Dango Blonde Naruto

Dango Blonde Naruto
chapter 4


__ADS_3

Semua karakter milik Masashi Kishimoto sensei


Thor cuma pinjam tanpa izin


Ide cerita asli milik thor


Pair sasufemnaru


Genre murid, guru, cinta


Cerita gaje dan abal - abal, banyak typo dan karakter pada ooc


Happy reading


Pagi yang cerah tak secerah sang gadis pemilik surai pirang panjang selutut yang telah sadar dari mimpi buruknya. Mimpi terburuk yang pernah ia alami.


"Mimpiku buruk sekali. Lebih buruk dan menakutkan. Kenapa harus mimpiin orang itu lagi? Kemarin udah ketemu. Nanti di sekolah juga ketemu. Eh di mimpi juga ketemu. Please..aku cuma ingin hidup damai. Aku tidak mau hidup damaiku terganggu oleh guru sialan itu. Ah..." gumam Naruto. Ia merasa kesal padahal hari masih pagi. Harusnya ia menyambut hari dengan senyuman bukan dengan keluhan yang tidak jelas seperti itu.


Memangnya si pirang mimpi apa sampai ia merasa sangat kesal? Akan thor ceritakan cuplikan mimpi si gadis pirang.


Di dalam mimpi, Naruto berlari dikejar - kejar sesosok mahluk berbadan besar, berbulu di seluruh tubuhnya, wajahnya juga menyeramkan. Ia ditolong oleh seorang pemuda tampan berambut bak pantat ayam. Lalu pemuda itu menggendongnya seperti pengantin, mencumbunya bahkan sampai membuka bajunya yang membuat Naruto berteriak dan menangis. Namun sang pemuda malah semakin parah memperlakukan Naruto. Setelah membuka bajunya, sang pemuda malah melakukan hal yang tak senonoh pada Naruto. Dan berakhirlah mimpi buruk yang terkesan panas bagi manusia lain selain Naruto.


"Aku harus mandi basah. Kalau kering bukan mandi namanya tapi berjemur.Dasar." ujar Naruto. Tiba - tiba bayangan sosok tampan dalam mimpinya terbayang. "Ayam teme! Jangan muncul di mimpiku lagi!" seru Naruto kesal tapi mukanya merona malu. "Aah..doshiyou..aku tidak boleh begini. Tidak boleh lemah. Aku harus kuat dan tidak boleh sembarangan suka sama laki - laki. Semangat, Naruto!!" seru Naruto. Ia pun bangun dari tempat tidur dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Skip time


Naruto sudah berada di ruang kelasnya. Pagi itu ia sama sekali tidak bersemangat. Awan mendung selalu menaunginya ke manapun ia pergi. Entah kenapa hari ini ia merasa akan terjadi hal yang buruk padanya.


"Haah..." Naruto menghela nafas berat saat sampai di bangku duduknya.


"Kau kenapa, Naruto? Sepertinya ada yang kau pikirkan?" tanya Ino yang duduk di sebelah Naruto.


"Tidak ada. Hanya tugas yang banyak dan aku sama sekali belum menonton film yang kemarin aku minta dari Gaara." jawab Naruto lemas.


Hinata menoleh ke belakang tempat Naruto duduk. "Tidak biasanya kau diam saja, Naruto. Apa kemarin terjadi sesuatu?" tanya Hinata yang merasa khawatir terhadap teman pirangnya itu.


"Hanya ke toko buku dengan Ino dan Gaara. Lalu ketemu ayam berbulu hitam." jelas Naruto.


"Ayam berbulu hitam?" beo Ino dan Hinata.


Tiba - tiba Sai, Sakura dan Kiba datang menghampiri Naruto sambil membawa buku tugas mereka.


"Naruto - chan. Lihat buku peermu dong." pinta ketiga orang itu.


"Apa? Ogah. Kerjain aja sendiri. Sakura juga pintar kan. Kenapa nyontek sama aku?" tolak Naruto. Ia sedang kesal pagi ini ditambah ketiga orang temannya meminta contekan padanya.


"Ayolah.. Kamu baik deh.." rayu Sakura.


Naruto menolak.


"Nanti aku lukisin karakter live action kesukaanmu." bujuk Sai dengan senyum palsunya yang khas.


Naruto memikirkan kata - kata Sai. Tapi ia masih tetap tak mau memberi contekan. Ia sudah berusaha susah payah mengerjakan peernya sampai tidak menonton anime kesukaannya. Enak saja mereka bertiga minta contekan. No way.


Naruto berjalan menjauhi ketiga orang yang meminta contekan. Namun bunyi bel memaksa Naruto untuk segera kembali ke tempat duduknya dan tiga orang tadi langsung meninggalkan Naruto.


"Mereka bertiga tak punya malu." ujar Ino kesal.


Hinata mengangguk setuju atas pendapat dari Ino.


"Ya. Aku ini lagi kesal. Mereka tidak tahu sih. Semuanya karena orang itu. Untung saja pelajaran pertama Kakashi sensei. Aku panggil beliau dulu ah." ucap Naruto yang piketnya hari ini bersama Sakura. Sakura merasa senang karena Naruto lah yang memanggil Kakashi sensei. Jadi ia yang akan memanggil sang guru muda pujaan hatinya.


Naruto berjalan dengan riang menuju ruang guru. Kakashi sensei adalah seorang guru yang sangat baik meski terkadang mesum tapi tetap sopan pada murid - muridnya. Ia juga terkadang mentraktir Naruto dan teman - temannya yang sesama asisten TIK tahun lalu. Ia jadi akan mendaftar lagi. Dasar doyan gratisan.


"Permisi." ucap Naruto sebari membuka pintu ruang guru.


"Yo, Naruto." sapa Guy sensei dengan semangat 45. Ia sedang bersiap - siap untuk mengajar di lapangan.


"Selamat pagi, Guy sensei. Apa Kakashi sensei sudah datang?" tanya Naruto. Ia melihat ke sisi kiri dan kanan, depan belakang namun guru yang dimaksud tidak menampakkan kehadirannya malah yang tampak adalah sosok penampakan terseram baginya. Naruto segera memalingkan wajahnya.


"Beliau ada urusan mendadak. Istrinya melahirkan." jawab Guy sensei. Kemudian ia ke luar dari ruang guru.


"Wah..Kakashi sensei jadi ayah. Hebat..." gumam Naruto yang lupa tujuan semula datang ke ruang guru.


Plok. Sebuah buku tebal mendarat di atas kepala Naruto meski tidak tersentuh terhalang rambut dango miliknya.


"Bawa lembaran ujian ini. Jam pertama adalah bahasa Inggris sampai jam istirahat nanti." ujar seseorang yang ternyata sang wali kelas Mr. Sasuke.


"Nani? Bagaimana di kelas lain? Lagipula sekarang kan bukan jam pelajaran Mr. Kenapa bukan guru mata pelajaran lain saja yang menggantikan Kakashi sensei?"beo Naruto. Apa tidak terlalu lama sang wali kelas mengajar di kelasnya? Berarti beberapa hari berikutnya jam pelajaran bahasa Inggris akan digantikan oleh pelajaran TIK. Tidak apa - apa. Sehari tidak diajari guru ayam itu akan menentramkan hati dan kehidupannya.


"Sudah saya atur. Ayo ke luar." perintah Sasuke pada Naruto.


"Iya." jawab Naruto lesu.


"Baru hari Senin saja sudah lemas gitu. Mana semangatmu?" ujar Sasuke heran. Sasuke berjalan di depan dan Naruto di belakang.


"Kebawa ke dalam manga yang saya baca semalam. Belum sempat dibaca keburu ngantuk." jelas Naruto. Ia tidak sadar dengan siapa ia bicara.


Sasuke berhenti mendadak. Tabrakan pun tak dapat dicegah. Muka Naruto mengenai punggung sang guru yang kekar dan keras. "Ittai. Ada apa, Mr? Belum sampai kelas juga." gumam Naruto heran sebari sebelah tangannya mengusap dahinya yang ngilu akibat tabrakan dengan punggung sang guru.


"Bukannya belajar malah baca manga. Mau jadi apa kau setelah besar nanti, dobe." ujar Sasuke dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.


"A..saya sudah belajar. Tugas dari Mr juga sudah selesai. Jadi..jangan panggil saya dobe. Saya kan tidak bodoh." ucap Naruto tak terima dibilang dobe. Ia ingin meneriaki pemuda di depannya. Apa daya karena pemuda itu adalah seorang guru dan lebih parahnya ia adalah wali kelasnya sendiri.


"Bagus." gumam Sasuke puas. "Murid pintar." tambah Sasuke sebari mengelus kepala Naruto tepat di area rambut dangonya.


Blush. Naruto merona, malu dan gugup. Ia jadi salah tingkah namun ia berusaha untuk senormal mungkin dan menghilangkan semua perasaan aneh itu dari dirinya.


"Iih..nanti rambut saya lepas ikatannya, Mr. Kan lama membuat gaya rambut seperti ini." sahut Naruto risih karena Sasuke mengusap kepala dango miliknya tanpa izin darinya.


"Hn." gumam Sasuke. Mereka pun kembali berjalan menuju ruang kelas Sasuke.


'Sial. Kenapa tanganku bergerak sendiri sih? Tapi..senang juga rasanya.' batin Sasuke tersenyum.


'Menyebalkan.' batin Naruto kesal karena tindakan gurunya yang lancang menyentuh kepala dango miliknya. Gurunya tidak tahu kalau membuat gaya rambut seperti itu tidaklah mudah. Kalau sampai lepas ikatannya, Naruto bakal kewalahan membuat ulang model dango di rambutnya.


Sebelum masuk ke dalam kelas, Kiba yang hendak ke luar dari kelas segera masuk kembali dan berseru, "Naruto malah manggil wali kelas kita!" seru Kiba panik. Seisi kelas juga panik karena rata - rata murid belum selesai mengerjakan tugas rumah yang wali kelas mereka berikan.


"Bukannya sekarang pelajaran Kakashi sensei tapi kenapa Naruto malah membawa Mr. Sasuke." ujar Sakura mulai menjadi provokator.


"Wah..dia mau cari muka tuh." sambung siswi lain.


"Mentang - mentang pintar bahasa Inggris jadi tidak solider sama kita." tambah siswa lainnya.


"Dia menyebalkan juga." ucap siswi lain.


Hinata dan Ino hanya bisa diam. Mereka ingin membela Naruto tapi mereka juga takut karena lawan mereka semua penghuni kelas.


Sasuke pun masuk yang diikuti oleh Naruto dengan ekspresi tanpa gairah belajar. Naruto pun menyerahkan barang yang ia bawa kepada sang wali kelas. Lalu ia berjalan ke tempat duduknya.


Semua murid memberi salam dan Sasuke juga membalas salam mereka. Kemudian sang guru muda nan rupawan itu memulai pelajaran dengan memberitahukan hasil ujian dadakan minggu sebelumnya.


"Saya akan mengumumkan nilai yang kalian dapatkan di ujian dadakan pertama minggu lalu." ujar Sasuke sebari memilah lembar kertas ujian.


Naruto dan teman - teman sekelasnya pucat seketika. Mereka pasti mendapat nilai yang rendah. Bagaimana tidak rendah? Mereka tidak belajar dahulu jadi mana bisa dapat nilai tinggi.


"Siswa atau siswi yang mendapatkan nilai paling tinggi akan menjadi asisten saya." tambah Sasuke. Ia melirik ke tempat Naruto berada.


'Semoga bukan aku. Bukan aku. Aku mau jadi asisten Kakashi sensei bukan Mr. Sasuke rambut ekor ayam itu.' batin Naruto. Ia terus berdoa dalam hati tapi takdir berkata lain.


"Namikaze Naruto." sahut Sasuke.


"Eh? A..aku?" beo Naruto.


"Selamat. Kau mendapatkan nilai ujian tertinggi di kelas ini. Nilaimu juga lebi tinggi dari murid kelas 11 lain." jelas Sasuke datar.


'It's show time, Namikaze Naruto.' batin Sasuke dengan seringai licik.


Semua murid bertepuk tangan, kecuali seorang siswi berambut merah muda. Ia merasa kalah dan kesal. Kenapa harus Naruto? Apa bagusnya gadis dango itu? Hanya seorang otaku yang culun.


'Cih. Aku tidak akan membiarkan kegiatanmu sebagai asisten Mr. Sasuke lancar. Akan kubuat kau sengsara.' pikir Sakura dengan seringai jahatnya.


Naruto masih duduk di tempat duduknya. Ia tidak percaya bisa meraih nilai tertinggi di antara kelas 11. Rasa bahagia dan bangganya pudar setelah sang wali kelas memanggil namanya untuk maju ke depan.


"Namikaze Naruto. Silakan maju ke depan." ujar Sasuke.


"Cepat maju, Naruto." bisik Ino pada Naruto.


"Aah..i..iya." gumam Naruto mendadak gugup.


Naruto pun berjalan ke tempat Sasuke berada dengan perasaan tidak karuan. Ia bukannya merasa senang tapi malah merasa terpukul. Karena setiap kali bertemu dan menghadap sang wali kelas, ia akan mendapat kesialan. Mulai detik ini hidup Naruto akan lebih berat.


Sasuke memberikan selembar kertas ujian yang tertera nilai 85 pada Naruto. Naruto pun menerima hasil ujian yang telah menguras semua energi alamnya ralat energi pikirannya.


"Congratulation, Namikaze - san." ujar Sasuke dengan ramah.


Naruto tersipu melihat senyuman ramah Sasuke tapi secepat kilat ia menghilangkan rasa kagumnya akan ekspresi tampan sang guru.


"Thank you, Mr." balas Naruto tersenyum palsu.


'Senyumanku tak bisa membuatnya terpesona. Ia malah tersenyum palsu padaku. Tapi..aku akan membuat siswi ini jatuh pada pelukanku.' batin Sasuke.


"Mulai hari ini kau adalah asistenku, Namikaze." gumam Sasuke dengan nada datar dan dinginnya yang khas.


"Hai, Mr." jawab Naruto. Ia pun kembali ke tempat duduknya dengan rasa galau yang melimpah ruah.


"Selamat ya, Naruto." ucap Hinata bangga pada teman pirangnya itu.


"Kau hebat, Naruto." ujar Ino.


"Ah ya. Arigatou, Ino, Hinata." balas Naruto masih lesu.


'Aah..aku tidak mau jadi asisten Mr. Sasuke. Tidak mau. Doshiyou?? Cobaan apa lagi ini?' batin Naruto nelangsa.

__ADS_1


Mungkin bagi siswi lain dekat dengan guru muda nan tampan adalah anugerah terbesar bagi mereka tapi bagi Naruto itu adalah musibah. Meski dalam hati kecilnya ia merasa aneh. Ada rasa menggelitik dari lubuk hati terdalamnya. Ia hanya takut terpesona dengan apa yang guru muda itu punya. Naruto gadis normal seperti para siswi penggemar Sasuke jadi dia juga menyukai Sasuke tapi ia tidak mau sampai ada rasa lebih apalagi status yang berbeda antara guru dan murid dan juga Naruto sudah bosan dengan yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Maka dari itu ia bertekad tidak akan jatuh cinta selama masih duduk di bangku SMA. Kecuali ada seorang laki - laki yang dengan suka rela mengungkapkan perasaan cinta padanya. Itu pasti cuma mimpi di siang hari baginya.


"Bagaimana dengan tugas yang minggu lalu kuberikan? Apa sudah dikerjakan?" tanya Sasuke sambil mondar mandir di depan kelas memerhatikan ekspresi para anak didiknya. Kebanyakan belum mengerjakan tugas yang ia berikan. Ia juga belum menjelaskan pelajarannya jadi wajar saja para muridnya belum mengerjakan tugas.


Sasuke menghela nafas. Ia berpikir menjadi seorang guru ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan apalagi muridnya tidak pintar sepertinya. Kalau mereka pintar tidak mungkin sekolah.


Sasuke pun mulai menjelaskan bagian pelajarannya yang dianggap sulit oleh sebagian besar muridnya. Ia menjelaskan dengan panjang lebar sampai harus ke luar dari karakter aslinya yang jarang berbicara banyak. Serasa mengajari anak SD.


"Apa ada yang tidak mengerti?" tanya Sasuke tanpa ekspresi.


Para siswi mengangkat tangan mereka. Hanya sekedar bertanya dan cari perhatian saja darinya. Namun Naruto tampak serius dengan apa yang baru saja gurunya jelaskan.


"Ooh..berarti jawabanku yang ini salah. Pantas saja aku ragu sama jawabannya." gumam Naruto sebari menghapus tulisan di atas lembar jawaban buku tugasnya.


Ino yang memerhatikan Naruto hanya bisa tersenyum pada sikap Naruto.


'Naruto serius sekali belajarnya. Hebat.' batin Ino.


Sasuke sweatdrop mendengar pertanyaan dari para siswi. Ia merasa gagal menjadi guru. Para siswi hanya memerhatikan dirinya daripada pelajaran yang ia jelaskan. Sengsara hidupnya. Ia melirik ke arah Naruto. Naruto juga tanpa sengaja melihat ke depan kepada sang guru berdiri. Naruto sontak mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tapi Sasuke langsung menyeringai licik. Ia mendapat ide cemerlang.


"Hn. Namikaze Naruto. Apa kau ada pertanyaan? Kau diam saja dari tadi." ujar Sasuke dengan niat terselubung.


"Eh? Tidak ada, Mr. Saya cukup paham dengan pelajaran yang Mr jelaskan." jawab Naruto setenang mungkin.


"Jika begitu, bisa kau jelaskan dan contohkan dengan menulis beberapa kalimat di papan tulis, Namikaze?" pinta Sasuke dengan tatapan menantang.


'Glekh. Guru ini... Aku jadi nyesel jawab sudah paham. Ah..mati aku.' batin Naruto.


"Cepat, Namikaze." ujar Sasuke dengan nada datar dan dingin bak robot.


"Baik, Mr." sahut Naruto. Ia pun berjalan ke depan kelas. Lalu menulis beberapa kalimat di papan tulis dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Ini contoh kalimat dari yang Mr. Sasuke tadi jelaskan. Future continuous tense. Hampir sama dengan yang simple future hanya saja tense yang ini bukan cuma akan dilakukan tapi sedang berlangsung kejadiannya. Gimana? Mengerti tidak?" jelas Naruto namun teman - temannya sama sekali tidak ada yang mengerti. Naruto sweatdrop.


Naruto pun menjelaskan lagi secara lengkap dan terperinci.


"Hm..misalnya gini, Kiba akan sedang makan sosis besok malam. Subjek + will/shall + be + verb/kata kerja ke1 + ing + objek + keterangan waktu. Jadi Kiba will be eating sausage tomorrow night." tambah Naruto dengan sabar. Sang guru malah duduk di bangku tempat Naruto duduk.


'Yang jadi guru tuh siapa? Aku apa guru ayam itu sih? Ukh...dasar guru sialan.' batin Naruto kesal.


'Hn. Hebat juga.' batin Sasuke puas.


Namun teman - teman Naruto masih tidak mengerti dengan apa yang telah Naruto jelaskan. Padahal Naruto sudah panjang lebar menjelaskan.


'Mereka memang pintar. Saking pintarnya Mr. Sasuke sampai memintaku menjelaskan. Aah..mendokusai..' batin Naruto.


Sai mengangkat tangannya. "Ya, Sai. Apa ada yang mau kau tanyakan?" tanya Naruto penuh harap. Semoga ada satu dari temannya yang mengerti penjelasan darinya.


"Bagaimana kalau kau mengajariku di rumahku saja. Nanti aku akan mengajarmu melukis atau aku lukisin tokoh idolamu. Penawaran yang brilian bukan?" tanya Sai memasang senyuman palsunya.


Semua murid sweatdrop. Termasuk Naruto. Kalau reaksi sang guru sih jangan ditanya. Ingin melempar spidol dan penghapus ke muka Sai yang selalu senyum palsu itu.


'Sialan.' batin Naruto dan Sasuke.


"Hm..boleh juga tawaranmu itu." jawab Naruto. Sasuke langsung gelisah. "Tapi..kenapa tidak belajar di kelas saja, Sai?" jawab Naruto tersenyum menggoda Sai. Muka Sai merona merah.


Sasuke sangat kesal dengan tindakan Naruto. Ia mengepalkan sebelah tangannya. Ingin sekali mengatakan pada Naruto supaya jangan tersenyum dan menggoda siswa lain.


"Namikaze, terima kasih penjelasannya. Kau boleh duduk lagi." ujar Sasuke sedikit kesal.


"Baik, Mr." sahut Naruto menurut saja.


'Yes. Selesai juga.' batin Naruto merasa bahagia. Ia pun berjalan kembali ke tempat duduknya.


Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Pelajaran membosankan dari sang guru tampan telah usai diakhiri dengan pekerjaan rumah.


"Namikaze, pulang sekolah nanti datang ke ruang guru." ucap Sasuke sebelum meninggalkan ruang kelas.


"Yes, Mr." balas Naruto.


Gaara sudah menanti Naruto di dekat pintu kelas yang membuat Sasuke berpapasan dengan siswa berrambut merah itu.


"Selamat siang, Mr." sapa Gaara dengan sopan.


"Hn." balas Sasuke jutek, dingin dan datar.


Naruto yang melihat kedatangan Gaara langsung berlari ke arah Gaara.


"Wah Gaara! Padahal aku mau ke kelas kamu lho!" seru Naruto gembira karena Gaara datang sambil membawa pesanannya, flashdisk yang berisi film dan soundtrack kesukaannya. Ia jadi tidak perlu susah - susah mendownload.


"Aku cuma mau ngasih ini doang. Besok bawa lagi ya flashdisknya. Ok." ujar Gaara.


"Ok. Arigatou, Gaara. You're the best friend ever. Hehehe!" seru Naruto dengan riangnya. Gaara hanya membalas perkataan Naruto dengan tersenyum sebagai teman.


'Tadi dia muram dan tidak semangat. Sekarang malah senang dan bersemangat. Dasar rakun merah sialan.' batin seseorang yang diam - diam memerhatikan Naruto dan Gaara.


"Ya. Aku ke kantin dulu ya. Bye." ujar Gaara.


"Bye." balas Naruto. Ia segera berjalan kembali ke tempat duduknya dan segera bergabung bersama Ino dan Hinata untuk makan siang.


"Cuma ngasih pinjam flashdisk." jawab Naruto. Ia mengeluarkan bekal makan siangnya dengan perasaan senang.


"Kirain dikasih surat cinta." tambah Hinata.


"Ah. Tidak mungkin." bantah Naruto. Ia merasa mustahil kalau Gaara akan memberinya surat cinta. Zaman sudah modern dan canggih. Lagipula mereka sudah berteman dari kelas 10. Teman sesama otaku. Bedanya Gaara itu gamers sedangkan Naruto otaku anime dan manga juga live action. Kalau sampai ada perasaan cinta, hancur sudah pertemanan mereka lagipula thor tidak membuat pair Gaarafemnaru.


Tiba - tiba sang pemilik surai merah muda datang menghampiri Naruto yang sedang makan siang dengan ekspresi kecewa dan kesal.


"Hei, Naruto!" seru Sakura yang mengejutkan Naruto, Ino dan Hinata yang sedang makan bertiga di bangku mereka.


"Sakura. Ada apa?" tanya Naruto dengan polosnya. Ia menunda kegiatan makannya.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Mr. Sasuke? Kemarin kalian kencan kan?" tanya Sakura yang sangat penasaran dan juga sedikit kesal.


"Eh? Apa yang ku lakukan pada Mr. Sasuke? Apa maksudmu? Dan kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Mr. Sasuke bersama Ino dan Gaara ketika kami sedang makan. Terus.." jawab Naruto namun ia menjeda perkataannya.


"Terus apa, hah?! Apa kau sudah merayu Mr. Sasuke supaya mau memboncengmu? Senior Sara yang populer saja ditolak. Sedangkan kau, cantik juga nggak. Pintar juga gak terlalu. Atau jangan - jangan..kau telah.." balas Sakura yang tambah sinis pada Naruto.


"Jangan - jangan aku apa? Oh iya. Senior Sara yang cantik itu kan? Kok Mr. Sasuke nolak? Atau..Mr. Sasuke itu..gak suka perempuan ya.." tambah Naruto yang alur pembicaraannya entah ke mana. Ino dan Hinata sweatdrop dengan kelakuan teman pirangnya itu. Jelas - jelas sang wali kelas ada minat pada dirinya walaupun baru seminggu mengajar di sekolah ini.


"Apa maksudmu, bodoh?! Percuma nanya sama otaku kayak kamu. Aku gak perlu cemas punya saingan sepertimu karena mustahil Mr. Sasuke yang tampannya minta dicium itu suka sama kamu. Huh. Bye." ujar Sakura dengan sombong sebari berjalan meninggalkan Naruto yang tidak tahu maksud dari perkataan Sakura.


"Saingan apa? Saingan dapat peringkat kesatu sih iya. Aku gak ngerti maksud si pink itu." gumam Naruto. Ia pun kembali meneruskan acara makan siangnya yang sempat tertunda.


Ino dan Hinata saling melempar pandang. Betapa anehnya teman pirang mereka. Naruto pintar dalam pelajaran tapi tidak pintar dalam segi perasaan. Hanya Naruto yang belum pernah pacaran di antara mereka bertiga meski sekarang Ino dan Hinata sedang tidak punya pacar.


"Kebanyakan nonton anime dan baca manga jadi tumpul hatinya." gumam Ino pelan.


"Ya. Kau benar, Ino." sambung Hinata.


"Kalian ngomong apa sih? Aku gak bisa dengar lho." gumam Naruto ingin tahu.


"Bukan apa - apa." balas Hinata.


"Naruto, kemarin apa yang sebenarnya terjadi? Antara Mr. Sasuke denganmu. Kau mulai main rahasia pada kami." ujar Ino pura - pura kecewa pada Naruto.


Naruto sudah selesai makan. "Tidak ada. Mr. Sasuke hanya meminta tolong padaku untuk memilihkan hadiah untuk ibunya. Lalu mengantarku pulang. Tidak ada yang terjadi." jelas Naruto dengan polosnya.


Ino dan Hinata sweatdrop. Tentu saja sudah terjadi. Buktinya guru baru itu meminta Naruto untuk memilihkan hadiah untuk sosok sang ibu. Apalagi wali kelas mereka sangat terkenal dan digilai para siswi se - SMA Konoha. Jika bukan ada perasaan spesial, memangnya apalagi.


"Naruto." gumam Hinata prihatin.


"Ya? Kau kenapa, Hinata? Melihatku seperti melihat pengemis yang minta diberi uang." tanya Naruto heran dengan sikap Hinata.


Pletak. Ino menjitak kepala dango Naruto dengan pelan dan gemas.


"Aku ingin mencubit pipimu yang chubby dan menggigit rambut dangomu itu, Naruto. Kelihatannya manis." ujar Ino gemas.


"Iih..Ino psikopat." gumam Naruto pura - pura takut. Kemudian ketiga gadis itu tertawa bersama.


'Semoga Naruto mendapatkan cinta sejati dan terakhirnya.' batin Hinata.


'Aku yakin 100% kalau Mr. Sasuke menyukai Naruto. Aku harap mereka berjodoh.' batin Ino.


'Amiien.' batin Ino dan Hinata bersamaan dalam hati mereka.


Skip time


Bel pertanda pelajaran usai pun berbunyi. Saatnya pulang bagi semua siswa siswi Konoha High School, kecuali gadis pirang panjang sang pemeran utama. Setelah jam pelajaran terakhir ia harus segera memenuhi tugasnya sebagai asisten guru bahasa Inggris. Sebenarnya ia tidak mau tapi sang guru tanpa belas kasihan malah memilihnya. Padahal murid lain yang lebih pintar darinya masih banyak. Ia baru ingat bahwa saat ia menjadi asisten Kakashi sensei tidak hanya satu orang namun ada beberapa murid dari kelas lain. Berarti Naruto tidak sendiri di ruang guru. Pasti ada murid lain juga. Begitu pikirnya.


Naruto sudah berdiri di depan pintu ruang guru. Ia mengambil nafas dalam - dalam kemudian membuka pintu seraya memberi salam. Ia pun masuk. Di dalam ruang guru tidak ada seorang pun. Mungkin semua guru sudah pulang termasuk wali kelas ayamnya. Pikir Naruto. Ia berniat untuk meninggalkan ruang guru tapi sesosok pria tinggi mendadak berdiri di hadapannya. Seketika Naruto berteriak karena terkejut dan takut.


"Kyaa..!" teriak Naruto ketakutan.


"Jangan berisik! Ini ruang guru, Namikaze." perintah pria itu yang ternyata adalah wali kelasnya sendiri, Uchiha Sasuke.


"Mr? Jangan mengejutkan saya dong. Saya jadi kaget dan takut. Saya kira hantu." gumam Naruto yang sedang berusaha menenangkan dirinya yang masih kaget.


Sasuke berjalan ke tempat duduknya. Naruto mengekorinya. Ia merasa ada yang aneh. Karena penasaran ia pun bertanya pada sang guru.


"Maaf, Mr. Ke mana asisten Mr yang lain? Apa belum datang?" tanya Naruto sebari menengok ke kiri dan kanan.


"Apa maksudmu, Namikaze?" Sasuke malah bertanya.


"Asisten Mr tidak hanya saya kan?" ujar Naruto sebari menunjuk pada dirinya sendiri.


"Asistenku hanya kamu, Namikaze." jawab Sasuke datar.


"Eh? Ha..hanya saya? Tu..tunggu.." beo Naruto. Ia masih bingung dengan jawaban dari sang wali kelas tampannya itu.


"Ti..tidak mungkin kan, Mr? Mengapa hanya saya sendiri? Asisten Kakashi sensei saja banyak. Tapi Mr hanya punya 1 asisten. Pasti.." gumam Naruto yang belum selesai namun dipotong oleh Sasuke.


"Kau saja sudah cukup, Namikaze." sambung Sasuke dengan lembut sambil tersenyum.

__ADS_1


Blush. Seketika muka Naruto memerah. Ia terpesona dengan senyuman Sasuke yang menawan.


'Gu..guru ini tersenyum? Yang benar saja?! Jadi tambah ganteng. Duuh...' batin Naruto. Ia berusaha untuk tidak terpesona pada senyuman sang guru yang hanya tertuju padanya.


"Cepat bantu aku memeriksa hasil ujian kelas 10." ujar Sasuke kembali ke ekspresi dinginnya.


Naruto kesal. Ia merasa menyesal telah terpesona pada senyuman palsu sang guru.


Naruto pun patuh pada perintah sang guru. "Ano..Mr. Saya duduk di mana? Apa saya harus berdiri di sini?" tanya Naruto.


Sasuke menoleh ke belakang. Ada sebuah kursi plastik. Ia membawa kursi itu dan meletakkannya di samping kursinya.


"Kau bisa duduk di sini, Namikaze." ujar Sasuke. Ia kembali duduk dan meletakkan lembaran kertas ujian di atas meja untuk Naruto periksa.


"Baik, Mr." sahut Naruto. Ia pun duduk di kursi yang telah sang guru sediakan.


"Ano..Mr. Ku..kunci jawabannya mana?" tanya Naruto bingung. Ia disuruh mengoreksi hasil ujian tapi kunci jawabannya tidak diberikan.


"Ini. Kau kerjakan dulu soalnya. Setelah itu aku nilai. Baru ku beri kunci jawabannya." jawab Sasuke santai.


"Eh? Jadi..saya harus mengerjakan soal - soal ini?" beo Naruto. Ia heran dengan tindakan sang guru ayam itu. Hanya memberinya kunci jawaban saja dia harus mengerjakan soal ujian juga. Dengan berat hati Naruto pun mengerjakan soal ujian yang Sasuke berikan.


Naruto terus mengerjakan soal yang gurunya berikan. Tak lama ia sudah menyelesaikannya.


"Ini, Mr." ujar Naruto sebari menyerahkan lembar kertas soal yang baru saja ia isi.


"Hn."


Sasuke pun memeriksa hasil jawaban Naruto. Tak butuh waktu lama, Sasuke kembali memberikan kertas hasil ujian yang baru saja Naruto isi.


"Kau bisa lihat kunci jawabannya dari kertas ujian yang tadi kau jawab. Jawabanmu hampir benar semua hanya beberapa saja yang salah. Aku sudah menandai jawaban yang salah dengan melingkari jawaban yang benar." jelas Sasuke panjang lebar.


Naruto mengangguk paham. Ia pun mulai memeriksa hasil ujian siswa siswi kelas 10 sebanyak 6 kelas. Kelas 10 - 1 sampai 10 - 6. Sangat banyak. Ia bersyukur karena itu adalah soal pilihan ganda. Hanya melihat a, b, c, d, dan e saja. Tapi tetap saja itu membuat Naruto lelah.


Beberapa jam kemudian mungkin sekitar 1 atau 2 jam. Naruto menoleh ke samping. Ia tak menemukan sosok sang guru. Saking seriusnya ia mengerjakan tugas dari sang guru, ia tak menyadari bahwa Sasuke tidak ada di tempat.


"Guru itu belum pulang kan? Ah tasnya masih ada. Aku terusin lagi ah. Tapi..haus." gumam Naruto hendak berdiri tapi sensasi dingin tiba - tiba menusuk dari atas kepalanya.


"Di..dingin.." ujar Naruto.


"Ini minum untukmu. Aku tidak tahu kau suka apa tidak." gumam Sasuke sebari meneguk minuman kaleng berkarbonisasi yang ia beli.


"Ah. Arigatou, Mr." ucap Naruto kemudian meminum minuman kaleng berasa melon yang Sasuke berikan.


"Segar.. Saya suka melon. Rasanya tidak terlalu manis, Mr." gumam Naruto.


"Hn." balas Sasuke. Masih dengan wajah datarnya.


'Nyesel ngomong.' batin Naruto kesal telah mengajak gurunya untuk mengobrol.


'Informasi yang ku dapat memang akurat.' batin Sasuke.


Naruto segera melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda. Namun Sasuke mencegahnya dikarenakan hari telah sore. Naruto lupa waktu meski tadi ia sudah menelepon ibunya.


"Tapi..satu kelas lagi belum, Mr." bantah Naruto. Ia tidak enak hati jika belum menyelesaikan tugas yang gurunya berikan.


"Biar aku saja. Aku juga mau pulang. Apa kau ingin sendirian di ruang guru ini?" ujar Sasuke terkesan menakut - nakuti anak didiknya.


"Ti..tidak mau. Sekolah itu menyeramkan kalau di malam hari apalagi saya hanya sendiri." jawab Naruto bergidik ngeri.


"Cepat siap - siap. Kau harus segera pulang." perintah sang guru.


Naruto pun bersiap - siap. "Sudah. Saya pamit dulu ya, Mr. Maaf tugas saya belum selesai." ucap Naruto hendak pergi.


"Kau pulang mau naik apa, Namikaze? Bukannya bus sudah tidak lewat di jam segini?" tanya Sasuke modus.


"Benar juga ya." balas Naruto sebari melihat jam di layar ponselnya. "Apa telepon tousan saja ya..? Tapi apa tousan sudah pulang?" gumam Naruto pada dirinya sendiri.


"Aku akan mengantarmu pulang." ucap Sasuke.


"Eh? Apa tidak merepotkan Mr? Saya bisa pulang jalan kaki atau naik.." tolak Naruto.


"Tidak. Ayo pulang. Jangan menolak rezeki." bujuk Sasuke.


"Iya Mr. Saya ikut Mr saja." sahut Naruto pasrah daripada harus debat. Ia sudah cukup lelah untuk sekadar berdebat.


Mereka pun berjalan menuju tempat parkiran di area Konoha High School. Naruto hanya patuh mengekori langkah sang wali kelas. Mirip adik kakak karena perbedaan umur mereka dan tinggi badan mereka. Sasuke 21 tahun, Naruto 16 tahun.


Sesampainya di area parkiran, Sasuke segera memarkirkan motor kesayangannya. Lalu ia menyerahkan helm yang kemarin ia beli bersama siswi kesayangannya kepada Naruto.


"Ini kan helm yang kemarin. Apa Mr membawa dua helm? Kan ribet." ujar Naruto. Ia segera membuka ikatan kepala dangonya.


"Kenapa dilepas rambut dangomu?" beo Sasuke.


"Tidak cukup kalau pakai helm dengan rambut begini, Mr." jelas Naruto.


Sasuke hanya diam menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan baginya. Rambut pirang Naruto yang terurai yang terkena hembusan angin sepoi membuat Sasuke terpesona. Ia yang selalu dikelilingi ribuan gadis cantik, sama sekali tidak tertarik pada mereka namun ketika melihat siswi didiknya yang penampilannya terbilang unik dengan dua buah dango di kepalanya dan rambutnya yang berwarna pirang keemasan dapat membuat Sasuke terkesima.


"Mr..Mr.." panggil Naruto. Sasuke masih bengong.


"Mr. Sasuke." panggil Naruto lagi namun kali ini ia mencolek bahunya.


"Ah.." Sasuke terkejut namun masih stay cool.


'Guru ini kenapa? Mungkin sedang ada masalah. Bengong terus.' batin Naruto. Ia sudah pakai helm.


"Ayo naik." ajak Sasuke.


"Ya." balas Naruto. Naruto pun dibonceng oleh guru tampannya itu. Ia merasa heran kenapa wali kelasnya mau repot - repot mengantarkannya pulang? Mungkin karena Naruto sudah membantunya.


'Tak sia - sia ku buat dia pulang sore.' batin Sasuke. Rencananya berhasil untuk bersama lebih lama dengan siswi incarannya.


Sasuke dan Naruto pun ke luar dari gerbang Konoha High School.


Sementara itu tak jauh dari gerbang terparkir sebuah mobil sport keluaran terbaru berwarna hitam. Di dalam mobil tersebut ada seorang pria muda yang wajahnya mirip dengan Sasuke yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri, Uchiha Itachi. Awalnya ia berniat untuk mengajak sang adik tercinta untuk makan malam di rumah utama. Namun sepertinya rencananya gagal. Sang adik malah terlihat sedang membonceng seorang gadis muda tepatnya siswi SMA yang sangat bening.


"Dasar otouto. Pantas saja ia betah jadi guru. Padahal awalnya ia menolak." gumam Itachi tersenyum. Ia merasa tenang, lega dan senang secara bersamaan karena telah melihat adik tercintanya membawa seorang gadis.


Itachi pun melajukan kendaraannya. Ia akan kembali ke kediaman utama Uchiha. Mungkin lain kali saja mengajak adiknya makan malam.


Naruto sampai di depan rumahnya dengan selamat tiada yang kurang. Ia segera turun dari motor dan menyerahkan helm milik sang wali kelas.


"Arigatou, Mr. Telah mengantarku pulang." ucap Naruto sebari memberi hormat pada sang guru.


"No problem." jawab Sasuke santai.


'Everyday is better for me. I wanna it.' batin Sasuke.


Tiba - tiba sosok pria dewasa datang menghampiri Naruto dan Sasuke.


"Kau baru pulang, Naruto? Sudah sore begini. Dari mana saja? Apa dia pacarmu?" tanya seseorang yang terdengar seperti mengintrogasi seorang tahanan.


"To..tousan. Bikin aku kaget saja." jawab Naruto. "Ini wali kelas baruku, tousan. Namanya Mr. Uchiha Sasuke. Guru bahasa Inggris." jelas Naruto. Ia harus menjelaskan segalanya takut sifat posesif ayahnya kambuh.


"Wali kelasmu? Kau tidak sedang berbohong kan, Naruto?" tanya sang ayah a.k.a Minato memastikan jawaban dari putri semata wayangnya.


"Benar, tousan." jawab Naruto.


Sasuke tak tinggal diam. Ia pun menyapa calon mertuanya ralat ayah muridnya. Nembak aja belum, pacaran juga belum. Berani ngaku camer.


"Selamat sore, Namikaze - san. Saya memang wali kelas putri anda. Saya guru baru di Konoha High School." sapa Sasuke dengan sopan.


"Oh." Minato hanya ber - oh saja. Naruto sweatdrop dengan sikap sang ayah. Padahal sang guru sudah berbaik hati mengantarkan Naruto pulang.


"Ne..Mr. Sasuke. Terima kasih ya sudah mengantarkan saya pulang." ucap Naruto padahal tadi ia sudah mengatakannya.


"Hn." balas Sasuke.


Minato memerhatikan pandangan Sasuke pada putrinya. Ia merasakan ada sesuatu yang terjadi. Hanya lelaki yang mengerti perasaan lelaki.


"Tousan. Bilang sesuatu dong sama guru anakmu ini. Masa diam saja. Kalau gak ada Mr. Sasuke, aku pulang sendiri lho. Kan bus sudah gak ada." gumam Naruto membujuk sang ayah untuk menyapa sang guru.


"Hm. Terima kasih, Uchiha - san karena sudah mengantarkan putri saya pulang." ujar Minato. Ia masih jutek.


"Tidak masalah, Namikaze - san. Putri anda adalah asisten saya juga jadi sudah sepantasnya saya mengantarkan putri anda pulang dengan selamat." balas Sasuke yang sangat panjang. Ia jadi ke luar daru karakternya yang aslinya pendiam a.k.a tak banyak bicara.


"Wah..Naruto jadi asisten guru lagi? Hebat sekali putriku!" seru seorang wanita bersurai merah panjang yakni sang ibu Naruto a.k.a Kushina, istri tercinta Minato.


"Kaasan.." gumam Naruto. Ia terkejut dengan kehadiran sang ibu yang tiba - tiba bicara tanpa terasa hawa kehadirannya.


"Bicaranya di dalam. Tidak sopan bicara di luar. Ajak guru barumu ke dalam, Naruto. Sekalian kaasan ingin menanyakan perkembangan belajamu di sekolah" ujar Kushina dengan ramah.


"Kaasan.." balas Naruto. 'Kenapa guru ayam ini disuruh masuk? Aura tousan sudah gelap juga.' batin Naruto cemas pada Sasuke.


"Maaf. Saya sudah harus pulang, Namikaze - san. Jadi saya tidak bisa mampir untuk membicarakan tentang putri anda." tolak Sasuke dengan sangat sopan.


"Ya tidak apa - apa. Lain kali mampir ke rumah kami ya, Uchiha - san. Kalau Naruto bandel, hukum saja." tambah Kushina yang membuat Naruto malu.


"Aku tidak bandel, kaasan." sambung Naruto tak terima dikatai bandel. Dia kan memang tidak pernah nakal di sekolah dari SD, SMP dan SMA.


Sasuke mengangguk lalu menjawab, "saya akan menghukum putri anda jika dia nakal, nyonya. Kalau begitu, saya pamit, nyonya, tuan Namikaze."


"Hm." balas Minato singkat dan masih sinis pada Sasuke.


"Hati - hati ya, Mr." ujar Naruto tersenyum tulus. Minato langsung mendelik pada putrinya yang kelewat polos itu.


"Hn. Sampai jumpa besok di sekolah, Naruto." balas sang guru yang juga tersenyum tampan.


Deg. Jantung Naruto tiba - tiba berdetak lebih kencang. Ia baru pertama kali dipanggil namanya oleh sang guru dan juga melihat senyuman gurunya yang sangat tampan dan memukau.


'Ta..tampannya.. ' batin Naruto takjub. Muka Naruto juga merona.


Sasuke pun menghidupkan motornya kemudian meninggalkan keluarga Namikaze.

__ADS_1


'Aku sudah bertemu orang tuanya. Jalanku semakin mudah saja.' batin Sasuke. Ia tersenyum di balik kaca helmnya.


Tbc


__ADS_2