah belakangnya mengganggu acara mengkhayalnya. Ia segera menengok ke belakang, lalu..


'Duh. Mimpi apa aku semalam? Semoga semua rencanaku untuk bertapa di kamar tidak gagal. ' batin Naruto.


Ternyata orang yang membunyikan klakson motor di belakangnya adalah orang yang telah mengganggu ketenangan hidupnya selama seminggu ini. Siapa lagi kalau bukan..??


"Ka..kau?!" seru pemuda tampan itu yang sedang mendorong motornya karena kehabisan bensin yang tak lain adalah Uchiha Sasuke.


"Wah ternyata Mr. Sedang apa Mr di sini? Motor itu kenapa didorong? Habis bensin ya?" ejek Naruto.


"Hn. Pom bensin dekat sini di mana? Apa masih jauh?" tanya Sasuke ia agak malu karena Naruto melihatnya sedang mendorong motornya yang kehabisan bensin.


'Sial. Kenapa di saat aku sedang kacau begini malah ketemu gadis itu? Apalagi sekarang dia sedang lagi cantik. Meski gaya pakaiannya hanya t-shirt dan celana training tapi rambut pirangnya yang diurai benar - benar menawan.' batin Sasuke yang merasa sial hari itu tapi juga beruntung.


"Lumayan jauh juga, Mr. Sekitar 1 km dari sini." jawab Naruto. Keduanya berjalan bersebelahan.


'Kasihan juga nih guru. Motornya kehabisan bensin. Jauh lagi pom bensinnya.' batin Naruto. Ia tidak tega melihat guru tampannya yang biasanya berpenampilan rapih tapi sekarang sangat kacau. Wajahnya penuh keringat dan terlihat lelah.


"Ini untuk Mr. Sepertinya Mr haus." ucap Naruto sebari memberikan air minum isotonik. Tadi Naruto beli 3 untuk stok pulang sekolah sehabis kerja rodi karena ulah guru ayamnya itu.


"Thanks." balas Sasuke. Ia menerima minuman yang Naruto berikan dengan senang hati.


Glukh glukh. Rasa haus Sasuke hilang dalam sekejap. Gadis yang ia taksir begitu perhatian padanya. Jangan - jangan Naruto juga ada rasa padanya. Pikir Sasuke. Dia kan tampan, pintar, keren, tinggi, badannya bagus dan juga seorang guru. Kurang apa coba.


Naruto melanjutkan perjalanan menuju ke kediamannya yang diikuti oleh sang guru tampan berambut ekor ayam yang masih mendorong motor kesayangannya yang lumayan berat.


Naruto pun tiba di depan gerbang rumahnya. Kushina berjalan ke luar rumah untuk membuang sampah ke tempat sampah yang letaknya di luar gerbang rumah.


"Aku pulang, kaasan." ujar Naruto.


"Selamat datang." balas Kushina. Ia tak sengaja menoleh ke belakang Naruto yang sedang berdiri sosok lelaki muda yang selalu mengantarkan putri semata wayangnya pulang selama seminggu ini.


"Wah, ada Uchiha - san." sapa Kushina dengan tersenyum ramah.


"Selamat siang, Nyonya Namikaze." balas Sasuke sopan.


"Masih pagi." umpat Naruto memandang Sasuke dengan tatapan tajam dan agak sinis.


"Selamat siang juga, Uchiha - san." balas Kushina dengan senyum ramahnya.


Kushina memerhatikan penampilan Sasuke yang lusuh dan agak kacau. Ia juga terlihat sedang mendorong motornya.


"Nah, Uchiha - san. Bagaimana kalau kau masuk dulu? Kebetulan saya sedang masak. Sebentar lagi kan makan siang. Jadi kau bisa ikut makan siang bersama kami." ajak Kushina yang segera direspon negatif oleh sang anak.


'Please, kaasan. Jangan suruh dia masuk. Apa belum cukup 7 hari ini aku selalu bertemu dengan guru ayam teme itu.' batin Naruto kesal.


"Maaf, Nyonya Namikaze. Saya tidak bisa menerima.." tolak Sasuke dengan sangat sopan namun ibunya Naruto tetap memaksa.


"Anggap saja sebagai imbalan karena Uchiha - san sudah menjadikan Naruto sebagai asisten anda." bujuk Kushina kukuh.


'Aduh, kaasan. Kenapa maksa dia terus sih? Lagipula kenapa guru ayam itu yang diberi imbalan? Harusnya aku yang udah kerja rodi sama dia. ' batin Naruto. Ia sudah kesal.


Akhirnya Sasuke menerima tawaran Kushina untuk makan siang. Lagipula ia juga sudah sangat lapar. Ia kehabisan bensin saat ke luar dari rumah teman kuliahnya, Nara Shikadai yang kebetulan rumahnya searah dengan rumah Naruto.


"Baiklah, nyonya." jawab Sasuke. Sebenarnya ia sangat bersyukur. Itung - itung pedekate sama calon ibu mertua yang sepertinya tidak sulit untuk meminta restu jikalau nanti ia akan menjadikan putrinya sebagai pacarnya.


'Hari liburku akan terbuang. Nasib - nasib.' batin Naruto tambah nelangsa. Mukanya ditekuk.


Setelah Sasuke memasukkan motornya ke dalam gerbang kediaman Namikaze, ia segera masuk ke dalam rumah yang dipandu oleh sang gadis pujaan. Kushina sudah masuk lebih dulu.


"Silakan masuk, Mr." ucap Naruto sesopan mungkin meski ia masih kesal karena guru ayam itu selalu menempel pada dirinya. Dia selalu ada di setiap Naruto berada. Jangan - jangan gurunya itu adalah seorang penguntit. Tapi tidak mungkin. Gurunya kan bukan pengangguran yang kurang kerjaan. Ia membuang jauh - jauh pikiran absurdnya itu.


"Permisi." ujar Sasuke saat memasuki kediaman Namikaze yang sederhana dan nyaman.


"Mari, Mr. Saya akan antar Mr ke ruang tamu." ajak Naruto. Ia berbicara seformal mungkin dengan nada yang sangat datar.

__ADS_1


'Seperti biasa. Dia memang siswi yang sopan dan terpengaruh dengan pesona yang ku miliki. ' batin Sasuke. Ia merasa heran karena siswi didiknya ini sama sekali tidak tertarik padanya. Gadis ini masih normal kan. Pikiran Sasuke sudah mulai eror.


Sasuke terus berjalan mengekori Naruto yang berjalan di depannya. Sasuke tak berhenti memandang surai pirang panjang milik siswi didiknya itu. Sungguh indah. Ia ingin membelai surai pirang itu meski sedetik.


"Silakan duduk, Mr." ucap Naruto mempersilakan gurunya untuk duduk di kursi yang cukup empuk dan nyaman untuk gurunya beristirahat.


"Hn. Thanks." balas Sasuke. Ia langsung mendudukkan dirinya di kursi panjang nan empuk itu.


Naruto melangkah meninggalkan Sasuke. "Saya akan mengambilkan minum untuk Mr." ujar Naruto. Ekspresinya sangat datar dan juga dingin. Sasuke sangat tidak menyukainya.


Beberapa saat kemudian, Naruto datang sambil membawakan minuman dan cemilan untuk sang guru.


"Silakan dinikmati, Mr." ucap Naruto sebari meletakkan segelas air minum dan sepiring cemilan di atas meja di depan Sasuke.


"Hn." balas Sasuke. Ia segera meminum minuman yang Naruto bawa juga memakan cemilannya juga.


Naruto duduk berhadapan dengan sang guru. Ia merasa bingung. Apa ia harus menemani sang guru atau masuk ke dalam kamarnya? Ia sangat ingin menghabiskan waktu liburnya untuk sekedar membaca manga atau menonton anime kesukaannya.


"Tadaima!" seru Minato, sang ayah dari gadis pirang yang warna rambutnya sama pirang dengannya.


"Ah, tousan. Okaeri." sambut Naruto.


"Ada tamu ya?" tanya Minato yang baru saja pulang dari acara pertemuan para bapak - bapak.


"Selamat siang, Tuan Namikaze." sapa Sasuke memberi hormat pada calon ayah mertuanya.


"Selamat siang. Rupanya ada Uchiha - san. Silakan duduk. Santai saja." balas Minato dengan ramah namun dalam hati ia agak kesal. Kenapa dia bisa ada di rumahnya? Mana mungkin sang putri tercinta membiarkan orang itu masuk. Pasti ulah sang istri.


Minato langsung duduk di hadapan Sasuke dengan menatap tajam padanya. Tiba - tiba aura di sekitar keduanya terasa mencekam. Naruto melirik ke arah sang ayah dan juga gurunya. Ia bisa merasakan bahwa ayahnya seperti akan menelan gurunya hidup - hidup.


"Naruto! Tolong ke dapur! Bantu kaasan!" seru Kushina dari arah dapur. Naruto pun segera menemui ibunya.


"Tousan, Mr. Saya ke dapur dulu ya." ujar Naruto pamit.


Selanjutnya yang terjadi hanya umpatan dalam hati dari kedua lelaki berbeda surai, umur dan status.


'Untuk apa lelaki rambut aneh itu ke sini? Apa dia mau mengajak putriku kencan? Apa dia tidak malu? Seorang guru ingin berkencan dengan anak didiknya. Pedofil.' umpat Minato dalam hati. Pandangan Minato sungguh tajam dan mengintimidasi orang di hadapannya. Jika bukan Uchiha, orang itu sudah pingsan saat diintimidasi olehnya.


'Jadi begini rasanya menghadapi calon mertua. Tegang juga. Tapi aku tidak akan menyerah. Uchiha selalu bisa menghadapi segala rintangan yang menghadang. Lihat saja. Aku pasti bisa!' batin Sasuke. Ia mulai merasa tenang meski tadi ia sempat gugup dan tegang berada di hadapan sang calon mertua.


Minato akhirnya memulai percakapan. Tidak sopan jika mendiamkan seorang tamu yang datang berkunjung. Apalagi tamu itu adalah wali kelas putrinya yang tugasnya mengawasi kegiatan putrinya saat di sekolah.


"Hm. Uchiha - san, ada maksud apa anda kemari? Apa putri saya berbuat tidak baik?" tanya Minato memulai pembicaraan. Ia bertanya seramah mungkin.


"Putri tuan tidak berbuat seperti itu. Ia sangat baik di sekolah. Tadi juga ia menolong saya saat saya sedang mendorong motor saya yang kehabisan bensin." jelas Sasuke setenang mungkin.


"Jadi..anda kehabisan bensin?" beo Minato. Ia heran.


"Ya. Tadi saya tidak sengaja bertemu dengan Naruto di jalan. Lalu Nyonya Namikaze meminta saya untuk mampir." tambah Sasuke sejelas - jelasnya.


"Oh seperti itu." gumam Minato. Entah ia merasa lega setelah mendengar penjelasan dari guru muda yang duduk di hadapannya. Ternyata bukan untuk mengajak putrinya kencan. Tapi cara guru itu memandang Naruto sangat berbeda. Seperti ada sesuatu, ya ada rasa lebih pada Narutonya. Jangan - jangan sang guru suka pada Naruto. Kenapa harus putrinya? Putrinya memang cantik dan juga pintar. Ayahnya kan pintar. Minato selalu bangga pada putrinya yang selalu berprestasi sejak SD. Jadi tidak heran jika sang guru muda itu menyukai putrinya yang cantik dan menawan.


Beberapa saat kemudian. Naruto datang. "Tousan, kata kaasan kita akan makan siang. Mr. Sasuke juga ikut." ujar Naruto. Ia pergi lagi ke dapur.


"Uchiha - san, mari. Kita makan siang bersama." ajak Minato dengan ramah.


"Ta..tapi..Tuan Namikaze.." tolak Sasuke. Ia tidak enak makan siang di kediaman Namikaze.


"Kau tidak boleh menolak. Masakan istriku sangat enak apalagi Naruto juga membantunya. Ayo." bujuk Minato.


"Ba..baik.." jawab Sasuke. 'Gadis dango itu masak? Aku jadi penasaran dengan rasa masakan buatannya. Ramen yang ia buat saja enak. Pasti masakannya juga enak.' batin Sasuke. Ia merasa bahagia luar biasa. Bagaimana tidak bahagia? Meski mengalami kejadian yang cukup memalukan karena harus mendorong motor akibat kehabisan bensin ia jadi bertemu dengan gadis pujaannya. Lalu mampir ke rumahnya, bertemu calon mertua. Menghadapi calon ayah mertua membuat Sasuke sedikit tegang. Tapi ia bisa menghadapinya setenang mungkin. Dan sekarang ia akan makan siang bersama Naruto dan juga kedua orang tuanya. Sungguh musibah pembawa anugerah bagi Sasuke.


Di sinilah Sasuke terdampar di ruang makan kediaman Namikaze. Tidak seluas milik Uchiha tapi Sasuke bisa merasakan kehangatan dari keluarga Namikaze. Keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Hanya tiga orang. Ia jadi memimpikan memiliki keluarga kecil yang bahagia meski dalam hidup yang serba sederhana dengan seorang gadis pujaannya, Namikaze Naruto. Gadis yang kini sedang duduk di sampingnya sedang menuangkan nasi ke dalam piring miliknya.


"Silakan, Mr." ucap Naruto layaknya seorang istri bagi Sasuke.


"Hn. Thanks." balas Sasuke menerima sepiring nasi yang Naruto sediakan untuknya.


'Wah..Naruto serasi sekali sama Uchiha - san.' batin Kushina, senang dan bangga.


'Putriku sudah dewasa. Aku masih belum siap kalau ia harus menikah secepatnya. Huhu.' batin Minato yang sangat menyayangi putri satu - satunya itu.


Acara makan pun berlangsung dengan tenang. Naruto yang biasanya berisik sekarang hanya duduk tenang menikmati makanannya. Ia merasa bosan tapi sang ibu selalu meliriknya supaya tidak berisik.


"Terima kasih makanannya." ucap semua orang yang baru saja selesai makan.


Minato langsung berdiri dan mengajak Sasuke untuk meninggalkan ruang makan. Naruto membantu ibunya membereskan meja makan.


Kini Minato dan Sasuke ada di teras belakang rumah yang dipenuhi beberapa macam tanaman di kebun belakangnya. Ada pohon tomat, cabe, daun bawang dan lain - lain.


Udara terasa sejuk dan nyaman. Ingin rasanya Sasuke untuk tidur meski hanya sesaat. Tapi keadaan tidak memungkinkan. Sudah makan tidak boleh tidur dan juga ia sedang bertamu di rumah orang tua muridnya.


"Uchiha - san, bagaimana putriku ketika sedang di sekolah?" tanya Minato. Ia duduk agak jauh di sebelah kanan Sasuke.


"Putri anda sangat baik dan juga pintar. Ia murid yang berbakat." jelas Sasuke.


"Dia tidak punya pacar kan?" tanya Minato sedikit mencurigai anaknya.


'Setahuku dia tidak punya. Tiap pulang sekolah dia kan selalu denganku.' jawab Sasuke dalam hatinya.


"Naruto tidak berpacaran dengan siapa - siapa, Tuan Namikaze." jawab Sasuke dengan tenang.


Minato menghela nafas panjang. "Syukurlah. Naruto masih kecil. Aku belum siap melepasnya untuk lelaki seumuran dengannya. Naruto juga masih sangat polos. Ia jarang bersosialisasi seperti anak perempuan seumurannya. Aku sebagai ayahnya terkadang merasa takut dan tidak bisa menjaganya. Padahal ia putri kami satu - satunya yang sangat berharga." jelas Minato. Ia bercerita panjang lebar pada seorang pemuda yang baru ia kenal tapi entah kenapa Minato merasa kalau Sasuke adalah orang yang baik.


"Saya akan menjaga putri anda saat di sekolah, Tuan Namikaze." tambah Sasuke.


"Hm. Dia kan memang muridmu, Uchiha - san." sambung Minato. Ia mencium bau - bau sesuatu. Bau cinta.


"Ya. Dia salah satu dari murid saya." gumam Sasuke. Ia merasa agak sedih saat harus menjawab bahwa Naruto adalah muridnya. Pada kenyataannya Naruto memanglah muridnya. Rasanya masih terlalu dini untuk meminta restu pada orang tua Naruto tapi Sasuke akan terus berusaha.


"Tousan. Lagi ngomongin aku ya..." gumam Naruto dengan manjanya pada sang ayah. Ia duduk di samping Minato dan Sasuke. Jadi ia ada di tengah - tengah mereka.


"Kalau iya kenapa, sayang? Tousanmu hanya meminta Uchiha - san untuk menjagamu ketika berada di sekolah. Itu saja." jawab Minato sebari mengusap surai pirang Naruto yang dikepang satu.


"Eh? Kayak minta tolong ke pacar saja. Memangnya Mr. Sasuke pacarku?" tambah Naruto dengan polosnya. Ia tidak mengetahui ekspresi sang guru yang duduk di sebelahnya.


"Kau tidak boleh pacaran sama anak laki - laki seumuranmu." ujar Minato.


"Kalau seumuran dengan Mr. Sasuke mah boleh kali? Hehehe." tambah Naruto tersenyum lebar.


Sasuke mendadak mukanya merona karena malu dan juga rambut panjang Naruto yang semenjak ia duduk selalu mengenai lengan Sasuke.


"Sekalian saja sama Uchiha - san." sambung Kushina yang tiba - tiba berbicara sebari membawa sekeranjang buah jeruk.


Muka Sasuke dan Naruto seketika merona karena malu.


"Ka..san." gumam Naruto. Ia juga malu dan juga sedikit kesal. Kenapa harus dengan guru ayam itu? Kan maksud Naruto hanya umurnya saja yang sama bukan orangnya. Mana sudi Naruto pacaran sama guru triplek dan sadis itu. Setiap pulang sekolah dipaksa mengerjakan tugasnya sebagai asisten. Setiap hari lagi. Harusnya kan seminggu dua kali. Naruto tidak bisa membayangkan kalau Sasuke jadi pacarnya. Pasti sangat membosankan dan menjengkelkan.


"Aku maunya sama Ryuji Sato." ujar Naruto dengan mata berlove - love.


Kushina sweatdrop. Minato tersenyum maklum. Kalau Sasuke, ia ingin sekali menghajar orang yang gadis pujaannya maksud. Padahal orang itu seorang aktor jadi mustahil bagi Naruto untuk menjadi pacar aktor muda itu.


"Nah..kaasan bawa jeruk. Ayo dimakan. Supaya segar setelah makan." ucap Kushina tersenyum ramah. "Naruto, berikan jeruknya pada Uchiha - san. Jangan diambil semua." ujar Kushina pada Naruto yang mengambil semua buah jeruk. Niatnya menjahili sang guru muda itu.


"Iya kaasan. Ini. Kupas sendiri." gumam Naruto pada Sasuke. Ia memberikan beberapa buah jeruk pada gurunya dengan nada sinis.

__ADS_1


"Hn." balas Sasuke dingin. Ia segera mengupas buah jeruk itu lalu memakannya. Seketika ekspresi Sasuke berubah. Jeruk yang ia makan rasanya asam. Naruto malah tertawa yang sontak dihadiahi jitakan dari sang ibu. Naruto meringis manja. Minato tertawa melihat sikap Naruto yang masih seperti anak SD.


Beberapa saat kemudian. Sasuke melihat layar ponselnya. Ia sudah terlalu lama berada di kediaman Namikaze. Saatnya ia pulang meski ia masih betah.


"Tuan Namikaze, saya harus pulang. Motor saya juga belum diisi bensin jadi.." ucap Sasuke namun Minato dengan tidak sopannya memotong pembicaraannya yang belum tuntas.


"Uchiha - san bisa menggunakan motorku dulu untuk membeli bensin. Pom bensin masih jauh dari sini. Sekitar 1 km." ujar Minato. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci motor.


"Ini kuncinya, Uchiha - san." ujar Minato sebari menyerahkan kunci motor kepada guru muda bersurai raven itu.


"Terima kasih, Tuan Namikaze." balas Sasuke. Ia tidak enak hati karena merepotkan keluarga Namikaze.


"Jangan panggil dengan tuan Namikaze. Kau adalah guru putriku. Kau bisa memanggilku dengan paman Minato saja." ujar Minato. Ia menjadi baik dan ramah pada Sasuke.


"Baik, paman." sahut Sasuke. Ia merasakan kehangatan seorang ayah saat Minato tersenyum dan berbicara padanya.


'Tousan berubah. Padahal seminggu yang lalu tousan jutek dan dingin sama guru ayam ini.' batin Naruto tak terima ayahnya bersikap baik pada sang guru. Ia takut kalau sang ayah akan meminta gurunya untuk selalu menjadi asistennya. Sambil menyelam minum air. Itu yang selalu ayah Naruto katakan. Naruto bisa belajar sambil membantu gurunya.


"Naruto, tolong ambilkan botol air mineral di gudang!" perintah sang ayah dengan nada biasa.


"Untuk apa, tousan?" beo Naruto.


"Untuk tempat isi bensin." jawab Minato singkat.


"Eh?" otak Naruto masih memproses. Dari 10 %, 25 %, 50 %, 75 % dan 100 %. Komplit.


"Oooh. Aku tahu. Jadi Mr. Sasuke beli bensin di botol untuk mengisi bensin motornya." gumam Naruto.


Sasuke sweatdrop. Ia merasa gagal menjadi seorang guru. Muridnya masih belum pintar juga.


"Cepat, Naruto.." ujar Minato gemas pada tingkah sang anak.


"Okay, my handsome father." jawab Naruto dengan senyuman khasnya. Ia segera berjalan ke gudang untuk mengambil benda yang dimaksud sang ayah. Tak lama Naruto datang sambil membawa botol air mineral berukuran besar yang bisa menampung 1,5 liter air atau bensin.


"Ini, Mr." ucap Naruto menyerahkan botol yang ia bawa pada sang guru.


"Kau juga ikut, Naruto!" perintah Minato. Ia terkadang kesal dengan sifat loading lama putrinya itu. Ia dan istrinya tidak lemot seperti Naruto. Apa Kushina salah makan saat hamil putrinya atau saat ngidam ia tidak mengabulkan keinginan istrinya? Rasanya itu tidak masuk akal. Minato menepak jidatnya.


"Eh? Kenapa? Aku mau baca mangaku, tousan. Husband - husband tampanku sudah lama tidak ku sentuh." tolak Naruto dengan jawabannya yang aneh dan sedikit vulgar.


'Husband? Bukan suami sungguhan kan?' tanya Sasuke pada dirinya sendiri. Masa iya Naruto punya suami. Mustahil. Pacar saja Naruto kan tidak punya.


"Sore nanti juga kau bisa membacanya. Kalau kau tidak mau nurut, kaasan akan membakar semua koleksi mangamu dan katakan sayonara pada sarung gulingmu yang bergambar tokoh anime tampan itu." ancam Kushina yang kesal pada tingkah anaknya.


"Ba..baik, kaasan. Jangan dibakar ya. Naru sangat sayang sama mereka. Naru tak bisa hidup tanpa mereka. My handsome husband, Kashuu Kyomitsu." jawab Naruto pasrah dan dengan ekspresi memohon.


"Makanya, cepat berangkat. Bantu Uchiha - san!" seru Kushina. Jangan lupa ekspresi galaknya yang seketika membuat Minato diam tak berdaya. Sasuke hanya berdiri layaknya patung lilin saat melihat ibunya Naruto marah.


"Iya..kaasan. Ayo, Mr. Demi semua koleksi mangaku tersayang. I will do everything." gumam Naruto sebari menarik sebelah tangan milik sang guru. Sasuke terkejut saat Naruto menarik tangannya. Jantungnya berdetak lebih kencang. Gadis yang menarik tangannya tidak menyadari perasaan si empunya.


Naruto membawa Sasuke ke luar rumah.


"Cepat berangkat, Mr. Aku tidak mau hari liburku terlewat tanpa membaca manga satu lembar pun. Ayo.." rengek Naruto pada sang guru.


Sasuke malah diam. Ia tidak menyangka bahwa siswi yang ia sukai bersikap manja dan merengek padanya apalagi sampai menarik tangannya. Mimpi apa ia semalam. Ia juga takut pingsan dan meninggal akibat serangan jantung karena seorang gadis SMA yang dengan polosnya membuat dadanya berdebar - debar.


"Mr. Mr.. Mr. Mr. Sasuke...!!" teriak Naruto. Kesabarannya hilang karena melihat sang guru dengan rambut ekor ayam itu terlihat sedang melamun dan bengong. Ia menepak bahu sang guru.


"Berisik, dobe." gumam Sasuke yang akhirnya tersadar dari lamunannya. Sebenarnya ia masih sedikit gugup dan juga merona tapi ia sembunyikan dengan ekspresi datarnya.


"Jangan melamun terus. Cepat berangkat! Lama ih!" seru Naruto. Ia kesal, jenuh dan bosan pada sikap sang guru.


"Iya. Ayo pergi." ujar Sasuke. Ia berbicara selembut dan setenang mungkin.


Naruto pun duduk di belakang Sasuke. Ia juga tak lupa memeluk pinggang Sasuke. Sepertinya hari ini Sasuke sedang mendapatkan nasib baik. Tapi tidak demikian bagi gadis bersurai pirang berkepang itu. Hari liburnya telah dirusak oleh guru kepala ayam menyebalkan itu. Sungguh sial. Pikirannya melayang terhadap manga - manga barunya yang belum sempat ia baca dan beberapa video anime dan live action yang belum ia tonton.


Naruto memeluk erat punggung Sasuke. Ia marah, kesal dan jengkel. Pikirannya kacau. Semua salah guru Uchiha itu. Ia terus berteriak dalam hati.


Sementara itu, sosok pria yang ia peluk sedang dilanda bencana alam. Sasuke tidak tahu apa yang ia rasakan hari Minggu ini. Bisa bertemu Naruto, mampir ke rumahnya, makan siang bersama orang tuanya dan sekarang sang gadis tanpa malu dan rasa enggan malah memeluknya begitu erat. Sasuke rela jika tiap hari Minggu ia mendapat kesialan yang berujung pada keberuntungan.


'Terima kasih, Tuhan. Aku sudah diberikan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang tak terkira seperti ini. Yang sering saja ya.' batin Sasuke. Ia ingin tersenyum lebar tapi naluri ke-uchihaannya melarangnya untuk bertingkah di hiperbola dan berlebihan ala remaja SMA zaman sekarang yang sedang dilanda cinta.


Skip time


Sasuke pov


Malam ini baka niisan berkunjung ke rumah tempat tinggalku. Entah ada angin apa yang membuatnya kemari. Mungkin angin ****** beliung.


Ia sedang duduk di atas tempat tidurku dengan seenak keriputnya itu. Padahal aku ingin segera tidur. Dia sama sekali tak tahu situasi. Membuatku kesal saja. Aku jadi ingin menghajar kakak sialan itu. Untung saja malam ini perasaanku sedang senang. Jadi aku maafkan baka niisan kali ini.


Aku masih ingat kejadian siang tadi. Bagaimana aku bisa lupa? Itu adalah kejadian yang sangat langka dan membahagiakan seumur hidupku. Kehidupan remajaku kuhabiskan hanya untuk belajar dan meraih gelar sarjana. Makanya aku sekarang baru mengalami kejadian aneh itu. Orang bilang itu adalah cinta, kasmaran dan sebagainya. Yang jelas perasaan yang bernama cinta itu membuatku selauy tersenyum sendiri seperti orang kurang waras. Ya orang gila. Aku pasti gila. Gila karena cinta pada anak didikku sendiri.


Bukan salahku kalau aku jatuh hati padanya. Sikapnya yang polos, lucu, menggemaskan dan juga luar biasa. Ia tak memuja pesona yang ku miliki. Ia juga gadis sederhana yang tampil apa adanya. Ah, aku sungguh menyukai gadis itu. Rambut pirangnya yang selalu wangi membuat hidungku untuk selalu merasakan wanginya.


"Naruto." tanpa sadar aku menyebut namanya secara lisan yang membuat baka niisan terkejut dan kebingungan.


"Naruto? Topping ramen?" beo Itachi yang terlihat sangat bodoh bagiku.


"Hn." aku tidak menjawab pertanyaan bodohnya itu.


"Lalu apa, otouto? Kau jadi seperti orang yang kehilangan akal. Senyum senyum sendiri. Bicara sendiri. Kalau bukan gila apa namanya." gumam baka niisan yang membuat lamunannku buyar. Padahal sedang asyik.


"Bukan urusanmu, baka niisan." jawabku dengan nada dingin dan datar seperti biasa.


Itachi niisan terlihat sedang berpikir dengan pose ala detektif dan dia membuka mulutnya, "jangan - jangan itu nama gadis SMA yang kau bonceng tempo hari kan? Pasti dugaanku benar." ucap Itachi niisan yang memang benar tapi aku hanya bergumam tidak jelas.


"Aku anggap dugaanku itu benar. Oh iya. Kau kenapa? Cerita lah pada abangmu yang tampan ini dek." pinta Itachi niisan yang mendadak logat bicaranya seperti abang - abang penjaga warung depan rumah.


"Niisan ingin tahu sekali. Kalau aku tidak mau memberi tahu niisan, bagaimana?" tanyaku tanpa memedulikan ekspresi Itachi niisan yang menjijikan bak bocah TK minta dibelikan balon.


"Ayolah otoutoku yang tampannya se-Konoha. Niisanmu yang tampan ini penasaran sekali lho." rengek baka niisan.


Aku ingin muntah saat melihatnya. Lebih baik melihat Naruto - ku yang merengek. Dia kan imut dan manis. Wajahku merona dan memanas saat membayangkan ekspresi gadis pirang itu merengek. Aku jadi kangen padanya. Besok juga bisa bertemu. Aku pun tersenyum.


"Hentikan senyuman menjijikan itu, Sasuke. Kau kesabet jin apa sih? Aku jadi tambah heran dan penasaran nih. Cepat cerita! Kalau tidak, aku akan cari tahu sendiri!" paksa Itachi niisan. Dia maksa sekali. Akhirnya aku cerita secara panjang lebar sepanjang perjalanan dari Jepang ke Arab.


"Ooh..begitu. Aku mendukungmu, otouto. Semangat! Kejar gadis itu meski ia muridmu." ucap Itachi niisan yang keluar dari karakter Uchiha.


"Hn. Tanpa didukung olehmu pun aku akan tetap maju dan berusaha mendapatkan Naruto." ucapku dengan rasa percaya diri yang tinggi. Bagaimana aku tidak percaya diri? Aku ini tampan dan juga pintar. Banyak gadis yang mau jadi pacarku tapi gadis itu cuek saja. Aku jadi tambah menginginkan dia.


Itachi niisan tersenyum hangat padaku. Sepertinya ia merasa bahagia melihatku seperti ini. Patung es seperti ku yang tiba - tiba berubah karena cinta. Hal yang aneh kan?


Sasuke pov end


Sementara itu di tempat lain. Di kamar seorang gadis penggemar anime dan live action. Ia sedang sibuk menonton film live action kesukaannya. Ia sangat senang. Akhirnya ia bisa melakukan acara ritualnya sebagai seorang otaku setelah siang tadi guru tampannya mengganggu dirinya. Padahal Sasuke tidak salah. Dasar Naruto yang kelewat polos namun ia tidak seperti itu juga hanya saja ia terkadang lupa apa yang sudah ia lakukan. Dan juga Naruto


"Sial. Aku baru ingat kalau tadi siang aku bersikap aneh pada Mr. Sasuke. Kya...!!" seru Naruto. Wajahnya memerah karena malu. Ia heran pada dirinya sendiri yang bisa bersikap bodoh. Ia jadi teringat kejadian saat ia menarik tangan gurunya, memeluknya di motor dengan erat dan merengek manja padanya. Ia jadi tsundere.


"Mau taruh di mana mukaku besok? Aku kan jadi malu. Aku memang bodoh. Aaah..." Naruto mengutuk sifatnya yang bertindak tanpa berpikir.


"Doushiyo..? Bagaimana kalau aku suka sama guru pantat ayam itu? Aku tidak mau itu sampai terjadi. Aku tidak mau patah hati lagi." gumam Naruto.


Tanpa ia sadari ia memang sudah memiliki perasaan lebih pada Sasuke. Cinta datang tak dapat dihindari dan tak bisa memilih orang yang ingin disukai. Cinta itu membuat setiap orang yang merasakannya menjadi aneh dan juga bahagia. Apakah Naruto akan jujur terhadap perasaannya sendiri? Rasa takut dan trauma menyukai seseorang yang berakhir dengan perasaan bertepuk sebelah tangan membuat Naruto menampik dari perasaannya yang sesungguhnya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2