Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
Chapter 10


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjem tanpa izin


Ide cerita murni milik saya


Kalau ada yang sama mungkin hanya kebetulan semata


Genre : guru, murid, cinta


Pair : sasufemnaru and other


Karakter di ff ini beda dengan yang ada di versi anime, ooc juga


Banyak typo padahal sudah diedit


Tapi..


Happy reading..


Liburan musim panas akan segera tiba. Konoha High School mengadakan acara makan bersama meski acara makan bersama tersebut hanya dilakukan di masing - masing ruang kelas antara siswa dan wali kelas mereka.


Seorang pemuda yang menjadi wali kelas 11 ipa 2 tengah berjalan mondar mandir bak seorang suami menunggu istrinya yang sedang melahirkan. Sasuke ia berjalan mondar mandir di dalam ruang kelasnya. Ruangan kelas yang telah diubah menjadi ruang makan dan dapur dadakan. Para siswi sedang sibuk memasak sedangkan para siswa ikut membantu dan ada juga yang hanya diam saja.


"Mr. Tolong cicipi masakan buatanku.." pinta siswi berambut merah muda a.k.a Haruno Sakura.


"Mr, masakanku saja." pinta siswi lain membawa makanan juga.


"Mr, masakanku belum Mr cicipi." tawar siswi lain melakukan hal yang sama.


Tentu saja Sasuke menolak. Ia malah berjalan ke tempat kelompok Naruto, Ino dan Hinata. Namun Naruto belum datang. Ia mengambil bahan makanan yang tertinggal.


"Mr, kenapa bolak balik terus? Sebentar lagi juga masakannya matang." ujar Ino. Ia masih sibuk memasak.


"Hn." jawab Sasuke singkat tak berekspresi.


Beberapa lama kemudian. Naruto datang sambil membawa beberapa bahan makanan berupa sayuran dan buah - buahan yang ia petik dari kebun milik ibunya.


"Hosh..hosh..capek." ujar Naruto. Ia langsung menghampiri Ino dan Hinata juga Sasuke.


'Untuk apa teme sensei ada di situ? Kan masih ada kelompok lain.' batin Naruto heran.


Naruto segera memetik sayuran yang ia bawa dari rumah. Tangannya begitu telaten ketika memetik sayuran untuk dimasak. Sasuke hendak mengambil buah tomat yang berwarna merah matang dan terlihat sangat segar yang menggairahkan.


Plak. Tangan Sasuke ditepak oleh Naruto seraya berkata, "jangan pegang! Cuci tangan dulu, Mr!" seru Naruto dengan nada galak dan judesnya bak seorang istri yang memarahi suaminya.


"Pelit." gumam Sasuke terdengar seperti anak kecil. Ia malah tersenyum. Siswi yang lain memandang iri pada Naruto dan wali kelas mereka. Naruto dan Sasuke terlihat mesra seperti pasangan suami istri.


'Cih. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, dango blonde.' batin Sakura. Ia masih kesal pada penolakan sang guru muda atas pernyataan cintanya yang berulang kali ia nyatakan. Tapi tetap saja sang guru tercinta selalu menolak pernyataan cinta darinya.


Aktivitas memasak pun selesai. Masakan telah terhidang di tempat yang telah disediakan di setiap masing - masing kelompok. Naruto satu kelompok dengan Ino, Hinata, Shikamaru dan Sai. Mereka memasak makanan yang sangat sederhana sampai membuat sang wali kelas menaikkan alisnya.


'Itu makanan bisa dimakan tidak ya?' batin Sasuke ia meragukan masakan buatan Naruto.


"Masakanku bisa dimakan, Mr. Namanya cah kangkung ala Naruto." ujar Naruto. Ia mendelik tajam pada sang guru.


"Coba aku cicipi. Tidak beracun kan?" gumam Sasuke. Ia duduk di kursi yang hendak Shikamaru duduki. Shikamaru mengambil kursi yang lain. Jadilah mereka makan bersama.


Sasuke menyuruh Naruto untuk menuangkan nasi ke atas piringnya dan juga masakan buatannya. Ia memakannya dengan perlahan. Semua siswa yang berada di kelas menunggu respon dari juru masak dadakan. Dan hasilnya.


"Hn. Lumayan. Masih bisa dimakan." ujar sang wali kelas dengan wajah sedatar talenan yang Naruto pakai mengiris bawang dan cabai.


Naruto berkacak pinggang. Masa rasanya hanya lumayan? Tapi biarlah. Ia pun turut serta dalam acara makan bersama dengan teman satu kelompoknya. Ia duduk di samping sang wali kelas.


Mereka makan dengan tenang. Nasi di piring Sasuke sudah habis. Ia meminta Naruto untuk menuangkan nasi lagi dan juga sayur yang ia masak.


'Katanya cuma lumayan. Tapi kenapa tambah lagi? Suka apa lapar nih orang.' batin Naruto. Ia dengan mudahnya patuh pada perintah sang wali kelas.


Teman - teman Naruto yang melihatnya merasa sedang menyaksikan drama suami istri di meja makan dengan ditemani keempat anak mereka. Anggap saja Ino, Hinata, Shikamaru dan Sai adalah anak dari pasangan sasunaru.


'Kenapa mereka gak jadian saja sih? Udah cocok juga.' batin Ino. Ia memerhatikan sikap Naruto pada sang guru begitu pula sebaliknya.


'Sudah jelas jika kedua orang itu memiliki perasaan lebih. Kenapa mereka masih belum menyadarinya? Orang lain saja bisa mengetahuinya. Benar - benar merepotkan.' batin Shikamaru. Ia sudah selesai makan.


'Apa Naruto masih belum bisa move on dari Toneri?' batin Hinata.


"Mr. Sasuke dan Naruto - chan seperti pasangan suami istri. Kalian sangat cocok. Kenapa tidak jadian saja?" ucap Sai dengan polosnya tak lupa senyum palsu ia pancarkan dari wajah tampannya.


"A..apa yang ka..kau katakan, Sai? A..aku..dan Mr. Sasuke.." gumam Naruto yang mendadak gugup dan wajahnya merona sampai ke telinganya. Ia sangat salah tingkah saking malunya.


Sasuke tersenyum sedikit melihat ekspresi Naruto yang malu - malu. "Tenang saja. Aku dan Naruto akan menikah jika si dobe dango ini sudah lulus SMA." jawab Sasuke dengan lantang yang dapat terdengar oleh semua siswa siswi di ruangan kelasnya.


Naruto semakin malu dan juga gugup. Siapa yang tidak malu dan juga baper kalau yang mengatakan hal itu adalah orang yang ia sukai. Ia ingin menganggap guyonan dari wali kelasnya itu kenyataan tapi ia masih terlalu takut dan rendah diri untuk merasa pantas disukai oleh guru tampannya itu.


"Mr jangan becanda. Aku jadi malu. Semua teman - teman kan mendengarnya." ujar Naruto. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Kalau aku bicara serius, bagaimana?" tanya Sasuke. Posisi Sasuke masih anteng duduk di kursinya sedangkan Naruto, ia sudah berdiri dan ingin kabur dari tempat itu.


"Sudahlah. Lupakan apa yang baru saja ku katakan." ujar Sasuke dengan nada dingin. Ia meninggalkan kelompok Naruto, tapi makanan yang ada di piringnya sudah habis.


"Kalian bereskan semua bekas kegiatan ini. Aku akan segera kembali untuk memberikan pengumuman." ujar Sasuke. Ia pun berjalan meninggalkan ruang kelas.


Ruangan kelas mendadak ramai. Para siswi berbisik membicarakan Naruto. Naruto yang merasakan dirinya dibicarakan ia hanya diam dan tak membalas dan berpura - pura tidak mendengar apa yang siswi lain bicarakan.


Acara bersih - bersih pun selesai. Keadaan ruang kelas sudah rapih, bersih dan wangi. Wali kelas mereka juga telah kembali. Sasuke memberikan pengumuman tentang liburan musim panas yang lamanya sekitar satu bulan. Masing - masing siswa dan siswi diberikan pekerjaan rumah yang sangat banyak dan berlimpah. Mereka bersorak karena akan mendapatkan hari libur yang panjang.


Sesekali Sasuke melirik ke arah Naruto, tapi Naruto malah sibuk dengan kegiatan menulisnya. Ia penasaran apa yang sedang siswi pujaannya itu tuliskan. Ia pasti akan sangat merindukan dobe dangonya ketika liburan musim panas nanti. Apa ia harus berkunjung ke kediaman Namikaze untuk bertemu dengan Naruto? Atas alasan apa ia bertemu dengan putri Namikaze itu? Seandainya Naruto sudah menjadi kekasihnya maka ia akan bebas berkunjung ke rumah sang gadis pirang itu.


Bel bubar sekolah berbunyi. Sasuke meninggalkan ruang kelasnya. Ia masih melirik ke arah Naruto meski siswi yang ia lirik tak merespon. Ia menghela nafas. Begini nasib punya tambatan hati yang dobenya minta ampun.


Ketika Naruto hendak melangkah ke luar dari kelas, Sakura menghampirinya dan menarik tangan Naruto membawanya ke depan teman - teman sekelasnya. Posisinya ada di depan papan tulis.


"Ada apa, Sakura? Kenapa kau menarik tanganku?" tanya Naruto. Ia heran atas sikap Sakura yang tampak brutal. Biasanya Sakura tidak pernah bertindak kasar padanya di depan banyak murid.


Sakura melepaskan cengkeraman tangannya. Kemudian ia berkata dengan nada marah,"heh, Namikaze Naruto! Mau sampai kapan kau bersikap bodoh seperti tadi, hah?!" seru Sakura. Matanya menatap tajam pada Naruto. Semua murid yang masih berada di kelas terkejut dengan apa yang dikatakan Sakura. Termasuk teman sekelompok makan bersama Naruto tadi, Ino, Hinata, Shikamaru dan Sai.


"A..apa maksudmu, Sakura? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." tanya Naruto yang memang benar - benar tidak mengerti maksud dari pertanyaan yang Sakura lontarkan.


"Jangan pura - pura tidak mengerti! Dasar perempuan murahan munafik!" seru Sakura dengan nada tinggi. Naruto masih diam. Ia menunggu kelanjutan pembicaraan Sakura.


"Semua orang yang di kelas ini juga tahu kalau kau menyukai wali kelas kita, Mr. Uchiha Sasuke!" jelas Sakura sejelas - jelasnya.


Glekh. Serasa ditusuk pedang tessaiga milik Inuyasha. Dada Naruto sesak dan ia juga terkejut. Ucapan Sakura sangat menyinggung perasaannya. Kenapa Sakura bisa mengetahui hal itu? Hal yang selalu Naruto rahasiakan. Ia hanya bisa diam mematung.


"Kau diam saja. Berarti benar apa yang ku katakan." gumam Sakura tapi tidak dengan penuh amarah seperti tadi.


"Berarti kau sama saja denganku, dan juga dengan para fansgirl Mr. Sasuke. Hanya saja kau tidak mau mengakuinya.." ucap Sakura. Ia berjalan memutari Naruto. Memerhatikan penampilan Naruto yang Sakura anggap tidak pantas untuk guru pujaannya. "Rambut cepol dan sifat kayak bocah. Mana mungkin Mr. Sasuke mau denganmu." delik Sakura.


Naruto mengumpat dalam hati. Bisa - bisanya Sakura mempermalukannya di depan teman - teman sekelasnya. Ditambah dengan gunjingan dari para siswi. Naruto menahan amarahnya. Ia tidak mau emosinya meledak.


"A..aku tidak sepertimu, Sakura." akhirnya tiba Naruto angkat bicara. "A..aku tidak seberani dirimu yang setiap hari menyatakan perasaan cinta pada orang yang jelas - jelas menolakmu. Aku salut padamu.." Naruto menjeda sebentar. "..aku bukan tipe perempuan yang mengejar cinta dari seorang lelaki yang tidak akan pernah menyukaiku. Cukup satu kali aku merasakan kecewa dan malu akibat ditolak laki - laki. Aku tidak mau lagi." ujar Naruto panjang lebar.


Mata Naruto mulai berkaca - kaca. "A..aku..hiks..tidak..percaya diri sepertimu, Sakura. Hiks.. Kau dengan percaya diri mendekati dan mengungkapkan perasaanmu padanya. Hiks..hiks..kau.." Naruto menangis. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata kembali. "Tapi..aku kecewa padamu. Perempuan secantik dan sepintar dirimu mengejar pria yang tidak menyukaimu. Aku kasihan padamu!" seru Naruto. Ia sudah berhenti menangis.


"Kau masih bisa mendapatkan pemuda yang lebih baik darinya yang pasti sangat mencintaimu. Daripada harus mengejar cinta yang sudah pasti tidak akan terbalas." tambah Naruto.


Sakura diam ketika Naruto membalas semua perkataannya. Begitu pula teman - teman sekelasnya. Ino tersenyum. Ia merasa lega karena temannya sudah mengeluarkan unek - uneknya.


"Oh iya, Haruno Sakura. Aku memang menyukai wali kelas kita. Apa kau puas mendengar pernyataan cintaku?!" seru Naruto dengan nada tinggi.


Mata Sakura membulat besar seperti akan ke luar. Ia sangat terkejut. Respon murid lainnya yang ada di kelas juga terkejut.


"Tapi, aku tidak akan sepertimu, Sakura. Kalau dia adalah jodohku maka dia sendiri yang akan datang padaku tapi jika bukan jodohku, aku tidak akan mengejar cintaku yang bertepuk sebelah tangan ini. Jadi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengatakan perasaanku langsung padanya." ujar Naruto. Posisinya yang dari berdiri sampai terduduk di lantai dengan lemas. Seakan - akan ia telah mengeluarkan semua tenaganya.


Naruto menangis lagi. Ia tidak menyangka akan berkata seperti tadi. Wajahnya benar - benar merah. Ia sangat malu. Untung saja orang yang dibicarakan telah meninggalkan tempat kejadian perkara.


Ino dan Hinata segera melangkah menghampiri Naruto dan memeluknya.Β  Mereka tersenyum bersama.


"Kau hebat, Naruto." ujar Ino. Ia mengelus punggung Naruto dengan lembut.


"Akhirnya semua beban yang selama ini kurasakan sudah lepas." gumam Naruto.


Sakura masih diam mematung. Ia memikirkan semua yang Naruto katakan. Naruto menganggap Sakura adalah perempuan yang cantik, pintar dan hebat. Untuk apa mengejar lelaki yang tidak mencintainya. Masih ada lelaki yang mau padanya. Benar juga apa yang gadis blonde itu katakan. Kenapa ia bisa bodoh seperti itu? Mengejar cinta lelaki yang tidak akan pernah membalas perasaannya. Ia telah kalah dari Naruto. Mungkin Sakura memang lebih cantik daripada Naruto tapi hanya cantik dari luar saja. Beda dengan Naruto yang cantik luar dalam. Naruto yang tidak mendendam dan sikap polosnya. Naruto memang baik hati. Jadi pantas saja jika wali kelas mereka menyukainya.


Sakura berjalan mendekati Naruto sambil tersenyum. Kemudian ia berkata, "kau memang benar, Naruto. Aku mengaku kalah. Tolong jaga Mr. Sasuke. Kalian pasangan yang sangat serasi."


Naruto diam. Ia tidak tahu harus merespon apa atas ucapan yang Sakura katakan.


"Kau menang. Semoga kalian cepat jadian. Bye.." gumam Sakura. Ia meninggalkan Naruto ke luar kelas.


Gaara yang sedari awal kejadian pertengkaran adu mulut lebih antara Sakura dan Naruto sudah merekam semuanya. Ia hanya tinggal mengirim video itu pada sang guru muda. Namun ia urungkan. Nanti saja ia kirim videonya. Sekarang kondisi mental Naruto sedang tidak stabil. Gaara tidak mau sampai terjadi apa - apa pada teman perempuannya itu apalagi sampai sang guru muda a.k.a Sasuke mengungkapkan perasaannya pada Naruto ketika hatinya sedang galau. Sasuke harus menyatakan perasaan cintanya ketika perasaan Naruto sedang stabil supaya bisa memikirkan jawaban pernyataan cinta dari Sasuke dengan pikiran yang jernih tidak sekeruh seperti saat ini.


"Maafkan aku, Mr. Nanti saja aku kirim videonya." gumam Gaara. Ia segera berjalan meninggalkan tempat ia berdiri yaitu di samping pintu ruang kelas 11 ipa 2.


Setelah kejadian tersebut, semua siswi yang sekelas dengan Naruto memandang Naruto dengan pandangan lain. Mereka merasa bahwa teman sekelas mereka itu sangat tsundere dan pura - pura cuek tidak suka pada wali kelas mereka. Mereka malah merasa gemas atas tindakan Sasuke yang gengsi menyatakan cinta dan Naruto yang awalnya tidak peka padahal ia hanya merasa tidak cukup percaya diri untuk pantas bersanding dengan sang wali kelas.


🍑🍑🍑πŸ₯πŸ₯πŸ₯🍑🍑🍑πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯🍑


Liburan musim telah berjalan selama 5 hari. Si gadis pirang dengan berhiaskan dua buah dango di kepalanya telah menyelesaikan hampir semua tugas sekolahnya. Kini ia tengah membaca manga di ponselnya.


Ting. Ada pesan masuk untuk Naruto. "Dari siapa?" gumam Naruto.


Ino Hana


Halo Naru


Besok shopping yuk?


Dango Naru


Halo juga


Shopping untuk apa?


Memangnya ada acara apa?


Ino Hana


Hari Minggu ini kita pergi ke Konoha Swimming Pool


Kau ikut kan?


Dango Naru

__ADS_1


Tidak tahu


Ino Hana


Ayolah


Kau harus ikut


Dango Naru


Malas


Panasβ˜€β˜€


Ino Hana


Di sana kan adem


Tidak panas


Dango Naru


Bagaimana nanti saja ya


Aku pikirkan dulu


Ino Hana


Duh..pikirkan apa?


Dango Naru


Pergi ke kolam renang


Ino Hana


Aku kira mikirin sensei tampan itu


Dango Naru


Tidak juga


Ino Hana


Apanya yang tidak?


Dango Naru


Mikirin teme sensei itu


Ino Hana


Bohong😢


Dango Naru


Memangnya dia mikirin aku?


Jadi untuk apa aku mikirin dia?


Ino Hana


Lagi galau nih ceritanya..


Dango Naru


Galau kenapa?


Ino Hana


Galau karena tidak bisa bertemu Mr. Sasuke


Kau kangen sama dia kan?


Ngaku aja, Naru?


Dango Naru


Kalau iya kenapa?


Dia kan gak mungkin kangen sama muridnya😩


Ino Hana


Apa dia tidak pernah mengirim pesan lagi sama kamu?


Dango Naru


Tidak


Sudahlah


Dia memang bukan jodohku


Ino Hana


Jangan minder terus


Kamu kan belum tahu perasaannya sama kamu, Naru


Dango Naru


Aku sudah tak peduli


Lagipula aku tidak berharap apapun


Ino Hana


Sabar ya


Oh iya, sudah dulu ya


Aku harus membantu ibuku menjaga toko


Dango Naru


Ya. Besok bagaimana?


Ino Hana


Jadi. Jam 10 aku dan Hinata akan menjemputmu di rumahmu


Kita naik bus dari sana


Dango Naru


Ok


Jaa..


Sesi chatting pun usai. Naruto masih berbaring di tempat tidurnya. Ia memeluk guling bergambarkan tokoh anime favoritnya. Ia juga bercerita pada benda mati itu seakan - akan bisa mendengar semua yang ia ceritakan.


"Ne, Kashuu. Kau marah tidak? Aku sedang merindukan orang itu. Si kepala ekor ayam itu. Entah kenapa rasanya sepi dan hampa. Padahal biasanya aku merasa kesal saat ia mengerjaiku. Sekarang aku jadi merindukannya. Sangat merindukan dia." gumam Naruto.


Naruto teringat kejadian terakhir di sekolah sebelum libur musim panas. Wali kelasnya bersikap seperti suaminya saja. Meminta dituangkan nasi dan minum juga meminta dimasakan makanan yang sangat sederhana. Tapi sang guru terlihat menyukainya. Ia malah minta tambah. Wajah Naruto merona. Seandainya ia bisa menikah dengan guru tampannya itu. Itu hanya mimpi baginya.


Peristiwa pertengkarannya dengan si gadis berambut merah muda masih terbayang jelas di pikirannya. Ia sudah mengatakan pada teman - temannya tentang perasaan sebenarnya pada wali kelasnya, Uchiha Sasuke atau biasa dia panggil Mr. Sasuke dan teme sensei.


Seandainya Mr. Sasuke tahu perasaan muridnya itu, apa sikap sang guru akan sama atau berubah? Berubah pada artian negatif karena Naruto telah salah mengartikan perhatian yang sang guru berikan padanya. Dengan membayangkannya saja membuat dada Naruto sakit dan sesak seakan tertusuk pisau milik ibunya yang paling tajam.


Naruto meneliti jari telunjuk kirinya yang terbalut plester akibat dicium oleh pisau tajam milik ibunya saat ia membantu ibunya tadi pagi di dapur. Entah kenapa pagi itu ia ingin sekali membantu ibunya memasak. Ia malah memasak makanan yang pernah dimakan wali kelas tercintanya. Wajahnya merona dan memanas. Ia ingin sang wali kelas memakan masakan buatannya lagi. Andai saja ia bisa memasak untuk guru tampannya itu. Akibat melamunkan sang guru tampannya, jari telunjuknya jadi terkena pisau dan berdarah. Naruto tersenyum dan berkata, "Mr. Aku kangen. Apa Mr juga kangen padaku?". Tak lama ia tertidur karena kelelahan. Setelah membantu Kushina di dapur, ia menyelesaikan tugas sekolahnya yang sisa sedikit.


Di tempat lain, perusahaan yang bernama Uchiha corp. Seorang pemuda dengan gaya rambut yang melawan gravitasi alam a.k.a Uchiha Sasuke putra bungsu dari pasangan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Saat ini ia sedang menatap layar ponsel pintarnya yang menampilkan foto gadis pujaan hatinya. Sudah 5 hari ini Sasuke membantu sang kakak, Itachi, di kantornya. Ia bosan jika hanya diam saja di rumah kecilnya. Jadilah ia membantu sang kakak dengan imbalan gaji yang cukup besar. Kerja sebulan tapi ingin dibayar selama 4 bulan kerja. Adik mata duitan tapi bagi Itachi itu tidak masalah karena kepintaran Sasuke hampir menyamainya jadi memberi upah 4 kali lipat bukan apa - apa.


Semua pekerjaan telah Sasuke selesaikan. Ia bisa beristirahat dengan memainkan games di ponselnya sambil memandangi foto gadis blonde dangonya. Ketika ia sedang seru - serunya bermain game, ada seseorang yang mengirimkan video via whatsapp. Karena penasaran ia membuka video yang dikirim oleh murid selaku pemberi informasi mengenai gadis pirang incarannya a.k.a Namikaze Naruto.


Matanya terbelalak saat Sasuke melihat bagian awal dari video yang Gaara kirimkan. Ia marah pada perlakuan dan perkataan kasar dari si iblis merah muda pada siswi kesayangannya. Namun rasa marah mulai tergantikan. Matanya tertuju pada video itu. Ia bisa mendengar dan melihat apa yang selama ini tidak ia ketahui mengenai gadis pirangnya, Naruto. Di dalam video itu, Naruto mengungkapkan semua yang ia rasakan yang selama ini ia pendam. Ternyata gadis yang ia sukai juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Meski sang gadis selalu menutupinya dan menyangkal perasaan itu.


Sasuke tersenyum. Ia merasa puas atas hasil jerih payah muridnya, Gaara. Sekarang ia sudah tahu perasaan Naruto. Sisanya ia hanya harus menyatakan perasaan cintanya pada gadis berambut blonde itu. Sasuke berpikir pasti ia akan diterima dan Naruto akan segera menjadi kekasihnya dan miliknya.


Ingin rasanya Sasuke melompat - lompat kegirangan tapi ia lupakan. Sangat tidak Uchiha jika bertindak konyol seperti itu. Tapi tetap saja Sasuke merasa bahagia tak terkira. Padahal belum jadi kekasihnya. Senyuman tak henti terlukis di wajah tampannya yang membuatnya semakin tampan.


Tanpa sengaja sang kakak a.k.a Itachi yang masuk ke ruangan adik bungsunya tanpa izin, melihat pemandangan langka di depan matanya. Bagaimana tidak langka? Sang adik yang biasanya jarang dan tidak pernah tersenyum, sekarang ia sedang tersenyum lebar. Terlihat menjijikan baginya tapi Itachi tersenyum bahagia. Kini adik satu - satunya yang belum pernah merasakan jatuh cinta telah merasakannya. Itachi yakin jika adiknya itu pasti sedang bahagia. Apa cintanya diterima oleh gadis incarannya? Ah nanti saja ia tanya. Sekarang sudah waktunya makan siang. Ia akan mengajaknya untuk makan siang. Kebetulan manager kepercayaannya yang berdedikasi tinggi bagi perusahaan yakni Namikaze Minato menawarinya untuk makan siang bersama. Ia dibekali makanan yang sangat banyak yang tidak mungkin ia habisi seorang diri. Dengan senang hati, Itachi menerima tawarannya.


"Yo, otouto!" seru Itachi yang sontak membuat Sasuke terkejut namun ia menyembunyikan rasa terkejutnya dengan ekspresi wajah datarnya.


"Kenapa nii - san masuk tanpa mengetuk pintu? Meskipun kau atasan dan kakakku tapi tetap saja jangan seenaknya masuk ke ruanganku." gumam Sasuke datar dan dingin.


"Gomen gomen. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang." jelas Itachi. Ia duduk di sofa. Posisi Sasuke saat ini adalah wakil Itachi.


"Nanti saja. Aku masih belum lapar." tolak Sasuke. Pandangan matanya tak lepas dari layar ponselnya.


"Apa kau yakin tidak lapar? Padahal Namikaze - san menawari kita untuk makan siang bersama. Yang masak putri semata wayangnya." ujar Itachi. Ia tak hilang akal untuk membujuk adiknya yang keras kepala.


Ketika mendengar kata putrinya Namikaze, Sasuke segera bangun dari duduknya dan sekarang sudah berada di ambang pintu luar ruangannya.


"Cepat, baka nii - san. Kita tidak boleh membuat paman Minato menunggu. Lagipula sebentar lagi beliau akan menjadi ayah mertuaku. Cepat!" gumam Sasuke.


Itachi yang mendengar perkataan panjang dari mulut pedas adiknya hanya bisa tercengang dan menggelengkan kepalanya seraya bergumam, "ternyata kekuatan cinta bisa merubah otak adik bodohku itu."


"Aku tidak bodoh, baka nii - san." gumam Sasuke menatap tajam sang kakak. Kemudian mereka berjalan menuju tempat yang biasa digunakan untuk makan siang. Ruangan pribadi khusus.


Kini ketiga pria berbeda usia dan surai sudah berkumpul dalam satu meja. Minato telah menyiapkan makanan yang ia bawa dari rumah. Sebagai catatan atau pengingat, sebenarnya Minato pernah menolong Fugaku di zaman dulu dan dari saat itu mereka berteman meski status sosial mereka berbeda tapi anak - anak mereka tidak mengetahuinya kecuali Itachi.


Sasuke terlihat sangat tak sabar ketika melihat makanan yang calon ayah mertuanya siapkan. Ia juga turut membantunya menyajikan makanan. Membuka kotak bekal yang banyak.


"Silakan dinikmati, Pak Direktur dan Sasuke - san." ujar Minato.


"Panggil aku Itachi saja Namikaze - san." pinta Itachi.


"Anda juga tolong panggil saya paman saja. Seperti adik anda." balas Minato.


"Ok. Paman Minato." jawab Itachi.

__ADS_1


Sasuke sudah lebih dulu makan setelah mengatakan selamat makan. Ia sangat antusias melihat makanan yang ada di atas meja.


'Rasanya masih sama. Sangat enak. Ah, aku jadi tambah kangen sama si dobe dangoku.' batin Sasuke.


"Putriku bersikeras membantu ibunya memasak di dapur. Sampai - sampai jarinya terkena pisau." ujar Minato. Ia juga sedang makan.


"Apa? Ma..maksudku..Kenapa dia tidak berhati - hati?" tanya Sasuke. Ia merespon sangat cepat bila mengenai gadis pujaannya.


"Mungkin putriku sedang memikirkan seseorang." jawab Minato. Matanya melirik ke arah Sasuke.


Wajah Sasuke merona. Ia senang mendengar jawaban dari sang calon ayah mertua. Karena ia tahu seseorang yang sedang putrinya pikirkan pasti dirinya. Begitulah pikirnya. Penuh percaya diri.


"Tapi aku tidak akan mengizinkan pemuda itu lebih dekat dengan putriku." gumam Minato dengan nada datar.


Sasuke tersedak. Itachi segera memberinya minum air putih. Sasuke harus mengambil hati calon ayah mertuanya secepatnya. Jika tidak, ia tidak akan bisa bersatu dengan Naruto - nya.


"Kecuali jika pemuda itu benar - benar tulus mencintai putriku." tambah Minato. Sekarang ia berbicara dengan nada hangat dan tidak sedatar tadi.


"Aku yakin pemuda itu juga mencintai putri paman dengan tulus." tambah Itachi. Ia tidak tega pada adiknya yang tiba - tiba tegang dan gugup menghadapi sang calon ayah mertua.


"Ya setidaknya tunggu beberapa tahun lagi bagi pemuda itu untuk menikahi putriku." jelas Minato. Ia tahu apa yang saat ini sedang adik pimpinannya rasakan. Membuatnya tegang, gugup dan terbernyali. Ia jadi ingin tertawa.


'Aku akan menunggu putrimu, wahai calon ayah mertua. Aku sangat mencintainya. Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Naruto dan izin dari ayahnya. Karena ibunya sudah memberikan izin padaku.' batin Sasuke penuh percaya diri.


πŸ‘’πŸ‘—πŸ‘•πŸ‘’πŸ‘—πŸ’„πŸ‘‘πŸ‘ πŸ‘šπŸ‘œπŸ‘—πŸ‘–πŸ‘•


Hari ini adalah saatnya untuk berbelanja. Ketiga gadis berbeda surai telah berdiri di depan Konoha Trade Mall atau disingkat jadi KTM. Mereka terlihat cantik dengan pakaian casual yang mereka kenakan(silakan reader imajinasikan tampilan mereka)


Naruto, Ino dan Hinata pun memasuki KTM dengan suka cita. Dengan menaiki eskalator mereka menuju lantai atas dan segera mencari benda yang diinginkan yakni baju renang. Naruto menatap kedua temannya dengan ekspresi terkejut. Ia tidak tahu kalau ia diajak untuk membeli baju renang. Ia tidak bisa berenang jadi untuk apa membeli baju renang. Tidak akan terpakai nantinya. Ia hendak ke berjalan meninggalkan toko baju renang namun Ino menarik dan mengapit sebelah tangannya sehingga ia tidak bisa kabur.


Dengan sangat terpaksa Naruto menuruti perintah dari kedua temannya. Ia juga membeli sepasang baju renang untuk dipakai saat berenang besok.


Sesi belanja telah usai. Kedua teman Naruto membeli banyak barang termasuk baju renang dan barang kebutuhan perempuan lainnya. Tidak seperti Naruto, dia malah membeli beberapa manga. Namanya juga Naruto.


Tiba - tiba ia melihat seorang wanita paruh baya yang barang belanjanya jatuh berserakan tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia segera menghampiri wanita itu. Ia membantu mengambil barang - barang yang jatuh.


"Terima kasih, nak." ucap sang wanita yang telah Naruto tolong.


"Sama - sama, nyonya." balas Naruto.


Dari tempatnya tadi, Ino memanggil Naruto. Naruto segera meninggalkan sang wanita tadi setelah memberi salam dan pamit padanya.


"Siapa ibu - ibu itu, Naruto?" tanya Ino.


"Tidak tahu. Aku melihatnya kesusahan jadi aku menolongnya." jawab Naruto.


"Pulang yuk?" ajak Hinata.


Naruto sudah ada di dalam kamarnya. Ia membuka barang - barang yang tadi ia beli.


"Baju renang tadi lucu juga. Apa gak terlalu lucu ya?" gumam Naruto.


Namun saat ia melihat isi dari tas belanjanya, ternyata isinya berbeda dengan dari yang ia beli. Ia ingat. Mungkin tasnya tertukar dengan ibu - ibu tadi yang ia tolong. Warna dan model tas belanjanya sama dengan ibu - ibu itu.


"Gimana ini? Tasku tertukar sama ibu - ibu tadi. Tadi aku juga gak sempat nanya alamatnya. Aaargh..!!" seru Naruto. Ia panik dengan sifatnya yang sangat ceroboh dan juga besok ia akan memakai baju renang tersebut.


Naruto mencari tahu apa yang ada di dalam tas belanja itu berharap ada petunjuk agar bisa menukarnya. Ia melihat sebuah bingkisan yang dibungkus oleh kertas berwarna putih dengan lambang kipas. Kipas? Ia ingat. Ia pernah melihat lambang kipas itu ketika diantar pulang oleh gurunya. Karena ada perbaikan jalan, jadi harus memutar dan melewati rumah dengan gerbang berlambang kipas. Ia harus ke rumah besar itu untuk menukarkan tasnya dengan tas milik ibu - ibu itu.


"Tapi..aku tidak tahu siapa nama ibu - ibu tadi. Rumah itu juga sangat besar. Bagaimana kalau aku dikira bawa bom? Kan gak lucu kalo dibawa ke kantor polisi hanya karena dikira *******." gumam Naruto. Tanpa sengaja sepasang manik saphirenya menangkap sebuah tanda pengenal yang ada di dalam tas belanja itu. Ia segera meraih dan melihatnya.


"U. Mikoto. Jadi Mikoto nama ibu - ibu tadi. Yosh. Aku akan segera ke rumah besar itu. Gak apa - apa kalo harus diusir juga. Usaha dulu aja." gumam Naruto. Ia pun bergegas untuk segera mengantarkan tas belanja beserta isinya yang telah tertukar.


Setelah berpamitan pada ibunya, Naruto langsung pergi. Ia menunggu bus di halte tapi ia tidak tahu alamat yang pasti mengenai letak rumah mewah itu. Lalu ia memutuskan untuk berjalan kaki. Meski jauh akan ia tempuh daripada harus beberapa kali ia naik bus. Di kartu itu hanya adalah tulisan U. Mikoto. Yang pasti wanita paruh baya itu tinggal di rumah yang gerbangnya berlambangkan kipas.


Hampir setengah jam ia berjalan. Ia sangat takut tersesat. Kata ibunya, malu bertanya, sesat di jalan. Ia selalu bertanya pada orang yang ia temui untuk mengetahui alamat yang ia tuju. Ia hanya pernah melewati jalan itu satu kali. Itu juga di motor dan lewat jalan tikus.


Akhirnya ia tiba di depan gerbang berlambangkan kipas. Naruto merasa nafasnya akan habis. Ia lupa tidak memakai topi. Untung saja ia memakai sepatu tali dan meski baju yang ia pakai masih sama dengan baju yang ia pakai saat berbelanja tadi bersama kedua temannya.


"Hosh..hosh..a..aku harus menekan bel dulu. Semoga saja rumah ini tidak dijaga sama anjing galak." gumam Naruto. Ia sedang berusaha menormalkan nafasnya.


Teeeng teeeng. Bunyi bel. Naruto terus membunyikan bel namun tidak ada jawaban. Naruto masih menekan bel. Ia terus menunggu sampai sebuah mobil pribadi(terserah reader ingin membayangkan mobil apa) hendak melaju melewati Naruto yang masih berdiri di depan gerbang tersebut.


"Tiin tiin." bunyi klakson dari dalam mobil. Sontak Naruto terkejut buat main.


"Aah..maaf. Aku menghalangin jalan." gumam Naruto. Ia membungkukkan badan pertanda memberi salam dan meminta maaf pada sang pengemudi.


Tanpa Naruto sangka, seorang pemuda tampan bersurai raven panjang yang dikuncir bawah ke luar dari dalam mobil mewah tersebut. Wajahnya menampilkan senyum yang menawan. Sekilas mirip dengan wali kelasnya.


"Nona siapa? Apa ada urusan dengan pemilik rumah ini?" tanya pemuda tersebut tapi lebih cocok disebut pria karena ada keriput di dekat hidungnya. Masih muda, tampan, kaya tapi udah keriputan? Pikir Naruto dalam benaknya.


"A..aku..mau menukarkan tas belanja ini kepada nyonya Mikoto, om." jawab Naruto. Ia bingung harus memanggil apa pada pria tersebut.


"Om? Setua itu kah aku?" beo pria yang diketahui namanya adalah Uchiha Itachi.


"Kalau begitu..kakak saja? Terlalu muda kalau harus memanggil kakak mah. Om lebih baik. Hehe." ujar Naruto. Ia tersenyum kaku.


"Terserah saja." balas Itachi. Ia memerhatikan penampilan Naruto dari atas ke bawah. Rambutnya diikat dua lalu ada dua buah dango di kedua sisi kepalanya. Ya, gadis pujaan adik bungsunya. Naruto. Ia akan pura - pura tidak kenal pada gadis itu. Karena ia memang baru pertama bertemu. Hanya pernah melihat dari foto saja. Dulu ia pernah bertemu Naruto sewaktu Naruto bayi.


"Hei kau, bocah SMP." gumam Itachi sedatar triplek.


"Aku udah SMA kelas 11, om." bantah Naruto.


"Ooh. Pendek banget ya buat jadi siswi SMA." ejek Itachi. Naruto cuek saja dibilang pendek juga karena ia memang pendek.


"Ayo masuk. Kau ingin bertemu ibuku kan?" ajak Itachi. Ia membuka gerbang dengan kunci perak miliknya lalu masuk ke dalam mobil. Sementara Naruto menyusul berjalan di belakang mobil yang Itachi tumpangi.


Sepanjang mata memandang, terdapat hamparan rerumputan hijau dan juga tanaman bunga hias yang beraneka warna dan macam. Seperti pemandangan di dalam negeri dongeng.


Itachi segera berjalan menghampiri si gadis pirang yang hanya diam berdiri. Itachi pun segera mengajaknya masuk. Butuh beberapa menit untuk sampai di ruang utama. Mereka disambut beberapa pelayan dengan berpakaian ala pelayan Eropa setibanya di ruang utama. Naruto begitu terpukau. Ia bisa melihat secara langsung apa yang selama ini ia baca di manga dan tonton di anime.


"Mana ibuku? Tolong katakan pada ibuku kalau ada seorang gadis sedang mencarinya." perintah Itachi pada seorang pelayan wanita.


"Baik, tuan muda." jawab sang pelayan.


"Nah, nona kecil. Kau duduklah di kursi itu. Pelayan akan membawakan minum untukmu. Tunggu ibuku, ya." ujar Itachi dengan ramah. Ia segera melangkah naik ke atas tangga menuju lantai 2.


Naruto duduk di tempat yang Itachi perintahkan. Ia merasa sangat gugup dan canggung berada di dalam rumah mewah tersebut. Ia merasa minder tapi ia buang dulu perasaan itu. Ia datang ke rumah ini dengan tujuan mengantarkan barang yang tak sengaja tertukar.


Naruto melihat layar ponselnya sebentar sebelum suara langkah wanita dewasa yang ramah menghentikan aktivitasnya.


"Ah. Selamat siang, nyonya." sapa Naruto sambil menundukkan kepalanya.


"Selamat siang. Kau gadis yang tadi bertemu dan menolongku, kan." ujar wanita paruh baya a.k.a Uchiha Mikoto sang nyonya besar.


"Benar, nyonya." jawab Naruto.


"Ada apa ya kau ke sini, nak? Apa ada yang bisa seorang wanita tua ini bantu?" tanya Mikoto dengan senyum ramahnya.


"Ano.. Tas belanja nyonya tertukar dengan punya saya." jawab Naruto.


"Eh?" seru Mikoto terkejut. Naruto juga terkejut tapi karena suara ibu - ibu di depannya yang berteriak.


"Berarti barang milikmu ada di dalam tas itu. Kalau boleh tahu, apa isi tas belanjamu, nak?" tanya Mikoto.


"Ba..baju renang dan beberapa manga, nyonya." jawab Naruto. Ia bingung melihat ekspresi sang wanita itu.


"Bibi akan segera mengambil tas milikmu.." gumam Mikoto. Ia kelihatan panik. Namun sebelum ia berdiri suara berat bernada rendah milik seorang pria memanggil dirinya.


"Kaa..san! Benda apa ini?? Kenapa kaasan memberikan benda laknat ini padaku?! Aku ini laki - laki! Jangan menyuruhku untuk memakai baju renang ini!" seru pemuda itu yang suaranya sangat familiar bagi telinga Naruto.


'Suara..ini kan??' batin Naruto. Ia tidak mungkin salah dengar.


"Tas milik kaasan tertukar dengan tas milik gadis ini, sayang." ujar Mikoto. Ia tidak ingin putra bungsunya marah akibat dihadiahi sepasang baju renang perempuan.


Si pemuda putra bungsu dari pemilik tas itu a.k.a Sasuke memerhatikan penampilan sang gadis yang posisinya tengah berdiri memunggungi dirinya.


'Pirang, twintail dan dango. Hah?! Dango?!' seru Sasuke dalam hatinya.


"Na..ruto?" gumam Sasuke memastikan penglihatannya yang masih tajam yang tidak mungkin ia salah lihat.


Naruto menoleh ke belakang. Paras menawan yang dimiliki dari sang pemanggil namanya. Entah sejak kapan ia jadi menganggap pemuda berambut emo yang selalu menyuruhnya semena - mena ada di hadapannya.


"Mi..Mr. Sasu..ke?" beo Naruto.


"Wah..kalian saling mengenal ya.." ujar Mikoto. Ia bisa melihat ada sesuatu yang putranya rasakan ketika melihat gadis yang telah menolongnya.


Sasuke berjalan ke dekat ibunya melewati Naruto yang masih terkejut.


"Dia anak didikku, kaasan." jawab Sasuke singkat.


Naruto masih diam mematung. Ia tak habis pikir, kenapa gurunya ada di dalam rumah ini yang mereka lewati saat itu?


"Berikan tas milik gadis itu, Sasuke." titah Mikoto.


"Jadi baju kurang bahan tadi milikmu, dobe." gumam Sasuke yang sontak membuat Naruto sadar.


"Mr melihatnya?" beo Naruto. Ia tidak tahu harus merespon apa. Mukanya merona apalagi ditambah guru tampannya telah melihat baju renang yang akan ia pakai besok. Sangat malu dan ia serasa bisa mati di tempat saking malunya.


Sasuke menyerahkan benda milik Naruto yang sesaat lalu disebut benda laknat olehnya. Begitu pula Naruto. Menyerahkan benda milik ibu dari gurunya itu.


Mikoto memerhatikan gerak - gerik putra bungsunya dan gadis pirang itu. Ia berpikir, jangan - jangan gadis yang pernah Sasuke bonceng adalah Naruto. Nama gadis pirang itu. Ia seperti pernah mendengar nama itu tapi ia tidak ingat.


Naruto pun izin pamit setelah perihal mengantarkan barang yang tertukar selesai. Mikoto tidak membiarkan Naruto pulang sendiri tapi sebelum ia meminta putra bungsunya mengantarkan sang gadis pirang, Sasuke telah lebih dulu menawarkannnya. Awalnya Naruto menolak tapi karena ia lupa membawa uang untuk ongkos naik bus dan juga rasa lelah kalau harus berjalan kaki ke rumah, lebih baik ia diantarkan gurunya. Lumayan bisa ketemu dan diantarkan pulang. Lah sejak kapan Naruto merasa senang pas ketemu guru ayamnya? Biarlah. Untuk kali ini Naruto ingin merasakan bahagia dan namanya lepas kangen. Saat sedang rindu tanpa sengaja ia bertemu pujaan hati.


Kedua sejoli itu sudah berada di garasi tempat parkiran beragam jenis kendaraan yang tak perlu thor sebutkan. Sasuke memilih motornya yang selalu ia gunakan setiap pergi ke sekolah dan mengantarkan Narutonya.


Sasuke menyerahkan helm biru yang ia beli bersama dengan siswi kesayangannya. Naruto menerimanya tapi sebelum memakaikan helm di kepalanya ia harus merusak kedua dango di kepalanya.


"Apa bisa dango di kepalamu tidak usah dilepas?" ujar Sasuke. Naruto menjawab pertanyaan dari gurunya hanya dengan gelengan pelan.


"Coba aku yang pakaikan helm di kepalamu." gumam Sasuke yang langsung membuat wajah Naruto merona merah.


"Ta..tapi.." bantah Naruto yang gugup nya melebihi pasangan karakter utama di anime kesukaannya.


Sasuke tetap memaksa. Ia pun memakaikan helm di kepala Naruto. Tinggi badan Naruto yang hanya sebatas bahunya membuat Sasuke dengan sangat mudah memakaikan helm.


"Kau sangat imut, dobe dango." ucap Sasuke tepat di telinga kanan Naruto. Meski terhalang helm tapi ia masih bisa mendengar suara sang guru. Wajah Naruto semakin merah dan ia tambah grogi.


"Ayo naik." ajak Sasuke pada Naruto. Ia sudah memakai helm dan jaket hitamnya. Naruto patuh saja. Ia langsung duduk di belakang guru tampannya itu dengan kedua tangan memeluk pinggang Sasuke. Motor pun melaju meninggalkan garasi. Jantung Naruto seakan - akan mau lepas. Ia tidak tahu harus bersikap dan berkata apa saat ini. Jadilah ia hanya diam. Tas belanja tadi disimpan di depan gantungan di motor. Untung saja Naruto tidak pingsan. Ia harus menahan rasa malu dan gugup sepanjang jalan sampai - sampai ia tak mampu mengeluarkan suara cemprengnya.


Sasuke sadar betul akan situasi itu. Ia tersenyum di balik helm. Ekspresi malu siswinya sangat imut dan mempesona. Belum pernah ia melihat Naruto berekspresi seperti saat ini. Ia bertekad akan segera menyatakan perasaan cintanya pada mahluk Tuhan paling cantik dan imut sejagat raya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2