
Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei
Thor cuma pinjam tanpa izin
Ide cerita asli milik thor
Jika ada kesamaan cerita itu hanya kebetulan semata
Pair sasufemnaru
Genre cinta, guru, murid
Sifat para tokoh berbeda dengan versi anime dan terkadang ooc
Typo bertebaran
Cerita gaje
Happy reading
Di ruangan kelas XI Ipa 2, para siswi sedang berkumpul di sekitar meja Naruto. Gadis pirang berdango itu menjadi lebih terkenal apalagi di kelasnya sendiri. Bagaimana tidak? Kini ia telah menjadi tunangan wali kelasnya sendiri. Betapa iri teman - teman perempuannya. Bahkan mereka mulai menjadi wartawan dadakan dan menanyai Naruto seputar cara mendekati guru muda tanpa ekspresi itu.
Naruto hanya tersenyum dan menjawab apa adanya. Lagipula Naruto tidak pernah menggoda wali kelasnya. Hanya gadis murahan yang menggoda seorang pria. Begitulah pikirnya.
Hari ini guru muda berambut mirip ekor ayam itu tidak mengajar di kelasnya dan juga ia tidak masuk ke sekolah.
"Tu..tunggu. Aku lupa sesuatu!" seru Naruto. Ia melupakan sesuatu yang sangat penting. Istirahat tadi ia tidak bersama dengan gurunya karena sang guru sakit. Sasuke sakit flu, demam dan juga meriang dan Naruto harus menjenguknya sepulang sekolah nanti. Mengapa ia bisa melupakan hal penting seperti itu? Dasar Naruto. Karena pelajaran matematika tadi ia jadi melupakannya.
Teng teng. Bel pertanda pulang sekolah berbunyi. Semua murid ke luar dari ruang kelasnya masing - masing. Tak terkecuali Naruto. Ketiga sahabatnya yang berjalan beriringan dengan gadis pirang berdango itu hanya bisa mengangkat bahu dan menepak jidat. Mereka maklum karena sang pujaan hatinya sedang sakit.
"Jangan - jangan Mr. Sasuke sakit karena merindukan kasih sayangmu, Naruto," ucap Sakura menggoda Naruto.
"Ya. Makanya dia sakit dan ingin dirawat sama Naruto," balas Ino.
"Apa? Rindu kasih sayang?" beo Naruto. Ia mengecek ponselnya.
"Modus sekali tunanganmu itu, Naruto," tambah Hinata. Ia senang menggoda Naruto seperti Sakura.
"Sungguh merepotkan kalau punya tunangan seperti itu," tambah Sai.
"Itu omonganku, Sai," gumam Shikamaru tak terima kata merepotkan yang selalu ia ucapkan diatakan oleh Sai.
"....." Gaara tak berpendapat apapun.
Setelah ketiga pasang sejoli menggibah wali kelas dan sahabat mereka di dalam kelas, mereka pun pulang.
Kembali ke Naruto. Sebelum ia pergi ke rumah tunangannya, Sasuke. Ia mampir ke mini market untuk membeli bahan membuat bubur. Naruto sangat ingin membuatkan bubur untuk Sasuke. Biasanya orang sakit tidak bisa makan nasi atau makanan keras lainnya. Jadi ia berinisiatif untuk memasak bubur. Enak atau tidak yang penting ia akan berusaha membuatkan bubur untuk Sasuke nya.
Si gadis pirang berjalan dengan riang. Letak mini market tidak terlalu jauh dengan rumah tunangannya jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki. Naruto selalu tersenyum saat orang - orang melihatnya. Bahkan tak jarang gadis pirang itu menyapa orang - orang yang melewatinya.
Tak lama ia tiba di depan kediaman tunangannya. Kondisi teras depan rumah yang Sasuke tinggali sangat kotor. Orang sakit tidak bisa bersih - bersih. Naruto akan membersihkan rumah Sasuke setelah membuat bubur.
Tanpa pikir panjang ia memasuki teras depan dan mengetuk pintu. Sebelum mengetuk, pintunya terbuka. Tampak Sasuke yang masih dalam keadaan lemah dan pucat membuka pintu.
"Sa..Sasuke - kun?!" seru Naruto. Ia terkejut melihat kondisi tunangannya.
"Ayo masuk! Sasuke - kun harus beristirahat!" perintah Naruto. Ia segera menggandeng lengan Sasuke. Kondisi Sasuke lemah. "Baru satu hari sakit saja badanmu sudah lemah begini. Kenapa bangun? Harusnya kamu tiduran di tempat tidur. Jangan bangun dulu!" Naruto terus mengomeli tunangannya seperti ibu Sasuke. Sasuke sangat senang meski raut wajahnya tak berubah.
Naruto terus mengomel. Sasuke hanya tersenyum mendengar omelan dari tunangannya.
"Baik, dobeku," jawab Sasuke dengan suara pelan. Ia berjalan terhuyung ke kamarnya dan segera berbaring. Naruto mengikutinya. Takut tunangannya pingsan atau kenapa - kenapa.
"Sasuke - kun tiduran dulu ya. Oh iya. Udah minum obat belum?" tanya Naruto. Sasuke menjawab dengan gelengan kepala. "Ish. Kenapa belum minum obat? Sasuke - kun udah makan belum?" tanya Naruto lagi. Dan masih dijawab dengan gelengan kepala juga.
"Aku akan bikin bubur untukmu," gumam Naruto. Setelah menyelimuti tunangannya, ia pun pergi ke dapur. Mengambil wajan untuk membuat bubur. Dengan bermodal resep dan cara membuat bubur dari sang ibu juga internet, si gadis pirang memulai aksinya. Memasak bubur sederhana.
Bubur pun jadi. Naruto segera mencari mangkok untuk tempat bubur. Setelah buburnya siap, ia kembali ke dalam kamar Sasuke.
"Sasuke - kun, ayo makan dulu. Aku udah bikin bubur lho. Tapi..maaf kalo rasanya gak enak," ucap Naruto. Ia duduk di atas tempat tidur Sasuke. Meletakkan bubur di meja lalu membantu Sasuke untuk duduk.
"Itu apa?" tanya Sasuke sebari melirik ke mangkok berisi bubur buatan Naruto.
"Bubur," jawab Naruto singkat. "Sasuke - kun harus makan ya. Meski lagi gak nafsu makan juga tapi harus makan. Paksain makan. Terus udah makan, minum obat ya," ujar Naruto.
"Su apin," pinta Sasuke dengan manjanya.
"Ok ok. Dasar bayi besar," umpat Naruto.
Naruto pun menyuapi kekasihnya. Awalnya ia ragu Sasuke akan memakan bubur buatannya yang ia pikir tidak enak tapi Sasuke malah makan bubur tersebut dengan lahap. Hingga si gadis pirang berdango itu berpikir, tunangannya sakit apa tidak. Makan saja masih berselera.
Setelah menyuapi Sasuke, Naruto segera mengambil obat demam di kotak obat yang kebetulan tak jauh dari tempat tidur Sasuke.
"Minum obat dulu ya. Udah itu, Sasuke - kun tidur. Aku mau ngebersihin teras depan rumahmu. Kotor banget," gumam Naruto.
"Hn."
Sasuke meminum obat yang Naruto berikan. Ketika Naruto hendak berdiri, Sasuke menarik tangannya. Alhasil badan Naruto jatuh menimpa Sasuke.
"A..pa yang kau lakukan, te..me?!" seru Naruto. Ia kaget setengah mati karena ditarik hingga tubuhnya limbung.
"Diam di sini. Hangatkan aku. Aku kedinginan, dobe," bisik Sasuke.
"Ta..tapi.." Wajah Naruto merona. Sepertinya ia ketularan demam Sasuke.
"Sudah. Turuti aku saja," pinta Sasuke. Matanya terpejam. Namun ia membenarkan posisi Naruto. Sehingga posisi mereka menjadi saling berhadapan dengan posisi tidur menyamping. Naruto tidur di samping Sasuke dengan pelukan erat darinya.
"Dingin.. Biarkan seperti ini.." gumam Sasuke. Naruto mengangguk patuh sekaligus pasrah. Ia jadi berbaring dengan tunangannya yang masih saja mesum meski dalam kondisi sakit sekalipun.
"Selamat tidur," ucap Naruto, tersenyum. Mengusap punggung tunangannya dengan penuh kasih sayang.
Sasuke tersenyum dengan mata tertutup.
'Dasar mesum. Tapi..biarlah. Lagian si ayam teme gak mungkin melakukan hal yang tidak - tidak,' batin Naruto.
Beberapa saat kemudian, Naruto juga tertidur pulas sebari memeluk Sasuke dan membawanya ke dunia mimpi.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Sebelum liburan musim panas.
Di tanah luas di dekat hutan yang selalu dijadikan tempat berkemah di kota Konoha. Sore itu, semua murid angkatan kelas XI menyelenggarakan kegiatan berkemah sebelum libur musim panas. Tak terkecuali kelas XI Ipa 2. Naruto dan teman - teman sekelasnya juga mengikuti aktivitas tersebut. Setiap satu tenda beranggotakan empat orang. Tenda putra dan putri berada di kawasan yang terpisah.
Naruto bersama ketiga sahabatnya, Ino, Sakura dan Hinata dalam satu tenda.
"Tendanya udah jadi," gumam Naruto. "Susah juga ya kalo bukan anggota pramuka mah," tambahnya. Ia sempat kesulitan memasang tenda.
"Makanya jangan di kamar mulu. Sama manga sih kamu mah," sambung Ino. Ia juga membantu Naruto.
"Sekali - kali ikut kegiatan outdoor gini kan seru," tambsh Sakura.
"Ya kerjaanku emang baca manga setiap hari. Apalagi setelah kebebasanku direnggut paksa oleh kepala ayam itu," tambah Naruto.
"Sudah - sudah. Ayo. Kita bikin makanan!" ajak Hinata.
Skip time. Malam pun tiba. Saatnya kegiatan malam. Aktivitas yang selalu dihindari oleh gadis pirang itu. Makanya ia segan mengikuti perkemahan itu.
"Cepat ke luar, Naruto!" seru Ino. Ia menarik Naruto dari dalam tenda dengan paksa.
"Gak mau, Ino. Aku mau diam di tenda saja," tolak Naruto. Ia terus meronta tak mau ke luar dari tenda. Malah masuk lagi ke dalam tenda. Ibarat kura - kura yang masuk ke dalam tempurungya.
Ketiga teman satu tendanya sudah kehabisan akal untuk membujuk rubah penakut itu supaya ke luar dari kandang persembunyiannya.
Tiba - tiba, salah satu dari guru pembimbing datang menghampiri mereka.
"Ada apa? Mengapa kalian tidak segera berkumpul?" tanya sang guru pembina.
"Naruto tidak mau ke luar dari tenda, Mr," jawab Sakura. Ia sengaja mengerjai Naruto supaya Naruto ditegur dan dimarahi Sasuke.
Tanpa aba - aba, Sasuke memasukkan kepalanya ke dalam tenda. Naruto yang berada di dalam tenda sontak terkejut da berteriak.
π’"Cepat ke luar dari tenda, Na ru to!" perintah Sasuke mutlak. Ia tidak tahan dengan teriakan siswi penakut itu.
Naruto kesal dan juga malu. Bisa - bisa wali kelasnya yang tampan ralat mesum masuk ke dalam tenda perempuan. Apalagi kepalanya saja. Sudah pasti dia kaget.
"Mau sampai kapan kau diam di dalam, Naruto?! Teman - temanmu yang lain sudah pergi lebih dulu. Atau..kau ingin kelompokmu menjadi yang terakhir? Hn," ujar Sasuke. Ia sudah berada di luar tenda.
Dengan sangat terpaksa, wajah ditekuk dan rambut dangonya yang rusak, jadi dia harus mengikat ulang rambutnya. Dengan diikat satu di atas kepala. Naruto ke luar dari dalam tendanya.
Ketiga temannya tersenyum bahagia.
"Hanya Mr. Sasuke yang bisa naklukin si rubah liar," bisik Sakura kepada Ino dan Hinata.
Ino dan Hinata mengangguk setuju.
"Aku udah ke luar. Puas nih? Kalian manggil.." sebelum Naruto menyelesaikan pembicaraannya, sang pembina kemping lebih dulu menatapnya dengan tajam.
"Cepat berkumpul di sana!" perintah Sasuke. Dingin dan tak berperasaan.
Naruto dan kawan - kawan menuruti perintah Sasuke.
Murid lain sudah berangkat lebih dulu melakukan kegiatan malam. Mengelilingi sekitar hutan Konoha untuk mengambil bendera yang ada di depan sebuah kuil yang tersembunyi di dalam hutan.
Si gadis pirang sudah mengeluarkan keringat dingin padahal belum berangkat. Tangannya juga bergemetaran karena takut melewati hutan Konoha yang gelap di tengah malam. Sebenarnya bukan hutan luas seperti di film tarzan. Hutan di kota Konoha hanya hutan kecil yang dijadikan tempat berkemah, kuil dan juga pemakaman.
Hanya membayangkan hal yang seram saja membuat nyali Naruto menciut. Lebih nyaman di kamarnya sambil membaca manga daripada harus ikut kegiatan berkemah ditambah uji nyali melewati hutan dan kuburan. Menangis pun tak akan bisa membantunya. Jika bukan kewajiban sebagai murid, Naruto tidak mungkin mengikuti acara perkemahan itu. Ditambah tugas dan denda bagi murid yang tidak ikut berkemah. Harus merangkum isi dari buku paket pelajaran dari wali kelas masing - masing ajarkan ditambah membersihkan toilet satu bulan penuh. Dan juga ada alasan lain yaitu bersama wali kelasnya sebelum liburan musim panas nanti. Karena saat liburan nanti ia tidak bisa bertemu dengan gurunya.
"Haaah.." Naruto terus saja menghela nafas guna mengurangi rasa takutnya yang berlebihan akan hal dan mahluk astral yang belum pasti ada atau tidaknya.
"Ayo berangkat!" ajak Sakura dengan penuh semangat. Ia menggandeng tangan Naruto yang sedari tadi bergemetar.
Satu kelompok terdiri dari dua orang. Ino bersama Hinata, sedangkan Sakura dengan Naruto. Murid yang lain sudah berangkat terlebih dulu. Sisa mereka berempat.
"Jangan tinggalkan teman kalian," ujar Sasuke.
"Ayo!!" seru Naruto dan kawan - kawan.
Ino dan Hinata pergi terlebih dulu. Selang lima menit, Naruto dan Sakura menyusul.
"......."
Sakura berjalan dengan langkah santai di depan Naruto. Sedangkan gadis penakut itu mengekorinya dari belakang. Terkadang Naruto memeluk Sakura dari belakang jika terdengar suara yang menakutkan. Alhasil, Sakura semakin lama semakin risih karena Naruto terlalu menempel padanya. Bukan tidak mau, tapi reaksi Naruto sangat berlebihan.
'Harusnya Naruto sama Mr. Sasuke saja dipasanginnya. Kalo gini kan jadi gak sampai - sampai,' batin Sakura.
"Sakura..kembali ke tenda yuk? Di sini nyeremin banget.." gumam Naruto. Ia benar - benar ketakutan.
"Bentar juga nyampe, Naruto. Tuh kuilnya udah kelihatan," balas Sakura.
"Syukurlah. Ayo!" seru Naruto. Ia mulai tenang karena sudah dekat dengan tempat tujuan.
Setelah mengambil bendera yang hanya sisa satu, kedua gadis berbeda surai itu kembali melanjutkan perjalanan. Namun, Naruto kebelet ingin ke toilet untuk buang air kecil. Jadi Sakura menunggu.
"Yuk, Sakura!" ajak Naruto. Keduanya pun meninggalkan kuil dan kembali berjalan. Namun baru beberapa meter meninggalkan kuil, sesuatu di luar dugaan terjadi.
Sesosok mahluk besar dan menyeramkan muncul di depan kedua gadis itu.
"Wuargh...."
"Kya...!!" Naruto dan Sakura berteriak bersamaan. Keduanya berlari terbirit - birit.
"Padahal aku ingin meminta tolong kepada mereka untuk membukakan kostum sialan ini," ujar sang mahluk besar yang ternyata adalah Kakashi sensei. Ia bertugas untuk menakut - nakuti para peserta uji nyali.
Naruto dan Sakura terus berlari. Namun keduanya terpisah.
"Lho? Naruto mana? Naruto! Naruto!" seru Sakura. Ia memanggil teman sekelompoknya tapi tidak ada jawaban.
"Gawat. Sepertinya kita terpisah. Bagaimana ini? Ah aku harus beritahu guru pembina. Gak lucu kalo aku ikutan kesasar juga," gumam Sakura. Ia bergegas melangkah lebih cepat.
Sementara itu. Naruto baru menyadari keadaannya. Sendirian di tengah hutan gelap yang hanya disinari cahaya bulan dan lampu senter yang sedang ia pegang. Ponsel juga tak ia bawa. Sangat sial bagi dirinya.
"Sa..Sakura mana? Ta..tadi kan masih berdua. Ja..jangan - jangan aku tadi lari beda arah. Kyaa...!!" teriak Naruto. Ia panik dan ketakutan.
"Sakura! Kau di mana?" Naruto terus memanggil nama rekan satu timnya tapi tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara hembusan angin malam mengenai dedaunan dan burung hantu yang hinggap di atas pohon.
Naruto terus berjalan tanpa arah. Ia sama sekali tak tahu jalan kembali ke perkemahan. Padahal sudah diberi tanda di setiap pohon agar para murid bisa kembali ke perkemahan tanpa hambatan. Mungkin karena dirinya yang terlalu panik dan takut sampai membuat Naruto tidak tahu jalan pulang.
"Aku ada di mana? Kenapa masih belum sampai juga? Hutannya luas banget sih," umpat Naruto. Ia berusaha menenangkan dirinya. "Harusnya perjalanan pulang lebih cepat tapi ini malah lebih lama. Ah..."
Naruto terus berjalan. Tak mau menoleh ke sisi kiri dan kanan apalagi menoleh ke belakang. Sangat anti baginya. Jika ada sesosok mahluk mengerikan yang sedang melihatnya dari belakang kan tidak lucu. Pasti Naruto langsung berlari. Sedangkan tenaganya hampir habis karena berlari.
Tiba - tiba lampu senter yang ia pegang padam. Naruto panik lagi.
"Ya..pake mati segala. Duh..gelap lagi. Gimana bisa lihat jalan coba. Ukh." Naruto terus mengumpat. Meratapi nasib. Berharap ada seseorang yang menolongnya. Tak peduli siapapun yang menolongnya.
"Kenapa bala bantuan gak datang juga sih? Apa mereka gak nyadar kalo salah satu siswi mereka hilang? Huh!" seru Naruto. Ia frustasi. Untuk melangkahkan kakinya saja harus meraba - raba dan membulatkan matanya di dalam kegelapan malam di tengah hutan.
Srek. Terdengar langkah seseorang menginjak ranting pohon. Bulu kuduk gadis itu berdiri. Ia mulai melangkah lebih cepat dan hampir berlari, tapi batu di bawah kakinya membuatnya tersandung dan jatuh. Tidak jadi jatuh.
Hap. Seseorang menahan tubuh Naruto.
__ADS_1
"Kya..!! Lepaskan!! Jangan makan aku!! Dagingku gak enak! Darahku pahit!! Tolong!!" teriak Naruto ketakutan karena seseorang memegang pinggangnya.
"Bisa diam tidak? Teriakanmu bisa membangunkan penghuni hutan ini, dobe?!" seru orang itu. Menulikan telinga akibat teriakan Naruto yang membahana.
"Do..be?" beo Naruto. Ia terkejut sekaligus senang. Akhirnya datang seseorang yang menolongnya. Terlebih lagi yang menolongnya adalah sosok yang sedang ia sukai.
"A..arigatou, Mr!" seru Naruto. Tanpa sadar ia memeluk guru tampannya itu dari depan. Muka sang guru merona meski tak terlihat dikarenakan minimnya cahaya. Namun bibirnya tersenyum tipis. Membalas pelukan dari siswi kesayangannya adalah hal yang paling ia impikan. Jadi menggunakan kesempatan yang ada sebaik mungkin untuk memeluk gadis pirang itu. Menghirup aroma jeruk yang segar dari leher dan rambut panjangnya.
Naruto terlalu nyaman sehingga ia tak berniat melepaskan pelukannya. Lima menit kemudian, barulah ia tersadar dengan posisinya sekarang. Memeluk wali kelasnya di tengah kegelapan malam di dalam hutan yang ada hanya mereka berdua.
Pelukan Naruto pun terlepas. Wajahnya sudah semerah buah tomat. Ia jadi salah tingkah dan bingung sendiri. Bisa - bisanya ia memeluk gurunya. Apa yang akan guru ekor ayam itu pikirkan mengenainya? Berarti Naruto sama saja dengan gadis lain yang murahan dan berani menyentuhnya. Mana mau si gadis pirang itu dinilai dan dianggap seperti para fg Sasuke yang kegatelan dan kepanasan bak cacing ditaburi garam.
"Ma..maaf, Mr. A..aku tidak sengaja me..meluk Mr. Sasuke karena takut dan ter..kejut," ucap Naruto. Ia menundukkan kepalanya karena malu.
"Hn." Hanya itu yang Sasuke katakan dengan wajah datarnya.
'Cih. Cuma bisa hn saja. Dasar guru menyebalkan,' batin Naruto. Ia kesal dan jengkel tapi senang.
"Ayo pulang! Kita harus kembali ke perkemahan. Teman - temanmu sedang mencemaskanmu!" ajak Sasuke. Menggenggam tangan kiri Naruto.
"I..iya..tapi..tanganku.." bantah Naruto. Ia gugup tangannya digandeng oleh Sasuke.
"Kalo tak ku pegang, kau bisa terpisah lagi, dobe," jawab Sasuke modus. "Dan aku tidak mau mencarimu, lagi."
Naruto hanya menganggukkan kepalanya. Kesan tersipu malu pun hilang karena gurunya seperti tidak ikhlas mencarinya.
'Siapa yang nyuruh guru ayam sialan ini nyari aku? Kan pembina lain masih ada. Huh! Hilang deh rasa kagum dan sukaku,' batin Naruto yang selalu saja sengsara setiap bertemu dengan guru ekor ayamnya itu. Sudah membuat Naruto melayang ke lapisan langit ketujuh malah dengan cepat menghempaskannya ke lapisan tanah paling inti.
Sepanjang perjalanan, tangan kedua sejoli itu tak pernah terlepas. Sasuke tak mau Naruto tertinggal di belakangnya. Mencari seorang siswi saja susahnya minta ampun. Ia harus minta imbalan kepada gadis pirang itu karena telah menemukan dan menyelamatkannya dari kegelapan malam di tengah hutan.
πππππππππππππ
"Ngh..Mr. Jangan tinggalkan aku di hutan lagi. Aku takut," gumam Naruto selagi tidur di samping kekasihnya. Ternyata Naruto baru saja memimpikan kejadian sebelum liburan musim panas. Tersesat di hutan dan diselamatkan oleh Sasuke. Laki - laki pujaannya.
Naruto terus mengigau sambil memeluk Sasuke tanpa sadar. Orang yang ia peluk telah terbangun dari tidurnya sepuluh menit lalu.
Sasuke dengsn hati - hati membenarkan posisi poni si pirang yang menghalangi kelopak matanya yang tertutup, mengusap wajah cantiknya, membelai rambut panjangnya, mencium wangi tubuhnya dan memeluk tubuh mungilnya dengan erat. Itu yang sedang Sasuke lakukan. Ia sedang sakit tapi melakukan hal - hal mesum. Kalau begini, sakit, demam, meriang atau sakit apapun akan suka hati Sasuke terima asalkan bisa bersama dango pirang Narutonya. Tidur satu kasur bersamanya. Sakitnya langsung sembuh saat diberi perhatian oleh Naruto.
Sasuke tersenyum bahagia. "Naruto, i love you," bisik Sasuke lalu mencium bibir tunangannya.
Naruto menggeliat. Pelan - pelan kelopak mata gadis pirang itu terbuka. Menampilkan sepasang iris berwarna langit biru di musim panas. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Matanya berkedip. Terus berkedip. Lalu..
"Kya..!!" seru Naruto. Ia terkejut. Berbaring di tempat tidur berdua dengan wali kelasnya yang berbeda jenis kelamin. Seorang pria dewasa dengan kelebihan hormon, mesum dan tengah mengalami masa pubertas yang pertama di usia 22 tahun. Seharusnya tunangannya mengalami masa puber di usia belia.
"Berisik, dobe! Tunanganmu lagi sakit juga," gumam Sasuke. Sasuke malah mendorong tubuh Naruto untuk berbaring kembali dan memeluknya. Pura - pura mengantuk supaya gadisnya tidak marah.
"Lepas, teme! Aku mau bangun! Aku harus pulang!" seru Naruto. Ia meronta dan bangkit dari tempat tidur.
Sasuke tersenyum iblis. Ia sangat senang menjahili Naruto.
"A..aku harus pulang. Udah sore," gumam Naruto. Ia sudah berdiri di depan cermin milik Sasuke. Merapihkan rambut dangonya dan juga seragamnya yang kusut akibat tertidur.
Sasuke diam tak membalas perkataan si gadis pirang. Naruto kembali duduk di atas kasur di dekatnya. Menyentuh dahi dengan tangan kuning dan mungilnya. Lalu dahi keduanya bersentuhan yang membuat wajah Sasuke merona.
"Sasuke - kun masih demam ya? Wajahmu sampai merah gitu," gumam Naruto dengan polosnya.
"Hn," jawab Sasuke. Ia memalingkan wajahnya karena malu. Sejak kapan seorang Uchiha Sasuke merasa malu dipandangi oleh seorang gadis? Mungkin sejak beberapa saat lalu.
Naruto tersenyum. "Yups. Demammu sudah agak turun. Minum obat lagi ya. Mau ku masakkan apa? Oh iya. Aku kan gak beli bahan makanan lain. Hanya beli buat bubur," ujar Naruto. Ia lupa membeli bahan makanan lain.
"Bubur saja. Simpan di kulkas. Nanti akan ku hangatkan," gumam Sasuke. Masih berbaring di atas kasur dengan dibalut selimut.
"Ok. Akan ku simpan ke dalam kulkas. Sasuke kun sudah lebih baik kan? Kalo gitu, aku mau pulang ya. Takut keburu malam," sahut Naruto.
"Arigatou, Naruto," ucap Sasuke. Pelan dan nyaris tak terdengar.
"Do itashimashite," balas Naruto. Ia tersenyum tulus lalu mencium pipiπ Sasuke. "Cepat sembuh ya, Sasuke - kun," tambahnya.
Blush. Demam Sasuke naik. Bukan karena flu tapi demam cinta. Cinta yang diberikan oleh siswi didiknya sendiri.
"Hati - hati," ucap Sasuke. Ia masih tersipu.
"Ok. Aku pulang ya. Jaa.." balas Naruto. Tersenyum senang dan lega karena keadaan Sasuke membaik.
'Jantungku rasanya mau copot,' batin seseorang. (Silakan jawab sendiri)
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Di pertengahan bulan November mendekati musim dingin di kota Konoha. Semua warga Konoha memakai pakaian yang cukup tebal. Tak terkecuali si gadis pirang berdango. Memakai sepasang sarung tangan dan sweater rajut berwarna biru muda yang tebal guna menghangatkan tubuhnya dari rasa dingin yang menusuk.
"Fuuh. Mulai dingin ya. Padahal belum musim dingin," ujar Naruto. Ia sedang duduk di kedai ramen kesukaanya bersama sang tunangan tercinta, Uchiha Sasuke.
Menarik tangan Naruto lalu menggenggamnya. "Ya memang mulai dingin, dobe," gumam Sasuke. Ia bermaksud menghangatkan tangan sang tunangan tercinta. Menggosok - gosokkan telapak tangannya dengan tangan Naruto.
Muka Naruto merona. Ia tersipu malu atas perhatian dari tunangan tampannya.
"Aku tampan ya?" tanya Sasuke. Tersenyum narsis karena Naruto diam saja memandanginya.
"Heh? Narsis? Kepedean. Dasar Uchiha!" ejek Naruto.
"Dasar," balas Sasuke. Ia mencubit pipi bakpau Naruto. "Ayo pulang, Naruto! Keburu gelap!" ajak Sasuke.Β Setelah membayar ramen 3 porsi, mereka pun meninggalkan kedai ramen tersebut.
Bruk. Saat Naruto berbalik, ia menabrak seorang wanita dewasa.
"Ah."
"Kau tidak apa - apa?" tanya si wanita tersebut. Ia hendak menolong Naruto.
Namun Sasuke lebih dulu menolong Naruto.
"Ayo, Naruto!" Sasuke membangunkan Naruto.
"Sa..Sasuke?!" seru wanita yang menabrak Naruto.
Sontak Sasuke dan Naruto menoleh kepada sosok wanita yang memanggil namanya.
"Sasuke!!" seru wanita itu langsung memeluk Sasuke dari depan. "Aku merindukanmu."
Sasuke terkejut dan melepaskan pelukan dari wanita berambut panjang berwarna merah tersebut. Naruto tak kalah terkejut. Seorang wanita tiba - tiba memeluk tunangannya.
"Sasuke," kata si wanita dengan nada manja. "Ini aku. Karin. Uzumaki Karin. Teman kuliahmu," tambah wanita yang bernama Karin itu.
Sasuke tak memedulikan perkataan si wanita itu. Ia menggandeng tangan Naruto dan meninggalkan wanita aneh itu.
"Huh. Sasuke masih dinginΒ saja. Oh iya. Dia kan jadi guru di SMA Konoha. Jangan - jangan gadis itu muridnya. Ya pasti muridnya," gumam Karin. Ia duduk di dalam kedai ramen.
Selama perjalanan pulang, Naruto terus memikirkan sosok perempuan dewasa yang tiba - tiba memeluk tunangannya.
Pasangan sasunaru pun tiba di desa gerbang rumah Namikaze. Naruto turun dari motor. Membuka helm kemudian memberikan helmnya kepada Sasuke.
"Arigatou, Sasuke - kun. Aku masuk dulu. Hati - hati di jalan," ucap Naruto. Tanpa ekspresi apapun. Ia masih kepikiran kejadian tadi.
Sasuke menarik tangan Naruto. "Kau tak mau menciumku dulu?" tanya Sasuke tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
Naruto mengecup pipi Sasuke sekilas. "Sudah ya. Sampai besok," sahut Naruto. Ia melangkah masuk tanpa melihat ke belakang.
"Si dobe kenapa ya? Sudahlah," gumam Sasuke. Lalu menghidupkan susanoo dan melaju dengan cepat.
Malam harinya. Si gadis pirang itu tak bisa tidur. Ia terus saja memikirkan kejadian di kedai tadi. Siapa wanita itu? Uzumaki Karin? Marganya sama dengan ibunya. Tapi ibunya anak tunggal sama sepertinya.
"Shit. Wanita itu akrab banget sama si teme. Meluk. Dan si teme juga reaksinya biasa. Ah..pusing!" seru Naruto. Ia mondar mandir tak bisa tidur. Merasa gelisah.
"Hm..mungkin cuma temen kuliah. Besok aku tanya lagi saja. Sekarang aku mau tidur. Tapi..nonton anime malam dulu ah. Lumayan satu episode juga. Daripada galau mikirin si teme terus. Hehe," gumam Naruto. Ia pun tiduran di kasur sambil menonton anime di ponselnya. Tak lama ia tertidur pulas.
π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«
Di depan para murid kelas XI ipa 2, sesosok wanita dewasa bersurai merah sedang berdiri. Dia memperkenalkan namanya dan menjelaskan keberadaannya di SMA Konoha bahwa ia akan menjadi guru magang di mata pelajaran matematika selama satu bulan.
"Mohon kerja samanya anak - anak," ucap wanita yang bernama Uzumaki Karin. Ia tersenyum ramah kepada para murid terutama wali kelas mereka.
"Kya..Sasuke. Akhirnya kita bisa berada dalam satu pekerjaan. Senangnya..!" seru Karin. Hendak memeluk Sasuke namun yang ingin dipeluk langsung menghindar. "Huh!"
Sementara itu, seorang siswi yang duduk paling depan dan sangat dekat dengan meja guru, terus membeku. Pandangan matanya tak henti - hentinya memerhatikan interaksi sang guru magang dengan wali kelasnya.
"Sabar..sabar.." gumam Naruto dengan suara sangat pelan sebari mengusap dadanya untuk tetap sabar.
Ketiga sahabatnya, Ino, Sakura dan Hinata memerhatikan Naruto. Rupanya badai akan datang lagi menerjang kehidupan asmara antar guru dan murid berbeda kepribadian itu.
Sasuke pun berjalan meninggalkan ruang kelas.
"Sasuke mau ke mana?" tanya Karin masih dengan nada manja.
Sasuke menoleh ke arah Karin seraya berkata, "lakukan tugasmu sebagai guru magang di sekolah ini, Uzumaki - san."
Jleger. Nada bicara Sasuke sangat dingin seakan - akan Karin bukan siapa - siapa bagi Sasuke.
Karin tersenyum. "Tentu saja. Akan ku buktikan kalo aku bisa menjadi guru magang yang baik dan kau akan memujiku, Sasuke!" ucap Karin penuh percaya diri dan semangat berkobar - kobar.
Sasuke pun meneruskan langkahnya setelah memperkenalkan sang guru magang tersebut.
Seorang siswi bersurai pirang tengah mengepalkan kedua tangannya pertanda menahan emosiπ π .
"Naruto, tenanglah," ucap Ino yang duduk di belakang Naruto. Ia mengusap punggungnya.
Naruto menoleh. "Aku tidak apa - apa, Ino," balas Naruto. Tersenyum getir.
Ketiga temannya merasa jika Naruto tidak baik - baik saja.
Sang guru magang pun memulai tugasnya. Setelah memperkenalkan diri, ia memberikan materi kepada murid - murid XI Ipa 2.
Skip time. Di waktu istirahat. Seperti biasa, Naruto selalu beristirahat di tempat favoritnya. Tapi kali ini ada yang berbeda. Ia makan seorang diri tanpa menunggu teman makannya. Rasa kesal dan amarahnya ia luapkan dengan makan yang banyak. Tak peduli dengan cara makannya yang berantakan. Yang penting, makan.
"Kalo makan tuh pelan - pelan. Entar keselek lho," gumam seseorang yang tiba - tiba datang dan mengejutkan Naruto yang sedang makan.
"Uhuk uhuk." Benar saja Naruto tersedak. Sasuke langsung memberikan minum kepada gadis pirangnya itu.
"Kenapa Mr di sini?" tanya Naruto judes dan dingin.
Sasuke duduk di dekat Naruto. Memeluk pinggang siswinya. "Kenapa? Gak harus ada alasan buat nemuin tunangan sendiri. Hn," jawab Sasuke watados. Ia malah memeluk Naruto dengan erat. Tapi Naruto tak membalas pelukan dari Sasuke. Ia memasang wajah seram dan kecut.
"Kau kenapa sayang? Jutek amat sih. Cerita dong. Hn?" tanya Sasuke. Mendudukkan Naruto di atas pahanya. "Jangan jutek - jutek dong," tambah Sasuke.
"Ka..Karin - san. Dia siapa?" Akhirnya Naruto bisa mengatakannya. Kepalanya menunduk karena malu Enak wajah tunangannya.
Sasuke tersenyum. "Jadi dango dobeku sedang cemburu?" tanya Sasuke. Ia semakin mendekatkan wajahnya terhadap Naruto.
"Gak. A..aku gak cemburu," bantah Naruto. Wajahnya merona. Hembusan nafas sang kekasih bisa ia rasakan. Memalingkan wajah adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini.
πCup. Dengan seenak ekor ayam rambutnya, Sasuke mengambil ciuman siswnya tanpa seizin siswi tersebut.
"Mr.." ucap Naruto. Wajahnya semakin merah. Ia tidak jadi marah kepada tunangan mesumnya.
"Ok. Aku akan ceritakan semuanya tapi.." sahut Sasuke dengan menjeda perkataannya.
"Tapi apa?" tanya Naruto. Ia sejak penasaran. Duduk di pangkuan Sasuke sudah tidak membuatnya canggung malah nyaman dan biasa saja.
"Aku lapar. Jadi..suapin dulu ya, manis," jawab Sasuke sebari mencolek dagu sang tunangan tercinta.
"I..iya, Mr. Bentar ya," balas Naruto. Selalu lemah jika digoda dan dirayu oleh Sasuke.
Aktivitas makan dan menyuapi sang bayi besar pun selesai. Naruto menagih janji pada gurunya tentang pertanyaannya tadi.
"Ok. Wanita itu satu kampus denganku. Kebetulan satu kelompok belajar juga. Umurnya satu tahun di atasku. Selalu mengejarku seperti wanita hilang akal. Hanya itu," jelas Sasuke panjang lebar. Sasuke masih betah dengan posisinya. Naruto yang duduk di pangkuannya. Membangunkan sesuatu di bawah sana. Untung saja tidak ada yang melihat.
Naruto terdiam sejenak. "Benar hanya itu? Pantas saja Karin - san sangat akrab sama Mr. Dia juga kelihatan naksir berat. Semua teman sekelas juga udah pada tahu. Dasar ganjen," gumam Naruto. Ia sangat kesal dan juga cemburu. Tapi Sasuke malah tersenyum. Perasaannya sangat senang saat melihat gadisnya cemburu. "Mr gak pernah punya perasaan sama Karin - san kan?" tanya Naruto. Ia hanya ingin memastikan saja.
Sasuke menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Never. Will never my honey bunny sweety," jawab Sasuke. Selau tersenyum jika bersama Naruto. Hanya gadis pirang itu yang membuatnya lupa diri dan hampir gila. Tertawa, tersenyum, sedih dan juga marah. Dirinya jadi manusia karena adanya Naruto dalam kehidupannya.
Wajah Naruto semakin merona(thor selalu membuat Naruto merona karena perempuan mudah tersipu jika kekasihnya mengucapkan kata2 manis. Apalagi kali rayuan maut dari pangeran tampan berhati es).
"Be..benar ya, Mr. Jangan ya. Mentang - mentang aku belum dewasa dan juga pendek. Gak kayak wanita rambut merah itu yang badannya tinggi dan montok," ujar Naruto. Ia hanya takut tunangannya pindah ke lain hati.
"Tenang saja. Tunanganmu yang tampan ini lebih suka pada gadis manis, imut dan loli sepertimu," jelas Sasuke. Mencium ceruk leher gadisnya yang selalu memancarkan wangi jeruk menyegarkan dan menenangkan hati sang pemuda kelebihan hormon itu.
Naruto memandang dan menangkup wajah tampan sang tunangan. "Bener ya? Janji?" ucap Naruto dengan manja.
"Janji, sayang," jawab Sasuke. Ia gemas pada gadisnya.
πCup. Kali ini Naruto yang mencium bibir Sasuke. Hanya sekilas tapi asap sudah ke luar dari kepala kuning berdangonya. Sungguh memalukan bagi gadis pirang itu untuk mencium seorang lawan jenis.
Sasuke terkejut. Ia pun menyentuh bibir bekas kecupan Naruto dengan ibu jarinya kemudian tersenyum lagi. Entah apa yang merasukiku. Kata - kata yang sangat sesuai dengannya saat ini yang membuat dirinya ke luar dari karakter Uchiha.
π
π
π
π
__ADS_1
Sepulang sekolah Naruto harus menunaikan kewajibannya sebagai asisten dari guru bahasa Inggris. Ia masih harus membantu wali kelasnya untuk mengerjakan tugas dari mulai mengoreksi jawaban dan laim sebagainya. Bahkan tak sungkan wali kelasnya itu menyuruhnya melakukan hal yang menyimpang dari tugas. Membuat kopi, memasakan ramen instan, membelikan minuman. Yang lebih ekstrim lagi adalah memijat bahunya. Naruto bukan tukang pijit. Tapi di rumah ia selalu memijit ibunya ketika ibunya sedang pegal - pegal.
Si gadis pirang berdango berjalan dengan riang dan penuh semangat sebari membawa lembar tugas bahasa Inggris milik kelasnya. Dulu ia selalu mengeluh dengan tugasnya tapi sekarang ia malah sangat bersyukur dan senang hati melakukannya.
"Permi..si.." ucap Naruto sebari membuka pintu. Pemandangan pertama yang ia lihat sangat menyesakkan hati. Bagaimana tidak? Sesosok wanita tengah menggelayuti lengan sang guru tercinta. Lengan sang guru menempel di bagian dada si wanita.
Naruto membutakan penglihatannya. Ia segera masuk untuk menyimpan lembar tugas di meja wali kelasnya.
"Maaf, Mr. Ini lembar tugas kelas XI Ipa 2. Permisi. Maaf sudah MENGGANGGU," ucap Naruto. Menundukkan kepalanya dan melangkah lebih cepat.
"Eh Namikaze - san," sapa Karin dengan wajah tanpa dosa.
Sasuke segera menepis tangan Karin dengan kasar namun Karin tak tinggal diam. Ia malah menarik tangan Sasuke.
"Mau ke mana, Sasuke?" tangan Karin.
"Bukan urusanmu!" jawab Sasuke. Lepas dari cengkaraman nenek sihir langsung melesat mengejar sang kekasih hati.
"Sial. Kenapa Sasuke selalu ngejar gadis itu?!" gumam Karin kesal.
Sementara itu, Naruto terus berlari. Ia tak peduli dengan peraturan larangan berlari di lorong. Melanggar satu aturan tidak akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah.
"Baka! Teme sensei no baka! Kuso!!" seru Naruto. Ia berhenti di bawah tangga dan duduk bersembunyi di bawah tangga.
"Hiks..hiks.." Naruto menangis. Melihat kekasihnya yang sedang didekati oleh perempuan lain sangat membuatnya terpukul. Hatinya sungguh sakit sesak. Dengan menangis bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Hiks..ka..katamu tidak hiks..akan tergoda. Hiks..ta..tapi..dengan mudahnya dia menyentuhmu. Hiks..hiks..Sasuke - kun no baka. Gak punya hati. Hiks..hiks.." umpat Naruto. Ia terus menangis seorang diri. Gambaran tunangannya dengan guru magang tadi membuatnya semakin terpukul dan sedih.
"Hiks..ke..kenapa rasanya sakit sekali? Hiks.. Hiks..dadaku sakit. Sa..Sasuke - kun jahat! Daikirai da!" seru Naruto. Masih berlinang air mata.
"Hiks..a..aku pulang saja. Biar mereka berduaan di sana. Siapa peduli? Huh?"seru Naruto. Setelah tangisannya reda, ia bangkit dari duduknya. Berniat untuk pulang. Ia tak menyaksikan adegan intim antara kedua guru muda berbeda gender itu di depannya.
"Kau mau ke mana?" tanya seseorang yang memegang tangan Naruto.
"Lepasin! Aku mau pulang. A..aku gak enak badan, Mr!" jawab Naruto dengan suara sedikit keras dan dingin.
"Kalo begitu, ayo. Aku antarkan kamu pulang, dobe," tambah Sasuke.
"Gak mau! Sana gih sama guru magang itu! Aku bisa pulang sendiri," tolak Naruto. Ia masih marah, jutek dan dingin
Srak. Seketika Naruto berada di pelukan Sasuke. "Lepaskan!" perintah Naruto. Ia tidak mau dipeluk olehnya.
"Diam!" bentak Sasuke.
Tubuh Naruto mengeras, kaku dan kembali menangis. "Lepaskan aku. Ku mohon, Mr," pinta Naruto berlinang air mata. "Lepaskan..hiks..hiks..."
"Tidak akan!" tolak Sasuke. Ia malah semakin erat memeluk tubuh tunangannya. "Maafkan aku. Aku tidak peka akan perasaanmu, Naruto. Maaf," ucap Sasuke. Tidak tahu harus berbuat apa supaya kekasihnya tenang.
Naruto masih diam tak bereaksi dan juga tak membalas pelukan dari kekasihnya.
"Sekali lagi. Maafkan aku, cinta. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Kau lihat sendiri kan dia yang mendekatiku." Sasuke masih membujuk kekasihnya. Pantang menyerah untuk menenangkan hati sang kekasih hati.
"Ka..Karin - san..dia..dia.." ucap Naruto terbata - bata. Ia sudah berhenti menangis. Mulai membalas pelukan dari Sasuke.
"Dengarkan dulu penjelasanku, Naruto. Kau tahu kan kalau dia bertindak seperti itu dari kemarin? Aku menolaknya. Aku tidak suka orang lain menyentuhku juga menyentuhmu, sayang," jelas Sasuke berkata dengan lembut.
"Tapi dia memeluk dan menggelayuti tanganmu, Mr. A..aku..tidak suka," gumam Naruto dengan wajah merah. Ia sangat malu mengatakannya.
Sasuke mencium kening gadisnya. "Tenang saja. Tadi yang terakhir. Aku tidak akan membiarkan wanita murahan itu menyentuh milikmu lagi. Ok," ucap Sasuke.
"Milikku?" beo Naruto.
"Ya. Aku kan milikmu. Dan kau milikku. Mengerti?" jelas Sasuke.
"Eh?! Ki..kita kan belum menikah, Mr!" seru Naruto. Ia memalingkan wajahnya karena malu.
Sasuke terus tersenyum hingga gadisnya merasa heran melihat tunangannya selalu tersenyum. Apalagi senyumannya itu sangat menawan. Hanya untuk Naruto senyuman lembut Sasuke.
"Ayo pulang!" ajak Sasuke. Keduanya sudah tidak berpelukan.
"Pulang? Tugasku bagaimana?" tolak Naruto.
"Akan ku kerjakan di rumahku saja. Lagipula ada Karin. Aku tidak mau rubah cantikku cemburu lagi," jelas Sasuke sebari mencolek pipi Naruto.
"Rubah? Aku sukanya kelinci! Bukan rubah, Mr!" seru Naruto menggembungkan pipi bakpaunya.
Sepasang sejoli beda status itu berjalan berdua secara berdampingan melewati tangga dan koridor sekolah menuju ruang guru. Sesampainya di ruang guru, si guru magang masih betah berada di dalam ruang guru.
"Sasuke!" seru Karin menghampiri Sasuke tapi Sasuke menghindarinya. "Kau selalu saja dingin. Pantas kalau kau gak laku - laku, Sa su ke," ejek Karin tapi pria yang ia dekati tidak membalas kata - katanya. Sasuke malah sibuk membereskan mejanya. Lalu berjalan melewati perempuan bersurai merah itu seakan - akan Karin tidak ada di dekatnya.
"Iiih..Sasuke?!" seru Karin. Ia kecewa dan kesal. Naruto yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, 'huh! Emang enak dikacangin. Sasuke teme adalah milikku. Harusnya aku memberitahukan kalau aku adalah tunangan Sasuke teme. Tapi..nanti saja.'
"Ayo, Naruto!" ajak Sasuke. Maksud hati ingin menggandeng tangan sang gadis pujaan namun gangguan datang.
"Tunggu! Aku juga mau pulang!" seru Karin. Ia berdiri di belakang pasangan sasunaru. "Boleh ya? Namikaze - san?" tanya Karin.
'Waduh. Gimana jawabnya? Kalo aku ngelarang urusannya ntar tambah ribet. Kalo ngizinin, hati aku yang sakit,' batin Naruto. Ia bingung menjawabnya.
"Uzumaki - san pulang duluan saja. Silakan," tolak Sasuke dengan sopan. Ia menyingkir untuk memberikan jalan pada Karin agar ia bisa lewat.
"Eh? Maksudku kan pulang bareng kalian. Begitu," ujar Karin terus melirik Sasuke. Namun yang dilirik tak menanggapi.
Sasuke terus berjalan meninggalkan Karin di belakangnya. Sedangkan Naruto berjalan di samping Sasuke.
"Ne, Namikaze - san," panggil Karin.
Naruto menoleh sambil berjalan. "Ya?" jawab Naruto santai.
"Sasuke tampan ya? Tapi dingin. Fansgirlnya masih tetap banyak sama seperti dulu waktu kuliah," ujar Karin.
"Oh," jawab Naruto. Ia sudah tahu jika fansgirl tunangannya sangat banyak. Tapi Sasuke tak tertarik terhadap gadis bar - bar yang mengejarnya hanya karena penampilan dan kepintarannya. Padahal Sasuke ibarat robot atau boneka lilin berotak cerdas tanpa memiliki perasaan ketika pertama kali bertemu dengannya.
"Aku menyukainya. Kau mendukungku kan?" bisik Karin tepat di telinga Naruto.
Naruto diam. Sasuke menoleh ke arah Naruto karena ia tidak ada di sampingnya. "Naruto? Cepat!" perintah Sasuke.
"Karin - san, maafkan aku. Usaha saja sendiri," jawab Naruto sambil tersenyum. Kemudian ia berjalan lebih cepat ke arah Sasuke yang berada lima meter di depannya.
"Hm? Siswi - siswi Sasuke semuanya aneh. Jangan - jangan dia ketua fansgirlnya," gumam Karin. Ia memerhatikan interaksi pasangan sasunaru di depannya.
πππππππππππππ
Keesokkan harinya. Sang guru masih saja mengejar dan menempel pada Sasuke. Sasuke terus saja menghindar.Β Sedangkan Naruto, auranya sudah sangat gelap dan tetap sabar menahan emosi.
"Naruto, kenapa gak bilang saja sih kalo kamu tuh tunangan Mr. Sasuke?" tanya Ino. Ia heran kepada sahabatnya karena belum memberitahukan hal yang sebenarnya.
"Nanti aku akan memberi tahukan kebenarannya. Lagipula si teme sensei juga diem aja," jawab Naruto santai.
"Tapi nanti keenakan guru ganjen itu lho," sambung Hinata. Ia khawatir kepada Naruto beserta hubungannya Sasuke.
"Aku ingin membuat guru merah itu jera dan jengkel. Juga malu karena telah berani menyentuh milik seorang Namikaze Naruto," ucap Naruto dengan ekspresi serius.
"Aku dukung keputusanmu, Naruto!" seru Sakura. Ia tos dengan Naruto.
'Kuning dan pink yang sangat kompak. Naruto semakin mirip dengan Sasuke - san sifatnya,' batin Ino. Ia merasa lega dan cemas bersamaan.
Skip time terus. Di ruang guru Naruto sudah stand by duduk di dekat meja wali kelasnya. Para guru yang ada di SMA Konoha sudah tahu hubungan Naruto dan Sasuke, yaitu bertunangan. Selama pasangan sasunaru tak berbuat aneh - aneh, pihak sekolah tidak akan mengeluarkan mereka dari sekolah. Lagipula keberadaan mereka membuat SMA Konoha lebih berwarna apalagi saat Naruto selalu dijahili oleh Sasuke. Naruto yang selalu merengek dan tingkah lucu siswi itu yang selalu bisa membuat para guru tertawa. Naruto yang mereka kenal adalah siswi biasa yang hanya memiliki nilai akademis tinggi dan tidak pandai olahraga. Namun setelah guru bermuka datar itu datang dan menjadikan Naruto sebagai asistennya, kepribadian asli Naruto ke luar dan Sasuke juga menjadi manusia tidak seperti awal mengajar. Sungguh pasangan yang saling memberikan manfaat dan faedah.
Sasuke masuk ke dalam ruang guru. Tadi ia pergi ke toilet setelah mengajar di jam pelajaran terakhir.
"Naruto? Kau sudah datang?" tanya Sasuke tak percaya. Ia pikir Karin lah yang sedang duduk di dekat mejanya.
"Iya. Maaf kalo bukan guru magang yang montok itu yang ada di sini," jawab Naruto ketus.
Sasuke meletakkan buku agendanya di atas meja. Kakashi yang kebetulan belum pulang, menghampiri pasangan sasunaru.
"Kalian harus akur. Aku tidak mau mendengar para guru wanita menggosipkan kalian di ruangan ini," ujar Kakashi. Tersenyum di balik masker andalannya.
"Siap, sensei," jawab Naruto patuh.
Kakashi menepak bahu Sasuke sebari berbisik, "jangan lepaskan Naruto. Kapan lagi kau bisa dapat loli. Hehe." Ia tertawa.
"Hn," jawab Sasuke.
"Sampai besok, Naruto, Sasuke - san," ucap Kakashi meninggalkan ruang guru.
Sasuke pun duduk di samping siswinya yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai asisten. Sedangkan gurunya yang menugaskan Naruto juga ikut mengerjakan tugasnya sebagai guru. Terkadang tangan sang wali kelas tidak hanya digunakan untuk menulis tapi mengusap kepala asistennya dan mencium ceruk leher si asisten saat ruang guru kosong. Guru yang super mesum.
"Karin san tidak ada ya?" tanya Naruto sambil menengok ke setiap sudut ruang guru. Ia heran. Biasanya guru magang itu menempeli tunangannya secara terus menerus namun sore ini ia tidak ada.
Beberapa saat kemudian, orang yang ia tanyakan datang dan..
"Sasu..ke.." Karin terkejut. Ada Naruto di samping Sasuke.
"Ah Karin - san. Selamat sore," sapa Naruto dengan ramah. Ia berdiri sebentar lalu duduk kembali mengerjakan tugasnya.
Karin berjalan melewati pasangan sasunaru. Sasuke tak meresponnya.
"Namikaze, kamu sedang apa di sini?" tanya Karin mendadak berhenti di dekat meja Sasuke.
Naruto menghentikan aktivitasnya sejenak. "Aku sedang membantu Mr. Sasuke," jawab Naruto santai.
"Membantu? Membantu apa?" tanya Karin. Lagi.
"Mengerjakan tugas Mr. Sasuke sekaligus belajar lagi dari Mr," jawab Naruto tersenyum palsu.
"Oh." Karin mendekatkan wajahnya ke telinga si gadis pirang. "Kau bantu aku dekati Sasuke ya. Nanti ku traktir dan kau bebas dari tugasmu ini," bisik Karin.
Jleb. Perkataan dengan suara pelan yang berefek mendalam dan menusuk di dada.
Naruto menyunggingkan senyum lalu berkata, "lebih baik Karin san jangan dekati Mr. Sasuke."
Karin melongo. Seperti yang ia duga jika Naruto termasuk fansgirl Sasuke.
"Hm. Aku yakin kalo Sasuke akan berpaling padaku. Huh," balas Karin masih berbisik. Kemudian ia berjalan meninggalkan pasangan sasunaru.
"Ja ngan mim pi," gumam Naruto. Pensil yang ia pegang sampai patah.
Sasuke melirik ke arah Naruto. "Ada apa, dobe?" tanya Sasuke heran. Melihat pensil yang dipegang Naruto sampai patah.
"Dai jo bu, Mr," jawab Naruto tersenyum. Sasuke kembali melanjutkan kegiatannya.
'Ok. Guru magang itu telah mengibarkan bendera perang. Lihat saja nanti. Akan ku buat kau malu da sengsara,' batin Naruto nista. Dari tubuhnya ke luar aula menyeramkan.
Sasuke merasa ada hal yang sedang disembunyikan oleh siswi kesayangannya itu tapi ia tidak akan bertanya di sekolah. Karena urusan dengan Naruto harus secara pribadi.
Sang guru magang bersurai merah berkacamata itu berjalan mendekati pasangan sasunaru.
Karin masih duduk di tempatnya yang sangat jauh dari pasangan sasunaru. Ia memerhatikan gerak gerik mereka dengan teliti. Tidak ada keanehan hanya Sasuke yang kadang tersenyum dan becanda pada siswinya.
'What the hell? Si pangeran es tersenyum sama si cebol cepol itu? Tak kan ku biarkan,' batin Karin.
"Ne, Sasuke. Kita pulang bareng yuk? Sekalian mampir ke kedai minum?" ajak Karin dengan nada menggoda. Tak lupa tangannya mencolek punggung si guru ganteng yang masih duduk.
Sasuke tak merespon. Naruto pun beraksi. "Karin - san. Gak baik mengajak seseorang berlawanan jenis pulang kerja ke kedai minum. Nanti akan ada kejadian yang tidak diinginkan lho," ujar Naruto sepolos mungkin seperti anak SMP.
Karin menaikkan sebelah alisnya. Saingan cintanya adalah seorang siswi SMA. Sangat tidak sesuai dengan levelnya yang sudah dewasa. Apalagi dari segi penampilan, wajah dan badan. Karin menang banyak.
"Sa su ke.." panggil Karin. Ia masih belum menyerah.
"Ayo, Naruto. Kita pulang!" ajak Sasuke. Tangannya menggandeng tangan Naruto. "Baik, Mr," jawab Naruto.
Tanpa memedulikan keberadaan orang lain di sekitar, sepasang sejoli itu pun meninggalkan ruang guru sambil bergandengan tangan.
Naruto menoleh ke belakang tepat ke tempat Karin berdiri. "Huh!" seru Naruto sebari tersenyum sinis dan menjulurkan lidah. "**** you!". Pasangan sasunaru meninggalkan Karin yang masih berdiri dalam keheningan dan kebingungan.
"Dasar bocah cebol cepol!! Awas saja kau nanti! Berani menggandeng Sasuke-ku! Dasar genit! Perempuan ja***g!!" seru Karin kesal dan jengkel.
π‘π₯π‘π₯π‘π₯π‘π₯π‘π₯π‘π₯π‘
"Hahaha." Suara tawa Sasuke. Kini pasangan sasunaru berada di teras belakang kediaman Namikaze. Duduk bersebelahan di atas bangku.
"Aku suka sekali, dobe! Ku pikir kau akan cemburu dan diam saja," ucap Sasuke sebari mengusap kepala dango kekasihnya.
"Iya dong. Aku mau guru ganjen itu mendapatkan akibat telah merayu dan pegang - pegang punyaku," balas Naruto. Ia duduk menyandar di bahu Sasuke.
"Kau percaya padaku kan, dobe?" tanya Sasuke. Ia masih takut dobe dangonya cemburu dan marah - marah.
Naruto menatap wajah tunangannya dengan serius lalu mencubit pipi Sasuke.
"Aku percaya tapi..tetap saja cemburu dan kesal. Sa..Sasuke - kun juga pasti cemburu kalo jadi aku. Mana ada perempuan yang ga cemburu ngelihat tunangannya didekati perempuan lain. Apalagi perempuan itu lebih darinya," jelas Naruto.
"Lebih apanya? Lebih tua emang benar. Tapi aku lebih suka tunanganku yang masih unyu - unyu ini," balas Sasuke. Ia juga mencubit pipi tembem Naruto.
Wajah Naruto merona dan tersipu malu. "Be..benar ya? Jangan kegoda lho sama wanita semangka itu! Kalo Sasuke - kun tergoda, say good bye sama dango dobe blondemu ini!" seru Naruto. Ia serius.
"I swear, darling. Muachππ." Sasuke. Menciumi semua bagian wajah gadis belianya.
Blushing lagi. "Sa..Sasuke - kun mesum," ucap gadis pirang itu semakin merona.
__ADS_1
The End
Eh salah To Be Continued